Review Film The Mummy: Sebuah Pembukaan yang Tak Bisa Berdiri Sendiri

Akhirnya Dark Universe Cinematic Universe (DUCU) resmi dibuka dengan peluncuran film pertamanya The Mummy pada tanggal 9 Juni 2017. Seperti apa kualitasnya? Ini dia pembahasannya! ---------- Konferensi komunitas Game terbesar di Indonesia! Coba berbagai macam game dan dapatkan doorprize di GAME PRIME 2017, Balai Kartini, Jakarta, 29-30 Juli 2017. Info >>> http://www.gameprime.asia

Review Film The Mummy: Sebuah Pembukaan yang Tak Bisa Berdiri Sendiri

Film The Mummy yang menjadi pembuka Dark Universe tampaknya harus menjadi tumbal dari pihak Universal untuk mengetes seberapa laku Dark Universe di tengah pangsa dunia yang kini sedang dikuasai MCU dan DCEU.

[duniaku_baca_juga]

Akhirnya Dark Universe Cinematic Universe (DUCU) resmi dibuka dengan peluncuran film pertamanya The Mummy pada tanggal 9 Juni 2017. Sayangnya, Rotten Tomatoes sudah melabelinya dengan rating 17%. Hal itu diduga akibat pihak Universal yang terlalu menganakemaskan Dark Universe itu sendiri.

Seperti yang kita ketahui, dalam sebuah pembangunan cinematic universe yang ideal, hendaknya pengenalan universe jangan sampai mengganggu jalannya film itu sendiri. Hal itu mungkin sampai tak terpikirkan oleh Universal yang terlihat begitu ambius dan kentara sekali berusaha keras untuk mempromosikan "Dark Universe".

Banyaknya karakter monster klasik seperti Dracula, Frankenstein, Invisible Man, Werewolf, dan lain-lain diposisikan menjadi sebuah kesatuan sinematis yang saling berkaitan satu sama lain semacam The Avengers atau Justice League.

Semua hal pun dilakukan demi menegakkan Dark Universe. Mulai dari memperkenalkan para aktor yang sudah dikontrak untuk memerankan para monster dalam film-filmnya nanti, me-reboot film lama dengan formula baru dan juga memasukkan berbagai eksposisi ke dalam suatu film untuk mengisyaratkan keberadaan sebuah sekuel yang harus ditunggu.

Bisa dibilang, pihak Universal sangat peduli dan begitu antusiasnya dalam mempromosikan karya terbarunya. Namun sayangnya hal itu tentu saja berefek negatif pada filmnya nanti. Hal itu sudah terbukti dari rating yang diberikan Rotten Tomatoes dan IMDb yang memberi rating buruk pada film ini.

Apakah film ini masih layak untuk ditonton? Baca saja review The Mummy di bawah ini.

Sinopsis

Untuk sinopsis reboot The Mummy, diceritakan tentang kisah seorang tentara bernama Nick Morton (Tom Cruise), yang seharusnya menjalankan misi untuk menemukan sekelompok teroris yang bersembunyi di sebuah perkampungan yang berada di sebuah gurun di Irak.

Alih-alih menjalankan perintah layaknya tentara, Nick dan temannya justru malah asyik mencari sebuah lokasi di mana sebuah harta karun legendaris terpendam. Secara tak sengaja mereka menemukan sebuah goa dan memasuki lorong tersebut. Rupanya jalan tersebut menuntun Nick dan temannya ke sebuah makam tua yang telah berusia ribuan tahun.

Mereka membawa peti tersebut untuk diteliti. Dan tanpa Nick sadari, ia telah membangunkan Ahmanet, putri raja yang telah mengikat kontrak dengan Seth, Dewa Kematian Mesir dan menjadi tumbal demi kebangkitan sang iblis yang menguasai kematian.

Aksi yang MemukauReview Film The Mummy: Sebuah Pembukaan yang Tak Bisa Berdiri Sendiri[duniaku_adsense]

Bisa dibilang, The Mummy memiliki kelebihan menonjol di bidang aksi. Dibintangi oleh Tom Cruise yang telah malang-melintang di dunia film yang penuh adu fisik dan tembakan, membuat film ini mampu memukau dari segi koreografi pertarungan. Atmosfer perang Timur Tengah pada awal cerita membuat kesan tendensi sang tokoh dalam pertarungan terasa hidup.

Baku hantam yang intens ditambah efek visual yang menakjubkan membuat mata penonton tak berkedip setiap menikmati adegan yang disajikan. Dari aspek ini, Tom Cruise benar-benar sukses menjadi pusat sorotan dari awal sampai akhir film.

Ketegangannya juga lumayan terbangun dengan baik. Momen-momen saat Ahmanet mengejar Nick benar-benar membuat adrenalin benar-benar naik. Terutama saat dihadapkan pada kenyataan bahwa she is unstoppable!


Ada banyak aspek yang harus dipikirkan sebelum nonton film ini. Klik halaman selanjutnya!

Plot Tak Jelas dengan Campuran Berbagai Genre yang Tak Seimbang

Review Film The Mummy: Sebuah Pembukaan yang Tak Bisa Berdiri Sendiri[duniaku_baca_juga]

Meski setiap adegan ditampilkan dengan baik, film The Mummy memiliki kelemahan fatal dalam plot cerita. Penulis sendiri bingung apakah film ini masuk kategori action atau horor.

Ceritanya yang sangat “nano-nano” namun gagal mempertahankan keserasian tiap genre membuat para penikmat film yang mementingkan alur cerita bakal gigit jari dan berkata “apa maksudnya ini?”

Dan entah apa sudah ciri khasnya Tom Cruise atau bagaimana, fokus ceritanya kali ini terlalu menyorot ke tokoh utama. Para tokoh lain pun dianggap seperti hiasan atau orang numpang lewat belaka. Sisi adventure-nya pun kurang mengena.

Hal itu tentu tak mengherankan, mengingat skrip filmnya merupakan hasil keroyokan tiga penulis yang berbeda yang dipaksa bergabung menjadi satu. Hal inilah yang melahirkan sebuah alur cerita yang ngalor-ngidul tak jelas dan tak terarah dengan baik.

Bahkan untuk twist-twist yang dihadirkan terasa kurang menggigit. Hint-hint yang tersebar dalam banyak adegan pun kurang bisa membantu film ini membuat penonton merasa kagum. Untuk eksekusi akhir filmnya, bisa dibilang terlalu dipaksakan dan kurang memorable.

Karakterisasi

[duniaku_adsense]

Semua aktor yang bermain dalam The Mummy sudah cukup baik dalam menghayati peran masing-masing. Tom Cruise mampu memerankan Nick sebagai bad guy with goodness inside dengan apik. Sementara Sofia Boutella sukses membuat saya terkesan dengan caranya membawakan peran Ahmanet yang terlihat sangat hidup.

Sofia mampu memancarkan aura sang ratu sehingga suasana majestic pada setiap kesempatannya muncul begitu terasa megah sekaligus menyeramkan. Namun yang paling mengecewakan justru datang dari Russell Crowe yang justru gagal mengeluarkan aura misterius khas dari Dr.Jekyll.

Entah karena tuntutan plot atau apa, alih-alih membuat kesan misterius, Russell justru terkesan “ember” sehingga banyak waktu yang terbuang untuk scene yang harusnya bisa digunakan untuk adegan yang lebih penting lagi.

Interaksi antar karakternya juga kurang terbangun dengan baik. Chemisty tokoh Nick dan Jenny tak begitu terasa dari awal sampai akhir. Dan juga peran Vail yang dibawakan Jake Johnson juga hanya sebatas comic relief.


Masih banyak yang harus dipertimbangkan untuk menonton film ini. Klik halaman selanjutnya!

Warning NSFW![duniaku_baca_juga]

Meskipun memiliki rating PG-13, film The Mummy memiliki beberapa adegan yang seharusnya tak patut ditonton pada saat bulan puasa. Untungnya, scene tersebut hanya didominasi di prolog cerita sehingga anda bisa menonton dengan aman dari kemunculan Nick Morton sampai selesai.

Easter Egg! Warning Spoiler!

[duniaku_adsense]

Ada suatu adegan di mana Jenny menggunakan sesuatu yang berat untuk menyerang seorang prajurit Prodigium. Setelah itu, ada sesuatu yang jatuh ke lantai. Sebagian penonton yang baru pertama kali mengenal The Mummy mungkin tak mengenal benda tersebut. Tetapi, para fans The Mummy versi Brendan Fraser pasti mengetahuinya.

Yup, benda itu adalah Book of The Dead yang pernah muncul di seri trilogi yang dibintangi Brendan beberapa tahun silam. Hanya saja tak diketahui apakah buku tersebut digunakan sebagai tribute untuk mengenang versi film lama atau sebagai hint mengenai Dark Universe yang sedang diperkenalkan.

Kesimpulan

[read_more link="https://www.duniaku.net/2017/06/03/review-wonder-woman-film/" title="Seberapa Tinggikah Kualitas Film Wonder Woman? "]

Film The Mummy bermaksud memberikan sebuah tontonan megah yang terdiri dari berbagai genre seperti aksi, petualangan, dan romansa. Namun akibat inkoherensi yang terlahir dari hasil gado-gado dari tiga penulis naskah yang main keroyokan, The Mummy jelas-jelas gagal menjadi film stand alone maupun sebagai pembuka Dark Universe yang digadang-gadang akan menyaingi DCEU atau MCU yang sudah mengambil start sejak awal.

Tidak sesuai tema yang diusung oleh Dark Universe, film The Mummy juga tidak berhasil membawakan kesan seram dan nuansa mistik yang harusnya menjadi andalan film tersebut. Yang ada justru hanyalah film yang kurang mengerikan dan justru terlihat konyol dengan banyolan-banyolan tak jelas.

Diedit oleh Fachrul Razi


Konferensi komunitas Game terbesar di Indonesia! Coba berbagai macam game dan dapatkan doorprize di GAME PRIME 2017, Balai Kartini, Jakarta, 29-30 Juli 2017. Info >>> http://www.gameprime.asia

Artikel terkait

ARTIKEL TERBARU