Review Don't Breathe 2, Sebuah Penebusan Dosa Bagi The Blind Man

The Blind Man kembali beraksi, kali ini dia jadi jagoannya

Review Don't Breathe 2, Sebuah Penebusan Dosa Bagi The Blind Man

Kebanyakan film thriller Hollywood berisikan teror supranatural atau monster. Don’t Breathe yang keluar di tahun 2016 menghadirkan sedikit pengecualian berkat musuh utama mereka yang berupa kakek-kakek buta dengan kemampuan setara super soldier.

Pada ending filmnya yang pertama kami diberikan kode kalau film ini bakal memiliki sekuel di masa depan. Rupanya impian tersebut benar-benar diwujudkan melalui Don’t Breathe 2 yang diluncurkan di 2021 ini.

Digarap oleh sutradara yang menangani film The Girl in the Spider's Web, Rodo Sayagues bakal memberikan sudut pandang lain bagi Norman “The Blind Man” Nordstrom. Ketimbang menjadikan sang kakek buta sebagai musuh utama, Sayagues lebih memilih untuk memindah perannya menjadi protagonis kedua.

Kira-kira seperti apa sepak terjang The Blind Man di film kedua ini? Untuk menjawab pertanyaan tersebut kamu bisa membacanya di review kami kali ini.

1. Phoenix yang bangkit dari api

Review Don't Breathe 2, Sebuah Penebusan Dosa Bagi The Blind ManDok. Sony

Kisah di Don’t Breathe 2 berjalan beberapa tahun setelah insiden perampokan rumah yang terjadi pada Norman. Beberapa lama setelah insiden tersebut, rumah Tara (Madelyn Grace) mengalami kebakaran hebat, tapi dia berhasil keluar dari rumah meski pingsan tidak sadarkan diri.

Norman yang kebetulan berada di dekat lokasi, menemukan Tara. Melihat kondisi Tara, Norman akhirnya memutuskan untuk membawa pulang dan merawat Tara hingga sembuh. Di televisi, Norman mendengar kalau orang tua Tara adalah penyebab kebakaran tersebut, dan kini mereka mendekam di penjara.

Tujuh tahun kemudian, Tara tumbuh sebagai gadis remaja bernama Phoenix. Nama tersebut merupakan pemberian Norman. Tampaknya Tara tidak ingat secara penuh dengan kejadian yang menimpa dirinya di masa kecil. Yang dia tahu adalah, dia selamat bersama sang “ayah” dari kebakaran hebat yang menimpa rumahnya.

Kisah Don’t Breathe 2 bergulir ketika Phoenix keluar rumah bersama Hernandez (Stephanie Arcila). Di tengah perjalanan, Phoenix bertemu dengan orang aneh yang mencegat dirinya di kamar mandi tempat pengisian bensin.

Pada awalnya Phoenix mengira kalau orang aneh tersebut hanya menakut-nakuti. Sayang dugaannya meleset, sebab orang aneh tersebut membawa teman-temannya untuk menyerang kediaman Norman di malam harinya.

Baca Juga: Review Film Dune, Kisah Perebutan Kekuasaan Epik Versi Galaksi

2. Masih Norman yang sama

Review Don't Breathe 2, Sebuah Penebusan Dosa Bagi The Blind ManDok. Sony

Norman “The Blind Man” Nordstrom masih menjadi inti utama kisah Don’t Breathe 2. Meskipun kali ini Fede Álvarez dan Rodo Sayagues memutuskan untuk menceritakan kisah The Blind Man melalui sudut pandang Phoenix dan korban-korbannya.

Rumah yang didiami Norman mengalami banyak perubahan, sehingga kami tidak mengenali lagi berbagai tanda yang semula digunakan Norman untuk memetakan rumahnya. Sepertinya insiden yang terjadi di Don’t Breathe mengubah lanskap rumah tersebut.

Sebagai ganti dari absennya tanda-tanda tersebut. Kita disuguhi berbagai bagian rumah yang semula tidak diperlihatkan di film pertamanya. Mengapa bentuk rumah dan tanda-tanda ini penting? Sebab dari situ kita jadi tahu bagaimana caranya Norman mengatasi keterbatasannya sambil berpindah-pindah dari satu titik ke titik lainnya.

Selain bentuk rumah, Don’t Breathe 2 juga kembali menghadirkan efek suara dan mixing yang ciamik. Setiap suara yang keluar selalu memiliki makna dan maksud. Suara-suara ini juga yang menuntun kita untuk memahami perspektif dari sisi Norman maupun musuh-musuh yang dia hadapi.

Pada sisi lainnya, Roque Banos yang ditunjuk sebagai pencipta lagu utama berhasil menghadirkan scoring yang simple tapi rapi. Tidak ada nada musik yang mendominasi sepanjang film, sehingga konsentrasi kita tidak terganggu sama sekali.

Jujur saja kami terkesima dengan seluruh aransemen Roque Banos yang terdengar seperti gabungan beberapa musik horor sekaligus. Semua nada yang digunakan membuat kami merinding, meskipun Norman jarang sekali muncul dengan metode jumpscare sambil diiringi lagu-lagu buatan Roque Banos.

3. Akting kelas kakap

Review Don't Breathe 2, Sebuah Penebusan Dosa Bagi The Blind ManDok. Sony

Don’t Breathe selalu menjadi ladang yangunik untuk para aktris dan aktor yang terlibat di dalamnya. Pada film pertamanya kita disuguhi berbagai adegan minim dialog sehingga seluruh informasi disampaikan menggunakan bahasa tubuh.

Pada film keduanya sang sutradara memperbanyak dialog, tetapi tetap memperhatikan berbagai bahasa tubuh yang digunakan oleh pemainnya untuk menggambarkan emosi yang mereka rasakan. Hasilnya kamu bakal mendapatkan semua informasi dengan lebih lengkap mengenai apa saja yang terjadi di dalam cerita.

Kualitas akting Stephen Lang kembali mendominasi film secara keseluruhan. Setiap gerak-geriknya memperlihatkan kalau dia benar-benar buta dan mematikan. Selain itu melalui aktingnya yang meyakinkan, Lang berhasil menimbulkan rasa iba yang luar biasa besar atas semua perbuatannya.

Kami jadi tidak tega menghakimi seluruh perbuatan yang dia lakukan di Don’t Breathe pertama setelah mendengar pengakuannya pada Phoenix. Di mata kami, Norman hanyalah orang tua yang menginginkan sosok pengganti anaknya yang meninggal karena kecelakaan. Meskipun cara yang ditempuh tetaplah salah.

Sementara untuk pihak antagonis kami sangat menyukai sosok Raylan yang diperankan oleh Brendan Sexton III. Di tangan Brendan karakter Raylan tampil cukup meyakinkan dan sangat cocok sebagai target kebencian, mengalahkan sosok Norman.

Selain Brendan kami juga takjub dengan sosok Josephine yang diperankan oleh Fiona O'Shaughnessy. Kemampuan aktingnya Fiona mengingatkan kami akan betapa quirkynya akting Helena Bonham Carter. Padahal keduanya memiliki jam terbang yang cukup berbeda.

4. Nasib Norman Nordstrom

Review Don't Breathe 2, Sebuah Penebusan Dosa Bagi The Blind ManDok. Sony

Don’t Breathe 2 bercerita lebih jauh mengenai nasib Norman Nordstrom pasca insiden perampokan yang terjadi di Don’t Breathe 1. Meskipun begitu kamu tetap bisa menangkap rangkaian peristiwa yang terjadi di Don’t Breathe 2 tanpa perlu menyaksikan prekuelnya terlebih dahulu.

Bisa dibilang Don’t Breathe 2 merupakan sebuah cerita yang bisa berdiri sendiri tanpa bantuan prekuelnya. Tapi kalau kamu ingin mengetahui motif terdalam dari segala gerak-gerik dan perilaku Norman, kamu harus menonton filmnya yang pertama.

Selain bisa berdiri sendiri, film ini juga berhasil menggeser mindset kami terhadap karakter Norman. Bila di film sebelumnya kami sangat takut dengan semua jumpscare yang ditimbulkan oleh Norman, maka di film ini kami menantikan jumpscare tersebut layaknya melihat seorang superhero beraksi mempertahankan hak miliknya.

Pada akhirnya Don’t Breathe 2 adalah sebuah action thriller yang sangat seru. Dengan nilai moral yang abu-abu dan adegan gore yang lumayan banyak, film ini kami sarankan ditonton oleh orang-orang yang dewasa.

Dengan seluruh kualitas yang dimilikinya Don’t Breathe 2 bisa kami ganjar dengan nilai 4 dari 5 bintang review. Film ini bakal tayang di bioskop Indonesia pada tanggal 18 Oktober 2021. Seperti biasa, patuhi protokol kesehatan dan jangan lupa untuk melakukan check-in di aplikasi Peduli Lindungi.

Baca Juga: Yayan Ruhian Bakal Main di Film Sam Raimi Boy Kills World!

Artikel terkait

ARTIKEL TERBARU