- Cerita original dan stand alone
- Konflik yang tidak terlalu memengaruhi cerita utama
- Banyak fan service untuk penggemar lama
- Momen unjuk gigi karakter favorit
Review Movie Tensura Tears of the Azure Sea, Cocok untuk Fans Tensura

- Film Tears of the Azure Sea menyorot Gobta dan Yura sebagai pusat cerita, menghadirkan nuansa ringan dengan porsi aksi dan komedi sebelum Rimuru terlibat penuh dalam konflik utama.
- Struktur film mengikuti pola khas movie anime: cerita orisinal, konflik ringan, serta fan service melimpah yang menonjolkan interaksi santai dan momen seru karakter favorit bagi penggemar lama.
- Antagonis tampil tipikal namun efektif menjaga ketegangan, sementara keseluruhan film terasa menghibur dan cocok untuk fans Tensura yang ingin menikmati petualangan tambahan tanpa beban cerita berat.
Pada hari Minggu (10/5/2026) saya mendapat kesempatan hadir ke fan screening That Time I Got Reincarnated as a Slime the Movie: Tears of the Azure Sea.
Bagaimana kesan saya soal filmnya?
Mari simak review That Time I Got Reincarnated as a Slime the Movie: Tears of the Azure Sea versi Duniaku.com ini!
Synopsis That Time I Got Reincarnated as a Slime the Movie: Tears of the Azure Sea
Kaien adalah negara bawah laut yang penduduknya menyembah Naga Air sebagai dewa pelindung mereka. Leluhur mereka hidup di antara klan lain di permukaan sejak lama, tetapi setelah mengembara di bumi untuk mencari tanah yang damai dan stabil, mereka diberkati oleh Naga Air dengan kerajaan yang bebas dari konflik.
Namun, kedamaian itu tidak akan bertahan selamanya. Yura, pendeta wanita yang berdoa kepada Naga Air yang telah lama tertidur, mengetahui bahwa seseorang sedang berencana untuk menyerang permukaan untuk membangunkan Naga Air, jadi dia mengambil seruling yang telah diwariskan dalam klannya selama beberapa generasi dan menuju ke permukaan untuk mencari bantuan. Ketika dia tiba, dia mendapati dirinya berada di sebuah pulau resor di wilayah Elmesia, permaisuri Dinasti Penyihir Thalion, dan dia bertemu Rimuru dan rekan-rekannya, yang sedang menikmati liburan singkat setelah menyelesaikan Festival Pembukaan Negara mereka. Kelompok Rimuru menerima permintaan Elmesia untuk menemani Yura ke Kaien agar mereka dapat membantu, tetapi sebuah konspirasi sudah mulai terjadi di bawah laut...
Setelah Naga Air terbangun dan kekacauan terjadi karena seruling, kekuatan tersembunyi Yura terungkap. Dapatkah Rimuru dan kawan-kawan melindungi laut biru dari ancaman yang mendekat dan memulihkan perdamaian di Kaien?
1. Gobta justru jadi jantung utama film ini

Salah satu hal paling menarik dari movie ini adalah: fokusnya bukan sepenuhnya pada Rimuru.
Karena latarnya berada di antara season 3 dan season 4, Rimuru di titik ini sudah menjadi Demon Lord. Masalahnya, karakter sekuat Rimuru berisiko membuat konflik terasa terlalu mudah selesai.
Solusi film ini cukup menarik: menjadikan Gobta sebagai pusat emosional cerita.
Interaksi Gobta dengan Yura terasa seperti inti utama movie ini. Bahkan dari pengalaman saya menonton kemarin, film mulai sekitar pukul 13.15 WIB, dan Rimuru baru benar-benar terlibat penuh dalam konflik utama sekitar pukul 14.00 WIB.
Sekitar 40 menit awal film lebih banyak menyorot fan service dan adegan komedi, lalu beralih ke adegan aksi Gobta dan Yura dimana Rimuru dan kawan-kawan belum terlibat.
Dan jujur? Itu justru membantu movie ini terasa lebih ringan dan santai.
2. Struktur filmnya sangat “movie anime” dan penuh fan service

Kalau kamu sering menonton movie anime adaptasi serial populer, pola film ini bakal terasa familiar.
Biasanya formulanya seperti ini:
Dan ya, Tears of the Azure Sea benar-benar mengikuti formula tersebut.
Fan service di sini bukan cuma soal aksi karakter favorit, tapi juga momen santai yang menyenangkan. Ada adegan karakter memakai kostum musim panas, interaksi ringan antar anggota Tempest, hingga chemistry antar karakter yang memang terasa dibuat untuk memanjakan fans.
Karena itu, saya rasa ekspektasi sangat penting sebelum menonton film ini.
Jangan datang berharap cerita dengan skala epik seperti arc terbaik Tensura. Film ini lebih cocok dinikmati sebagai petualangan tambahan yang fun, ringan, dan penuh momen fan service.
3. Antagonisnya terasa tipikal… tapi tetap efektif

Kalau ada aspek yang menurut saya paling lemah dari film ini, jawabannya mungkin antagonisnya.
Baik antagonis utama maupun twist villain di movie ini terasa sangat “anime isekai banget.” Karakter mereka menyebalkan, manipulatif, dan motivasinya tidak terlalu digali dalam.
Namun lucunya, meski kualitas penulisannya biasa saja, mereka tetap berhasil menjalankan fungsi penting: membuat penonton ingin melihat mereka kalah.
Jadi walau mereka bukan antagonis yang kompleks atau memorable, setidaknya mereka cukup efektif untuk membuat konflik film tetap berjalan.
Sayang antagonis utama film ini tidak dihajar lebih banyak.
4. Lucunya… movie ini hampir tidak ada rapat

Tensura punya reputasi unik di kalangan anime fans sebagai “anime rapat.”
Dan jujur saja, saya sempat tertawa ketika menyadari sesuatu: movie ini nyaris tidak punya rapat formal sama sekali.
Masih ada adegan para karakter duduk bersama membahas situasi, tentu saja. Tapi nuansanya jauh lebih santai dibanding vibe meeting politik khas Tensura biasanya.
Sebagai gantinya, film ini lebih fokus menghadirkan:
- momen santai antar karakter,
- fan service,
- petualangan,
- dan aksi.
Jadi buat yang bercanda soal “Tensura kebanyakan rapat,” movie ini mungkin justru terasa cukup berbeda.
5. Jadi, film ini cocok untuk siapa?

Menurut saya, That Time I Got Reincarnated as a Slime the Movie: Tears of the Azure Sea paling cocok untuk:
- Fans Tensura yang ingin melihat petualangan baru Rimuru dan Tempest
- Fans yang suka interaksi santai antar karakter
- Penonton fan screening yang ingin menikmati pengalaman komunitas dan merch eksklusif
- Penggemar Gobta yang ingin melihat perannya lebih menonjol
Namun saya kurang merekomendasikan film ini untuk:
- penonton baru yang belum familiar dengan Tensura,
- atau penonton yang mencari movie anime dengan cerita sangat epik dan emosional.
Ini bukan tipe film yang akan membuat kamu kehilangan banyak hal kalau melewatkannya. Tapi untuk fans Tensura sendiri? Film ini tetap terasa menghibur dan menyenangkan.
Pada akhirnya saya memberi nilai 3.5 dari 5 bintang untuk film ini.
Menghibur, ringan, dan penuh fan service untuk fans Tensura. Namun kekuatan utamanya memang sangat bergantung pada seberapa besar kamu menyukai dunia dan karakter serial ini.
Kalau bukan fans Tensura, kemungkinan reaksinya antara bingung… atau merasa filmnya biasa saja.
| Producer | 8bit |
| Writer | Toshizo Nemoto, Yasuhito Kikuchi |
| Age Rating | 13+ |
| Genre | Animasi, Fantasi, Petualangan, Komedi |
| Duration | 105 Minutes |
| Release Date | 27-02-2026 |
| Theme | monster, magic, slime, shounen, anime, isekai |
| Production House | 8bit, Bandai Namco Filmworks, BN Pictures |
| Where to Watch | CGV, Cinepolis |
| Cast | Miho Okasaki, Mao Ichimichi, Tomoaki Maeno, Makoto Furukawa, Sayaka Senbongi |


















