Review The Boys Season 5, Penutup Seri yang Kurang Memuaskan?

- Season 5 The Boys menutup kisah dengan fokus pada virus anti-Supe dan pertarungan terakhir melawan Homelander, namun alur berubah mendadak sehingga ritme cerita terasa kurang solid.
- Banyak karakter potensial seperti Soldier Boy, Ryan, dan Marie Moreau tidak mendapat porsi pengembangan memadai, membuat payoff emosional di akhir seri terasa lemah.
- Pertarungan final Butcher vs Homelander di Gedung Putih menghadirkan momen simbolis tapi minim skala epik, menjadikan penutup serial ini terasa antiklimaks meski akting para pemeran utama tetap kuat.
Setelah bertahun-tahun menjadi salah satu serial superhero paling brutal dan satir di televisi, The Boys akhirnya mencapai akhir ceritanya di Season 5. Ekspektasi penggemar jelas sangat tinggi. Ini bukan cuma soal bagaimana Homelander dikalahkan, tetapi juga bagaimana serial ini menutup konflik panjang antara Billy Butcher, Vought, dan dunia Supes yang sudah dibangun sejak season pertama.
Sekarang The Boys sudah tamat, seperti apa ulasan kami akan final seasonnya?
Sinopsis The Boys Season 5
The Boys menemukan metode untuk mengalahkan Homelander yaitu menggunakan Godolkin Virus atau Virus Anti-Supe yang sedang mereka buat, namun ternyata Supes dengan Compund V versi pertama atau V1 bisa kebal virus tersebut, karena itu Homelander berusaha mendapatkan V1 dan menjadi dewa yang abadi sebelum The Boys sukses menghabisinya. Menjadi pertarungan terakhir The Boys vs Homelander.
1. Awal Season Menjanjikan, Tapi Plot Virus Anti-Supe Berakhir Sia-Sia

Salah satu hal paling menarik di awal Season 5 adalah kemunculan virus anti-Supe. Setelah bertahun-tahun Homelander digambarkan nyaris tak tersentuh, akhirnya muncul metode yang terasa masuk akal untuk mengalahkannya. Ancaman virus ini bahkan terasa lebih menyeramkan dibanding senjata fisik mana pun karena bisa membunuh Supes dari dalam tubuh mereka sendiri dan bisa jadi pandemik bagi Supes.
Sayangnya, setengah season dibangun untuk konflik ini, hanya untuk kemudian “dibatalkan” begitu saja ketika Homelander mendapatkan V1 dari Soldier Boy. Momen itu memang mengejutkan, tetapi juga membuat banyak episode sebelumnya terasa seperti setup yang tidak ada hasil akhirnya.
Fokus cerita kemudian bergeser menjadi usaha mereplikasi kekuatan Soldier Boy ke Kimiko. Ide ini sebenarnya menarik juga, tetapi transisinya terasa terlalu mendadak. Penonton sudah terlanjur diinvestasikan ke ancaman virus, sehingga ketika konflik utama berubah arah, ritme season terasa agak berantakan.
2. Banyak Karakter Potensial Terasa Disia-Siakan

Season terakhir seharusnya menjadi momen di mana semua karakter penting mendapat payoff besar. Sayangnya, beberapa karakter yang dibangun dengan potensi besar justru terasa kurang dimanfaatkan.
Soldier Boy misalnya, sejak comeback-nya sudah diposisikan sebagai ancaman besar sekaligus kartu liar yang bisa mengubah segalanya. Namun kontribusinya di season terakhir terasa kurang menarik. Kehadirannya lebih seperti alat plot dan objek promosi spin-off seri Vought Rising, lalu dia dihilangkan saja dalam cerita dengan ditidurkan lagi.
Ryan juga terasa kurang dimaksimalkan. Padahal sejak awal serial, Ryan diposisikan sebagai “masa depan” yang bisa menentukan apakah dunia akan jatuh ke tangan Homelander atau tidak. Konflik internalnya menarik, tetapi payoff emosionalnya tidak sekuat yang diharapkan.
Hal serupa juga terjadi pada Marie Moreau dari Gen V. Kehadirannya sempat membuat penggemar berharap akan ada koneksi besar antara Gen V dan The Boys di finale. Namun pada akhirnya, kontribusinya terasa terlalu kecil untuk karakter yang sudah dibangun begitu penting di serial spin-off tersebut.
Listnya masih banyak, misal A-Train (penutupnya sudah oke tapi terasa kurang), Black Noir 2, dan lainnya.
3. Final Season tapi Minim Pertarungan Besar dan Momen Spektakuler

Untuk ukuran season finale serial superhero sebesar The Boys, episode terakhir terasa kecil skalanya. Banyak penggemar berharap akan ada perang besar antar Supes atau setidaknya pertarungan brutal yang benar-benar memorable.
Memang ada beberapa momen emosional seperti kematian A-Train yang heroic. Arc penebusan dosanya menjadi salah satu bagian terbaik season ini. Namun bahkan di momen itu, banyak penonton merasa kurang ada “perlawanan” besar terhadap Homelander.
Padahal selama bertahun-tahun serial ini membangun rasa takut terhadap Homelander sebagai monster yang tak terkalahkan. Karena itu, penggemar berharap finale menghadirkan pertempuran besar yang membuat jatuhnya Homelander terasa monumental. Sayangnya, yang didapat justru konflik yang terasa lebih kecil dibanding ekspektasi.
4. Antony Starr dan Karl Urban Tetap Jadi Bagian Terbaik

Kalau ada satu hal yang konsisten luar biasa dari The Boys, itu adalah performa para aktor utamanya. Antony Starr sekali lagi membuktikan kenapa Homelander dianggap salah satu villain terbaik di televisi modern.
Di season ini, Antony Starr berhasil menunjukkan sisi Homelander yang semakin rapuh secara mental dan sakit jiwa. Ada aura menyeramkan sekaligus tragis yang membuat setiap adegannya tetap menarik ditonton, bahkan ketika penulisan ceritanya mulai goyah.
Karl Urban juga tetap tampil fantastis sebagai Billy Butcher. Chemistry kebencian antara Butcher dan Homelander masih menjadi jantung utama serial ini. Terutama di episode terakhir, Karl Urban berhasil membawa aura lelah, marah, dan obsesif Butcher dengan sangat kuat.
5. Episode 7 Jadi Salah Satu Episode Paling Mengecewakan

Episode 7 adalah episode setelah Homelander mendapatkan V1 yang membuatnya abadi dan satu episode sebelum episode terakhir, harusnya jadi jembatan penting, tapi tidak! Banyak yang menganggap episode ini sebagai salah satu episode terburuk dalam sejarah The Boys.
Masalah utamanya bukan karena episode itu jelek total, tetapi karena posisinya sangat krusial. Episode penultimate biasanya menjadi titik ledakan sebelum finale besar. Namun Episode 7 justru terasa seperti episode transisi biasa yang minim tensi, layaknya episode yang masih jauh dari episode terakhir.
Alih-alih membangun rasa chaos menuju perang besar, episode ini malah terasa terlalu santai dan penuh setup kecil. Akibatnya, momentum menuju episode terakhir menjadi lemah. Banyak penonton akhirnya masuk ke finale tanpa rasa hype besar seperti season-season sebelumnya.
6. Pertarungan Terakhir Terasa Antiklimaks

Pertarungan Butcher vs Homelander di Gedung Putih sebenarnya punya ide menarik secara tematik. Ketika Homelander kehilangan kekuatannya dan berubah menjadi manusia biasa, serial ini ingin menunjukkan bahwa ia sebenarnya hanyalah sosok pengecut tanpa status “dewa”-nya.
Melihat Homelander akhirnya memohon demi nyawanya memang terasa memuaskan. Itu adalah momen yang selama ini ditunggu penggemar, melihat villain paling arogan di dunia serinya akhirnya benar-benar takut.
Namun secara eksekusi, pertarungan terakhir ini terasa terlalu sederhana. Tidak buruk yang fatal sih, tetapi juga tidak memberikan rasa epik yang diharapkan dari penutup serial sebesar The Boys. Setelah build-up bertahun-tahun, duel terakhir mereka terasa “begitu saja.”
Memang seperti di komik, sejatinya konflik akhir adalah Butcher vs The Boys terutama Hughie, tapi di serinya terasa lebih "mini" dengan hanya Butcher dan Hughie, itu pun terasa singkat.
Pada akhirnya, Season 5 tetap punya banyak momen bagus, terutama dari sisi akting dan beberapa payoff emosional karakter. Tetapi sebagai penutup serial, finale The Boys terasa kurang menggigit dan kurang spektakuler dibanding ekspektasi besar yang sudah dibangun selama bertahun-tahun.
| Producer | Antony Starr, Karl Urban |
| Writer | Eric Kripke |
| Age Rating | 18+ |
| Genre | Sci-fi & Fantasy, Aksi & Petualangan |
| Duration | 55 Menit Per Episode Minutes |
| Release Date | 08-04-2026 |
| Theme | corruption, satire, superhero, based on comic, gore, tragedy, evil corporation, super power, superhero team, absurd, violence, action, farcical, hopeful |
| Production House | Amazon Studios, Original Film, Sony Pictures Television, Kripke Enterprises, Point Grey Pictures |
| Where to Watch | Amazon Prime Video |
| Cast | Karl Urban, Jack Quaid, Antony Starr, Erin Moriarty, Laz Alonso |



















