8 Fakta Jaadugar - A Witch in Mongolia, Anime Islami?

- Jaadugar: A Witch in Mongolia menghadirkan kisah berlatar Persia abad ke-13 dengan nuansa budaya Islam, menonjolkan ilmu pengetahuan sebagai kekuatan utama alih-alih sihir tradisional.
- Anime ini menyorot invasi Mongol dari sudut pandang korban, mengikuti perjalanan Sitara yang kehilangan keluarganya dan berjuang bertahan di tengah kehancuran peradaban.
- Diproduksi oleh Science SARU bersama Naoko Yamada, anime ini menampilkan pengisi suara asal Mongolia dan Iran serta diadaptasi dari manga pemenang berbagai penghargaan internasional.
Di antara deretan anime musim panas 2026, Jaadugar: A Witch in Mongolia berhasil mencuri perhatian karena menawarkan sesuatu yang berbeda.
Alih-alih mengusung dunia fantasi penuh sihir atau aksi khas anime pada umumnya, serial garapan Science SARU ini membawa penonton ke Persia dan Kekaisaran Mongol pada abad ke-13. Kisahnya mengikuti perjalanan Sitara, seorang gadis yang hidupnya berubah drastis setelah invasi Mongol menghancurkan dunia yang selama ini ia kenal.
Berikut delapan fakta menarik tentang Jaadugar: A Witch in Mongolia yang wajib kamu ketahui.
Table of Content
1. Berlatar Dunia Islam Abad ke-13

Meski judulnya menyebut Mongolia, bagian awal cerita justru berlangsung di kota Tus, Persia (sekarang Iran), yang saat itu merupakan salah satu pusat peradaban Islam. Tokoh utama Sitara tumbuh di lingkungan keluarga cendekiawan Muslim yang mengajarkannya membaca, berpikir, dan mencari ilmu.
Hal ini membuat Jaadugar berbeda dari kebanyakan anime fantasi. Penonton akan melihat kehidupan masyarakat Persia, budaya Islam, hingga perkembangan ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa itu.
Karena itulah, banyak penggemar menyebut anime ini memiliki nuansa "anime Islami", walaupun sebenarnya bukan anime bertema dakwah atau agama.
2. Ilmu Pengetahuan Menjadi "Sihir" Sesungguhnya

Meski memakai kata "Witch" atau penyihir dalam judulnya, anime ini nyaris tidak memiliki unsur sihir sungguhan.
Sebaliknya, "sihir" yang dimaksud adalah kecerdasan, strategi politik, kemampuan membaca situasi, hingga pengetahuan yang dimiliki Sitara dalam menghadapi dunia yang brutal.
Bahkan keluarga Fatima terus menanamkan keyakinan bahwa ilmu adalah senjata terbaik untuk bertahan hidup. Tema inilah yang menjadi fondasi utama cerita.
3. Mengangkat Penaklukan Mongol dari Sudut Pandang Korban

Sebagian besar kisah tentang Kekaisaran Mongol biasanya berfokus pada kebesaran pasukan Genghis Khan.
Jaadugar justru mengambil sudut pandang yang berbeda, yakni dari seorang gadis Persia yang kehilangan keluarga akibat invasi Mongol.
Pendekatan ini membuat cerita terasa jauh lebih personal karena penonton ikut merasakan bagaimana perang menghancurkan kehidupan masyarakat biasa, bukan hanya melihat kemenangan di medan perang.
4. Genghis Khan Hampir Tidak Pernah Ditampilkan

Fakta unik dari manga aslinya adalah Genghis Khan hampir tidak pernah diperlihatkan secara langsung.
Setiap kali namanya disebut, pembaca hanya diperlihatkan sosoknya dari belakang sehingga ia terasa seperti figur legendaris yang membayangi jalannya sejarah.
Namun adaptasi anime memberikan sedikit perubahan. Untuk pertama kalinya, Genghis Khan memiliki pengisi suara sehingga kehadirannya terasa lebih hidup dibanding versi manga.
5. Dua Pegulat Sumo Asal Mongolia Ikut Menjadi Seiyuu

Demi menghadirkan nuansa Mongolia yang lebih autentik, tim produksi merekrut dua pegulat sumo asal Mongolia.
Ichiro Tamawashi dipercaya mengisi suara Genghis Khan, sementara Manpei Tamashoho memerankan seorang prajurit Mongol tangguh.
Ini menjadi debut keduanya sebagai pengisi suara anime televisi sekaligus salah satu keputusan casting paling unik pada musim anime 2026.
6. Salah Satu Karakternya Disuarakan Aktris Kelahiran Iran

Anime ini juga memperhatikan representasi budaya lewat jajaran pengisi suara.
Karakter Zumurrud, seorang budak Persia berdarah Barat, diperankan oleh Farahnaz Nikray, seiyuu yang lahir di Iran.
Kehadiran pengisi suara dengan latar belakang budaya yang dekat dengan setting cerita menjadi nilai tambah tersendiri bagi anime ini.
7. Diproduksi Studio Science SARU Bersama Naoko Yamada

Anime ini digarap oleh Science SARU, studio di balik DAN DA DAN, Keep Your Hands Off Eizouken!, hingga DEVILMAN crybaby.
Lebih menarik lagi, proyek ini melibatkan Naoko Yamada sebagai chief director dan Abel Góngora sebagai sutradara, dua nama yang dikenal lewat kualitas visual serta penyutradaraan emosional mereka.
8. Manganya Sudah Menang Banyak Penghargaan

Sebelum menjadi anime, manga karya Tomato Soup sudah lebih dulu mendapatkan pengakuan besar di Jepang.
A Witch's Life in Mongol berhasil meraih peringkat pertama kategori wanita di Kono Manga ga Sugoi! 2023 serta masuk nominasi Manga Taisho selama dua tahun berturut-turut.
Bahkan sebelum tayang, adaptasi animenya juga terpilih dalam kompetisi TV Films di Annecy International Animation Film Festival 2026, salah satu festival animasi paling bergengsi di dunia.
Nah bagaimana menurutmu dengan anime bernuansa islami ini?




















![[QUIZ] Seberapa Jeli Matamu Menebak Karakter One Piece?](https://image.idntimes.com/post/20260618/upload_765a3522fd85742d7605770a01173249_4d932b36-2c10-44d8-9795-27cfbd85e72f.png)