Penilaian Film Hokum, Eksplorasi Trauma dan Folklore yang Mencekam

- Film Hokum karya Damian McCarthy menghadirkan Adam Scott sebagai novelis horor yang berziarah ke pedesaan Irlandia dan terjebak menghadapi trauma serta kutukan penyihir kuno di penginapan terpencil.
- Paruh pertama film terasa padat dan lambat, namun berubah drastis menjadi horor psikologis intens dengan atmosfer claustrofobik kuat serta performa emosional Adam Scott yang menonjol.
- Meski entitas penyihir kuno kurang mendapat porsi besar, babak ketiga yang masif dan mencekam berhasil menebus kekurangan awal, menjadikan Hokum rilisan horor solid tahun 2026.
Setelah sukses membangun reputasi lewat atmosfer claustrophobic yang kuat di Caveat dan Oddity, sutradara Damian McCarthy kembali hadir di tahun 2026 lewat karya terbaru garapan Neon berjudul Hokum. Kali ini, McCarthy mencoba menaikkan level produksinya dengan menggandeng aktor veteran Adam Scott untuk mengeksplorasi rasa duka, trauma, dan legenda penyihir kuno dalam sebuah penginapan terpencil di Irlandia.
Sebagai sebuah sajian horor psikologis, Hokum membawa ekspektasi tinggi. Namun, apakah McCarthy berhasil mengeksekusi formula slow-burn ini dengan rapi, atau justru terjebak dalam ritme yang membosankan?
1. Sang Penulis yang Berziarah

Cerita berpusat pada Ohm Bauman (Adam Scott), seorang novelis horor penyendiri yang sinis dan skeptis. Pasca kehilangan kedua orang tuanya, Ohm melakukan perjalanan ke pedesaan terpencil di Irlandia untuk menaburkan abu jenazah mereka, sekaligus mencari ketenangan demi mengatasi kebuntuan menulisnya (writer's block).
Ia memilih menginap di sebuah penginapan tua yang sunyi. Sial bagi Ohm, tempat tersebut menyimpan sejarah kelam yang konon dikutuk oleh roh penyihir kuno. Alih-alih mendapatkan kedamaian, Ohm justru terjebak di dalam kamar honeymoon suite dan dipaksa menghadapi manifestasi ketakutan serta trauma terdalamnya yang perlahan mewujud jadi nyata.
2. Cerita yang Ambisius Sejak Paruh Pertama

Harus diakui, 45 menit pertama film ini terasa cukup melelahkan. McCarthy tampak terlalu berambisi memasukkan banyak elemen misteri sekaligus di babak awal. Penonton disajikan dinamika hubungan keluarga yang rusak, penyesalan masa lalu, mitos penyihir lokal, hingga interaksi Ohm dengan karakter pendukung yang terasa agak disjointed.
Akibatnya, fokus cerita menjadi kabur dan penonton butuh waktu lama untuk memahami ke mana sebenarnya arah konflik utama digerakkan. Ditambah lagi, paruh pertama ini masih terlalu bergantung pada formula jump scare generik yang sayangnya mudah ditebak karena eksekusi audio yang kurang subtil.
Beruntung, begitu memasuki paruh kedua, McCarthy melakukan pergeseran tonal (tonal shift) yang radikal. Film ini berhenti mengejar kepuasan instan dan beralih fokus membangun slow-burning dread yang intens. Atmosfer penginapan berubah menjadi sangat intimidatif, memberikan getaran klaustrofobik yang mengingatkan kita pada nuansa The Shining atau 1408.
Keberhasilan paruh kedua ini didukung penuh oleh performa luar biasa dari Adam Scott. Karakter Ohm ditulis sebagai sosok yang menyebalkan, arogan, dan sangat skeptis terhadap hal mistis. Karakterisasi ini justru membuat elemen horornya bekerja dengan sangat efektif. Melihat seorang skeptis yang keras kepala perlahan-lahan hancur secara mental ketika logikanya dipatahkan oleh realitas supranatural memberikan kepuasan tersendiri bagi pencinta horor psikologis.
Dari departemen teknis, sinematografi Hokum terasa sangat taktil dan kotor. Permukaan dinding yang lembap, furnitur tua berdebu, dan palet warna yang suram berhasil mengeksploitasi ruang sempit kamar penginapan. Desain suaranya pun mengalami peningkatan drastis di babak ketiga, beralih dari musik bising menjadi keheningan mencekam dengan distorsi latar yang membuat tidak nyaman.
3. Sisi Antagonis yang Menyeramkan Tapi Kurang Porsi

Satu hal yang cukup disayangkan adalah bagaimana McCarthy memperlakukan entitas penyihir kuno yang menjadi jualan utama film ini. Sang penyihir justru lebih sering absen secara fisik dan hanya beroperasi lewat manipulasi psikologis.
Ketika ia akhirnya muncul dalam satu adegan krusial di babak ketiga, visualnya memang sangat mengerikan dan intimidatif. Namun, porsinya di dalam naskah terasa seperti ornamen pelengkap ketimbang ancaman utama yang menggerakkan plot sejak awal.
Secara keseluruhan, Hokum mungkin bukan film horor yang paling konsisten dari segi ritme jika dibandingkan dengan karya McCarthy sebelumnya. Namun, komitmen sutradara dalam membangun babak ketiga yang masif, gila, dan bernuansa demonic berhasil membayar lunas semua kekurangannya di paruh pertama. Bagi penggemar horor yang menyukai eksplorasi trauma dengan visual yang artistik namun tetap mencekam, Hokum tetap menjadi rilisan yang solid di tahun ini.
Sinopsis Hokum (2026)
Ohm Bauman (Adam Scott), seorang novelis horor yang sinis dan skeptis, melakukan perjalanan ke pedesaan terpencil di Irlandia. Pasca kehilangan kedua orang tuanya, ia berniat menaburkan abu jenazah mereka sekaligus mencari ketenangan untuk mengatasi kebuntuan menulis (writer's block) yang sedang dialaminya.
Untuk tempat beralangsungnya ziarah ini, Ohm memilih menginap di sebuah penginapan tua yang sunyi dan terasing. Namun, ia tidak menyadari bahwa bangunan tersebut menyimpan sejarah kelam dan konon dikutuk oleh roh penyihir kuno yang haus mangsa.
Terjebak di dalam kamar honeymoon suite, Ohm dipaksa menghadapi rentetan manifesasi supranatural yang memanipulasi trauma masa lalunya. Logika dan skeptisismenya perlahan hancur berantakan saat entitas kegelapan di sana mulai mewujudkan ketakutan terdalamnya menjadi kenyataan yang mencekam.
| Producer | Roy Lee, Steven Schneider, Derek Dauchy, Ruth Treacy, Mairtín de Barra |
| Writer | Damian McCarthy |
| Age Rating | 13+ |
| Genre | Kengerian |
| Duration | 107 Minutes |
| Release Date | 20-05-2026 |
| Theme | witch, novelist, folk horror, haunted, supernatural horror, remote inn, rural ireland |
| Production House | Spooky Pictures, Image Nation Abu Dhabi, Cweature Features, Team Thrives, Tailored Films |
| Where to Watch | Cinema XXI, CGV, Cinepolis |
| Cast | Adam Scott, Peter Coonan, David Wilmot, Florence Ordesh, Will O'Connell |



















