8 Fakta Soal Poké Wayang, Kolaborasi Unik antara Pokémon dan Wayang!

- Poké Wayang mempertemukan karakter Pokémon dengan seni wayang kulit Indonesia.
- Proyek ini membawa cerita bermuatan kerja sama dan saling mendukung untuk anak-anak, dengan musik Pokémon yang diaransemen menggunakan gamelan.
- Pertunjukan perdana dijadwalkan di WCCE pada 22 Oktober 2026, lalu direncanakan berkeliling ke sekolah dasar di Indonesia.
Jakarta, Duniaku.com – Pada Senin (14/9/2026), dalam konferensi pers Pokémon mengenai rencana masa depan mereka di Indonesia, salah satu proyek menarik yang diperkenalkan adalah “Poké Wayang”.
Yep, wayang, tetapi dengan gaya Pokémon.
Kolaborasi ini mempertemukan karakter-karakter Pokémon dengan seni wayang kulit Indonesia. Tidak hanya menghadirkan wayang berbentuk Pokémon, proyek ini juga membawa cerita dan pesan moral untuk anak-anak.
Lantas, apa saja fakta menarik mengenai Poké Wayang?
Table of Content
1. Didukung berbagai kementerian

Poké Wayang dipamerkan di The St. Regis Jakarta. Fotografer: Fahrul Nurullah Irene Umar, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Indonesia, dan Fadli Zon selaku Menteri Kebudayaan Republik Indonesia turut hadir dalam konferensi pers tersebut.
Ternyata, proyek Poké Wayang juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Kebudayaan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta SENAWANGI.
Kolaborasi ini menjadi wujud komitmen bersama untuk melestarikan budaya tradisional Indonesia, sekaligus menghadirkan pendekatan kreatif dalam merespons berbagai tantangan sosial yang dihadapi anak-anak saat ini.
2. Beberapa Pokémon sudah dibuat menjadi wayang

Poké Wayang dipamerkan di The St. Regis Jakarta. Fotografer: Fahrul Nurullah Dalam sesi foto bersama di atas panggung, ditampilkan wayang berbentuk Pikachu, Bulbasaur, Charmander, Squirtle, dan Charizard.
Para tamu undangan juga dapat melihat berbagai Pokémon lain yang telah diadaptasi menjadi wayang kulit.
Selain kelima Pokémon yang ditampilkan di atas panggung, terdapat pula Trevenant, Psyduck, Eevee, Meowth, Snorlax, dan Impidimp.
Dengan demikian, Poké Wayang tidak hanya mengadaptasi Pokémon yang populer, tetapi juga menghadirkan beberapa Pokémon dengan desain yang menarik untuk diterjemahkan ke dalam bentuk wayang.
3. Sarat pesan moral untuk anak-anak

Poké Wayang dipamerkan di The St. Regis Jakarta. Fotografer: Fahrul Nurullah Kisah Poké Wayang juga akan membawa pesan moral untuk anak-anak Indonesia.
Melalui petualangan Pikachu dan Pokémon lainnya dalam menghadapi berbagai rintangan, The Pokémon Company ingin menanamkan nilai-nilai mengenai pentingnya bekerja sama dengan teman dan saling mendukung bersama orang-orang terdekat.
Untuk semakin menghidupkan suasana, musik ikonis dari seri video game Pokémon juga diaransemen ulang menggunakan alunan gamelan.
Hasilnya adalah perpaduan musik Pokémon dengan nuansa tradisional Indonesia yang diharapkan dapat membuat pertunjukan terasa semakin ceria dan unik.
4. Pertunjukan perdana akan digelar pada Oktober 2026
Pertunjukan perdana Poké Wayang dijadwalkan berlangsung dalam ajang World Conference on Creative Economy (WCCE) pada 22 Oktober 2026.
Dengan demikian, masyarakat nantinya dapat melihat secara langsung bagaimana karakter Pokémon diterjemahkan ke dalam pertunjukan wayang kulit.
5. Belum ada rencana untuk menjual wayang Poké Wayang

Susumu Fukunaga dari TPC dalam sesi door stop. Fotografer: Fahrul Nurullah Bagi yang melihat desain wayang kulit Pokémon dan langsung berpikir, “Saya mau beli satu,” tampaknya harus sedikit bersabar.
Dalam sesi doorstop, Susumu Fukunaga menyampaikan bahwa belum ada rencana untuk menjual set wayang kulit Poké Wayang.
Alih-alih menjadikannya produk komersial, The Pokémon Company berencana membawa pertunjukan Poké Wayang berkeliling ke berbagai sekolah dasar (SD) di Indonesia.
Selain itu, mereka juga berencana mendonasikan kit atau perangkat peragaan wayang edisi khusus ini ke sebanyak mungkin sekolah. Dengan demikian, anak-anak dapat terus menikmati sekaligus memainkan Poké Wayang secara langsung.
6. Menjadi cara untuk mengenalkan budaya Indonesia kepada anak-anak
Kolaborasi antara wayang dan Pokémon ini juga diharapkan dapat membuka ruang bagi anak-anak untuk mengenal budaya mereka lebih dekat.
Di sisi lain, proyek ini juga menjadi cara untuk mengajak berbagai generasi menemukan kembali pesona kesenian wayang.
Ketua Umum SENAWANGI (Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia), Marsda TNI (Purn) F.H. Bambang Soelistyo, S.Sos., yang turut tampil dalam video behind the scenes proyek tersebut, menyampaikan:
“Ini adalah kolaborasi spesial di mana budaya Indonesia bertemu dengan Pokémon. Mari rasakan budaya kita lebih dekat dan kenali pesonanya bersama Poké Wayang.”
7. Proses pembuatannya cukup menarik

Proses pembuatan Poké Wayang. Fotografer: Fahrul Nurullah Dalam video pengenalan proyek, diperlihatkan proses awal pembuatan Poké Wayang.
Proses tersebut dimulai dengan seniman yang menggambar desain Pokémon, salah satunya Charizard.
Desain tersebut kemudian diolah dan diukir pada kulit kerbau yang telah dikeringkan untuk membentuk wayang. Setelah itu, wayang diberi warna hingga menghasilkan bentuk seperti yang dipamerkan dalam acara tersebut.
Tahap berikutnya adalah pemasangan gapit, sehingga wayang tersebut dapat digunakan dalam pertunjukan.
Dengan proses tersebut, karakter Pokémon yang biasanya kita kenal dalam bentuk ilustrasi, game, atau merchandise akhirnya mendapatkan bentuk yang sangat berbeda: wayang kulit.
8. Penulis naskahnya sempat merasakan besarnya tanggung jawab

Surat dari penulis naskah untuk Poké Wayang. Fotografer: Fahrul Nurullah Ada pula cerita menarik di balik proses kreatif Poké Wayang.
Toda Akihito, penulis naskah untuk lakon “Hutan Tanpa Selamat Pagi” dalam proyek Poké Wayang, mengungkapkan pengalamannya melalui sebuah surat.
Ia dipercaya untuk membuat cerita baru yang terinspirasi dari wayang kulit yang memiliki sejarah panjang hingga sekitar seribu tahun.
Besarnya tanggung jawab tersebut bahkan membuat tangannya sempat berhenti mengetik.
Namun, Toda kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya berkat Pokémon.
Ia menggambarkan seolah-olah Pokémon diam-diam memberikan semangat kepadanya:
“Senang sekali membayangkan kami menjadi wayang dan membawa senyum ke semua orang! Ayo lanjutkan menulis!”
Pada akhirnya, Toda berhasil menyelesaikan ceritanya dan mengaku bangga dapat menjadi bagian dari proyek Poké Wayang.
















