Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
Install

5 Masalah Karakter Cyclops di Film X-Men Sebelumnya!

5 Masalah Karakter Cyclops di Film X-Men Sebelumnya!
James Marsden perankan Cyclops dalam X-Men 2 (dok. 20th Century Studios/
  • Dua versi Cyclops sebelumnya, yang diperankan James Marsden dan Tye Sheridan, dinilai belum mendapat sorotan yang cukup.
  • Versi live-action Cyclops disebut belum maksimal menampilkan kepemimpinan, taktik, serta penggunaan optic blast secara kreatif.
  • Kit Connor akan menjadi Cyclops baru setelah masalah penggambaran Scott Summers pada film-film X-Men sebelumnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kita sebelumnya sudah mendapatkan dua versi Cyclops di film X-Men produksi 20th Century Fox: James Marsden dan Tye Sheridan.

Sekarang kita akan mendapatkan Cyclops baru versi Kit Connor.

Harapan utama fans Cyclops mungkin sederhana: tolong kali ini jangan ulangi masalah dua versi sebelumnya.

Karena meskipun Cyclops adalah salah satu karakter paling penting dalam sejarah X-Men, versi live-action-nya justru berkali-kali terasa kurang mendapat kesempatan untuk menunjukkan apa yang membuat Scott Summers begitu menarik.

Apa saja masalahnya?

  1. 1. Terhalang Bayang-Bayang Wolverine atau Karakter Lain

    James Marsden sebagai Cyclops
    James Marsden sebagai Cyclops (IMDB.com)

    Untuk versi James Marsden, Cyclops memang diperkenalkan sebagai salah satu pemimpin X-Men yang serius.

    Namun semakin kamu nonton, semakin terasa bahwa ia ketutupan bayang-bayang Wolverine.

    Ini bukan sekedar masalah James Marsden kalah karisma dari Hugh Jackman. Penyajian ceritanya pun tidak banyak membantu. Dalam X-Men maupun X2, Cyclops memang penting bagi tim, tetapi dia bukan tokoh utama yang paling mendapat sorotan.

    Sementara versi Tye Sheridan sebenarnya punya potensi.

    Sayangnya, ia juga kurang menonjol dalam X-Men: Apocalypse maupun Dark Phoenix.

    Bahkan ini sebenarnya merupakan masalah yang lebih luas bagi generasi muda X-Men yang diperkenalkan sejak Apocalypse. Banyak karakter terasa kurang mendapat ruang untuk berkembang dan menunjukkan kepribadian masing-masing.

    Jean Grey versi Sophie Turner adalah salah satu pengecualian karena cerita Dark Phoenix memang akhirnya berpusat padanya.

    Akibatnya, dua versi Cyclops sejauh ini belum pernah benar-benar terasa sebagai “Cyclops-nya X-Men.”

  2. 2. Daya Tarik Utama Cyclops Tidak Pernah Disajikan dengan Maksimal

    cyclops marvel comics.jpg
    Cyclops di Marvel Comics X-Men

    Ini yang mungkin paling disayangkan.

    Cyclops di komik bukan sekadar “pemimpin serius yang bisa menembakkan laser dari matanya.”

    Scott Summers adalah pemimpin dan ahli taktik yang sangat brilian. Bahkan kemampuan optic blast-nya pun bisa digunakan secara kreatif.

    Dia bisa menggunakannya sebagai semacam pukulan energi raksasa untuk menghancurkan lawan, tetapi juga dapat memanfaatkan pantulan dan sudut tembak secara sangat presisi.

    Kemampuan taktisnya bahkan sering membuatnya dibandingkan dengan Captain America.

    Ada gambaran menarik mengenai perbedaan mereka: Captain America adalah pemimpin yang kamu inginkan untuk menginspirasi dalam pertempuran. Cyclops adalah jenderal yang kamu inginkan untuk memenangkan perang yang sangat buruk.

    Sayangnya, versi live-action sejauh ini biasanya hanya mempertahankan dua elemen paling sederhana dari Cyclops: optic blast + sifat serius.

    Sisi kepemimpinannya pada versi James Marsden terasa cukup generik, sementara versi Tye Sheridan bahkan belum mendapatkan waktu yang cukup untuk berkembang menjadi pemimpin X-Men.

  3. 3. Khusus James Marsden: Mati Mendadak

    Jean Grey memeluk Cyclops dalam adegan dari film X-Men: The Last Stand produksi 20th Century Fox.
    Jean Grey memeluk Cyclops. (Dok. 20th Century Fox/X-Men: The Last Stand)

    Ini mungkin masalah yang paling terkenal.

    Dalam X-Men: The Last Stand (2006), Cyclops disingkirkan dan kemudian dianggap tewas di awal film.

    Masalahnya semakin terasa karena karakter Scott sebenarnya memiliki posisi yang sangat penting dalam kisah Phoenix.

    Kematian tersebut juga berkaitan dengan keterbatasan waktu James Marsden akibat bentrok jadwal produksi dengan Superman Returns.

    Akibatnya, Cyclops kehilangan kesempatan untuk benar-benar menjadi bagian penting dari konflik besar Jean Grey.

    Dan ini membawa kita ke masalah berikutnya.

  4. 4. Dinamika Karakter Cyclops dan Jean Tidak Pernah Dibangun dengan Baik

    Jean Grey dan Cyclops (dok. Marvel Studios/X-Men: Dark Phoenix)
    Jean Grey dan Cyclops (dok. Marvel Studios/X-Men: Dark Phoenix)

    Cyclops sering kali disederhanakan menjadi sosok kaku, membosankan, atau sekadar pacar Jean Grey dalam konflik cinta segitiga dengan Wolverine.

    Padahal hubungan Scott dan Jean jauh lebih penting dari itu.

    Dalam komik, Scott adalah salah satu orang yang paling dekat dengan Jean. Hubungan mereka justru menjadi semakin menarik ketika Jean mengalami transformasi Phoenix dan Dark Phoenix.

    Scott bukan sekadar “pacarnya Jean.”

    Dia adalah seseorang yang harus menghadapi kenyataan bahwa orang yang paling dia cintai perlahan berubah menjadi ancaman yang mungkin tidak bisa dihentikan.

    Namun hubungan sedalam itu tidak pernah benar-benar sempat dibangun dalam versi James Marsden.

    Dan versi Tye Sheridan serta Sophie Turner juga tidak mendapatkan cukup waktu untuk membangun hubungan Scott–Jean sampai terasa sebagai fondasi emosional yang kuat.

    Ironisnya, kalau MCU memang benar-benar ingin membangun Jean Grey secara perlahan, Cyclops akan menjadi salah satu karakter terpenting dalam perjalanan tersebut.

  5. 5. Para Aktor Harus Menemukan Cara Berakting dengan Mata Ketutupan

    Cyclops (dok. 20th Century Fox/X-Men: The Last Stand)
    Cyclops (dok. 20th Century Fox/X-Men: The Last Stand)

    Ini masalah teknis yang cukup unik untuk Cyclops.

    Dalam akting, gerakan mata saja bisa memberikan banyak informasi: tatapan, arah pandangan, ekspresi ketika seseorang terkejut, marah, takut, atau sedang mencoba membaca situasi.

    Masalahnya, Cyclops hampir sepanjang waktu menggunakan visor atau kacamata khusus yang menutupi mata aktornya.

    Artinya, aktor harus menemukan cara lain untuk menyampaikan emosi.

    Dan sejauh ini, kedua versi live-action Cyclops terasa belum sepenuhnya berhasil menyajikan karakter Cyclops dengan keterbatasan ini.

    Ini bukan berarti James Marsden atau Tye Sheridan tidak bisa berakting.

    Justru tantangannya adalah karakter tersebut memiliki keterbatasan visual yang tidak dimiliki kebanyakan karakter lain.

    Karena itu saya cukup penasaran dengan Kit Connor.

    Kalau MCU benar-benar ingin menjadikan Cyclops sebagai salah satu pusat X-Men, dia harus menemukan cara membuat Scott terasa karismatik, tegas, emosional, sekaligus manusiawi, bahkan ketika sebagian besar ekspresi matanya tidak bisa terlihat.

    Dan kalau Marvel berhasil melakukan itu?

    Kita akhirnya mungkin mendapatkan sesuatu yang belum pernah benar-benar diberikan film X-Men sebelumnya:

    Cyclops yang terasa seperti Cyclops, bukan sekadar karakter kelewat serius, tanpa karakteristik menonjol selain optic blast.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More