- Ada Tony Tony Chopper yang harus diwujudkan dengan CGI
- Ada raksasa seperti Dorry dan Brogy
- Ada dinosaurus di Little Garden
- Ada Laboon
- Dan tentu saja semakin banyak pengguna Buah Iblis
Review One Piece Netflix Season 2, Lebih Bagus dari Season 1?

- Season 2 One Piece Netflix menghadirkan petualangan lebih menantang di Grand Line dengan visual CGI dan pacing yang tetap memikat meski beberapa adegan disesuaikan untuk format live-action.
- Cerita terasa kuat di awal dan akhir, terutama pada arc Drum Island yang emosional, sementara bagian tengah seperti Reverse Mountain dan Little Garden sedikit kurang konsisten namun tetap menghibur.
- Penampilan aktor baru seperti David Dastmalchian, Lera Abova, dan Charithra Chandran mendapat pujian karena berhasil menghidupkan karakter ikonik serta memperkaya dinamika cerita secara keseluruhan.
Kemarin saya sudah menulis review untuk episode pertama One Piece Netflix Season 2. Di artikel itu saya sempat berjanji akan membahas review untuk keseluruhan season.
Sekarang saya sudah menonton semuanya.
Bagaimana kesan saya setelah menamatkan 8 episode Season 2 ini? Mari kita bahas!
Sinopsis One Piece Netflix Season 2
Petualangan Bajak Laut Topi Jerami berlanjut setelah kemenangan mereka atas Arlong di Season 1.
Namun perjalanan mereka justru akan semakin berat. Dari Loguetown, kota terakhir sebelum Reverse Mountain, hingga bagian awal Grand Line, mereka harus menghadapi musuh yang lebih kuat, lebih banyak pengguna Buah Iblis, serta organisasi misterius yang bergerak di balik layar.
Petualangan mereka kini memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya.
1. Lebih menantang, namun para aktor dan tim produksi cukup berhasil mewujudkannya

East Blue Saga relatif masih bisa diadaptasi dengan cara yang lebih “hemat.”
Pengguna Buah Iblis hanya sedikit, sebagian karakter seperti Jango bisa dipotong, dan monster seperti Moomoo bahkan bisa dihilangkan tanpa merusak cerita terlalu jauh.
Namun pendekatan seperti itu tidak akan berhasil jika digunakan di Season 2.
Begitu Kru Topi Jerami memasuki Grand Line, dunia cerita langsung terasa jauh lebih liar:
Nah, bisa gak tim di balik One Piece Season 2 menyajikan semua itu?
Hmmm...
Masih terasa bahwa beberapa adegan harus disesuaikan untuk format live-action. Misalnya dalam pertarungan Roronoa Zoro melawan 100 pemburu bayaran di Whisky Peak, ruang geraknya terasa lebih terbatas, kemungkinan karena ukuran set yang memang tidak sebesar yang dibayangkan di manga.
Namun secara keseluruhan, perjalanan dari Loguetown hingga Drum Island tetap tersaji dengan pacing yang memikat. Maraton delapan episode dengan durasi rata-rata lebih dari satu jam terasa cukup nyaman.
Dan itu bukan prestasi kecil.
2. Kuat di awal dan akhir, agak goyah di tengah

Episode pembuka Season 2 benar-benar luar biasa.
Tambahan plot seperti serangan Baroque Works ke Shellstown atau kemunculan dini Bartolomeo justru memperkaya cerita, bukan merusaknya.
Loguetown terasa hidup, penuh karakter unik khas One Piece, dan menjadi pembuka yang sangat kuat.
Namun saya merasa bagian tengah season (Reverse Mountain, Whisky Peak, dan Little Garden) sedikit kurang konsisten.
Reverse Mountain tetap menyajikan kisah emosional tentang Laboon, tetapi pacing-nya terasa agak terganggu oleh plot tambahan.
Whisky Peak tetap seru dan pertarungan Zoro terasa memuaskan, namun beberapa perubahan cerita terasa kurang klik bagi saya.
Sementara itu Little Garden memiliki satu kekuatan besar: David Dastmalchian sebagai Mr. 3. Namun dari sisi visual, beberapa set dan efek terasa lebih meyakinkan di foto promo dibanding saat muncul di layar.
Meski begitu, saya tetap mengapresiasi bahwa arc ini memberi lebih banyak sorotan pada Usopp, yang memang terasa kurang mendapat momen bersinar di Season 1.
Namun kemudian datang Drum Island, yang menutup season ini dengan sangat kuat.
Arc ini memiliki karakter yang kuat, emosi yang menyentuh, dan konflik yang terasa personal. Wapol dibangun sebagai tiran yang benar-benar memuakkan, kisah Dr. Hiriluk dan Chopper tersaji dengan sangat baik, dan visual lokasinya terasa lebih meyakinkan dibanding beberapa arc sebelumnya.
Singkatnya: Season ini sangat kuat di awal, sedikit goyah di tengah, dan ditutup dengan sangat kuat.
Namun perlu diingat, bagian tengah yang saya sebut “goyah” ini tetap cukup bagus, hanya saja kualitasnya memang tidak setinggi pembuka dan penutupnya.
3. Para aktor baru sangat memikat

Satu kekuatan besar dari live-action One Piece tetap sama di Season 2: casting yang luar biasa.
David Dastmalchian benar-benar sempurna sebagai Mr. 3. Ia membawakan karakter ini dengan cara yang terasa eksentrik, sadis, namun tetap grounded sehingga Mr. 3 terasa hidup. Bisa dibilang dari para aktor baru dia terasa yang paling istimewa.
Lera Abova sebagai Miss All Sunday juga tampil memikat. Karakternya mendapat porsi lebih besar dibanding versi manga di titik cerita yang sama, dan Abova berhasil menghadirkan aura misterius yang kuat.
Charithra Chandran juga patut mendapat pujian. Meski sempat diragukan sebagian fans, ia berhasil menampilkan dua sisi karakter Nefertari Vivi: sebagai assassin eksentrik Miss Wednesday dan sebagai putri Arabasta yang peduli pada rakyatnya.
Dan tentu saja, Mark Harelik sangat kuat sebagai Hiriluk. Ia mampu membawa sisi eksentrik sekaligus tragis dari karakter ini, bahkan mampu beradu akting dengan Katey Sagal yang memerankan Kureha.
Tim casting benar-benar layak mendapat pujian. Bahkan karakter kecil seperti Ipponmatsu pun bisa mencuri perhatian.
Yang gila memang ini bahkan belum semuanya. Saya bisa bikin list sendiri soal para karakter baru yang berhasil memikat saya. Namun ini adalah yang paling berkesan.
4. Keuntungan dari “Future Sight”

Yang saya maksud dengan “future sight” adalah fakta bahwa tim produksi sudah memiliki lebih dari dua dekade cerita One Piece untuk dijadikan referensi.
Mereka tidak hanya mengadaptasi cerita secara mentah, tetapi juga menanam elemen-elemen dari masa depan cerita.
Contoh terbaiknya adalah kemunculan dini Bartolomeo di Loguetown.
Dalam manga, kita tahu bahwa Bartolomeo terinspirasi oleh momen Luffy selamat dari eksekusi Buggy. Dengan menampilkan momen itu secara langsung di live-action, cerita terasa lebih kaya dan terhubung.
Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa tim produksi tidak hanya mengadaptasi cerita, mereka juga mengkurasi dan menata ulang lore One Piece untuk format serial televisi.
Dan bagi saya ini semakin memperkuat kesan bahwa penulis dan sutradara seri ini beneran paham dan suka cerita One Piece.
Kesimpulan

Secara keseluruhan, One Piece Netflix Season 2 terasa seperti season di mana tim produksi memiliki lebih banyak kebebasan untuk bereksperimen.
Meski kualitasnya tidak sepenuhnya konsisten di semua arc, Season 2 secara keseluruhan terasa lebih kuat dibanding Season 1.
Hal ini mungkin karena ceritanya mulai memasuki konflik yang lebih besar: organisasi misterius seperti Baroque Works, serta tema-tema yang lebih kompleks seperti kepemimpinan seorang raja—yang tercermin dari kontras antara keluarga Nefertari dan tirani Wapol.
Saya memberi nilai 4,5 dari 5 bintang untuk Season 2 ini.
Ini adalah tontonan yang sangat menyenangkan untuk dinikmati secara maraton.
Dan yang paling gila?
Ini baru awal dari saga Arabasta.
Saya sangat penasaran bagaimana Season berikutnya akan menampilkan ancaman sebenarnya dari Baroque Works—serta kemunculan sosok-sosok penting seperti Portgas D. Ace.
| Producer | Matt Owens, Steven Maeda, Marty Adelstein, Becky Clements |
| Writer | Matt Owens, Ian Stokes |
| Age Rating | 13+ |
| Genre | Action, Adventure |
| Duration | 60+ Minutes |
| Release Date | 10-3-2026 |
| Theme | Bajak laut, petualangan, kekuasaan, warisan keluarga |
| Production House | Tomorrow Studio, Netflix |
| Where to Watch | Netflix |
| Cast | Iñaki Godoy, Emily Rudd, Mackenyu |




![[QUIZ] Dari Karakter One Piece, Berikut Kucing yang Cocok Kamu Pelihara](https://image.idntimes.com/post/20260106/upload_5a3411700b71e4d455b720f56bb1824b_219185f4-bd01-4435-8707-bfc6881b0a98.png)













