Galeri Kondisi Lapangan Banteng Setelah Djakarta Ennichi 2026 Batal

- Djakarta Ennichi 2026 dibatalkan mendadak pada dini hari sebelum acara dimulai, membuat seluruh panggung dan dekorasi Jepang di Lapangan Banteng segera dibongkar.
- Meski festival batal, warga tetap beraktivitas seperti biasa di Lapangan Banteng dengan jogging, latihan Taekwondo, dan sesi foto meski hujan turun sejak pagi.
- Sisa dekorasi berupa shrine kecil dengan kotak persembahan dan dua patung penjaga masih berdiri di tengah hujan, menjadi satu-satunya jejak suasana matsuri yang gagal digelar.
Jakarta, Duniaku.com - Saya sebenarnya sudah siap menulis artikel tentang Djakarta Ennichi 2026. Tapi ini jelas angle yang tidak saya duga.
Djakarta Ennichi 2026 diumumkan batal secara mendadak pada sekitar pukul 2 dini hari WIB, di hari H acara. (23/5/2026).
Sejak semalam dikabarkan bahwa panggung dan booth yang sudah dibangun berujung harus dibongkar.
Jadi gimana situasi Lapangan Banteng pada Sabtu ini, setelah pembatalan sebuah event besar yang begitu mendadak? Saya mencoba mengunjunginya sendiri.

1. Dekorasi seperti panggung dan lentera sudah tak ditemukan

Hingga sekitar 21.00 WIB hari Jumat saya masih melihat unggahan gambar panggung ala Jepang berdiri, dengan dekorasi seperti deretan lampion, standee Djaya maskot Djakarta Ennichi.
Namun ketika saya tiba di lokasi pada pukul 08.41 WIB, situasinya sudah berubah drastis.
Yang tersisa hanyalah deretan tenda putih kosong, beberapa di antaranya masih dalam proses pembongkaran. Banyak unsur festival Jepang yang telah lenyap.
Pembongkaran yang dilakukan setelah pengumuman dini hari itu terasa berlangsung sangat cepat.

2. Pengunjung Awam Tetap Beraktivitas Seperti Biasa

Meski venue festival tak jadi digunakan, aktivitas rutin warga di Lapangan Banteng tetap berjalan seperti biasa.
Saat saya tiba, sejumlah pengunjung masih jogging dan berolahraga pagi. Bahkan ketika hujan mulai turun mendekati pukul 09.00 WIB, beberapa tetap melanjutkan aktivitas mereka.
Di area belakang tribun yang terlindungi atap, tampak pula sekelompok anak sedang berlatih Taekwondo.
Ada juga yang sedang bersiap untuk sesi foto meski sempat terganggu hujan.
Bagi banyak pengunjung Lapangan Banteng pagi itu, Sabtu ini tetap terasa seperti hari biasa, waktu untuk berolahraga dan menikmati ruang publik.
Tenda-tenda kosong yang tersisa seolah hanya menjadi penanda bahwa seharusnya ada festival besar berlangsung di lokasi tersebut hari ini.
3. Hujan Turun

Sekitar pukul 08.50 WIB, hujan mulai turun di area Lapangan Banteng. Sempat disertai hembusan angin yang cukup kuat hingga membuat payung saya tersentak, sebelum intensitas anginnya perlahan berkurang.
Sejumlah pengunjung yang sebelumnya beraktivitas di area terbuka mulai berpindah ke lokasi yang memiliki atap untuk berteduh.
Hujan baru mulai berkurang menjadi rintik sekitar 10 lewat.
4. Shrine yang Masih Tersisa

Meski sebagian besar dekorasi bernuansa festival Jepang sudah dibongkar, saya masih menemukan satu area yang tersisa di tengah hujan pagi ini.
Sebuah instalasi menyerupai shrine kecil lengkap dengan kotak persembahan, diapit dua patung penjaga, masih berdiri di area venue saat hujan terus turun.
Pemandangan ini terasa cukup surreal. Di saat sebagian besar jejak festival sudah menghilang, area kecil ini masih menjadi penanda bahwa beberapa jam sebelumnya Lapangan Banteng seharusnya dipenuhi suasana matsuri Jepang.
Djakarta Ennichi 2026 sendiri sebelumnya direncanakan menghadirkan berbagai elemen budaya Jepang, termasuk kehadiran miko di area festival. Namun pada Sabtu pagi ini, yang tersisa hanyalah shrine kecil yang basah diguyur hujan.


















