Trailer The Furious, Joe Taslim dan Yayan Ruhian Siap Mengguncang!

- Lionsgate merilis trailer 'The Furious' yang mempertemukan Joe Taslim dan Yayan Ruhian, menandai kolaborasi besar aktor laga Asia dengan gaya bela diri otentik dan emosional.
- Film ini menghadirkan nuansa retro ala beat 'em up 80-an dengan koreografi intens, efek praktis, serta atmosfer gritty khas film laga klasik Hong Kong.
- Joe Taslim berperan sebagai Navin, jurnalis yang mencari istrinya di tengah dunia kriminal brutal; film disutradarai Kenji Tanigaki dan dijadwalkan rilis global Mei 2026.
Dunia perfilman aksi kembali bergairah setelah Lionsgate merilis trailer resmi untuk "The Furious", sebuah proyek ambisius yang mempertemukan maestro bela diri dari berbagai belahan Asia. Film ini bukan sekadar tontonan laga biasa, melainkan sebuah pernyataan bahwa kolaborasi lintas negara mampu melahirkan karya yang organik sekaligus brutal. Bagi penggemar film aksi di tanah air, daya tarik utamanya tentu saja kembalinya dua ikon besar, Joe Taslim dan Yayan Ruhian, dalam satu layar yang sama.
Kehadiran film ini seolah menjawab kerinduan penonton akan aksi bela diri yang jujur, tanpa terlalu banyak manipulasi visual. Dengan narasi yang emosional namun tetap fokus pada koreografi tingkat tinggi, "The Furious" diprediksi akan menjadi standar baru bagi film genre martial arts masa depan.
1. Reuni Ikonik Duo "The Raid" di Panggung Dunia

Nama Joe Taslim dan Yayan Ruhian sudah lama menjadi jaminan mutu bagi kualitas laga di kancah internasional. Setelah sempat beradu akting di berbagai proyek besar Hollywood, "The Furious" membawa mereka kembali ke akar bela diri Asia yang kental. Reuni ini sangat dinanti karena keduanya memiliki chemistry laga yang sangat kuat, sebuah dinamika yang jarang ditemukan pada pasangan aktor laga lainnya.
Dalam film ini, Joe Taslim mendapatkan porsi peran yang signifikan sebagai salah satu protagonis utama, sementara Yayan Ruhian memberikan sentuhan ancaman lewat peran spesialnya. Walau di trailer masih belum jelas gambaran peran Yayan.
Kolaborasi ini tidak hanya membuktikan konsistensi mereka di industri global, tetapi juga mempertegas posisi aktor Indonesia sebagai elemen penting dalam ekosistem film aksi kelas dunia yang diproduseri oleh nama-nama besar seperti Bill Kong.
2. Estetika "Beat 'em Up" Era 80-an yang Gritty

Salah satu aspek yang paling mencolok dari trailer "The Furious" adalah atmosfernya yang membangkitkan memori terhadap video game genre beat 'em up era 80-an. Penggunaan palet warna yang kontras, lokasi pertarungan yang kumuh namun ikonik, serta gerakan kamera yang dinamis memberikan kesan raw dan gritty.
Film ini seolah menjadi surat cinta bagi era keemasan film laga Hong Kong yang pernah mendominasi layar lebar beberapa dekade silam.
Vibe retro ini bukan sekadar kosmetik, melainkan fondasi dari gaya penceritaannya.
"Ada orang diculik lalu dua badass kerja sama untuk menyelamatkan dengan menghajar semua yang menghadang? Dan ada musuh yang kuat dengan gimmick unik juga?"
Yep. Beat-em up era 80-an.
Penonton diajak masuk ke dalam dunia di mana masalah diselesaikan lewat kepalan tangan di lorong-lorong sempit dan arena pertarungan bawah tanah. Pendekatan ini memberikan napas segar di tengah tren film aksi modern yang terkadang terlalu bergantung pada efek CGI yang berlebihan.
3. Joe Taslim Sebagai Navin: Misi Personal di Tengah Kekacauan

Dalam "The Furious", Joe Taslim memerankan karakter bernama Navin, seorang jurnalis yang terjebak dalam pusaran kriminalitas demi mencari istrinya yang hilang. Peran ini menuntut Joe untuk tidak hanya mengandalkan fisik, tetapi juga kedalaman emosional. Navin digambarkan sebagai sosok yang gigih dan tidak ragu untuk mengotori tangannya demi mendapatkan kebenaran di tengah konspirasi penculikan yang kejam.
Joe sendiri sempat mengungkapkan bahwa proses syuting film ini adalah salah satu yang paling menguras energi sepanjang kariernya. Setiap adegan pertarungan dirancang untuk menunjukkan rasa sakit dan kelelahan yang nyata, mempertegas bahwa karakter Navin bukanlah pahlawan super, melainkan manusia biasa yang terdesak oleh keadaan. Hal ini memberikan bobot lebih pada setiap pukulan yang dilepaskan di layar.
4. Sentuhan Emas Kenji Tanigaki dan Koreografi Tanpa Kompromi

Keberhasilan aksi dalam film ini tidak lepas dari tangan dingin Kenji Tanigaki sebagai sutradara. Dikenal lewat karyanya di seri Rurouni Kenshin, Tanigaki membawa disiplin tinggi dalam setiap aspek koreografi. Ia bersikeras menggunakan efek praktis dan meminimalisir penggunaan stunt double untuk menjaga otentisitas gerakan, sebuah tantangan besar yang berhasil dijawab dengan apik oleh para pemain.
Fokus utama Tanigaki adalah menciptakan pertarungan yang logis namun spektakuler. Salah satu adegan yang menjadi sorotan adalah pertarungan klimaks yang melibatkan banyak petarung di satu ruang terbatas, sebuah teknis yang membutuhkan sinkronisasi sempurna antara aktor dan kru kamera. Hasilnya adalah rangkaian aksi non-stop yang akan membuat penonton menahan napas dari awal hingga akhir.
5. Penantian Menuju Rilis Global Mei 2026

Meskipun film ini sudah sempat mencuri perhatian di Toronto International Film Festival (TIFF) pada akhir 2025, publik luas baru bisa menikmatinya di bioskop mulai 29 Mei 2026. Penundaan jadwal rilis global ini dilakukan demi memberikan ruang bagi strategi promosi yang lebih luas di bawah bendera Lionsgate. Langkah ini menunjukkan ambisi besar studio untuk menjadikan "The Furious" sebagai salah satu film laga terlaris di tahun tersebut.
Antusiasme kritikus yang memberikan skor sempurna di berbagai festival film menjadi modal kuat bagi kesuksesan komersialnya nanti. Bagi para penggemar di Indonesia, penantian hingga Mei 2026 tentu akan terasa sangat panjang, namun melihat kualitas yang ditawarkan di trailer perdana, sepertinya setiap detik penantian tersebut akan terbayar lunas.
"The Furious" menjanjikan paket lengkap bagi pencinta adrenalin: cerita pencarian yang emosional, visual retro yang memukau, dan barisan petarung terbaik Asia yang tampil tanpa kompromi. Film ini dipastikan akan menjadi perbincangan hangat dan mungkin menjadi salah satu karya terbaik yang melibatkan talenta Indonesia di panggung internasional.


















