Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
For
You

Penilaian Film Lee Cronin's The Mummy, Horor Domestik Paling Brutal

Penilaian Film Lee Cronin's The Mummy, Horor Domestik Paling Brutal
Lee Cronin's The Mummy (dok. Warner Bros. Pictures/Lee Cronin's The Mummy)
Intinya Sih
  • Lee Cronin menghadirkan The Mummy versi baru yang lebih gelap dan intim, menyoroti keluarga Cannon yang dihantui trauma setelah putri mereka kembali dari gurun Mesir dalam kondisi misterius.
  • Film ini menonjol lewat visual suram, efek praktikal ekstrem, serta desain suara presisi yang menciptakan atmosfer body horror intens tanpa bergantung pada jump scare berlebihan.
  • Aktor Jack Reynor dan Natalie Grace tampil kuat menggambarkan kehancuran emosional keluarga, sementara kolaborasi Blumhouse dan Atomic Monster menandai arah baru bagi kebangkitan monster klasik Universal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Lee Cronin, yang sebelumnya sukses besar lewat Evil Dead Rise, kini kembali dengan ambisi besar untuk membangkitkan salah satu monster paling ikonik dalam sejarah sinema: sang Mumi. Namun, lupakan petualangan seru ala Brendan Fraser atau aksi bombastis Tom Cruise. Di bawah bendera Blumhouse dan Atomic Monster, Lee Cronin's The Mummy hadir sebagai sebuah mimpi buruk yang jauh lebih intim, kelam, dan sangat tidak nyaman untuk disaksikan.

Table of Content

1. Dekonstruksi Mitologi dalam Balutan Horor Domestik

1. Dekonstruksi Mitologi dalam Balutan Horor Domestik

The Mummy.
film The Mummy (dok. Warner Bros/The Mummy)

Film ini mengambil premis yang sangat personal dengan menempatkan keluarga Cannon sebagai pusat gravitasi cerita. Delapan tahun setelah hilangnya putri mereka, Katie, di gurun Mesir, keluarga ini mendapati keajaiban sekaligus kutukan saat Katie kembali dalam kondisi "terjebak" di dalam sebuah sarkofagus kuno. Alih-alih reuni yang mengharukan, kepulangan Katie justru menjadi awal dari kehancuran psikologis sang ayah, Charlie (Jack Reynor), yang juga merupakan seorang jurnalis, dalam upayanya memahami apa yang sebenarnya dibawa pulang oleh anaknya.

​Cronin dengan cerdas menjauhkan diri dari klise makam kuno yang luas dan perangkap maut. Sebaliknya, ia memindahkan teror tersebut ke dalam rumah perkotaan yang sempit, menciptakan nuansa klaustrofobik yang mengingatkan kita pada Poltergeist. Fokus ceritanya bukan pada bagaimana cara mengembalikan sang Mumi ke dalam tanah, melainkan bagaimana sebuah keluarga menghadapi trauma masa lalu yang kini mewujud secara fisik di hadapan mereka dalam bentuk entitas yang jahat.

​Setiap babak dibangun dengan tempo yang lambat namun konsisten, memberikan ruang bagi penonton untuk merasakan keputusasaan Larissa (Laia Costa) sebagai seorang ibu. Naskah yang ditulis sendiri oleh Cronin tidak terburu-buru mengungkap siapa atau apa entitas di dalam Katie, membiarkan misteri tersebut merayap melalui detil-detil kecil yang mengganggu di sudut ruangan. Ini adalah sebuah studi tentang kedukaan yang dipelintir menjadi horor supranatural yang sangat efektif.

2. Estetika Visual dan Teror "Body Horror" yang Brutal

Lee Cronin's The Mummy 4.jpeg
Lee Cronin's The Mummy (dok. Warner Bros. Pictures/Lee Cronin's The Mummy)

Secara teknis, Dave Garbett sebagai sinematografer berhasil menangkap atmosfer yang sangat dingin dan suram. Penggunaan pencahayaan yang minim di dalam rumah Cannon menciptakan kontras yang tajam dengan kilas balik gurun Mesir yang terik namun terasa mati. Visual film ini tidak hanya bertujuan untuk menakut-nakuti, tetapi juga untuk membangun rasa mual yang konstan, terutama saat kamera menyorot detail perubahan fisik Katie yang tidak wajar.

​Bicara soal efek praktikal, film ini adalah "surat cinta" bagi penggemar horor ekstrem. Mengikuti jejak Evil Dead Rise, Cronin tidak menahan diri dalam menyajikan body horror yang menjijikkan. Proses "mumifikasi" yang terjadi pada manusia hidup dalam film ini ditampilkan dengan detail yang mengerikan, kulit yang mengering, tulang yang berderak, hingga cairan hitam yang keluar dari tempat yang tidak seharusnya. Tidak mengherankan jika film ini mendapatkan rating dewasa yang sangat ketat.

​Stephen McKeon, yang menggubah musik film ini, memberikan kontribusi besar lewat skor yang didominasi oleh suara-suara instrumen yang terdistorsi. Alih-alih menggunakan jump scare murahan dengan dentuman musik keras, McKeon lebih memilih suara desisan dan frekuensi rendah yang membuat bulu kuduk berdiri sepanjang durasi 133 menit. Desain suaranya sangat presisi, memastikan bahwa setiap gesekan kain kafan atau bisikan dari balik dinding terdengar sangat nyata di telinga penonton.

3. Antara Trauma dan Ketakutan

Lee Cronin's The Mummy 5.jpeg
Lee Cronin's The Mummy (dok. Warner Bros. Pictures/Lee Cronin's The Mummy)

Performa Jack Reynor sebagai Charlie Cannon adalah salah satu yang terbaik dalam karirnya. Ia berhasil memotret sosok ayah yang hancur sekaligus penuh rasa bersalah dengan sangat meyakinkan. Sebagai seorang jurnalis, Charlie mencoba menggunakan logika untuk memecahkan misteri anaknya, namun Reynor menunjukkan dengan sangat apik bagaimana logika tersebut perlahan runtuh saat ia berhadapan dengan sesuatu yang melampaui nalar manusia.

​Di sisi lain, Natalie Grace yang memerankan Katie versi remaja memberikan penampilan yang benar-benar meneror. Ia mampu beralih dari sosok anak yang rapuh menjadi predator supranatural hanya lewat tatapan mata dan perubahan postur tubuh. Chemistry-nya dengan Laia Costa menciptakan dinamika ibu-anak yang sangat tragis; ada keinginan kuat untuk memeluk, namun ada insting bertahan hidup yang meneriakkan untuk segera lari menjauh.

​Karakter pendukung seperti Detective Dalia Zaki yang diperankan oleh May Calamawy juga memberikan dimensi tambahan pada cerita. Kehadirannya memberikan perspektif investigatif yang mirip dengan film Se7en, di mana penonton diajak mengikuti jejak-jejak sejarah kuno yang ternyata masih aktif di dunia modern. Meski porsinya tidak sebanyak keluarga Cannon, setiap kemunculan Calamawy memberikan bobot pada narasi besar tentang seberapa dalam kutukan ini telah merasap ke dalam masyarakat.

4. Masa Depan Monster di Tangan Blumhouse dan Atomic Monster

The Mummy.
film The Mummy (dok. Warner Bros/The Mummy)

Kolaborasi antara James Wan dan Jason Blum dalam proyek ini membuktikan bahwa monster-monster klasik Universal masih memiliki taring jika diberikan kepada sutradara yang tepat. Film ini adalah pembuktian bahwa mumi tidak selamanya harus tentang aksi petualangan di padang pasir. Dengan anggaran yang lebih terukur namun kreatifitas yang liar, mereka berhasil menciptakan standar baru bagi film monster-verse yang lebih mengutamakan kualitas horor daripada sekadar membangun cinematic universe yang dipaksakan.

​Pilihan untuk melakukan reimagining total daripada melanjutkan kisah lama adalah langkah yang sangat cerdik. Meskipun penggemar Brendan Fraser mungkin akan merindukan unsur komedinya, namun bagi industri film horor tahun 2026, pendekatan Cronin adalah apa yang dibutuhkan untuk menyegarkan genre ini. Ini adalah film yang berdiri tegak di atas kaki sendiri, tanpa perlu bergantung pada nostalgia masa lalu, namun tetap memberikan penghormatan pada akar horor murni dari tahun 1932.

​Akhirnya, film ini juga menunjukkan bahwa narasi horor modern semakin bergeser ke arah eksplorasi psikologis yang mendalam. Dengan kesuksesan yang diprediksi akan diraih oleh film ini, sepertinya kita akan melihat lebih banyak lagi monster klasik yang diberikan sentuhan "gelap" oleh duo Wan dan Blum. The Mummy versi 2026 bukan sekadar film tentang mayat hidup yang dibalut kain kafan, melainkan sebuah refleksi tentang betapa mengerikannya jika masa lalu yang seharusnya terkubur, tiba-tiba kembali untuk menuntut tempatnya di meja makan kita.

​Secara keseluruhan, Lee Cronin's The Mummy adalah sebuah pencapaian horor yang solid, brutal, dan sangat emosional. Ini adalah tipe film yang akan terus menghantui pikiranmu bahkan setelah kamu keluar dari gedung bioskop. Jika kamu mencari hiburan ringan untuk akhir pekan, film ini mungkin bukan jawabannya. Namun, jika kamu ingin melihat bagaimana sebuah legenda kuno dibedah dan disusun ulang menjadi sebuah teror domestik yang mematikan, maka film ini adalah tontonan wajib tahun ini.

Sinopsis Lee Cronin's The Mummy (2026)

Delapan tahun setelah menghilang secara misterius di tengah gurun Mesir, Katie Cannon tiba-tiba kembali ke pelukan orang tuanya, Charlie dan Larissa. Namun, kepulangan yang seharusnya menjadi momen haru ini segera berubah menjadi kebingungan yang mencekam ketika Katie ditemukan terjebak di dalam sebuah sarkofagus kuno yang muncul secara aneh. Keluarga ini kini harus menghadapi kenyataan bahwa putri mereka tidak lagi sama, dan rumah mereka yang tenang di tengah kota perlahan berubah menjadi penjara klaustrofobik yang menyimpan rahasia kelam dari ribuan tahun silam.

​Teror mulai merayap saat Charlie, seorang jurnalis yang mencoba mencari kebenaran lewat logika, menyaksikan perubahan fisik dan perilaku Katie yang semakin tidak masuk akal. Bukan sekadar trauma psikologis, tubuh Katie ternyata telah menjadi wadah bagi entitas kuno yang mulai memanifestasikan diri melalui proses "mumifikasi" yang brutal dan menyakitkan. Di balik dinding rumah yang sempit, kasih sayang orang tua diuji hingga ke titik nadir saat mereka menyadari bahwa sosok yang mereka cintai kini hanyalah selubung bagi kutukan haus darah yang tidak seharusnya bangkit kembali.

​Seiring dengan meningkatnya kejadian supranatural yang mematikan, investigasi yang melibatkan Detektif Dalia Zaki mengungkap bahwa kepulangan Katie adalah bagian dari ritual kuno yang ingin mengklaim dunia modern. Investigasi tersebut membawa keluarga Cannon pada pilihan mustahil antara menyelamatkan nyawa putri mereka atau menghentikan penyebaran kutukan yang mengancam nyawa banyak orang. Dalam klimaks yang penuh dengan body horror dan ketegangan psikologis, mereka harus bertarung melawan waktu sebelum sang Mumi sepenuhnya mengambil alih kesadaran Katie dan mengubah rumah mereka menjadi makam abadi.

Lee Cronin's The Mummy
2026
4/5
Directed by Lee Cronin
Producer

Jason Blum, James Wan, John Keville

Writer

Lee Cronin

Age Rating

17+

Genre

Kengerian, Misteri

Duration

134 Minutes

Release Date

07-04-2026

Theme

journalist, monster, pyramid, investigation, supernatural, mummy, possession, disappearance, curse, tomb, scorpion, reboot, dark fantasy, supernatural horror, body horror, horror

Production House

Atomic Monster, Blumhouse Productions, New Line Cinema, Domain Entertainment, Wicked/Good

Where to Watch

Cinema XXI, CGV, Cinepolis

Cast

Jack Reynor, Laia Costa, May Calamawy, Natalie Grace, Shylo Molina

Trailer Lee Cronin's The Mummy (2026)

Galeri Lee Cronin's The Mummy (2026)

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Fahrul Razi Uni Nurullah
EditorFahrul Razi Uni Nurullah
Follow Us

Latest in Film

See More