Pembahasan Record of Ragnarok 114, Tragedi dan Kegilaan Seorang Dewa!

- Velk menyaksikan pembantaian di desanya oleh Primordial Gods, yang menghabisi penduduk dan mencoba menghapus jejak desa dengan teknik terlarang.
- Para Primordial Gods mati sebelum bisa membunuh Velk, yang selamat berkat Gungnir dan menjadi satu-satunya saksi dari kehancuran yang tak bisa dibatalkan.
- Velk yang mencoba menyebarkan kebenaran akhirnya dipenuhi ambisi gelap dan menjadi Odin yang dikenal sekarang setelah menemukan Gram, pedang relik dewa milik Odin.
Kebenaran soal tragedi orang-orang Gollnir akhirnya terungkap pada Record of Ragnarok bab 114. Diketahui kalau, mereka rupanya dihabisi oleh Primordial God yang pernah berjuang bersama dewa penemu tersebut. Hal itulah yang akhirnya membuat seorang dewa tak dikenal, Velk menjadi sosok Odin yang kita kenal sekarang. Situasi pertarungan pun kembali berlanjut di mana sekarang Kintoki dalam bahaya.
Seperti apa situasinya? Berikut pembahasannya!
1. Velk menyaksikan pembantaian yang dialami orang-orang desanya

Pada bab 113, Velk yang kembali ke kampung halamannya justru mendapati desanya diserang oleh para Primordial Gods. Penghalang yang melindungi desa Gollnir telah terbuka, membiarkan malapetaka masuk tanpa hambatan.
Satu per satu warga dibantai tanpa ampun. Ada yang ditusuk, ditebas, bahkan dipenggal di hadapan mata. Velk hanya mampu menyaksikan semuanya sambil berteriak dan menangis, memohon agar pembantaian itu dihentikan. Namun, permohonannya sia-sia. Para mantan rekan Gollnir terus melanjutkan pembunuhan hingga tak satu pun penduduk tersisa.
Sebagai penutup kehancuran, mereka berusaha menghapus seluruh jejak desa dengan teknik terlarang, Freizorn: Cleansing Inferno, membakar tempat itu agar seolah tak pernah ada kehidupan di sana.
2. Para Primordial Gods mati duluan sebelum bisa membunuh Velk

Sayangnya, upaya para Primordial Gods ternyata berakhir sia-sia.
Velk selamat secara ajaib berkat Gungnir, jimat peninggalan Gollnir yang melindunginya di ambang kematian. Tak hanya menahan serangan, artefak itu juga memulihkan luka-luka parah di tubuhnya, seolah menolak membiarkannya mati bersama desanya.
Menyadari masih ada satu nyawa yang tersisa, para Primordial Gods berusaha mengerahkan sisa kekuatan terakhir untuk menghabisi Velk yang merupakan jejak terakhir dari dewa Gollnir.
Namun takdir berkata lain. Sebelum serangan itu sempat terwujud, tubuh mereka justru runtuh lebih dahulu karena kehabisan daya kehidupan. Para dewa primordial itu pun gagal menuntaskan pembantaian, meninggalkan Velk hidup sebagai satu-satunya saksi dari kehancuran yang tak bisa dibatalkan.
3. Velk yang terus mencoba menyebarkan kebenaran akhirnya dipenuhi ambisi gelap dan menjadi Odin yang dikenal sekarang

Saat akhirnya siuman, Velk mencoba kembali memeriksa kampung halamannya. Namun yang tersisa hanyalah sebuah kawah kosong—bekas amukan api dewa yang dilepaskan para Primordial Gods. Tak ada rumah, tak ada tubuh, bahkan tak ada abu. Desa itu lenyap seolah tak pernah ada.
Dari kehampaan itulah Velk berusaha menepati keinginan terakhir Feldis. Ia mengembara, menyebarkan kebenaran tentang Yggdrasil dan kisah-kisah yang telah dihapus dari sejarah. Namun tak seorang pun mempercayainya. Alih-alih didengar, Velk justru menjadi bahan cemoohan. Ia dicap gila, pembohong, bahkan kerap disiksa secara fisik karena dianggap menyebarkan ajaran sesat.
Ketika harapannya benar-benar pupus dan dunia menolak kebenaran yang ia bawa, Velk perlahan berubah. Duka dan putus asa menggerogoti jiwanya, menumbuhkan ambisi yang semakin gelap. Hingga akhirnya, ia menemukan Gram, pedang relik dewa milik Odin.
Sejak saat itu, titik kejatuhan Velk menjadi sempurna. Odin sepenuhnya mengambil alih tubuhnya dan bangkit sebagai pemimpin pantheon Nordik. Melalui ingatan Velk, dewa keji itu mempelajari banyak rahasia termasuk cara merusak Glepnir, belenggu yang seharusnya tak bisa dihancurkan.
4. Odin merapalkan mantera dan melempar Gungnir dengan kekuatan penuh

Setelah tragedi pembantaian bangsa Gollnir berakhir, narasi kembali ke medan pertarungan utama.
Odin merapalkan mantera rune pada Gungnir, lalu melemparkan tombak suci itu ke arah Kintoki. Namun serangan tersebut berhasil ditangkis. Dengan satu hentakan kuat, Kintoki memukulnya hingga Gungnir terpental tinggi ke udara.
Melihat celah sesaat itu, Kintoki segera menerobos maju. Jarak dipangkas dalam sekejap, kapaknya terangkat tinggi, siap diayunkan untuk mengakhiri riwayat sang dewa kuno.
Namun sayangnya, keyakinan itu berubah menjadi kesalahan fatal.
Langkah tersebut bukanlah peluang melainkan umpan yang sengaja dipasang Odin.
5. Kintoki terkena tombak Gungnir!

Tombak Gungnir yang sempat ditangkis Kintoki ternyata tidak pernah benar-benar berhenti.
Seolah memiliki kehendaknya sendiri, senjata itu berputar di udara, menukik tajam dari belakang, lalu menghantam Kintoki tanpa sempat ia sadari. Ujung tombak itu menembus sisi kiri pinggangnya, menghentikan gerakannya seketika.
Darah muncrat dari mulut Kintoki saat ia terhuyung, memuntahkan cairan merah akibat hantaman mematikan tersebut. Namun kekalahannya belum langsung diputuskan pada saat itu juga.
Namun yang pasti, nasib Kintoki masih berada di ambang kehancuran.
Itulah pembahasan kelanjutan duel Kintoki vs Odin di Record of Ragnarok bab 114.
Bagaimana pendapat kalian?
Untuk informasi yang lebih lengkap soal anime-manga, film, game, dan gadget, yuk gabung komunitas Warga Duniaku lewat link berikut:
Discord: https://bit.ly/WargaDuniaku


















