Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
Penilaian Film Passenger, Teror Jalanan yang Cepat Kehabisan Bensin
Dok. Paramount Pictures (Passenger)

Film ini mengangkat tentang seberapa sering kita diingatkan tentang satu aturan tak tertulis saat bepergian jauh: jangan pernah menepi di tempat antah berantah pada malam hari, terutama saat bulan enggan bersinar? Pesan peringatan klasik inilah yang berusaha dibawa oleh Passenger, horor terbaru garapan sutradara André Øvredal (The Last Voyage of the Demeter). Ia mencoba mengingatkan kembali para pencinta road trip bahwa jalanan yang gelap menyimpan rahasia yang tidak seharusnya diusik.

1. Sebuah Pembukaan yang Efektif

Dok. Paramount Pictures (Passenger)

Cerita dibuka dengan sekelompok pria yang memutuskan berhenti sejenak untuk buang air kecil, sebuah keputusan sepele yang berakhir dengan pembunuhan brutal. Ketegangan langsung memuncak ketika salah satu dari mereka mencoba kabur dengan mobil Honda usangnya, namun malah terjebak dalam lingkaran teror yang tak berujung.

Sambil berusaha melarikan diri, mobil tersebut terus-menerus berpapasan dengan sosok misterius yang sama. Penampilan sosok ini, yang berpakaian compang-camping seolah baru saja keluar dari bar kumuh era 1934, memberikan kesan ganjil dan tidak wajar. Prolog ini menjadi pembuka yang sangat solid, menetapkan aturan dasar yang mencekam bahwa di jalan ini, tidak ada satu pun pengelana yang benar-benar aman.

2. Ilusi Rasa Aman

Dok. Paramount Pictures (Passenger)

Setelah prolog yang berdarah, fokus penceritaan beralih pada pasangan muda asal New York, Tyler (Jason Scipio) dan Maddie (Lou Llobell). Keduanya baru saja mengambil keputusan radikal untuk meninggalkan penatnya kehidupan urban demi kebebasan gaya hidup nomaden di atas van berwarna oranye. Dinamika hubungan mereka terbangun dengan cukup natural. Meski pada awalnya perjalanan ini terasa murni sebagai ambisi sepihak Tyler, Maddie perlahan mulai menikmati romansa jalan raya tersebut, terutama setelah Tyler melamarnya dengan cara yang manis.

Untuk memperkuat rasa aman di tengah ketidakpastian jalanan, mereka mengelilingi diri dengan berbagai jimat penolak bala modern. Di dasbor van mereka bertengger sebuah bobblehead Bob Ross, lengkap dengan mantra ikonik yang terus diulang oleh Tyler kepada Maddie: "No mistakes, just happy accidents". Selain itu, medali St. Christopher yang menggantung di kaca spion seolah memberikan ilusi bahwa perjalanan mereka berada di bawah perlindungan ilahi.

Sayangnya, ilusi keamanan itu hancur berantakan pada satu malam berhujan enam minggu kemudian. Di sebuah jalur dua arah yang membelah hutan gelap, mereka hampir diserempet oleh mobil Honda usang yang sama dari adegan prolog, yang kemudian berujung pada kecelakaan di depan mata mereka. Niat baik untuk menolong justru berbalik menjadi petaka ketika mereka melihat sosok pria ganjil di kejauhan yang muncul dan menghilang di antara kedipan lampu hazard.

3. Ketika Misteri Kehilangan Tajinya

Dok. Paramount Pictures (Passenger)

Ketegangan seharusnya semakin memuncak ketika Tyler dan Maddie tiba di festival kumpul nomaden bernama Burning Van. Di sana, suasana meresahkan mulai dibangun melalui dinding yang penuh dengan poster orang hilang dan berita kematian. Maddie juga menerima peringatan langsung dari seorang veteran van lifer, Diane (Melissa Leo), tentang eksistensi iblis kuno yang memangsa para pengelana yang kurang waspada.

Namun, di sinilah letak kelemahan terbesar naskah garapan Zachary Donohue dan T.W. Burgess. Seperti penyakit umum pada film horor medioker, naskah ini terlalu bernafsu untuk menjelaskan segalanya. Upaya untuk mengaitkan asal-usul sang monster dengan sejarah sandi rahasia gelandangan (hobo codes) dan mitologi religius justru menjadi bumerang. Penjelasan yang terlalu rinci ini berfungsi layaknya peredam kejut (shock absorber), yang perlahan-lahan mematikan rasa penasaran dan kengerian penonton.

Akibatnya, ketika teror fisik benar-benar terjadi, saat sang monster menyerang Maddie di lahan parkir yang kosong, momen tersebut kehilangan impaknya. Penonton sudah terlalu dijejali dengan eksposisi yang berlebihan, sehingga peringatan dari Diane maupun serangan berdarah yang terjadi terasa hambar dan terlambat untuk membangkitkan rasa takut yang nyata.

4. Estetika Visual vs Eksekusi Horor yang Mudah Ditebak

Dok. Paramount Pictures (Passenger)

Terlepas dari kelemahan naskahnya, André Øvredal membuktikan bahwa ia adalah sutradara yang masih memiliki visi visual yang kuat. Hal ini terlihat jelas pada satu eksekusi adegan eksentrik yang sangat memanjakan mata dan terasa enjoyably oddball. Ketika "Passenger Man" datang mengacaukan malam pemutaran film luar ruang di tengah hutan, Øvredal menghadirkan momen surealis yang sulit dilupakan.

Dalam adegan kekacauan tersebut, cahaya dari proyektor secara acak menyorot ke pepohonan di sekeliling mereka, memproyeksikan wajah raksasa aktor klasik Gregory Peck dan Audrey Hepburn di antara dahan-dahan gelap. Elemen ini menciptakan sebuah kontras visual yang brilian antara kemewahan sinema Hollywood klasik dengan kebrutalan monster jalanan, menghasilkan lanskap horor yang sangat estetik.

Sayangnya, kecerdasan visual ini tidak dibarengi dengan eksekusi ketegangan yang mumpuni. Kualitas jumpscare di film ini sangat mudah ditebak. Øvredal seolah terlalu bersemangat memberikan "aba-aba" pada setiap ketegangan yang akan datang. Cara ia membangun set pieces horornya begitu kentara, seolah ia meletakkan kerucut lalu lintas peringatan dan menembakkan pistol suar sebelum hantunya benar-benar muncul ke layar.

5. Horor Jalanan yang Kehilangan Arah

Dok. Paramount Pictures (Passenger)

Pada akhirnya, Passenger adalah film yang salah memilih identitas. Bukannya tampil sebagai horor jalanan yang kotor, beringas, dan penuh keputusasaan, film ini justru memaksakan diri mengenakan jubah grandiositas supranatural. Pilihan arah ini membuat naskahnya terasa kedodoran dan gagal menutupi banyaknya celah logika di dalam penceritaannya.

Jika dibandingkan dengan masa kejayaan genre open-road freakout, film ini tertinggal jauh. Passenger sama sekali tidak memiliki kejamnya teror mesin di Duel, nihilnya harapan seperti dalam The Hitcher, atau bahkan nuansa keputusasaan jalanan di Lost in America. Film ini memiliki premis yang mematikan, tetapi tidak memiliki taring untuk benar-benar mengoyak kenyamanan penontonnya.

Sebagai sebuah tontonan, horor ini mungkin bisa menemani akhir pekan, tetapi jangan berharap ia akan meninggalkan trauma bagi rencana perjalanan darat Anda berikutnya. Passenger tak ubahnya seperti kantung udara keselamatan (airbag) pada mobil: ketika terjadi benturan keras, ia memang berhasil mengembang, tetapi sayangnya sudah dalam keadaan setengah kempes.

Sinopsis Passenger (2026)

Kengerian dalam film ini bermula dari sebuah aturan tidak tertulis yang pantang dilanggar saat bepergian jauh, yaitu jangan pernah menepi di jalanan sepi yang gelap gulita. Konsekuensi fatal ini dialami oleh sekelompok pria yang memutuskan berhenti sejenak untuk buang air kecil di tengah antah berantah. Keputusan sepele tersebut berujung pada teror mematikan ketika mereka diserang secara brutal. Salah satu dari mereka yang berusaha kabur menggunakan mobil Honda usangnya justru terjebak dalam kengerian tiada akhir, terus-menerus berpapasan dengan sosok ganjil berpakaian compang-camping layaknya preman dari era 1934 yang mengintai dari balik kegelapan malam.

Cerita kemudian beralih mengikuti perjalanan Tyler dan Maddie, sepasang kekasih asal New York yang memutuskan meninggalkan kehidupan kota demi kebebasan gaya hidup nomaden menggunakan van berwarna oranye. Perjalanan darat yang awalnya dipenuhi romansa dan ilusi keamanan berkat benda penolak bala seperti pajangan Bob Ross serta medali religius mendadak berubah menjadi mimpi buruk. Enam minggu mengaspal, di tengah guyuran hujan lebat pada jalur yang membelah hutan, mereka hampir ditabrak oleh mobil Honda usang yang sama dari kejadian tragis sebelumnya. Niat baik mereka untuk turun menolong korban kecelakaan malah mempertemukan mereka dengan sosok pria misterius yang muncul dan menghilang di bawah sorot lampu jalanan.

Puncak kengerian mulai terungkap ketika Tyler dan Maddie tiba di sebuah festival kumpul para nomaden yang bernama Burning Van. Di tempat tersebut, suasana meresahkan mulai terbangun saat Maddie melihat papan informasi yang dipenuhi poster orang hilang dan berita kematian tak wajar. Ia juga mendapat peringatan keras dari seorang pengelana veteran bernama Diane tentang eksistensi iblis kuno pemangsa jalan raya yang selama ini mengincar para pelancong. Sayangnya, semua petunjuk dan peringatan tersebut datang sangat terlambat karena sang monster pengering darah akhirnya menampakkan diri dan menyerang Maddie secara beringas di sebuah lahan parkir kosong.

Passenger
2026
3/5
Directed by André Øvredal
ProducerWalter Hamada, Gary Dauberman
WriterT. W. Burgess, Zachary Donohue
Age Rating17+
GenreKengerian, Cerita Seru
Duration94 Minutes
Release Date27-05-2026
Themestalker, road trip, evil spirit, couple, demonic, supernatural horror, vanlife
Production House18Hz Productions, Coin Operated, Paramount Pictures, Domain Entertainment
Where to WatchCinema XXI, CGV, Cinepolis
CastLou Llobell, Jacob Scipio, Melissa Leo, Joseph Lopez, Tony Doupe

Trailer Passenger (2026)

Editorial Team

Related Article