8 Keluhan Penggemar dari Avatar Netflix Season 2, Tak Sesuai Animasi?

- Season 2 Avatar: The Last Airbender versi Netflix menuai kritik karena banyak episode ikonik dipotong, membuat perkembangan karakter dan momen emosional terasa kurang mendalam.
- Pemilihan pemeran dan perubahan karakter seperti Azula, Zuko, serta Toph memicu perdebatan penggemar yang menilai beberapa perubahan tidak perlu dan mengubah esensi tokoh aslinya.
- Fokus cerita yang terlalu lama di Ba Sing Se membuat dunia Avatar terasa sempit, sementara dinamika Team Avatar dinilai kurang natural dibanding versi animasi.
Meski mendapat banyak pujian karena kualitas produksinya meningkat dibanding Season 1, Avatar: The Last Airbender Season 2 versi live action Netflix tetap menuai berbagai kritik dari penggemar.
Sebagian besar keluhan bukan berasal dari efek visual atau akting, melainkan dari banyaknya perubahan terhadap alur cerita, karakter, hingga momen-momen ikonik dari serial animasi. Berikut delapan keluhan yang paling sering dibahas oleh para penggemar di sosial media!
Table of Content
1. Terlalu Banyak Episode Ikonik yang Dipotong

Keluhan terbesar datang dari keputusan Netflix yang menghilangkan sekitar sebelas episode dari Book 2 versi animasi. Beberapa episode favorit seperti The Swamp, The Drill, The Desert, Avatar Day, Appa's Lost Days, hingga The Guru tidak diadaptasi secara utuh.
Memang, sebagian elemen dari episode-episode tersebut masih digunakan. Namun, banyak penggemar merasa setiap cerita kehilangan ruang untuk berkembang karena berbagai alur digabungkan menjadi satu.
Akibatnya, banyak momen penting yang dulu menjadi fondasi perkembangan karakter kini terasa jauh lebih singkat dan kurang memiliki dampak emosional.
2. Pemilihan Cast yang Kurang Disukai

Meski banyak karakter baru mendapat sambutan positif, terutama pemeran Toph yang dinilai berhasil menangkap kepribadian dan kemampuan ikonik sang pengendali bumi, pemilihan beberapa pemeran lain masih menjadi bahan perdebatan di kalangan penggemar.
Nama-nama seperti pemeran Azula, Mai, hingga Zuko kecil menjadi yang paling sering diperbincangkan. Sebagian penggemar merasa penampilan maupun aura yang ditampilkan belum sepenuhnya sesuai dengan gambaran karakter dalam serial animasi. Kritik tersebut umumnya lebih mengarah pada kesan karakter dan kecocokan dengan versi asli, meski tidak sedikit pula komentar yang berubah menjadi kritik terhadap penampilan fisik para aktor.
Di sisi lain, banyak penggemar juga membela para pemeran dengan menilai bahwa kualitas akting mereka justru meningkat dibanding Season 1. Karena itu, perdebatan mengenai casting Season 2 masih terus berlangsung, dengan sebagian penonton berharap para karakter tersebut akan semakin berkembang pada musim berikutnya.
3. Appa Kehilangan Arc Terbaiknya

Di versi animasi, penculikan Appa menjadi salah satu momen paling emosional sepanjang serial. Bahkan Appa mendapat satu episode khusus berjudul Appa's Lost Days yang memperlihatkan perjuangannya bertahan hidup setelah terpisah dari Team Avatar.
Versi live action memang tetap mempertahankan penculikan Appa, tetapi dengan perubahan besar. Appa diculik langsung di Ba Sing Se dan hanya menghilang dalam waktu yang jauh lebih singkat.
Karena sebagian besar musim juga berlangsung di Ba Sing Se, banyak penggemar merasa kehilangan Appa tidak lagi terasa sebagai pukulan besar bagi Team Avatar maupun penonton.
4. Dinamika Team Avatar Terasa Dipaksakan

Di animasi, Team Avatar perlahan tumbuh menjadi keluarga yang saling percaya. Mereka memang sering bertengkar, tetapi konfliknya terasa natural dan menjadi bagian dari perkembangan karakter.
Di live action, banyak penggemar merasa hubungan mereka justru dipenuhi drama yang tidak perlu. Hampir setiap karakter beberapa kali berselisih karena masalah kecil sehingga chemistry mereka terasa lebih seperti sekumpulan orang yang dipaksa bekerja sama daripada sahabat.
Akibatnya, beberapa momen emosional yang seharusnya terasa menyentuh—seperti persahabatan Katara dan Toph—dinilai datang terlalu cepat karena hubungan mereka belum dibangun dengan cukup baik.
5. Zuko Mencuri dari Ibu Hamil

Salah satu perubahan yang ramai diperdebatkan adalah adegan ketika Zuko mencuri suplai milik pasangan yang sedang menantikan kelahiran anak.
Di animasi, Zuko tetap mencuri demi bertahan hidup, tetapi tidak dari pasangan tersebut. Banyak penggemar menganggap hal itu menunjukkan bahwa Zuko masih memiliki batas moral tertentu.
Sementara itu, ada pula yang membela versi live action dengan mengatakan bahwa inti adegannya tetap sama: Zuko sedang berada di titik terendah hidupnya dan terpaksa melakukan hal yang salah demi bertahan hidup.
6. Beberapa Perubahan Karakter Dianggap Tidak Perlu

Selain Zuko, beberapa perubahan karakter lain juga menuai kritik, seperti latar belakang keluarga Toph yang dijadikan sebagai pihak yang mendapat keuntungan dari perang, serta beberapa dinamika hubungan antarkarakter yang dibuat berbeda dari animasi.
Sebagian penonton menganggap perubahan tersebut berhasil memperdalam cerita live action.
Namun, ada pula yang merasa beberapa perubahan dilakukan hanya demi membedakan diri dari animasi, padahal versi aslinya sudah dianggap sangat efektif. Meski begitu, mayoritas ulasan tetap sepakat bahwa Season 2 merupakan peningkatan besar dibanding Season 1 dan memberikan harapan tinggi untuk musim terakhir.
7. Karakter Azula dan Toph Dinilai Berubah Terlalu Jauh

Salah satu kritik terbesar juga datang dari perubahan karakter. Banyak penggemar menilai Azula kehilangan aura "golden child" yang menjadi inti karakternya di animasi.
Di versi asli, Azula selalu menjadi anak kesayangan Ozai, sementara Zuko terus berusaha mendapatkan pengakuan sang ayah. Live action justru membalik dinamika tersebut dengan membuat Azula lebih sering merasa tidak percaya diri dan haus validasi dari Ozai.
Toph juga menuai kritik karena motivasi menemukan metalbending diubah menjadi pembuktian terhadap ibunya. Padahal di animasi, penemuan metalbending lahir dari kecerdikan Toph ketika berusaha menyelamatkan dirinya sendiri, bukan karena konflik keluarga.
8. Ba Sing Se Terlalu Mendominasi Season 2

Keluhan lain yang cukup sering muncul adalah sebagian besar cerita berlangsung di Ba Sing Se. Padahal dalam animasi, Book 2 membawa Team Avatar menjelajahi banyak wilayah berbeda sehingga dunia Avatar terasa luas.
Karena terlalu lama berada di satu lokasi, banyak penggemar merasa dunia dalam live action justru terasa lebih kecil. Beberapa lokasi ikonik hanya muncul sebentar atau bahkan dihilangkan sama sekali.
Dampaknya juga terasa pada beberapa alur cerita. Misalnya penculikan Appa dianggap kehilangan dampak emosional karena Appa sendiri hampir sepanjang musim hanya berada di sekitar Ba Sing Se dan menghilang dalam waktu yang jauh lebih singkat dibanding versi animasi.
Nah kalau kamu, apa keluhanmu?



![[QUIZ] Pilih Karakter Avatar The Last Airbender, Kami Tebak Kepribadianmu Alpha, Beta, atau Omega](https://image.idntimes.com/post/20251211/upload_3df939d6b7e9b2e3f34c153c959a48d2_56b21568-bee5-483e-a081-669bea324773.jpg)










