8 Film di Mana Penjahat Justru Menang di Akhir Cerita! Bikin Depresi?

- Artikel ini membahas delapan film dari berbagai genre di mana penjahat justru meraih kemenangan, menampilkan akhir cerita yang gelap, tragis, atau nihilistis bagi para protagonisnya.
- Film-film seperti The Great Silence, Se7en, dan No Country for Old Men menunjukkan bagaimana rencana jahat tetap berhasil meski pelaku tewas atau tertangkap, menegaskan kemenangan moral penjahat.
- Dari Star Wars: Revenge of the Sith hingga Avengers: Infinity War dan Watchmen, artikel menyoroti bahwa kekalahan pahlawan bisa menjadi cara kuat untuk menggambarkan realitas pahit dan kompleksitas moral.
Namanya juga membahas ending, artikel ini jelas mengandung spoiler besar. Beberapa film di daftar ini bahkan sudah tergolong klasik. Tapi kalau kamu benar-benar anti spoiler, lebih baik hati-hati sebelum lanjut membaca.
SPOILER ALERT!!!
Kalau penjahat menang di film horor sih biasanya terasa wajar. Mau sekeras apa pun protagonis berjuang, monster atau sosok jahatnya sering tetap unggul di akhir cerita. Namun di genre lain, penonton umumnya berharap sang pahlawan berhasil menang dan menegakkan keadilan.
Nah, film-film di daftar ini justru berjalan ke arah sebaliknya.
Lalu apa sebenarnya kriteria “penjahat menang” di artikel ini? Sederhana saja: tujuan utama si penjahat tercapai.
Kadang para pahlawan memang berhasil melawan sampai titik tertentu. Ada juga kasus di mana penjahat mati atau tertangkap. Namun kalau rencana mereka tetap sukses terlaksana, itu tetap bisa dianggap kemenangan.
Setelah itu dijelaskan, mari kita mulai melihat deretan film di mana para penjahat benar-benar menang.
Table of Content
1. The Great Silence

Kalau membicarakan film di mana penjahat menang, The Great Silence adalah salah satu contoh paling brutal.
Tokoh utamanya adalah pria bisu yang dijuluki Silence. Ia melindungi komunitas bandit dan pencuri dari para pemburu bayaran. Namun para kriminal itu sebenarnya bukan sekadar jahat demi kesenangan. Wilayah mereka dilanda badai salju hebat, dan banyak dari mereka terpaksa mencuri hanya untuk bertahan hidup.
Karena itulah Silence terasa begitu simpatik. Ia berdiri membela orang-orang putus asa yang diburu tanpa ampun.
Musuh utamanya ada dua. Yang pertama adalah Henry Pollicut, bankir korup yang terlibat dalam kematian ayah Silence. Yang kedua adalah Loco, pemburu bayaran sadis yang membantai para bandit demi hadiah uang.
Silence memang berhasil membunuh Pollicut. Namun ia akhirnya dijebak dan dibunuh oleh Loco. Pauline, kekasih Silence, ikut dibunuh. Setelah itu para bandit yang selama ini ia lindungi juga dihabisi.
Ending-nya begitu suram sampai terasa hampir nihilistis. Kalau kamu penasaran seperti apa film western yang benar-benar depresif, The Great Silence wajib dicoba.
2. No Country for Old Men

No Country for Old Men adalah contoh lain film di mana penjahat menang, namun dengan cara yang terasa absurd dan dingin.
Ceritanya mengikuti Llewelyn Moss, veteran perang Vietnam yang menemukan uang dalam jumlah besar di lokasi baku tembak kartel. Awalnya ia sebenarnya bisa saja kabur dan hidup tenang.
Namun semuanya berubah ketika ia kembali ke lokasi kejadian hanya untuk memberi air kepada pria sekarat yang ia tinggalkan sebelumnya. Keputusan kecil itu justru menyeretnya ke mimpi buruk.
Salah satu sosok yang mengejarnya adalah Anton Chigurh, pembunuh bayaran mengerikan yang terasa seperti personifikasi maut itu sendiri.
Yang mengejutkan, Moss justru dibunuh secara off-screen. Bahkan Sheriff Bell, yang sepanjang film dibangun seperti harapan terakhir, pada akhirnya gagal menghentikan kekacauan yang terjadi.
Tak berhenti di situ, Chigurh juga diimplikasikan membunuh istri Moss yang tidak bersalah.
Namun ada satu momen menarik menjelang akhir film: Chigurh tiba-tiba tertabrak mobil secara random banget.
Sepanjang cerita ia terasa seperti “hakim kosmis” yang berjalan di luar hukum manusia. Tapi kecelakaan itu menunjukkan bahwa ia tetap manusia biasa, tetap rapuh, dan tetap tidak bisa lepas dari absurditas dunia.
3. Se7en

Se7en adalah contoh sempurna film di mana penjahat menang meski ia mati di akhir cerita.
Pembunuh misterius di film ini melakukan serangkaian pembunuhan berdasarkan tujuh dosa besar: greed, envy, wrath, pride, sloth, gluttony, dan lust.
Sepanjang film, sang pelaku selalu selangkah lebih maju dibanding polisi. Bahkan ketika ia akhirnya menyerahkan diri, itu ternyata masih bagian dari rencananya.
Ia membawa Detektif Mills dan Somerset ke lokasi terakhir. Di sanalah terungkap bahwa korban terakhirnya adalah istri Mills, yang sedang hamil.
Motifnya? Sang pembunuh iri dengan kehidupan Mills. Itu menjadikannya representasi dosa envy.
Begitu Mills mengetahui istrinya dibunuh, ia tak mampu menahan amarah dan menembak mati si pelaku. Namun itulah yang diinginkan sang pembunuh sejak awal. Mills kini menjadi representasi wrath.
Tujuh dosa besar pun akhirnya lengkap.
4. Star Wars: Episode III – Revenge of the Sith

Trilogi prekuel Star Wars pada dasarnya memang dibangun untuk memperlihatkan kejatuhan para Jedi dan lahirnya Darth Vader. Jadi sejak awal, penonton sebenarnya sudah tahu penjahat akan menang.
Dan memang itulah yang terjadi di Revenge of the Sith.
Sebagian besar Jedi Order dimusnahkan. Senator Palpatine mengubah Republik menjadi Galactic Empire dan resmi menjadi Emperor. Sementara itu Anakin Skywalker sepenuhnya jatuh ke sisi gelap.
Yoda gagal mengalahkan Palpatine. Obi-Wan Kenobi memang berhasil menundukkan Anakin, namun ia tidak memastikan muridnya benar-benar mati.
Kesalahan itu memungkinkan Palpatine menyelamatkan Anakin dan mengubahnya menjadi Darth Vader.
Untuk melihat bagaimana situasinya berkembang setelah itu? Tinggal lanjut dari Rogue One sampai Return of the Jedi.
5. Chinatown

“Forget it, Jake. It’s Chinatown.”
Kalimat itu jadi salah satu ending paling legendaris dalam sejarah film.
Chinatown menghadirkan kemenangan penjahat yang terasa sangat realistis dan menyakitkan. Noah Cross terlalu kaya, terlalu berpengaruh, dan terlalu kuat untuk dijatuhkan.
Pada akhirnya, orang-orang yang mencoba melawannya justru mati. Cross bahkan berhasil mendapatkan kendali atas anak sekaligus cucunya.
Jake Gittes hanya bisa menyaksikan semuanya tanpa daya.
Tidak ada kemenangan heroik. Tidak ada keadilan besar di akhir cerita. Yang tersisa hanya rasa pahit.
6. Avengers: Infinity War

Untuk ukuran film blockbuster superhero modern, Infinity War punya ending yang luar biasa nekat.
Thanos benar-benar menang telak.
Ia berhasil mendapatkan seluruh Infinity Stones dan mewujudkan mimpinya: menghapus separuh populasi alam semesta.
Banyak hero besar berubah jadi debu, sementara Thanos duduk tenang menikmati matahari terbit di dunia yang menurutnya sudah “diselamatkan.”
Memang pada akhirnya ia kalah di Endgame. Namun khusus untuk Infinity War, kemenangan Thanos nyaris absolut.
7. Watchmen

Sama seperti versi graphic novel-nya, Watchmen berakhir dengan kemenangan Ozymandias.
Rencananya berhasil. Jutaan orang mati demi menciptakan perdamaian dunia.
Masalahnya, para hero yang tersisa sadar bahwa mengungkap kebenaran justru bisa memicu perang besar baru. Karena itu mereka memilih diam.
Rorschach menjadi satu-satunya yang menolak kompromi. Namun karena ia tidak mau tutup mulut, Dr. Manhattan terpaksa membunuhnya.
Ending ini membuat kemenangan Ozymandias terasa makin mengerikan: ia bukan cuma sukses menjalankan rencananya, tapi juga memaksa para hero menerima kebohongan tersebut.
8. The Usual Suspects

The Usual Suspects pada dasarnya adalah film tentang bagaimana Dave Kujan mendengar cerita yang ingin ia dengar dari Roger “Verbal” Kint.
Sepanjang interogasi, Verbal tampak seperti pria lemah dan ketakutan. Namun menjelang akhir film, semuanya berubah total.
Kujan perlahan menyadari bahwa cerita Verbal penuh kebohongan yang dirangkai dari benda-benda di sekitar ruangan.
Lalu terungkap fakta besarnya: Verbal sebenarnya adalah Keyser Söze, kriminal legendaris yang selama ini dicari.
Dan saat Kujan akhirnya memahami semuanya… Keyser Söze sudah menghilang begitu saja.


















