Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
For
You

Penilaian Film Ready or Not 2 Here I Come, Game Kedua Sang Pengantin

Penilaian Film Ready or Not 2 Here I Come, Game Kedua Sang Pengantin
Dok. Searchlight Pictures (Ready or Not 2: Here I Come)
Intinya Sih
  • Sekuel Ready or Not 2 melanjutkan kisah Grace yang kini menghadapi organisasi gelap High Council, memperluas dunia kutukan keluarga Le Domas dengan skala aksi dan misteri yang lebih besar.
  • Kehadiran Kathryn Newton sebagai Faith menambah dinamika emosional dan humor gelap di tengah ketegangan, sementara Samara Weaving tetap memukau sebagai penyintas tangguh dalam permainan maut berdarah.
  • Meskipun visual dan adegan aksinya meningkat drastis, film ini dikritik karena terlalu mengikuti formula film pertama tanpa inovasi naratif signifikan, membuatnya terasa seperti pengulangan berintensitas tinggi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Setelah sukses menjadi salah satu kejutan horor paling segar pada 2019, ekspektasi terhadap sekuel Ready or Not tentu sangat tinggi. Radio Silence kembali membawa kita ke dunia gelap keluarga Le Domas yang terobsesi dengan permainan maut demi menjaga kekayaan mereka. Grace, yang diperankan dengan sangat brilian oleh Samara Weaving, kini tidak lagi menjadi pengantin yang bingung, melainkan seorang penyintas yang harus berhadapan kembali dengan game maut yang sama.

Sekuel ini mengambil latar waktu tak lama setelah kejadian di film pertama, di mana kediaman Le Domas yang terbakar masih menyisakan misteri tentang perjanjian iblis mereka. Penonton diajak melihat bahwa kutukan Mr. Le Bail ternyata tidak hanya mengikat satu cabang keluarga, melainkan sebuah kultus gelap yang lebih luas. Dengan pacing yang lebih cepat dan skala yang lebih besar, film ini menjanjikan ketegangan yang konsisten sejak menit pertama.

Table of Content

1. Jadi Korban Kedua Kalinya

1. Jadi Korban Kedua Kalinya

MV5BODY3YjVmM2YtYzIxYS00ZWNjLTg3ODgtYTRmMDRlNDY2NGIwXkEyXkFqcGc@._V1_FMjpg_UX1280_.jpg
Dok. Searchlight Pictures (Ready or Not 2: Here I Come)

Masuknya Kathryn Newton sebagai Faith adalah tambahan yang sangat solid bagi waralaba ini. Hubungan antara kakak-beradik ini memberikan jangkar emosional yang sebelumnya tidak ada di film pertama. Dinamika "love-hate relationship" mereka yang berakar dari rasa bersalah Grace karena meninggalkan Faith di panti asuhan memberikan ketegangan psikologis di sela-sela aksi pelarian dari kejaran pembunuh.

Samara Weaving kembali menunjukkan mengapa ia adalah Final Girl terbaik di generasinya. Performa fisiknya yang penuh amarah berpadu apik dengan gaya Newton yang lebih sarkastik dan penuh kecemasan. Keduanya memiliki ritme yang sangat pas dalam melempar dialog-dialog komedi di tengah situasi yang mengancam nyawa, membuat penonton benar-benar peduli apakah mereka akan selamat sampai fajar tiba atau tidak.

2. Komedi Gelap yang Penuh dengan Darah

MV5BYWI5M2YyNTQtZTA2MS00YjVlLWE1MTUtMjI5MzFlOGU1ZmRmXkEyXkFqcGc@._V1_FMjpg_UX1280_.jpg
Dok. Searchlight Pictures (Ready or Not 2: Here I Come)

Dari sisi teknis, tim produksi seolah diberikan "cek kosong" untuk menciptakan adegan kematian yang lebih spektakuler. Salah satu momen yang paling banyak dibicarakan orang adalah adegan kematian menggunakan mesin cuci industri, yang digambarkan dengan sangat brutal namun tetap mempertahankan estetika gore yang bergaya. Efek praktis tetap menjadi prioritas utama, memberikan sensasi "sakit" yang lebih nyata dibandingkan dengan penggunaan CGI berlebih.

Sinematografi Brett Jutkiewicz berhasil menangkap kekacauan di lokasi-lokasi baru yang lebih luas tanpa kehilangan nuansa gothic yang menjadi ciri khas seri ini. Penggunaan warna-warna kontras antara kemewahan aula High Council dengan kegelapan hutan di sekitarnya menciptakan atmosfer yang mencekam. Visualnya terasa lebih mahal, namun tetap memiliki jiwa film B-movie yang kasar dan tidak ragu untuk menjadi menjijikkan jika diperlukan untuk efek dramatis.

Pacing film ini juga terasa sangat cepat, seolah tidak memberikan napas bagi penonton sejak adegan pembukanya. Setiap set-piece aksi dirancang dengan koreografi yang lincah, sering kali berakhir dengan ledakan darah yang memuaskan ekspektasi penggemar slasher. Penempatan skor musik yang menggunakan aransemen lagu-lagu klasik namun diubah menjadi versi yang menghantui juga berhasil memperkuat tensi di setiap adegannya.

Terlepas dari skalanya yang besar, film ini tidak melupakan elemen komedi fisiknya yang konyol. Banyak adegan di mana para antagonis justru celaka karena kecerobohan mereka sendiri atau karena aturan ritual yang terlalu kaku. Keseimbangan antara horor yang benar-benar mengerikan dan komedi slapstick yang berdarah inilah yang membuat Ready or Not 2 tetap terasa seperti sebuah perayaan yang menyenangkan di tengah kegelapan ceritanya.

3. Formula yang Sama Persis

MV5BMzNkODc0YjctNzk1Yi00M2YwLWJkOTEtN2QxNDA3NGNlMjA4XkEyXkFqcGc@._V1_FMjpg_UX1280_.jpg
Dok. Searchlight Pictures (Ready or Not 2: Here I Come)

Kelemahan terbesar film ini terletak pada strukturnya yang sangat mengikuti pola film pertama. Meskipun areanya lebih luas dan karakternya lebih banyak, ketukan plotnya (plot beats) terasa sangat bisa ditebak bagi mereka yang sudah menonton petualangan Grace sebelumnya. Ada perasaan déjà vu yang kuat ketika melihat Grace harus kembali bersembunyi, terluka di bagian tubuh yang hampir sama, hingga klimaks yang melibatkan ritual di tengah ruangan melingkar.

Beberapa subplot mengenai pengkhianatan di dalam High Council juga terasa kurang dieksplorasi dengan baik, hanya berfungsi sebagai pengisi waktu sebelum adegan aksi berikutnya dimulai. Karakter Sarah Michelle Gellar, meskipun aktingnya luar biasa, terasa seperti potensi yang tersia-siakan karena tidak diberikan ruang yang cukup untuk benar-benar menjadi ancaman utama yang menakutkan.

Pada akhirnya, bagi sebagian kritikus, sekuel ini terasa seperti "pengulangan dengan volume yang dikeraskan." Ia memberikan lebih banyak segalanya, lebih banyak darah, lebih banyak lore, lebih banyak ledakan, namun kehilangan unsur kejutan yang membuat film aslinya begitu segar di tahun 2019. Meskipun tetap sangat menghibur sebagai tontonan popcorn, ada rasa sedikit hambar karena absennya inovasi naratif yang benar-benar radikal.

4. Kesimpulan?

MV5BOGZiYzJhYTAtNzRkOS00ZTg4LWIzOTktZmRjZTBkMGViNjg0XkEyXkFqcGc@._V1_FMjpg_UX1280_.jpg
Dok. Searchlight Pictures (Ready or Not 2: Here I Come)

Ready or Not 2: Here I Come adalah sebuah sekuel yang tahu persis apa yang diinginkan oleh pasarnya. Ia tidak mencoba menjadi film horor yang pretensius, melainkan sebuah wahana roller coaster berdarah yang sangat memuaskan. Kehadiran Kathryn Newton memberikan energi baru yang menyelamatkan film ini dari jebakan pengulangan yang membosankan.

Meski lore yang semakin rumit terkadang justru membebani cerita, performa brilian dari Samara Weaving tetap menjadi alasan utama mengapa film ini layak ditonton di layar lebar. Jika Anda menyukai film pertamanya karena kegilaan dan humor gelapnya, sekuel ini memberikan dosis ganda yang akan membuat Anda tetap terhibur hingga kredit akhir bergulir.

Sinopsis Ready or Not 2: Here I Come (2026)

Melanjutkan tepat beberapa detik setelah ledakan di kediaman keluarga Le Domas, Grace mengira malam mengerikannya telah berakhir saat ia duduk bersimbah darah di teras rumah yang terbakar. Namun, ia segera menyadari bahwa keluarga suaminya hanyalah satu cabang kecil dari konspirasi global yang jauh lebih besar bernama "High Council". Organisasi elit ini, yang dipimpin oleh si kembar Danforth yang kejam, mengontrol tatanan dunia melalui ritual berdarah dan kini mengincar Grace untuk menyelesaikan utang nyawa yang tertunda kepada entitas misterius, Mr. Le Bail.

Kali ini Grace tidak berjuang sendirian karena ia dipertemukan kembali dengan Faith, adik perempuannya yang sudah lama terasing dan memiliki masa lalu kelam dengan organisasi tersebut. Keduanya harus melarikan diri dari kejaran para pembunuh profesional di area perburuan yang kini mencakup hutan luas dan markas rahasia yang canggih. Alih-alih hanya bersembunyi, Grace mulai belajar menggunakan aturan main High Council untuk membalikkan keadaan, mengubah dirinya dari mangsa menjadi ancaman nyata bagi para elit yang merasa kebal hukum.

Di tengah aksi pelarian yang penuh dengan jebakan mematikan dan humor gelap, rahasia mengenai asal-usul kutukan Mr. Le Bail mulai terungkap satu per satu. Taruhannya kini bukan lagi sekadar bertahan hidup hingga fajar, melainkan upaya untuk menghancurkan seluruh sistem ritual yang telah memperbudak banyak keluarga selama berabad-abad. Dengan gaun pengantin yang kembali robek dan senjata di tangan, Grace harus menghadapi ujian terakhir yang akan menentukan apakah warisan berdarah ini bisa benar-benar dihentikan atau justru akan menelan korban yang lebih besar.

Ready or Not: Here I Come
2026
3/5
Directed by Matt Bettinelli-Olpin, Tyler Gillett
Producer

Tripp Vinson, James Vanderbilt, Bradley J. Fischer, William Sherak

Writer

Guy Busick, R. Christopher Murphy

Age Rating

17+

Genre

Kengerian, Komedi

Duration

108 Minutes

Release Date

10-04-2026

Theme

escape, ritual, dark comedy, satanism, gore, pact with the devil, sequel, game, exploding body, satanic ritual, satanic cult, estranged sister, sister sister relationship, playful, satanic, sisters, death game, horror, amused

Production House

Searchlight Pictures, Radio Silence, Vinson Films, Mythology Entertainment, TSG Entertainment

Where to Watch

Cinema XXI, CGV, Cinepolis

Cast

Samara Weaving, Kathryn Newton, Elijah Wood, Sarah Michelle Gellar, Shawn Hatosy

Trailer Ready or Not 2: Here I Come (2026)

Galeri Ready or Not 2: Here I Come (2026)

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Fahrul Razi Uni Nurullah
EditorFahrul Razi Uni Nurullah
Follow Us

Latest in Film

See More