Rekomendasi 5 Film Parodi Hong Kong! Tak Hanya Future Cops

- Future Cops (1993)
- Film parodi era 90-an Hong Kong yang mengacu ke Street Fighter dan The Terminator.
- Campuran game, anime, dan film Hollywood tanpa rasa bersalah menjadi daya tarik utamanya.
- Menyelipkan karakter parodi Suneo dari Doraemon dan Son Goku dari Dragon Ball.
- All for the Winner (1990)
- Parodi film Hong Kong God of Gamblers dengan kekuatan supernatural yang berlebihan.
- Sing kemudian dijadikan kanon dalam semesta God of Gamblers.
- Mirip fanfic yang diakui secara hukum.
- Shaolin Soccer (
Pernah ada masa ketika film Hong Kong itu... jujur saja... sangat, sangat liar soal parodi.
Kalau sebuah IP sedang naik daun, entah itu game, film, atau anime, bukan hal aneh kalau ada studio Hong Kong yang langsung bikin versi parodinya.
Bayangkan Street Fighter lagi populer, lalu muncul film parodi dengan karakter, teknik, dan gaya bertarung yang jelas-jelas mengacu ke versi aslinya tapi dibelokkan ke arah komedi absurd khas Hong Kong.
Kalau kamu butuh rekomendasi film-film parodi Hong Kong yang kreatif, nekat, dan sering kali tak masuk akal, ini beberapa contoh yang patut kamu cek!
1. Future Cops (1993)

Film parodi yang satu ini, yang bisa dibilang favorit banyak warga Duniaku, adalah contoh paling gamblang betapa liarnya sinema Hong Kong era 90-an dalam urusan parodi.
Karakter-karakternya memang cuma “cosplay tipis-tipis” dari Street Fighter. Tapi soal jurus? Nggak ada yang tipis. Shoryuken, Sonic Boom, sampai Sumo Headbutt keluar semua tanpa malu-malu, seolah lisensi bukan sesuatu yang perlu dipikirkan terlalu serius.
Yang lebih absurd lagi, alur ceritanya jelas-jelas meminjam kerangka The Terminator: sekelompok polisi dari masa depan kembali ke tahun 1993 untuk mengejar kelompok villain yang pergi ke masa lalu.
Gak berhenti di situ, film ini juga dengan santainya menyelipkan karakter yang terasa sebagai parodi Suneo dari Doraemon, serta sosok yang jelas-jelas mengingatkan pada Son Goku dari Dragon Ball.
Hasil akhirnya? Film yang terasa seperti crossover nguawur pop culture, di mana game, anime, dan film Hollywood dicampur jadi satu tanpa rasa bersalah, dan justru itulah daya tarik utamanya.
2. All for the Winner (1990)

Ini kasus yang cukup langka, bahkan untuk standar parodi Hong Kong. Soalnya yang diparodikan bukan film Hollywood, bukan game Jepang, melainkan film Hong Kong itu sendiri: God of Gamblers.
Lewat film ini, Stephen Chow memerankan Sing, sosok “dewa judi” versi absurd. Kalau Ko Chun di God of Gamblers menang lewat kecerdasan, intuisi, dan trik tingkat tinggi, Sing justru benar-benar memakai kekuatan supernatural.
Parodinya jelas, berlebihan, dan disengaja. Tapi justru di situlah keajaibannya.
Yang bikin film ini makin aneh sekaligus legendaris: Sing kemudian dijadikan kanon dalam semesta God of Gamblers. Ia benar-benar muncul di God of Gamblers II, seolah dunia serius dan dunia parodi itu sah-sah saja bertabrakan.
Parodi yang bukan cuma menertawakan aslinya, tapi diserap ke dalam mitologi resmi. Untuk ukuran film, ini hampir seperti fanfic yang diakui secara hukum.
3. Shaolin Soccer (2001)

Pernah merasa beberapa adegan di Shaolin Soccer itu seperti parodi Captain Tsubasa?
Perasaan itu bukan kebetulan. Manga sepak bola legendaris tersebut memang menjadi salah satu inspirasi terbesar film ini.
Hal ini bahkan diakui langsung oleh Stephen Chow. Ia menjelaskan bahwa efek CGI yang terasa “berlebihan” serta gerakan sepak bola yang ekstrem dan kinetik terinspirasi dari Captain Tsubasa, sebuah serial yang dulu sangat populer di Hong Kong, digemari anak-anak, orang dewasa, bahkan memiliki basis fans kuat di Eropa.
Menurut Chow, hal-hal yang dulu hanya bisa diwujudkan lewat pena dan tinta di medium manga, akhirnya bisa benar-benar “dihidupkan” berkat perkembangan teknologi CGI. Ide menggabungkan sepak bola ala Captain Tsubasa dengan kung fu sendiri sudah lama ada di kepalanya, hanya saja baru mungkin direalisasikan ketika teknologi visualnya siap.
Parodinya memang tidak segamblang film-film Hong Kong era 90-an, dan Shaolin Soccer tetap berdiri di atas kisah orisinal sebagai fondasi utama. Namun, pengaruh Captain Tsubasa (baik dari sisi visual, skala aksi, maupun absurditas gerak) jelas terasa dan sulit diabaikan.
4. From Beijing with Love

Ya, daftar ini memang makin terasa didominasi film-film Stephen Chow. Tapi jujur saja, itu karena ia memang sempat jadi spesialis komedi parodi, dan ia selalu berakting dengan sangat percaya diri.
Dari judulnya saja sudah terasa jelas arahnya: From Beijing with Love adalah parodi terang-terangan terhadap film-film James Bond. Aura agen rahasia super-keren itu sengaja dibenturkan dengan absurditas khas Chow.
Atribut-atribut ikonik Bond pun hadir, tentu dengan twist konyol, termasuk pistol emas.
Menariknya, film ini tidak berhenti di satu target saja. Ia juga menyelipkan referensi ke Jurassic Park, serta film Hong Kong populer C'est la vie, mon chéri, memperkuat kesan bahwa ini adalah parodi pop culture campur aduk tanpa rem.
5. Fight Back to School III

Untuk Fight Back to School III, pendekatan ceritanya cukup berbeda dibanding dua film sebelumnya.
Alasannya sederhana tapi absurd: film justru mengambil inspirasi dari dua thriller sensual Hollywood yang serius dan penuh ketegangan, Basic Instinct dan Fatal Attraction.
Bayangkan atmosfer erotis, paranoia, dan permainan psikologis khas kedua film itu… lalu disajikan lewat lensa komedi slapstick ala Stephen Chow.
Disutradarai oleh Wong Jing, hasilnya adalah parodi yang terasa makin ngawur, kadang seperti kehilangan arah, tapi justru karena itulah film ini tetap berkesan dan unik. Ia berani membenturkan genre yang “dewasa dan serius” dengan humor bodoh dan tidak tahu malu.

















