Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
For
You

4 Alasan Eustass Kid Kalah Sangat Cepat dari Shanks di One Piece

Eustass Kid kalah dari Shanks.png
Eustass Kid kalah dari Shanks. (Dok. Shueisha, Eiichiro Oda, Toei Animation/One Piece)
Intinya sih...
  • Serangan Haoshoku Haki Shanks yang gila
  • Fakta bahwa Kid tidak mencapai Haoshoku Haki level tinggi memperburuk situasinya
  • Kecepatan Shanks terlalu cepat bagi Kid
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di Egghead arc, ketika Luffy dan kru Topi Jerami terjebak di pulau sainsnya Vegapunk itu, Bajak Laut Kid justru bergerak lebih dulu menuju Elbaph lewat rute mereka sendiri.

Di sanalah mereka bertemu Shanks.

Shanks sebenarnya sudah memberi peringatan yang sangat jelas: serahkan Road Poneglyph dan pergi. Namun tentu saja, itu bukan gaya Eustass Kid.

Alih-alih mundur, Kid justru menyiapkan Railgun, senjata yang berpotensi menghancurkan banyak kapal sekutu Bajak Laut Rambut Merah. Tapi yang terjadi selanjutnya brutal dan cepat.

Shanks bergerak lebih dulu, menebas Kid hanya dengan satu serangan Divine Departure. Dalam sekejap, pertarungan selesai. Bajak Laut Kid tumbang total.

Pertanyaannya pun muncul: kenapa Eustass Kid bisa kalah secepat itu dari Shanks?

Apakah ini semata-mata karena Shanks terlalu kuat? Atau ada faktor lain yang membuat Kid berada di posisi paling buruk?

1. Sejak awal, serangan Haoshoku Haki Shanks itu sudah gila

Shanks mengalahkan Eustass Kid. (dok. Toei Animation/One Piece)
Shanks mengalahkan Eustass Kid. (dok. Toei Animation/One Piece)

Sejak kemunculan pertamanya, Haoshoku Haki Shanks selalu digambarkan berada di level anomali. Mulai dari membuat retakan di kapal Shirohige, membuat anak buah Shirohige (yang kaptennya juga punya Haoshoku) pingsan, dan di Wano, gelombang Haoshoku Haki jarak jauhnya membuat Ryokugyu panik dan mundur tanpa Shanks perlu menampakkan diri.

Namun semua itu terasa hanya aplikasi Haoshoku Haki “pasif”: tekanan mental, intimidasi, dominasi kehendak.

Melawan Kid, untuk pertama kalinya kita melihat Haoshoku Haki Shanks dalam bentuk paling berbahaya: Haoshoku Haki yang gila itu dilapiskan penuh ke serangan fisik.

Efeknya?

Ya seperti yang kita lihat. Eustass Kid, yang di Onigashima dulu menolak untuk tumbang ketika melawan Kaido maupun Big Mom, tumbang dengan begitu cepat di sini.

2. Fakta bahwa Kid tidak mencapai Haoshoku Haki level tinggi memperburuk situasinya

Eustass Kid kalah dari Shanks.png
Eustass Kid kalah dari Shanks. (Dok. Shueisha, Eiichiro Oda, Toei Animation/One Piece)

Ini poin krusial yang sering terlewat.

Eustass Kid memang pengguna Haoshoku Haki. Namun, meski fans Kid mengharapkannya, Kid tidak pernah mencapai level tinggi Haki Raja. Ia seperti lebih fokus pada kekuatan Buah Iblisnya ketimbang Haki.

Dan ternyata di Final Saga, itu masalah.

Jadi begini: Haki Raja level tinggi itu bukan hanya bisa dipakai buat membuat serangan mematikan. Itu juga bisa dipakai tubuh melindungi diri untuk bertahan. Armor Haoshoku Haki ada potensi untuk menetralisir dulu Haki musuh, hingga kalaupun kena dampaknya bisa berkurang.

Kid tidak punya armor itu.

Artinya, saat Divine Departure Shanks meluncur kena Kid, tidak ada lapisan kehendak Kid yang bisa menetralisir seranganYang terjadi hanyalah Haoshoku Haki Shanks menghantam tubuh Kid secara langsung, tanpa peredam.

"Tapi, apakah Haki Kid bisa menahan Haki Shanks?"

Ya...

Ya mungkin tidak. Tapi setidaknya Kid mungkin minimal punya harapan bertahan dari Divine Departure. Karena ia tidak punya, harapan kecil itu bahkan tidak ada bagi Kid.

3. Shanks terlalu cepat

momen Shanks vs Eustass Kid dari anime One Piece Episode 1112 (dok. Toei Animation)
momen Shanks vs Eustass Kid dari anime One Piece Episode 1112 (dok. Toei Animation)

Perhatikan urutannya dengan saksama.

Saat itu, Kid belum menembakkan Railgun. Ia masih berada di fase menghimpun daya, fokus, konsentrasi, dan posturnya sepenuhnya tercurah pada satu serangan besar. Itu adalah momen komitmen, titik di mana seorang petarung sepenuhnya fokus pada aksinya dan belum bisa bereaksi secara fleksibel.

Namun dalam rentang waktu yang nyaris sekejap, Shanks sudah melompat dari kapalnya, menutup jarak, dan menebaskan serangan ke arah Kid.

Semua itu terjadi sebelum Kid sempat bereaksi.

Kecepatan Shanks ini bukan sekadar “cepat”, tapi sudah di luar nalar. Dalam konteks ini, momen di One Piece Film: Red, di mana Shanks mampu mengimbangi pergerakan Kizaru, sang manusia cahaya, mendadak menjadi terasa masuk akal. Bukan sekadar dramatisasi film. Shanks memang berada di level kecepatan seperti itu.

Dan efeknya fatal bagi Kid.

Saat Shanks bergerak, Kid berada dalam kondisi paling berbahaya: fokusnya terikat pada Railgun, tubuhnya tidak siap untuk bertahan, dan ia tidak memiliki Haoshoku Haki level tinggi sebagai lapisan perlindungan.

Dengan kata lain, Kid benar-benar terbuka lebar pertahanannya.

Maka ketika Divine Departure menghantam, serangan itu tidak mengenai Kid yang siap bertarung seperti di Wano, melainkan Kid yang sepenuhnya rentan. Tidak ada waktu untuk menghindar. Tidak ada waktu maupun kemampuan untuk menahan. Tidak ada waktu untuk menyesuaikan diri.

Kekalahan Kid bukan sekadar karena Shanks lebih kuat, melainkan karena Shanks terlalu cepat untuk memberinya kesempatan bertarung sama sekali.

4. Kid... membuat Shanks ekstra marah

momen Shanks vs Eustass Kid dari anime One Piece Episode 1112 (dok. Toei Animation)
momen Shanks vs Eustass Kid dari anime One Piece Episode 1112 (dok. Toei Animation)

Mungkin inilah faktor yang paling sering pahit.

Pada awalnya, Shanks sama sekali tidak terlihat agresif. Ia masih bersikap tenang dan rasional: menanyakan pada Yasopp apakah Kid sudah benar-benar pulih dari luka-lukanya di Wano, lalu membaca laporan intel dari Hongo mengenai latar belakang dan rekam jejak Kid. Semua ini menunjukkan bahwa Shanks belum berniat memulai konflik. Atau mungkin masih terbuka untuk penyelesaian konflik yang lebih aman.

Namun situasinya berubah drastis ketika Kid mulai mempersiapkan Railgun.

Dengan Kenbunshoku Haki level tinggi, yang memungkinkan Shanks melihat potongan masa depan singkat, ia menyadari satu hal: tembakan Railgun itu akan menghancurkan kapal-kapal pengikutnya. Kapal-kapal bajak laut lemah yang bertahan di New World hanya karena berada di bawah perlindungan bendera Rambut Merah.

Di titik ini, konteksnya menjadi sangat penting.

Sejak lama, One Piece konsisten menggambarkan prinsip Shanks: Ia tidak keberatan dihina oleh bandit yang jauh lebih lemah, namun ia bereaksi keras ketika orang-orang yang ia lindungi disakiti.

Dan di momen itu, Kid mengincar tepat sasaran yang paling sensitif bagi Shanks, yaitu mereka yang berada di bawah proteksinya.

Di titik ini, situasinya bukan lagi duel antar bajak laut ambisius. Ini adalah pelanggaran prinsip.

Maka wajar jika pendekatan Shanks terhadap Kid sangat berbeda dari Kaido. Di Onigashima, Kaido masih menikmati pertarungan. Ia tertarik menguji batas lawan-lawannya, bahkan seolah ingin melihat siapa yang paling mendekati kemampuannya. Karena itulah Kid masih diberi ruang untuk berdiri, bangkit, dan terus bertarung.

Shanks tidak berada dalam mode itu.

Shanks tidak mencari hiburan. Ia tidak mencari rival. Ia hanya ingin memastikan tidak ada satu pun dari orang-orang yang ia lindungi menjadi korban.

Dan ketika tujuan Shanks berubah menjadi proteksi murni, caranya pun berubah. Tidak ada ruang untuk pertarungan panjang. Tidak ada kesempatan kedua. Tidak ada toleransi.

Bagi Kid, dampaknya jauh lebih kejam dari ketika ia dihajar Kaido, karena ia tidak dikalahkan sebagai petarung, melainkan dihentikan sebagai ancaman.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Fahrul Razi Uni Nurullah
EditorFahrul Razi Uni Nurullah
Follow Us

Latest in Anime & Mange

See More

7 Karakter yang Mungkin Bisa Mengalahkan Loki di One Piece! Luffy?

16 Jan 2026, 12:00 WIBAnime & Manga