3 Faktor yang Mungkin Bikin Demon Slayer Kalah di Golden Globes!

- Film yang utuh versus film yang bersambung
- Chainsaw Man – The Movie: Reze Arc lebih utuh dibanding Infinity Castle.
- KPop Demon Hunters memiliki cerita tunggal dengan arc karakter yang jelas dan penutup yang tuntas.
- KPop Demon Hunters lebih kena mainstream
- KPop Demon Hunters memiliki dampak yang lebih luas di ranah budaya populer.
- Lagu-lagunya diputar di mana-mana dan karakternya menjadi bahan obrolan sepanjang tahun.
- Persepsi juri mungkin lebih ke barat juga
- KPop Demon Hunters berada di posisi yang lebih “akrab” dengan preferensi Barat.
Pagi ini, Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba – Infinity Castle harus mengakui keunggulan KPop Demon Hunters di ajang Golden Globes ke-83, tepatnya dalam kategori Best Motion Picture – Animated.
Hasil ini tentu cukup mengejutkan bagi sebagian penggemar, mengingat Infinity Castle merupakan salah satu rilisan animasi paling besar, paling ditunggu, dan paling dominan secara teknis di 2025.
Namun, jika ditelaah lebih jauh, ada sejumlah faktor yang mungkin menjadi sandungan bagi Demon Slayer hingga gagal membawa pulang piala Golden Globes tahun ini.
Berikut beberapa poin yang layak dipertimbangkan.
1. Film yang utuh versus film yang bersambung

Faktor ini juga menjadi alasan kenapa, dalam daftar “Movie Anime Terbaik 2025”, saya menempatkan Chainsaw Man – The Movie: Reze Arc di posisi pertama, di atas Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba – Infinity Castle.
Tidak ada yang meragukan kualitas visual Infinity Castle. Ufotable kembali tampil luar biasa. Pertarungan melawan Akaza, ditambah flashback tragis sang iblis, menyuguhkan kombinasi aksi, emosi, dan momen haru yang kuat.
Namun, pada akhirnya Infinity Castle tetap terasa sebagai bagian dari kisah yang lebih besar dan bagian pemotongannya pun terasa kurang solid, dalam arti "kisahnya terasa belum beneran habis."
Sebaliknya, Chainsaw Man – The Movie: Reze Arc terasa nyaris ajaib karena mampu menyajikan satu arc penuh sebagai pengalaman menonton yang utuh, dengan awal, konflik, dan resolusi yang jelas, bahkan bagi penonton yang tidak sepenuhnya mengikuti serialnya.
Lalu ada KPop Demon Hunters. Kisah Huntr/x sejak awal dirancang sebagai cerita tunggal dengan arc karakter yang jelas dan penutup yang tuntas. Penonton tidak perlu konteks tambahan, tidak perlu menunggu kelanjutan, emosi dan ceritanya selesai di satu film.
Dari sudut pandang ini, keunggulan KPop Demon Hunters menjadi cukup jelas. Dalam konteks penghargaan film, terutama di ajang seperti Golden Globes, cerita yang utuh dan berdiri sendiri sering kali punya nilai lebih dibanding potongan dari narasi berseri.
2. Harus diakui, KPop Demon Hunters lebih kena mainstream
Tidak ada yang meragukan bahwa Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba – Infinity Castle adalah salah satu film anime paling sukses secara komersial di 2025. Dengan pendapatan sekitar US$134 juta di box office Amerika, film ini bahkan tercatat sebagai film anime terlaris sepanjang masa di pasar AS, melampaui Pokémon: The First Movie – Mewtwo Strikes Back (US$85,7 juta).
Di Indonesia pun pencapaiannya sama impresif. Berdasarkan data Cinepoint, Infinity Castle menjadi film anime dengan jumlah penonton terbanyak, melampaui One Piece Film: Red.
Namun, di luar angka box office, ada faktor lain yang tak kalah penting: jangkauan mainstream.
Entah karena perbedaan rating usia, pendekatan visual, atau tema yang lebih universal, KPop Demon Hunters terasa memiliki dampak yang lebih luas di ranah budaya populer. Infinity Castle memang ramai, tetapi percakapannya cenderung terkonsentrasi di kalangan penggemar anime atau penonton umum yang mulai “masuk” ke ekosistem anime.
Sebaliknya, KPop Demon Hunters menembus batas itu. Lagu-lagunya diputar di mana-mana. Anak-anak bisa menyanyikan “Golden” dan lagu lain dari film ini. Karakter Huntr/x dan Saja Boys menjadi bahan obrolan sepanjang 2025, bahkan di luar lingkaran penonton animasi.
Jangkauan mainstream yang benar-benar global inilah yang, menurut saya, sangat membantu KPop Demon Hunters saat dinilai di ajang seperti Golden Globes. Dalam konteks penghargaan, film yang “terasa ada di mana-mana” sering kali punya keunggulan psikologis tersendiri di mata juri.
3. Karena ini acara Barat, persepsi juri mungkin lebih ke selera Barat juga

Ada satu faktor teknis yang rasanya sulit diabaikan: Golden Globes pada dasarnya adalah ajang penghargaan Barat. Dan seperti penghargaan lain, selera serta kerangka penilaian juri tentu terbentuk dari tradisi sinema yang mereka konsumsi sejak lama.
Dalam konteks ini, KPop Demon Hunters bisa dibilang berada di posisi yang lebih “akrab” dengan preferensi tersebut. Film ini menyajikan cerita yang utuh dan selesai, punya nuansa musikal yang kuat, serta visual yang indah dan mudah dicerna tanpa konteks tambahan, kombinasi yang sangat dekat dengan tradisi animasi dan film musikal Barat.
Sebaliknya, anime Jepang, termasuk Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba – Infinity Castle, sering kali membawa gaya penceritaan, tempo emosi, dan struktur narasi yang berbeda. Bagi penggemar, itu justru kekuatannya. Namun bagi juri yang menilai satu film sebagai karya mandiri, pendekatan tersebut bisa terasa kurang “konvensional”.
Dengan kata lain, ini bukan semata soal kualitas. Melainkan soal kecocokan bahasa sinema. Dan dalam konteks Golden Globes, KPop Demon Hunters tampaknya berbicara dengan bahasa sinema yang lebih familiar di telinga para juri Barat.
Faktor mana yang mungkin jadi penyebab sejati?

Jika harus dikerucutkan, faktor yang membuat Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba – Infinity Castle kalah di Golden Globes kemungkinan bukan satu hal tunggal, melainkan kombinasi dari tiga aspek yang kita bahas di atas.
Sejak awal, Golden Globes memang merupakan ajang penghargaan Amerika, dengan juri yang secara alami lebih akrab dengan pendekatan animasi dan sinema Barat. Dalam konteks ini, KPop Demon Hunters terasa berada di jalur yang lebih “selaras”: film ini punya lagu-lagu yang catchy, pendekatan musikal yang kuat, dan daya ledak budaya pop yang menembus mainstream global, bukan hanya kalangan penikmat animasi.
Di sisi lain, Infinity Castle juga tampaknya terkena hambatan klasik: ia adalah bagian dari kisah yang jauh lebih besar. Aspek ini kerap menjadi hambatan di ajang penghargaan, kecuali sebuah film mampu memotong narasinya dengan sangat cerdas dan tetap terasa utuh, seperti yang pernah dilakukan Peter Jackson lewat trilogi The Lord of the Rings.
Namun pada akhirnya, semua ini tetap hanya analisis dan interpretasi pribadi saya.
Kualitas Demon Slayer sebagai film dan fenomena budaya tetap tak terbantahkan, hanya saja, dalam konteks penilaian Golden Globes tahun ini, KPop Demon Hunters tampaknya berada di posisi yang lebih menguntungkan.
Tapi bagaimana menurutmu?
Apakah kamu setuju dengan analisis ini, atau justru melihat faktor lain yang lebih menentukan?


















