Ulsan Film The Death of Robin Hood, Akhir dari Sang Legenda Sherwood

Siapa yang tidak kenal Robin Hood? Kisah pencuri budiman yang merampok orang kaya untuk diberikan kepada orang miskin ini sudah berulang kali diadaptasi ke layar lebar. Namun, lupakan aksi panahan stylish ala Taron Egerton atau peperangan megah ala Russell Crowe. Lewat The Death of Robin Hood, A24 dan sutradara Michael Sarnoski (Pig, A Quiet Place: Day One) membawa kita ke sudut pandang yang jauh lebih kelam, realistis, dan menyayat hati.
Apakah pendekatan dark and gritty ini berhasil membuat legenda Robin Hood kembali segar? Simak review The Death of Robin Hood dari kami berikut ini!
Table of Content
1. Masa Tua Sang Pencuri yang Dihantui Dosa Masa Lalu

Berbeda dengan kisah asal-usul yang biasa kita tonton, film ini mengambil latar saat Robin Hood (Hugh Jackman) sudah tua, lelah, dan terluka parah. Ia bukan lagi pahlawan yang dielu-elukan. Hutan Sherwood bukan lagi tempat bermain yang menyenangkan, melainkan saksi bisu dari tahun-tahun penuh darah dan kekerasan.
Robin Hood sang perampok, jauh dari sosok pahlawan yang kamu bayangkan. Dia banyak melakukan pembunuhan dan perampokan hanya karena uang, kekuasaan, dan balas dendam. Ceritanya yang diagung-agungkan banyak orang berasal dari para penghibur di bar yang mencari bahan nyanyian. Tidak ada satu pun aksi Robin Hood yang benar-benar dilakukan untuk kebaikan.
Di ambang kematiannya setelah sebuah pertempuran yang brutal, ia diselamatkan oleh seorang perawat misterius (Jodie Comer) yang hidup di pulau terpencil. Lewat interaksi keduanya, Robin dipaksa untuk menghadapi masa lalunya, dosa-dosanya, dan mempertanyakan apakah dia bisa hidup dengan tenang tanpa dihantu semua perbuatannya, atau dia harus mengakhiri segalanya.
2. Atmosfer Kelam Ala "Pig" Bertemu "Logan"

Jika kamu mengharapkan film aksi petualangan yang ceria, kamu akan salah tempat. The Death of Robin Hood memiliki tempo (pacing) yang pelan dan sengaja dibangun untuk menguliti psikologis karakter utamanya. Michael Sarnoski kembali menggunakan keahliannya dalam meracik cerita emosional di tengah kesunyian, sama seperti yang ia lakukan di film Pig.
Sutradara berhasil menciptakan atmosfer yang depresif namun indah. Desain produksinya kotor, berdarah, dan sangat membumi. Transisi dari masa lalu Robin yang penuh kekerasan ke masa tuanya yang rapuh dieksekusi dengan sangat rapi, memberikan vibes yang sangat mirip dengan film Logan.
Sebagai film produksi A24, fokus utama film ini adalah eksplorasi karakter (character-driven), bukan tontonan blockbuster musim panas. Beberapa penonton kasual mungkin akan merasa film ini terlalu lambat atau kekurangan adegan panahan epik yang identik dengan nama Robin Hood.
Koreografi pertarungannya memang brutal dan realistis, namun porsinya tidak banyak. Film ini lebih mementingkan akibat dari kekerasan itu sendiri dibandingkan memamerkan kekerasannya. Jadi, bersiaplah untuk lebih banyak dialog filosofis dan momen perenungan yang sunyi.
3. Duet Hugh Jackman dan Jodie Comer yang Memukau

Bintang utama dari film ini tentu saja adalah kualitas aktingnya. Hugh Jackman sekali lagi membuktikan bahwa ia adalah ahlinya memerankan karakter tua, rapuh, namun menyimpan sisa-sisa keganasan di dalam dirinya. Ia berhasil menampilkan Robin Hood yang patah semangat; mata dan bahasa tubuhnya berbicara lebih banyak daripada dialog yang diucapkannya.
Di sisi lain, Jodie Comer tampil sangat brilian sebagai penyeimbang. Karakternya penuh misteri, namun memberikan kehangatan sekaligus konfrontasi realita yang sangat dibutuhkan oleh Robin. Chemistry keduanya di layar terasa sangat natural, mengikat penonton untuk terus peduli pada nasib mereka hingga akhir cerita.
4. Sebuah Dekonstruksi yang Menyayat Hati

The Death of Robin Hood adalah sebuah dekonstruksi berani dari salah satu legenda paling terkenal di dunia. Michael Sarnoski berhasil mengubah mitos kepahlawanan menjadi sebuah studi karakter yang intim, tragis, dan tak terlupakan tentang penyesalan dan penebusan dosa. Film ini mungkin bukan untuk mereka yang mencari hiburan aksi ringan, tetapi bagi pencinta sinema emosional yang mendalam, ini adalah salah satu karya terbaik tahun ini.
Sinopsis The Death of Robin Hood (2026)
Di masa tuanya, Robin Hood bukan lagi pahlawan legendaris yang dielu-elukan, melainkan sosok yang lelah, rapuh, dan dihantui oleh jejak kekerasan di masa lalunya. Setelah terluka parah dalam sebuah pertempuran brutal yang membawanya ke ambang kematian, sang pencuri budiman ini diselamatkan dan dirawat oleh seorang wanita misterius.
Selama masa pemulihannya, interaksi di antara keduanya memaksa Robin untuk menghadapi kembali dosa-dosanya yang kelam. Alih-alih kembali beraksi, ia harus melawan gejolak batinnya sendiri dan mempertanyakan apakah peperangan yang selama ini ia lakukan benar-benar demi kebaikan, memicu sebuah perjalanan emosional tentang penyesalan dan penebusan di akhir hayat sang legenda.
| Producer | Aaron Ryder, Andrew Swett, Alexander Black, Hugh Jackman |
| Writer | Michael Sarnoski |
| Age Rating | D17+ |
| Genre | Petualangan, Drama, Cerita Seru, Aksi |
| Duration | 123 Minutes |
| Release Date | 03-07-2026 |
| Theme | robin hood, based on myths, legends or folklore, grim, salvation, grimdark |
| Production House | Lyrical Media, Ryder Picture Company |
| Where to Watch | Cinema XXI, CGV, Cinepolis |
| Cast | Hugh Jackman, Jodie Comer, Bill Skarsgård, Murray Bartlett, Noah Jupe |



![[QUIZ] Pilih Karakter Avatar The Last Airbender, Kami Tebak Kepribadianmu Alpha, Beta, atau Omega](https://image.idntimes.com/post/20251211/upload_3df939d6b7e9b2e3f34c153c959a48d2_56b21568-bee5-483e-a081-669bea324773.jpg)












