- Technical: aspek teknis yang mendukung proses produksi, termasuk kebutuhan perangkat dan sistem yang digunakan.
- Motion: aspek yang berkaitan dengan gerakan dan proses menghidupkan karakter melalui animasi.
- Visual: aspek visual, termasuk perancangan tampilan dan elemen artistik.
- Story/Editorial: aspek penceritaan serta pengembangan dan penyuntingan cerita.
- Managerial: aspek manajemen yang mendukung koordinasi tim dan jalannya produksi.
Apa Skill yang Sebaiknya Dikembangkan untuk Masuk Industri Animasi?

Nicole West menyarankan calon animator membangun fondasi seni dan desain, lalu mengeksplorasi minat untuk menemukan bidang yang paling sesuai.
Komunitas membantu calon animator bertukar masukan, memperluas referensi, dan membangun peluang kolaborasi, termasuk bagi mereka yang introvert.
Industri animasi juga membutuhkan keahlian teknis, desain, cerita, manajemen, komunikasi, dan kerja sama, bukan hanya kemampuan menggambar.
Jakarta, Duniaku.com — Mungkin tidak sedikit pembaca Duniaku.com yang pernah bermimpi, "Wah, saya mau masuk industri animasi!"
Ada yang membayangkan diri menjadi animator di Disney atau Pixar. Ada juga yang ingin bekerja di studio anime seperti ufotable. Bahkan, mungkin ada yang bercita-cita bergabung dengan studio dalam negeri untuk menghasilkan karya sebesar Jumbo.
Namun, di tengah perkembangan industri animasi pada dekade 2020-an, apa saja keterampilan yang sebaiknya mulai dikembangkan oleh siswa sekolah maupun mahasiswa yang ingin menekuni bidang ini?
Pada 23 Oktober 2026, saya berkesempatan menanyakan hal tersebut kepada dua sosok yang memiliki pengalaman di industri animasi: Nicole West, Head of Operations di West Studio, dan Daryl Wilson, Co-Founder sekaligus Animation Director Kumata Studio.
Jawaban mereka menarik karena memperlihatkan bahwa jalan menuju industri animasi tidak hanya bergantung pada kemampuan menggambar atau menggerakkan karakter. Ada banyak aspek lain yang perlu dipertimbangkan, mulai dari mengenali minat pribadi hingga membangun kemampuan bekerja sama.
Table of Content
1. Perspektif Nicole West: "Are You Having Fun? Or Is It Miserable?"

Nicole West di at america dalam panel From Sketch to Screen: Building Animation That Lasts di at america. (Dok. at america) "Terakhir, bagi rekan-rekan di komunitas Warga Duniaku yang mungkin tertarik untuk terjun ke industri animasi: keterampilan apa saja yang menurut Anda paling penting untuk mulai dikembangkan saat ini? Apakah ada kemampuan khusus yang menurut Anda sering kali diremehkan oleh para calon animator?"
Itulah pertanyaan yang saya ajukan kepada Nicole dan Daryl pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Nicole mengawali jawabannya dengan menyinggung interaksinya dengan siswa dan profesional di Indonesia pada pekan sebelumnya. Ia mengaku terkesan dengan kemampuan mereka. "And there's a really high skill level here," pujinya.
Pengalaman tersebut membuat Nicole menilai bahwa pendidikan animasi di Indonesia sudah berjalan dengan baik, setidaknya berdasarkan perspektifnya.
Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan oleh mereka yang baru ingin memulai?
Nicole menekankan pentingnya membangun fondasi terlebih dahulu. "It's always best to first focus on the fundamental skills of art and design."
Setelah menguasai dasar-dasar seni dan desain, calon animator bisa mulai mengeksplorasi kemampuan dan minat mereka sendiri. Nicole senang melihat siswa mencoba berbagai hal untuk menemukan jawaban atas dua pertanyaan penting: apa yang menjadi bakat mereka, dan apa yang sebenarnya mereka sukai?
Jika seorang siswa belum tahu ingin menekuni bidang apa, Nicole menyarankan agar ia mencoba hal-hal baru dan memperhatikan bagaimana perasaannya ketika menjalani proses tersebut.
"Like, are you having fun? Or is it miserable?"
Jika ternyata prosesnya terasa menyiksa, bukan berarti siswa tersebut harus langsung menyerah atau tidak perlu mempelajari keterampilan itu sama sekali. Namun, ada kemungkinan bahwa bidang tersebut memang bukan jalan yang paling cocok untuknya.
"You may actually want to do something else."
Dengan kata lain, mengenali kemampuan diri sendiri juga berarti memahami bidang apa yang ingin kita tekuni. Tidak semua hal harus dipaksakan menjadi karier hanya karena terlihat menarik dari luar.
2. Community Is Essential: Pentingnya Bergabung dengan Komunitas

Nicole West di At america dalam panel From Sketch to Screen: Building Animation That Lasts di at america. (Dok. at america) Salah satu saran Nicole kepada mereka yang ingin terjun ke industri kreatif adalah "Community Is Essential" atau komunitas itu penting.
Pesan serupa juga ia sampaikan ketika berbicara dengan saya.
Nicole mendorong calon animator untuk aktif berinteraksi dengan komunitas yang memiliki minat serupa. Bentuknya pun tidak harus selalu formal. Sesederhana membeli kopi bersama, membuat sketsa bareng.
Melalui komunitas, para anggotanya bisa saling memberikan masukan atau feedback untuk karya masing-masing. Mereka juga berkesempatan membangun hubungan dengan orang-orang yang suatu hari nanti bisa menjadi rekan kolaborasi.
Industri animasi sendiri kerap melibatkan banyak orang dengan keahlian berbeda. Karena itu, mengenal orang lain dan belajar dari pengalaman mereka dapat menjadi bekal yang berguna ketika seseorang mulai mengerjakan proyek profesional.
Komunitas bukan sekadar tempat mencari koneksi untuk mendapatkan pekerjaan. Lingkungan yang tepat juga bisa menjadi ruang untuk belajar, bertukar gagasan, dan berkembang bersama.
3. Apakah Animator Bisa Introvert?

Nicole West di at america dalam panel From Sketch to Screen: Building Animation That Lasts di at america. (Dok. at america) Anjuran untuk aktif di komunitas mungkin menimbulkan pertanyaan tersendiri bagi calon animator yang introvert, terlebih bagi mereka yang merasa canggung atau mengalami kecemasan sosial ketika harus berinteraksi dengan orang lain.
Apakah mereka tetap bisa berkarier di industri animasi?
Nicole punya pandangan yang cukup menarik.
"I think that animators can be introverted, but it's also good to spend time with other [people] who are passionate about the same thing. Because they'll tell you about the films that they saw. Maybe you haven't seen it, you see it, you learn from it, and it really tumbles from there. Like, you keep getting exposed to other things."
Jadi, ya, seorang introvert tetap bisa menjadi animator. Nicole tidak mengatakan bahwa semua animator harus berubah menjadi pribadi yang ekstrovert.
Namun, meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki minat serupa tetap bisa membawa manfaat. Dari obrolan santai, seseorang mungkin mendapat rekomendasi film yang belum pernah ia tonton. Setelah menontonnya, ia bisa menemukan inspirasi atau mempelajari pendekatan baru yang kemudian memengaruhi karyanya sendiri.
Proses belajar seperti ini bisa berkembang secara alami. Kita tidak pernah tahu ide apa yang akan muncul setelah terpapar karya, perspektif, atau pengalaman yang sebelumnya belum pernah kita temui.
Dengan kata lain, komunitas bukan hanya soal seberapa banyak orang yang kita kenal. Komunitas juga bisa memperluas referensi dan membantu kita melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.
4. Perspektif Daryl Wilson: "Kamu Sukanya di Aspek Apa?"

Daryl Wilson, Co Founder & Animation Director of Kumata Studio, dalam panel From Sketch to Screen: Building Animation That Lasts di At america. (Dok. at america) Ketika saya mengajukan pertanyaan serupa kepada Daryl Wilson, ia membuka jawabannya dengan komentar jenaka.
"Wah ini ngejelasinnya mungkin dua jam semua."
Komentar itu cukup menggambarkan betapa luasnya topik keterampilan untuk masuk ke industri animasi. Ada begitu banyak bidang dan spesialisasi yang bisa dibahas.
Namun, Daryl mencoba menyederhanakan penjelasannya dengan membedakan dua kecenderungan: mereka yang lebih tertarik pada penceritaan dan penciptaan dunia atau karakter, serta mereka yang ingin terlibat langsung dalam proses teknis dan kreatif animasi.
"Di animasi ini kan kita mecah jadi ada dua. Satu, ada orang yang memang pandai atau punya bakat untuk telling story. Di situ sebenarnya mereka tidak perlu masuk ke animasinya secara spesifik, tapi fokus di building IP, creation IP, karakter yang mereka suka dengan cerita yang mau mereka ceritakan."
Bagi orang yang tertarik menciptakan cerita, karakter, dan dunia fiksi, jalur kariernya tidak harus menjadi animator. Mereka bisa mengembangkan intellectual property (IP) sendiri dan berfokus pada cerita yang ingin disampaikan.
Minat tersebut juga bisa berkembang ke berbagai medium lain, seperti film, komik, maupun game.
Sementara itu, mereka yang lebih tertarik pada proses teknis dan kreatif animasi bisa menekuni bidang yang berhubungan langsung dengan produksi.
Daryl menjelaskan bahwa belajar menjadi animator berarti mempelajari cara menciptakan ilusi kehidupan melalui gerakan, ekspresi, akting, dan berbagai elemen lainnya.
Kedua jalur tersebut sama-sama bisa berkontribusi pada industri kreatif, tetapi kompetensi yang dibutuhkan tentu tidak selalu sama.
Karena itu, Daryl kembali menekankan satu pertanyaan yang sebaiknya dijawab oleh calon pelaku industri animasi: "Sukanya di aspek apa?"
Mengenali minat sejak awal dapat membantu seseorang menentukan keterampilan mana yang perlu diprioritaskan dan jalur karier apa yang ingin dijajaki.
5. Tidak Bisa Menggambar Bukan Berarti Tidak Bisa Masuk Industri Animasi

Panji Tengkorak, salah satu animasi produksi Indonesia. (IMDb) Salah satu hal menarik dari penjelasan Daryl adalah bahwa kemampuan menggambar bukan satu-satunya pintu masuk ke industri animasi.
"Enggak perlu jago gambar. Misalnya ternyata suka di technical side: programming, creating plugins, automation buat production, dan lain-lain, ya dia bagian di technical."
Seseorang yang tertarik pada aspek teknis bisa mengembangkan kemampuan pemrograman, membuat plugin, atau mengotomatisasi proses produksi. Keahlian seperti ini juga dapat membantu tim animasi bekerja dengan lebih efektif.
Bagaimana jika seseorang menyukai seni, tetapi tidak tertarik menggerakkan karakter sebagai animator?
Menurut Daryl, ada jalur lain yang bisa dijajaki, misalnya concept art, desain karakter, atau desain lingkungan.
"Jadi sebenarnya ada aspek yang bisa jadi fokus gitu, asal kita tahu kita sukanya di bagian mana sih."
Daryl juga menyinggung kemudahan akses belajar pada era sekarang, yang ia gambarkan sebagai adanya "YouTube University". Berbagai tutorial di YouTube dapat membantu orang mempelajari keterampilan baru secara mandiri.
Tentu, menonton tutorial saja tidak otomatis membuat seseorang menguasai sebuah bidang. Tetap dibutuhkan latihan, eksplorasi, dan kemauan untuk terus mengembangkan kemampuan. Namun, sumber belajar yang tersedia sekarang memberikan lebih banyak kesempatan bagi calon pelaku industri untuk mencoba berbagai bidang sebelum menentukan spesialisasinya.
Jadi, jika kamu tertarik masuk ke industri animasi tetapi merasa tidak jago menggambar, jangan langsung mencoret impian tersebut. Bisa jadi, bidang yang paling cocok untukmu justru berada di balik layar produksi.
6. Soft Skill Juga Penting
Selain kemampuan teknis, Daryl menyoroti pentingnya soft skill, terutama dalam komunikasi dan kerja sama.
Alasannya sederhana: proyek animasi merupakan pekerjaan kolaboratif. Untuk menghasilkan sebuah karya, banyak orang dengan keahlian dan tanggung jawab berbeda perlu bekerja bersama.
Karena itu, mengedepankan ego, memaksakan ide sendiri, atau berusaha mengerjakan semuanya tanpa mempertimbangkan anggota tim lain bukanlah pendekatan yang ideal.
Calon pelaku industri animasi juga perlu mengembangkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kerja sama agar bisa berkontribusi dengan baik dalam sebuah tim.
"Dan itu sebenarnya yang jadi tantangan terberat sih," Daryl mengakui.
Menurutnya, merealisasikan proyek yang melibatkan banyak orang bisa menjadi sulit jika anggota tim tidak mampu berkomunikasi, mendukung satu sama lain, dan bekerja menuju tujuan bersama.
Dengan demikian, kemampuan menggambar, menguasai perangkat lunak, atau memahami proses produksi saja belum tentu cukup. Kemampuan menyampaikan ide, menerima masukan, dan bekerja bersama orang lain juga merupakan bagian penting dari kesiapan memasuki industri animasi.
7. Lima Aspek Penting dalam Studio Animasi Menurut Daryl Wilson

Daryl Wilson, Co Founder & Animation Director of Kumata Studio, dalam panel From Sketch to Screen: Building Animation That Lasts di At america. (Dok. at america) Dalam sesi di panggung, Daryl juga menyoroti lima aspek yang penting dalam sebuah studio animasi:
Pembagian ini memperlihatkan bahwa sebuah studio animasi membutuhkan beragam kompetensi. Karya yang tampil di layar merupakan hasil kerja banyak orang dengan spesialisasi berbeda, bukan semata-mata hasil seorang animator yang menggerakkan karakter.
Daryl pun kembali menekankan bahwa seseorang yang tidak bisa menggambar tetap memiliki kemungkinan untuk bekerja di industri animasi, misalnya melalui aspek teknis atau manajerial.
Tentu, setiap bidang memiliki tuntutan keterampilan tersendiri. Namun, mengenali bidang-bidang tersebut dapat membantu calon pelaku industri memahami bahwa ada banyak cara untuk berkontribusi dalam pembuatan sebuah karya animasi.
Jadi, Skill Apa yang Sebaiknya Dikembangkan?
Dari penjelasan Nicole West dan Daryl Wilson, ada beberapa hal yang bisa menjadi bekal bagi siswa maupun mahasiswa yang ingin masuk ke industri animasi.
Pertama, bangun fondasi seni dan desain, lalu eksplorasi berbagai bidang untuk menemukan kemampuan serta minat yang paling sesuai. Kedua, jangan ragu bergabung dengan komunitas karena interaksi dengan orang lain dapat memperluas referensi, membuka kesempatan kolaborasi, dan membantu proses belajar.
Ketiga, pahami bahwa industri animasi tidak hanya membutuhkan animator. Ada bidang teknis, desain, penceritaan, hingga manajemen produksi yang sama-sama berperan penting. Terakhir, kembangkan soft skill karena membuat animasi merupakan proses kolaboratif yang membutuhkan komunikasi dan kerja sama.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan terpenting bagi calon pelaku industri animasi bukan hanya "Apakah saya jago menggambar?", melainkan "Bagian mana dari proses kreatif ini yang paling saya sukai, dan keterampilan apa yang perlu saya kembangkan untuk menekuninya?"
Menemukan jawabannya bisa menjadi langkah awal untuk membangun karier yang bukan hanya sesuai dengan kemampuan, tetapi juga terasa cocok untuk dijalani dalam jangka panjang.












