6 Wujud Terkuat di Dragon Ball! Nomor 1 Belum Terlampaui

- Orange Piccolo: Transformasi baru Piccolo, Orange Piccolo, membuatnya setara dengan Goku dan yang lain.
- Ultra Ego Vegeta: Vegeta memilih jalur berbeda dengan Ultra Ego, transformasi yang mencerminkan jiwanya sendiri.
- Full Power Super Saiyan Broly: Broly di Dragon Ball Super tumbuh menjadi Full Power Super Saiyan dengan kekuatan yang luar biasa.
Masih ingat momen ketika Goku pertama kali berubah menjadi Super Saiyan melawan Frieza?
Rambut emas, aura menyala, dan satu per satu serangan Frieza tak lagi berarti. Saat itu, rasanya Super Saiyan adalah puncak kekuatan di dunia Dragon Ball.
Tapi waktu terus berjalan.
Semesta Dragon Ball berkembang makin liar. Goku kini punya berbagai warna rambut dan bentuk baru. Karakter lain pun tak kalah mengerikan, dengan transformasi yang bahkan melampaui batas para dewa.
Dari wujud para Saiyan, kekuatan para Dewa Kehancuran, hingga transformasi yang menembus insting dan ego, Dragon Ball telah menghadirkan level kekuatan yang dulu mungkin tak pernah kita bayangkan.
Lalu, di antara semua itu… apa saja wujud terkuat di Dragon Ball?
Ini pilihan saya!
6. Orange Piccolo

Piccolo pernah menjadi ancaman terbesar di awal cerita Dragon Ball. Ia adalah musuh utama, simbol teror, dan rival sejati Goku.
Namun setelah kedatangan Raditz di Dragon Ball Z, posisi Piccolo perlahan berubah. Ia tetap penting, bahkan krusial sebagai mentor Gohan, tetapi dalam pertarungan besar, harapan untuk menang biasanya tidak pernah benar-benar ada.
Melawan Nappa dan Vegeta? Ia tertinggal.
Menghadapi Frieza? Jauh dari cukup.
Cell dan Buu? Perannya lebih ke pendukung daripada penentu.
Piccolo seperti selalu ada… tapi jarang jadi ujung tombak.
Semua itu berubah di Dragon Ball Super: Super Hero.
Melalui kekuatan yang dibangkitkan oleh Shenron, Piccolo mencapai transformasi baru: Orange Piccolo. Tubuhnya membesar, warna kulitnya berubah oranye kemerahan, dan auranya terasa jauh lebih padat, bukan sekadar peningkatan biasa, tapi lompatan level.
Dalam wujud ini, ia mampu menghajar Gamma 2 dengan dominan dan bahkan bertahan menghadapi Cell Max, musuh yang kesulitan dihadapi petarung Bumi tanpa Goku dan Vegeta.
Yang membuat momen ini makin spesial adalah komentar dari Akira Toriyama sendiri. Piccolo adalah karakter favoritnya, dan ia pernah mengatakan bahwa ia senang akhirnya Piccolo mendapatkan kekuatan yang setara dengan Goku dan yang lain.
Kalimat itu terasa seperti validasi resmi.
Bukan lagi mentor yang tertinggal. Bukan lagi petarung cadangan.
Orange Piccolo menandai kembalinya Namekian ini ke level teratas.
5. Ultra Ego Vegeta

Jika Goku mengejar ketenangan dewa lewat Ultra Instinct, maka Vegeta akhirnya sadar: jalan itu bukan miliknya.
Di manga Dragon Ball Super, Vegeta memilih jalur berbeda. Ia berlatih di bawah Beerus dan mempelajari kekuatan para Dewa Kehancuran. Hasilnya adalah transformasi yang sepenuhnya mencerminkan jiwanya sendiri: Ultra Ego.
Wujud ini pertama kali ia kerahkan melawan Granolah, yang pada bab 74 menyandang status sebagai petarung terkuat di semesta.
Dan cara bertarungnya benar-benar kontras dengan Ultra Instinct.
Jika Ultra Instinct berfokus pada menghindar tanpa berpikir, Ultra Ego justru sebaliknya. Vegeta tidak mengelak. Ia menerima serangan. Ia “menikmati” pertarungan. Dan semakin besar kerusakan yang ia terima, semakin kuat auranya membara.
Semakin ia terluka, semakin ia berkembang.
Secara konsep, ini sangat Vegeta. Bangga. Agresif. Haus pembuktian.
Namun di sinilah juga letak kelemahannya.
Ultra Ego memang membuat Vegeta makin kuat seiring pertarungan berjalan, tetapi tubuhnya tetap memiliki batas. Jika lawan cukup tangguh dan mampu bertahan cukup lama, Vegeta bisa saja tumbang lebih dulu sebelum kekuatannya mencapai titik dominan.
Itulah sebabnya, meski secara potensi Ultra Ego terasa mengerikan, bentuk ini belum bisa ditempatkan lebih tinggi dalam daftar ini.
4. Full Power Super Saiyan Broly

Broly versi Dragon Ball Super: Broly berbeda jauh dari versi film 90-an Dragon Ball Z. Ia bukan sekadar mesin penghancur, melainkan sosok polos yang tumbuh di lingkungan keras.
Namun ketika emosinya meledak, lahirlah Full Power Super Saiyan Broly, wujud berambut hijau yang sering diasosiasikan fans dengan istilah “Legendary Super Saiyan”.
Di bentuk ini, Broly sepenuhnya kehilangan kendali.
Dan hasilnya mengerikan.
Ia tumbuh semakin kuat seiring pertarungan berlangsung. Serangannya brutal, daya tahannya luar biasa, dan auranya seperti bencana alam tak terkendali. Bahkan Frieza hanya menjadi bulan-bulanan di tangannya.
Pada akhirnya, hanya fusion Gogeta yang mampu meladeni, dan melampaui, keganasan Broly tersebut.
Namun ada sisi tragis dari wujud ini.
Kekuatan itu tidak hanya membahayakan lawan, tapi juga Broly sendiri. Ia bertarung tanpa kesadaran penuh, tanpa arah, tanpa kontrol. Dan mengingat versi Broly di Super sebenarnya berhati baik dan polos, ini bukanlah kekuatan yang ia dambakan.
Terakhir terlihat dalam lanjutan cerita Dragon Ball Super, Broly kini menjalani pelatihan di planet Beerus. Ia perlahan belajar memahami dan mengendalikan kekuatannya.
Dan di sinilah potensi yang benar-benar menakutkan.
Jika dalam kondisi berserk saja ia mampu memaksa Goku dan Vegeta fusion… maka apa jadinya jika suatu hari Broly sepenuhnya menguasai kekuatan itu?
3. Gohan Beast

Gohan selalu digambarkan sebagai potensi terbesar di antara para Saiyan. Sejak era Cell Games di Dragon Ball Z, kita sudah melihat bagaimana emosinya bisa mendorongnya melampaui batas.
Dan di Dragon Ball Super: Super Hero, potensi itu akhirnya meledak lagi, kali ini dalam wujud Gohan Beast.
Transformasinya sekilas mengingatkan pada Super Saiyan 2: rambut menjulang tajam, aura liar, ekspresi dingin penuh fokus. Bedanya? Rambutnya kini keperakan dan lebih tinggi lagi lancipnya, sorot matanya jauh lebih tajam, dan level kekuatannya melampaui Ultimate/Mystic Gohan yang sebelumnya sudah dianggap sebagai bentuk “final”-nya tanpa transformasi.
Gohan Beast menjadi ujung tombak para petarung Bumi saat menghadapi Cell Max, ancaman yang bahkan membuat para Saiyan lain kewalahan.
Tapi pertanyaan yang langsung muncul di benak fans sederhana:
Bagaimana kalau Gohan Beast melawan Ultra Instinct?
Menariknya, manga Dragon Ball Super yang digarap oleh Toyotaro benar-benar memberi kita jawabannya. Adaptasi arc Super Hero menyajikan semacam epilog tambahan. Di bab 102–103, Gohan Beast berhadapan langsung dengan Perfected Ultra Instinct Goku.
Dan hasilnya? Seimbang.
Gohan menghadapi kemampuan reaksi otomatis Ultra Instinct dengan kecepatan dan tekanan yang sulit dipercaya. Ia meningkatkan chi-nya hingga titik ekstrem, namun tetap mempertahankan kontrol penuh. Tidak liar. Tidak kehilangan arah.
Ini yang membuat Gohan Beast terasa unik. Ia bukan sekadar ledakan emosi seperti dulu. Ia adalah potensi yang sudah matang, diperkuat disiplin dan pengalaman.
2. True Ultra Instinct Goku

Goku terus berevolusi, dan puncak terbarunya di manga Dragon Ball Super adalah True Ultra Instinct.
Sebelumnya, kita mengenal wujud rambut putih, yang sering disebut fans sebagai Perfected Ultra Instinct. Dalam bentuk itu, Goku bergerak tanpa berpikir. Tubuhnya bereaksi sendiri. Bahkan sosok seperti Jiren pun sempat kewalahan menghadapinya.
Namun ada harga yang harus dibayar.
Ultra Instinct versi “sempurna” itu menuntut pikiran yang benar-benar tenang, emosi yang sepenuhnya terkendali. Masalahnya? Goku adalah Saiyan. Dan Saiyan justru berkembang lewat emosi. Bahkan Super Saiyan pertama lahir dari ledakan kemarahan.
Di situlah True Ultra Instinct menjadi menarik.
Alih-alih menekan sisi emosionalnya, Goku justru menerima dan mengintegrasikannya. Ia tetap mempertahankan kemampuan menghindar otomatis khas Ultra Instinct, tetapi tidak lagi memaksa dirinya menjadi “kosong”. Emosi tetap ada dan itu membuat gaya bertarungnya terasa lebih alami.
Hasilnya terlihat jelas saat melawan Gas di Granolah the Survivor Saga. Saat itu, Gas sudah menjadi petarung terkuat di semesta berkat Dragon Ball Planet Cereal. Namun True Ultra Instinct justru terasa lebih merepotkan baginya dibanding Perfected Ultra Instinct sebelumnya.
Mengapa?
Karena bentuk ini lebih efisien dan stabil. Goku tidak lagi bertarung melawan instingnya sendiri. Ia tidak sedang memaksa dirinya menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Ia bertarung sebagai Goku, dengan insting dewa dan jiwa Saiyan.
Dan dalam Dragon Ball, kombinasi itu selalu berbahaya.
1. Black Frieza

Black Frieza untuk saat ini adalah wujud yang baru muncul di manga.
Jadi kamu mungkin tahu Frieza itu alami kuat. Dia bahkan sebenarnya tak pernah berlatih hingga Namek Saga, dan para petarung Bumi butuh Super Saiyan Goku untuk bisa menang dari dia.
Dia berlatih sedikit menciptakan wujud Golden Frieza, yang setara Super Saiyan Blue.
Kalau dia berlatih sepuluh tahun di tempat yang mirip Hyperbolic Chamber? Dia berkembang menjadi Black Frieza, wujud yang dia kerahkan di bab 87.
Di Granolah the Survivor Saga itu, Dragon Ball planet Cereal digunakan untuk menciptakan dua petarung terkuat semesta baru. Pertama Granolah, lalu Gas dari keluarga Heeter. Tapi saat permintaan itu disampaikan, Frieza secara teknis tidak berada di semesta. Jadi ia sepertinya tak dihitung.
Akibatnya? Frieza kemudian mampu mengalahkan Gas, yang sebelumnya terus bangkit meski tubuhnya rusak tanpa perlu transformasi. Lalu dengan Black Frieza ia mempermalukan Ultra Ego Vegeta dan True Ultra Instinct Goku.
Hingga sekarang, terutama karena manga Dragon Ball Super hiatus sejak meninggalnya Akira Toriyama, Black Frieza menjadi wujud terkuat.


















