Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
For
You

Alasan Perang Akhir One Piece Terasa Terbangun Lebih Baik dari Naruto

Ekor Sepuluh di Perang Dunia Ninja Keempat. (Dok. Pierrot/naruto-shippuden)
Ekor Sepuluh di Perang Dunia Ninja Keempat. (Dok. Pierrot/naruto-shippuden)
Intinya sih...
  • Perang One Piece terasa lebih chaos daripada Perang Dunia Shinobi Keempat di Naruto karena konfliknya melibatkan banyak tekanan sekaligus: politik, sejarah, informasi, ideologi, dan ambisi pribadi.
  • Peta kekuatan dalam One Piece terasa jauh lebih cair, ambigu, dan sulit ditebak arahnya dibandingkan dengan Naruto. Konfliknya tidak hanya tentang baik vs jahat, tapi juga tentang siapa yang pantas menentukan masa depan dunia.
  • Perang akhir One Piece bukan sekadar benturan antara dua kubu besar. Ia berpotensi menjadi krisis global yang dampaknya menjalar ke seluruh lapisan dunia, bahkan ke negara-negara yang mungkin tidak pernah mengirim satu pun
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat ini One Piece resmi memasuki Final Saga. Kita belum benar-benar menyaksikan perang besarnya dimulai, namun fondasinya sudah terasa kokoh, seolah seluruh dunia dalam cerita sedang bergerak menuju satu titik ledakan besar.

Menariknya, fase build-up ini terasa lebih matang jika dibandingkan dengan seri yang dulu menjadi rival utamanya di dunia manga, Naruto, ketika memasuki Perang Dunia Ninja Keempat.

Kenapa bisa begitu?

Apakah karena skala konfliknya? Cara misteri dibuka? Atau karena benih-benih perang ini sudah ditanam jauh lebih lama?

Mari kita bedah satu per satu.

1. Perang One Piece terasa lebih... chaos

gorosei haki joy boy.jpg
Haoshoku Haki Joy Boy ke Gorosei One Piece

Perang Dunia Shinobi Keempat di Naruto pada dasarnya dipicu oleh satu pemantik yang jelas: Tobi menuntut Ekor Delapan dan Ekor Sembilan, Lima Kage menolak, dan konflik pun meledak.

Di balik itu memang ada rencana besar Infinite Tsukuyomi, tapi secara struktural, konfliknya tetap terpusat pada satu musuh utama dan satu tujuan besar yang relatif konkret.

Yang menarik, Lima Desa yang sebelumnya punya sejarah panjang saling curiga dan berperang justru bisa relatif cepat bersatu menghadapi ancaman bersama. Ada dinamika, tentu, tapi garisnya jelas: dunia ninja vs satu antagonis besar, lalu Madara muncul sebagai eskalasi.

Sekarang bandingkan dengan situasi di One Piece.

Dunia menuju titik perang bukan karena satu tuntutan langsung, melainkan karena fondasi globalnya sendiri mulai retak.

Imu telah memimpin dari balik bayangan selama ratusan tahun, sementara World Government membangun stabilitas di atas kebohongan, penghapusan sejarah, dan penindasan sistematis. Fakta bahwa dunia perlahan tenggelam saja sudah cukup menjadi bom waktu, dan itu baru satu lapisan.

Lalu datang pengungkapan dari Dr. Vegapunk: dunia mengetahui bahwa siapa pun yang menemukan One Piece berpotensi menentukan arah masa depan global. Itu bukan sekadar harta karun lagi, itu kunci tatanan dunia.

Akibatnya? Semua faksi kuat tersisa terdorong bergerak. Ada yang ingin merebutnya. Ada yang ingin mencegah bajak laut mendapatkannya. Ada yang mungkin ingin menghancurkan sistem yang ada.

Oh ngomong-ngomong, itu belum semuanya.

Jadi ada momen Imu diam-diam membunuh Nefertari Cobra. Pembunuhan itu disaksikan oleh Wapol dan Sabo.

Sabo bisa saja difitnah sebagai dalang, dan karena itu tak ada yang akan percaya dia selain Revolusioner. Tapi kalau Wapol keceplosan? Dampaknya bisa luar biasa, apalagi ia dan Nefertari Vivi saat ini berada di bawah perlindungan Big News Morgans, sosok yang mengendalikan arus informasi dunia.

Bayangkan juga jika kebenaran tentang Tahta Kosong tersebar luas. Fakta bahwa ada seseorang yang selama ini diam-diam duduk di kursi yang seharusnya tidak dimiliki siapa pun. Dan orang itu telah membunuh Cobra yang dihormati. Itu bukan cuma isu politik, itu krisis legitimasi global.

Negara-negara seperti Arabasta dan sekutunya bisa saja mendadak menarik kepercayaan dari Pemerintah Dunia. Revolusi bisa pecah di berbagai tempat, bukan karena satu komando pusat, tapi karena kepercayaan runtuh.

Dan di situlah bedanya.

Jika Perang Dunia Shinobi Keempat terasa seperti konflik besar dengan satu poros utama, maka perang akhir One Piece terasa seperti badai yang terbentuk dari banyak tekanan sekaligus: politik, sejarah, informasi, ideologi, dan ambisi pribadi.

Bukan satu pemicu.

Bukan satu musuh.

Melainkan sistem global yang mulai kolaps dari dalam.

2. Peta kekuatan yang sama sekali tidak sederhana

Evolusi Luar Biasa Koby, Karakter Paling Glow Up di One Piece
Koby (dok. Toei Animation/One Piece)

Dalam Naruto, Perang Dunia Ninja Keempat pada dasarnya memiliki garis pemisah yang relatif jelas.

Di satu sisi ada Aliansi Shinobi, gabungan Lima Desa Besar dan sekutu mereka.

Di sisi lain ada poros antagonis: Obito, Madara, dan Kabuto, diperkuat oleh Zetsu Putih serta para ninja kuat yang dihidupkan kembali lewat Edo Tensei.

Secara struktur, konfliknya tegas: aliansi dunia ninja melawan satu kekuatan utama yang terorganisir.

Sekarang lihat situasi di One Piece.

Peta kekuatannya terasa jauh lebih cair, lebih ambigu, dan lebih sulit ditebak arahnya.

Bajak Laut Kurohige dan Bajak Laut Topi Jerami jelas memiliki agenda berbeda. Namun keduanya sama-sama berada di posisi yang berpotensi mengguncang fondasi kekuasaan Imu dan World Government.

Lalu ada Angkatan Laut.

Koby dan unit SWORD terasa seperti representasi “wajah baik” dalam tubuh institusi yang korup. Namun setelah mendengar pernyataan Dr. Vegapunk bahwa siapa pun yang menemukan One Piece bisa menentukan arah dunia, Koby justru menegaskan ia tak akan membiarkan Luffy meraihnya. Ia dan SWORD sempat dikira akan berada di sisi Topi Jerami tapi malah berpotensi jadi musuh.

Di sini konflik jadi menarik: ini bukan sekadar baik vs jahat. Ini tentang siapa yang pantas menentukan masa depan dunia. Koby mungkin percaya pada keadilan tapi ia juga takut pada kemungkinan dunia dikendalikan oleh bajak laut, bahkan jika bajak laut itu adalah sahabatnya, Monkey D. Luffy.

Belum lagi kehadiran Cross Guild, aliansi pragmatis antara Buggy, Dracule Mihawk, dan Crocodile. Mereka bukan ideolog. Mereka oportunis. Itu membuat mereka berbahaya dan sulit diprediksi.

Bajak Laut Rambut Merah pun belum tentu otomatis berada di sisi Luffy. Sementara Pasukan Revolusi bisa saja tetap fokus menjatuhkan Tenryuubito alih-alih ikut dalam perlombaan menuju Laugh Tale.

Semua ini menciptakan lanskap konflik yang jauh lebih mirip dengan World War I dibanding World War II.

Dalam Perang Dunia I, poros kekuatan tidak sesederhana “Sekutu vs Axis.” Di Eropa, aliansi saling bertaut, kepentingan nasional saling bertabrakan, dan satu percikan bisa menyeret banyak pihak ke dalam pusaran konflik.

Perang akhir One Piece terasa menuju ke arah yang sama.

Tidak ada satu garis tegas. Tidak ada satu kubu yang sepenuhnya homogen. Yang ada adalah banyak kekuatan dengan agenda berbeda, dan satu dunia yang akan dipaksa memilih arah barunya.

Dan justru karena itulah, peta kekuatan di Final Saga terasa jauh lebih kompleks dan penuh ketidakpastian.

3. Beneran terasa perang global

Naruto di Perang Dunia Ninja Keempat. (Dok. Pierrot/naruto-shippuden)
Naruto di Perang Dunia Ninja Keempat. (Dok. Pierrot/naruto-shippuden)

Secara teknis, Perang Dunia Ninja Keempat memang layak disebut “perang dunia.” Desa-desa besar yang tergabung dalam Aliansi Shinobi berasal dari negara berbeda, dengan sejarah panjang konflik dan ketegangan politik.

Namun secara skala dampak, konflik itu tetap relatif terfokus pada komunitas dunia ninja. Dunia sipil nyaris tak benar-benar terasa sebagai variabel besar dalam narasinya. Ancaman utamanya konkret: pasukan musuh, medan perang, dan satu tujuan final.

Di One Piece, situasinya terasa berbeda.

Berdasarkan peta kekuatan yang sudah kita bahas sebelumnya, perang akhir bukan sekadar benturan antara dua kubu besar. Ia berpotensi menjadi krisis global yang dampaknya menjalar ke seluruh lapisan dunia, bahkan ke negara-negara yang mungkin tidak pernah mengirim satu pun pasukan ke garis depan. Dampaknya bahkan tidak akan hanya dialami oleh bajak laut dan Angkatan Laut, tapi juga warga sipil.

World Government selama ratusan tahun membangun stabilitas semu. Jika legitimasi mereka runtuh, karena rahasia abad kekosongan terkuak, atau keberadaan Imu terungkap, efeknya tidak hanya berupa perang militer.

Itu bisa berarti:

  • Revolusi di negara-negara yang merasa ditindas.
  • Kerajaan-kerajaan menarik diri dari afiliasi global.
  • Perebutan wilayah ketika krisis pangan dan sumber daya memburuk.

Belum lagi fakta bahwa dunia One Piece perlahan tenggelam. Jika informasi ini menyebar luas, seperti yang diungkap Dr. Vegapunk, maka konflik bukan cuma soal ideologi atau kekuasaan, tapi juga soal bertahan hidup.

Bayangkan negara-negara yang tak ikut memperebutkan One Piece, tapi tiba-tiba harus menghadapi:

  • Kenaikan permukaan laut.
  • Migrasi besar-besaran.
  • Krisis wilayah daratan.
  • Ketidakpercayaan pada sistem global.

Itu bukan lagi perang terpusat. Itu adalah efek domino global.

Perang akhir One Piece mungkin tidak akan secara resmi disebut “Perang Dunia Bajak Laut.” Tapi konflik yang sedang dibangun terasa seperti perang dunia dalam arti paling literal. Sistem global runtuh, eseimbangan kekuasaan berubah, dan seluruh dunia (baik yang memegang pedang maupun yang tidak) akan terkena dampaknya.

4. Untuk saat ini, musuh bersama terbangun lebih baik

imu dan gorosei.jpg
Imu dan Gorosei di One Piece

Dalam Naruto, musuh bersama Tim 7 dan dunia ninja pada akhirnya bukanlah Obito. Bukan juga Madara.

Final boss sesungguhnya adalah Kaguya.

Masalahnya, meskipun ada sedikit petunjuk dan mitologi yang disisipkan sebelumnya, kemunculan Kaguya tetap terasa mendadak. Ia seperti merebut posisi antagonis utama dari Madara, karakter yang sudah dibangun bertahun-tahun sebagai simbol perang, dendam, dan ideologi yang bertabrakan dengan Hashirama serta dunia ninja.

Akibatnya, bagi banyak pembaca, klimaks terasa seperti pergeseran mendadak dari konflik politik dan ideologis menjadi ancaman kosmik yang kurang emosional keterikatannya.

Di One Piece, figur yang posisinya paling mendekati “Kaguya” adalah Imu.

Sosok misterius yang duduk di Tahta Kosong, diperlihatkan untuk pertama kalinya dalam momen yang benar-benar mengguncang: ketika Gorosei (lima pemimpin tertinggi Pemerintah Dunia) berlutut di hadapannya.

Itu bukan sekadar twist. Itu redefinisi total struktur kekuasaan dunia.

Sejak saat itu, Imu perlahan terbangun sebagai entitas yang mungkin telah mengendalikan arah sejarah selama 800 tahun, terkait langsung dengan berbagai kekejian.

Jika Luffy dan bahkan rivalnya seperti Marshall D. Teach pada akhirnya harus menghadapi Imu, maka itu terasa seperti konklusi alami dari konflik panjang antara kebebasan dan kontrol.

Pertarungan melawan Imu bukan “tiba-tiba ada alien muncul.” Ia adalah puncak dari sistem penindasan yang sudah ditanam sejak awal seri.

Itulah perbedaannya.

Madara adalah klimaks yang dibangun lama namun digeser. Imu justru terasa seperti fondasi tersembunyi yang perlahan diungkap, menuju pertempuran besar.

Tentu saja, selalu ada satu kekhawatiran bercanda di kalangan fans: semoga saja Imu tidak tiba-tiba “dibajak” oleh ancaman alien baru di bab-bab terakhir.

5. Tidak ada satu solusi tunggal di One Piece

20251209_133429.jpg
Luffy dan Bonney Nika One Piece

Perang Dunia Ninja Keempat di Naruto pada akhirnya terasa memiliki solusi yang relatif jelas.

Kalahkan Madara. Kemudian ketika situasi berubah, hentikan Kaguya Otsutsuki. Bubarkan Infinite Tsukuyomi.

Dunia akan kembali seperti semula, atau setidaknya mendekati normal.

Konfliknya besar, skalanya masif, tapi resolusinya terfokus. Ada satu simpul utama yang harus dipotong.

Di One Piece, situasinya jauh lebih berisiko.

Kita sudah melihat betapa rapuhnya tatanan dunia: kebohongan sejarah, ketimpangan kekuasaan, ancaman kenaikan air laut, hingga potensi revolusi di berbagai kerajaan. Konflik Final Saga bahkan akan menjangkau warga biasa yang hanya ingin hidup tenang, bukan sekadar tentara atau bajak laut.

Sekarang pertanyaannya: Jika Imu dan Gorosei tumbang, apakah dunia otomatis aman?

Belum tentu.

Bisa jadi justru sebaliknya.

Selama ratusan tahun, World Government menjaga stabilitas meski dibangun di atas kebohongan dan penindasan. Jika fondasi itu runtuh dalam satu malam, yang terjadi mungkin bukan kedamaian, melainkan vakumnya kekuasaan.

Kemenangan Luffy diduga tidak serta-merta membuat dunia langsung lebih sederhana.

Hal serupa bisa terjadi di Final Saga.

Monkey D. Luffy dan Marshall D. Teach mungkin akan memicu era baru, era kebebasan.

Namun kebebasan tidak selalu identik dengan keteraturan.

Bukan tidak mungkin banyak wilayah harus menghadapi perebutan kekuasaan lokal, bangkitnya tiran baru, fragmentasi aliansi lama, hingga narki sebelum tatanan baru terbentuk

Dan justru di situlah bobot Final Saga terasa lebih berat.

Karena ini bukan soal mengalahkan satu final boss. Ini soal apa yang terjadi setelah sistem 800 tahun runtuh.

Dan jika Oda mempertahankan alur ini maka ini sudah bukan konflik final battle shonen. Ini sudah konflik geopolitik filosofis.

6. Menuju payoff dari misteri 20 tahun lebih!

Kureha mengetahui Will of D. (Dok. Shueisha/One Piece)
Kureha mengetahui Will of D. (Dok. Shueisha/One Piece)

Ini mungkin alasan paling kuat kenapa perang akhir One Piece berpotensi terasa istimewa, bahkan melampaui Perang Dunia Shinobi Keempat.

Eiichiro Oda adalah tipe penulis yang bahkan saat sudah memasuki Final Saga… masih berani menanam misteri baru.

Dan itu gila.

Karena di saat banyak seri lain justru mulai merapikan benang cerita menjelang akhir, One Piece malah memperluas misteri.

Coba lihat contohnya:

  • Apa sebenarnya Will of D.?
  • Apa yang terjadi di Void Century?
  • Siapa sebenarnya Joy Boy dan Davy D. Jones?
  • Apa fungsi sejati Ancient Weapons?
  • Mengapa Gol D. Roger tidak menyampaikan saja temuannya di Laugh Tale?

Itu bukan misteri arc. Itu misteri generasi pembaca.

Sejak era forum dan mailing list, sejak internet Indonesia masih pakai Telkomnet Instan, teori tentang Will of D. sudah berseliweran. Orang berspekulasi tentang Kerajaan Kuno bahkan sebelum banyak pembaca sekarang lahir.

Dan Final Saga berpotensi menjadi titik di mana semua itu tidak lagi sekadar teori.

Perang akhir One Piece bukan hanya soal siapa yang berdiri terakhir di medan tempur.

Ia adalah panggung di mana rahasia dunia akan dipaksa muncul ke permukaan. Di mana jawaban atas pertanyaan 20+ tahun akhirnya diungkap secara konklusif.

Itulah yang membuatnya berbeda.

Ini bukan sekadar klimaks shonen. Ini adalah payoff naratif jangka panjang yang jarang sekali bisa dicapai manga shonen lain, bahkan Naruto, karena tidak banyak yang bertahan cukup lama untuk membangun misteri sedalam ini.

Dan kalau Oda berhasil mengeksekusinya dengan baik?

Maka perang akhir One Piece bukan hanya akan dikenang sebagai perang terbesar dalam seri.

Ia akan dikenang sebagai momen ketika sebuah cerita petualangan 25+ tahun akhirnya membuka rahasia dunia yang sejak awal sudah kita masuki tanpa benar-benar memahaminya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Fahrul Razi Uni Nurullah
EditorFahrul Razi Uni Nurullah
Follow Us

Latest in Anime & Mange

See More

[QUIZ] Pilih Kru Topi Jerami One Piece, Kami Tahu Seberapa Kuat Mentalmu

04 Feb 2026, 20:45 WIBAnime & Manga