Ini Alasan Kenapa Jason Statham Sering Memerankan Karakter Mirip!

- Film Jason Statham sering menampilkan pria yang tampak biasa, lalu beraksi setelah hidupnya terusik dan masa lalunya terungkap.
- Pada 2017, Statham menyebut dirinya bukan thespian yang dapat berubah seperti bunglon dan memilih peran yang ia yakini bisa dilakukan dengan baik.
- Kesuksesan sebagai aktor laga membuat studio memanfaatkan kemampuan fisik, screen presence, dan karakter tenang tetapi mengintimidasi yang dimilikinya.
Ada satu pola yang begitu sering muncul dalam film Jason Statham sampai rasanya hampir menjadi sebuah genre tersendiri.
Statham biasanya adalah seseorang yang sedang menjalani hidup relatif tenang. Ia mungkin bekerja sebagai mekanik, pengemudi, bodyguard, atau profesi lain yang terdengar biasa saja. Lalu sesuatu terjadi. Ada tragedi, pengkhianatan, kegagalan, atau sekumpulan penjahat yang membuat kesalahan fatal dengan mengusik kehidupannya.
Setelah itu, Statham mulai beraksi.
Baru kemudian orang-orang di sekitarnya mengetahui bahwa pria yang sebelumnya mereka anggap biasa saja ternyata memiliki masa lalu sebagai petarung, tentara, pembunuh bayaran, atau seseorang yang sangat berbahaya. Dan sebelum film berakhir, sebagian besar orang yang membuat kesalahan tersebut sudah menerima konsekuensinya.
Formula itu begitu familiar sehingga kita bisa bercanda bahwa banyak film Statham sebenarnya dimulai dengan pertanyaan sederhana: “Apa pekerjaan Jason Statham kali ini sebelum orang-orang sial itu mengganggunya?”
Namun mengapa Statham begitu sering memainkan karakter semacam ini?
Jawabannya ternyata cukup sederhana: karena Statham sendiri memang nyaman berada di wilayah tersebut.
Table of Content
1. “Saya bukan thespian”

Film aksi terbaru dari Jason Statham (dok. Amazon MGM/A Working Man) Dalam wawancara tahun 2017 di The Jim and Sam Show, Statham pernah ditanya apakah ia mendapatkan tawaran untuk memainkan karakter yang benar-benar berbeda dari peran-perannya yang biasanya penuh aksi dan tidak terlalu banyak dialog.
Jawabannya justru menunjukkan betapa sadar dirinya Statham terhadap citra yang sudah ia bangun.
Ia bercanda dengan membayangkan contoh peran yang sangat jauh dari zona nyamannya: “Seorang matematikawan yang sedang mengalami perceraian yang pahit atau semacamnya?”
Menurut Statham, ia memang tidak mendapatkan tawaran seperti itu. Tetapi yang lebih menarik, ia juga tidak terlalu menginginkannya.
Statham menjelaskan bahwa ia tidak menganggap dirinya sebagai aktor yang mampu berubah menjadi karakter apa pun. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki pengalaman pelatihan akting selama bertahun-tahun seperti sebagian aktor lain.
Ia bahkan menggambarkan dirinya bukan sebagai seorang thespian (aktor, aktris, atau pemain teater) yang dapat “berubah seperti bunglon” untuk memainkan berbagai macam karakter.
Jadi, ia memilih melakukan sesuatu yang menurutnya masuk akal: memainkan peran yang memang ia percaya bisa ia lakukan dengan baik.
2. Bukan sekadar typecasting

Film aksi Jason Statham (dok. Miramax/The Beekeeper) Ini membuat fenomena “Jason Statham selalu memainkan Jason Statham” menjadi sedikit lebih menarik.
Tentu saja, Hollywood juga memainkan peran besar. Setelah Statham sukses sebagai aktor laga, masuk akal bagi studio untuk terus memberinya karakter yang memanfaatkan kualitas yang sudah terbukti menjual: fisiknya, kemampuan bertarung, screen presence, dan kemampuannya memainkan karakter yang tenang tetapi mengintimidasi.
Tetapi dari pernyataannya sendiri, Statham tampaknya tidak melihat hal itu sebagai sesuatu yang harus ia lawan.
Ia justru mengatakan bahwa banyak karakter yang ia mainkan memang memiliki kemiripan, dan ia mendapatkan banyak peran fisik karena ia benar-benar mampu melakukan hal tersebut. Menurutnya, ada unsur autentisitas di sana.
Dan itu memang terasa dalam film-filmnya.
Ketika Jason Statham memainkan seseorang yang sangat jago berkelahi, kita tidak perlu terlalu banyak diyakinkan bahwa karakter tersebut kompeten. Ia memang memiliki kemampuan fisik yang membuat peran itu terasa natural.
Dengan kata lain, Statham tidak sekadar menjual karakter badass.
Ia menjual keautentikan seorang pria yang memang terlihat seperti bisa menjadi badass.
3. Statham tidak berusaha menjadi “aktor lain”

Jason Statham sebagai Deckard Shaw (dok. Universal Pictures/F9: Fast Saga) Menariknya, Statham memang pernah sedikit keluar dari formula tersebut.
Spy menunjukkan sisi komedinya dengan cukup jelas, sementara Hummingbird memberinya karakter yang lebih dramatis dan gelap. Namun bahkan ketika keluar dari zona nyaman, ia masih sering membawa elemen-elemen yang menjadi ciri khasnya.
Dalam Hummingbird, misalnya, karakter yang lebih dramatis tersebut tetap memiliki kemampuan bertarung dan latar belakang militer.
Jadi bahkan ketika Statham mencoba sesuatu yang berbeda, ia tidak benar-benar membuang seluruh identitas yang sudah melekat padanya.
Dan mungkin memang tidak perlu.
Tidak semua aktor harus membuktikan kemampuan mereka dengan memainkan segala macam karakter.
Ada aktor yang ingin terus berubah. Ada yang ingin menghilang sepenuhnya ke dalam karakter. Dan ada aktor yang menemukan satu kombinasi persona, kemampuan, dan genre yang bekerja sangat baik untuk mereka.
Statham tampaknya termasuk kategori terakhir.



















