7 Adegan Anime Jujutsu Kaisen yang Lebih Bagus dari Versi Manga!

- Choso vs Naoya: Pertarungan lebih bergaya dan detail di anime, menegaskan karakter arogan Naoya.
- Pembantaian Klan Zenin: Koreografi yang rapi, brutal, dan penuh tekanan emosional dalam versi anime.
- Yuji dan Todo vs Mahito: Intensitas pertarungan yang lebih hidup, didukung musik dan voice acting yang kuat.
Sebagai adaptasi, anime Jujutsu Kaisen berhasil menunjukkan bagaimana medium animasi bisa mengangkat kualitas cerita yang sudah kuat dari manganya. Dengan koreografi pertarungan yang lebih dinamis, efek visual teknik kutukan yang lebih spektakuler, serta dukungan musik dan pengisi suara yang kuat, beberapa adegan bahkan terasa lebih intens dan berkesan dibanding versi komiknya. Hal ini membuat pengalaman menonton terasa lebih hidup sekaligus mempertegas emosi dan skala konflik yang ingin disampaikan ceritanya.
Apa saja adegan yang terasa lebih bagus daripada versi manganya? Beriktu daftarnya!
Table of Content
1. Choso vs Naoya

Adegan ini jelas pantas masuk dalam daftar, apalagi sempat ramai diperbincangkan di media sosial karena kualitas penyajiannya. Dalam versi manga, koreografi pertarungan keduanya terasa berlangsung cukup cepat, lebih fokus pada pertukaran pukulan, penggunaan teknik kutukan, hingga akhirnya ditutup oleh serangan Supernova milik Choso.
Sebaliknya, versi anime menghadirkan pertarungan tersebut dengan jauh lebih bergaya dan detail. Rentetan pukulan Naoya serta penggunaan teknik Projection Sorcery ditampilkan dengan animasi yang sangat halus, seolah tiap frame menegaskan betapa ekstremnya kecepatan gerakannya.
Ditambah lagi, ada momen ikonik saat Naoya sempat merapikan rambutnya di tengah pertarungan, mempertegas karakter arogan yang lebih memprioritaskan gaya dan superioritasnya dibanding ancaman lawan di hadapannya.
2. Pembantaian Klan Zenin

Bagi pembaca manga, adegan pembantaian klan Zenin mungkin masih terasa kontroversial karena kualitas visualnya saat itu dinilai kurang maksimal. Panel-panel yang menampilkan konflik internal keluarga Zenin terlihat seperti digambar terburu-buru, bahkan sempat terasa seperti sketsa kasar yang dipaksakan selesai demi mengejar deadline.
Versi animenya justru berhasil menebus hal tersebut dengan penyajian yang jauh lebih solid. Pembantaian itu ditampilkan dengan koreografi yang rapi, brutal, sekaligus penuh tekanan emosional. Maki digambarkan benar-benar melepas semua batasannya, bergerak lincah di tengah genangan darah sambil mengayunkan kedua pedangnya tanpa ragu. Setiap eksekusi terhadap musuh terasa lebih berat dan kejam dibandingkan versi manga, mempertegas transformasi mental dan fisiknya.
Selain itu, pertarungannya melawan Naoya juga mendapat peningkatan besar dalam presentasi visual. Penggunaan beberapa pergantian sudut kamera membuat setiap momen serangan terasa lebih sinematik, terutama saat diperlihatkan bagaimana Naoya bisa dijatuhkan hanya dengan satu pukulan telak, menegaskan gap kekuatan di antara keduanya.
3. Yuji dan Todo vs Mahito

Di versi manga, duel dua penyihir melawan satu kutukan ini sebenarnya sudah digambarkan dengan sangat solid, baik dari sisi tempo pertarungan maupun dinamika kerja sama antar karakter. Panel-panelnya mampu menampilkan tekanan pertempuran sekaligus kecerdikan taktik yang digunakan untuk menekan Mahito.
Namun MAPPA kembali membawa adegan ini ke level yang lebih tinggi di versi anime. Intensitas pertarungan Mahito melawan dua sahabat dari sekolah jujutsu terasa jauh lebih hidup, mulai dari pertukaran serangan, permainan strategi, hingga momentum kerja sama yang menentukan arah pertempuran. Alur emosinya juga terasa lebih kuat karena didukung musik, voice acting, dan timing adegan yang presisi.
Di sisi lain, anime juga berhasil menjaga nuansa unik pertarungan ini lewat beberapa momen ringan. Salah satunya reaksi Mahito saat melihat kalung Todo jatuh yang diiringi lagu idol favoritnya, menciptakan kontras humor di tengah pertarungan brutal. Lalu momen “pencerahan” Todo hingga berhasil melancarkan satu kali Black Flash ke Mahito pun terasa sangat heroik bahkan penyajiannya mengingatkan pada klimaks adegan anime bertema superhero.
Tak ketinggalan, visual latar bersalju yang muncul menjelang klimaks pertarungan menjadi simbolisme yang kuat. Dalam visual tersebut, Mahito digambarkan seperti kelinci yang diburu, sementara Yuji diposisikan sebagai serigala. Metafora ini berhasil menegaskan bagaimana posisi keduanya berbalik total dari Mahito yang sebelumnya mendominasi secara psikologis, menjadi pihak yang terpojok dalam pertarungan terakhir mereka.
4. Gojo vs Toji

Adegan duel Toji vs Gojo juga menjadi salah satu contoh peningkatan besar dari manga ke anime. Di versi manga, pertarungan mereka memang terasa cepat, brutal dan mengejutkan, tetapi penyajiannya berlangsung dalam tempo yang relatif singkat.
Sementara itu, versi anime memberi ruang lebih untuk menunjukkan betapa mengerikannya Toji sebagai pemburu penyihir. Ada banyak detail tambahan, seperti cara Toji merobek kutukan dari dalam menggunakan pedangnya, hingga pergerakannya yang begitu cepat sampai Gojo kesulitan melacaknya dengan metode biasa. Koreografi pertarungannya juga dibuat lebih taktis, memperlihatkan bagaimana Toji memanfaatkan pengalaman, insting bertarung, dan peralatan khususnya untuk menutup celah kekuatan yang sangat besar.
Momen saat Toji menusuk Gojo dengan Inverted Spear of Heaven, lalu melanjutkannya dengan tusukan pisau berulang kali, juga ditampilkan dengan nuansa yang lebih realistis dan intens di anime. Adegan tersebut terasa lebih “berat” secara visual maupun emosional, sekaligus menegaskan betapa berbahayanya Toji bahkan bagi penyihir terkuat sekalipun.
5. Toji vs Geto

Selain melawan Gojo, pertarungan Toji melawan Geto juga layak masuk dalam daftar peningkatan kualitas dari manga ke anime. Di versi manga, kekurangannya kurang lebih masih sama. Tempo pertarungan terasa cepat dan beberapa momen aksi besar tidak sempat dieksplorasi secara visual.
Sebaliknya, versi anime memberi banyak tambahan animasi yang membuat duel ini terasa jauh lebih hidup dan menegangkan. Salah satu contohnya adalah visualisasi domain Kuchisake Onna yang dibuat lebih jelas, menegaskan konsep wilayah teritori di mana aturan kutukan tersebut harus dipatuhi oleh siapa pun yang berada di dalamnya termasuk Toji.
Selain itu, koreografi aksi Toji juga dibuat lebih intens. Momen saat ia melempar tombaknya ke udara lalu langsung menebas Geto dengan katana dalam satu rangkaian gerakan cepat ditampilkan dengan timing yang presisi yang kuat. Adegan ini makin menegaskan gaya bertarung Toji yang efisien, brutal, dan tanpa gerakan yang terbuang.
6 Yuji dan Nanami vs Mahito

Momen duet Yuji dan Nanami saat melawan Mahito di gedung sekolah juga pantas masuk dalam daftar peningkatan adaptasi anime. Di versi manga, alur aksi pertarungannya memang kuat secara konsep, tetapi beberapa transisi antar adegan terasa agak kasar sehingga ritme pertarungannya kurang mengalir.
Versi anime memperbaiki hal tersebut dengan penyajian yang jauh lebih mulus dan sinematik. Bentrokan fisik dibuat terasa lebih berat, termasuk momen saat Yuji menanduk Mahito yang divisualisasikan dengan dampak yang jauh lebih brutal. Intensitas kerja sama Yuji dan Nanami juga terasa lebih jelas, terutama saat keduanya melancarkan rentetan pukulan dan serangan tanpa memberi Mahito celah bernapas.
Puncaknya, saat Mahito mulai merasakan tekanan hingga menyadari konsep “kematian”, transisinya menuju pelepasan Domain Expansion: Self-Embodiment of Perfection ditampilkan dengan sangat halus. Pergerakan frame yang stabil, efek visual domain, dan atmosfer horor yang dibangun membuat momen tersebut terasa jauh lebih megah sekaligus mengintimidasi dibandingkan versi manga.
7. Sukuna vs Mahoraga

Memang ada sebagian penonton yang menilai visual anime pada adegan ini terlihat “kasar” atau seperti digambar seadanya. Namun pendekatan animasi seperti itu sebenarnya merupakan pilihan artistik untuk menyesuaikan tempo pertarungan yang sangat cepat. Gaya gambar yang lebih bebas membuat pergerakan terasa lebih liar, tidak kaku, dan memberi kesan chaos yang sejalan dengan bentrokan dua kekuatan destruktif dalam skala besar.
Anime juga menambahkan banyak momen brutal yang tidak, atau belum, dieksplor sedalam itu di manga. Mulai dari Mahoraga yang diikat Sukuna dengan kabel lalu dibanting, baku pukul brutal di dalam gedung, hingga momen saat Mahoraga dilempar ke kolam dan langsung disambut lemparan menara listrik oleh Sukuna. Ditambah lagi adegan ekstrem ketika Sukuna menyeret Mahoraga hingga ke pesawat udara yang akhirnya ikut hancur akibat benturan kekuatan mereka.
Penggunaan visual Malevolent Shrine dalam nuansa hitam-putih juga memberi sentuhan berbeda. Pilihan ini justru memperkuat atmosfer horor dan kesan tidak manusiawi dari domain tersebut, seolah seluruh area berubah menjadi ruang eksekusi tanpa emosi.
Semua tambahan ini menegaskan bahwa pertarungan tersebut bukan sekadar duel biasa, melainkan benturan dua entitas yang mampu menghancurkan lingkungan sekitarnya dengan mudah. Pendekatan visual yang “liar” justru memperkuat skala kehancuran sekaligus intensitas pertarungan yang ingin disampaikan anime.
Itulah daftar adegan anime Jujutsu Kaisen yang ditampilkan lebih bagus dari manganya.
Bagaimana pendapat kalian?
Untuk informasi yang lebih lengkap soal anime-manga, film, game, dan gadget, yuk gabung komunitas Warga Duniaku lewat link berikut:
Discord: https://bit.ly/WargaDuniaku


















