3 Keunggulan Portgas D. Ace dari Sabo One Piece! Haki Raja?

- Portgas D. Ace memiliki keunggulan Haoshoku Haki yang muncul secara naluriah pada usia 10 tahun, sementara Sabo belum pernah menunjukkan kemampuan tersebut.
- Ace unggul dalam kemampuan bertarung sejak kecil, dengan catatan memenangkan 51 kali dari 100 pertarungan melawan Sabo.
- Perbedaan warisan darah antara Ace dan Sabo sangat mencolok, dengan Ace sebagai putra Gol D. Roger dan Sabo sebagai putra Outlook III.
Sejak kemunculan kembali Sabo, tak sedikit fans yang menyebutnya sebagai “pengganti” Portgas D. Ace, bahkan ada juga yang terang-terangan menganggap Sabo sebagai versi upgrade-nya.
Penilaian ini memang bisa dipahami. Sabo mewarisi posisi Ace sebagai saudara angkat Monkey D. Luffy, sekaligus menjadi pengguna kekuatan api yang ikonik. Secara naratif, ia jelas mengisi ruang kosong yang ditinggalkan Ace setelah tragedi besar di Marineford.
Namun, menyebut Sabo sepenuhnya “lebih unggul” dari Ace juga terasa terlalu menyederhanakan keadaan.
Di balik takdir tragisnya, Ace memiliki sejumlah keunggulan, baik dari sisi potensi, warisan, maupun karakter, yang tidak otomatis dimiliki Sabo. Hal-hal ini sering luput dari perhatian karena Ace gugur terlalu cepat, sebelum benar-benar mencapai puncaknya.
Lalu, apa saja keunggulan Portgas D. Ace dibanding Sabo?
Mari kita bahas satu per satu.
1. Haoshoku Haki

Salah satu keunggulan paling jelas Portgas D. Ace dibanding Sabo terletak pada Haoshoku Haki.
Dalam Bab 587, Ace yang masih berusia sekitar 10 tahun sudah mampu mengerahkan Haoshoku Haki secara naluriah. Tanpa pelatihan, tanpa pemahaman, ia menjatuhkan sebagian besar kru Bajak Laut Bluejam setelah mereka melukai Monkey D. Luffy. Ini adalah tanda klasik bakat raja, bangkit dalam kondisi emosional ekstrem.
Sebaliknya, hingga sejauh ini, Sabo belum pernah diperlihatkan memiliki atau menggunakan Haoshoku Haki. Meski ia jelas petarung kelas atas dengan penguasaan Haki yang solid, tanda-tanda “aura raja” tersebut belum muncul secara eksplisit di manga.
Bahkan jika suatu hari Sabo akhirnya membangkitkan Haoshoku Haki, perbandingan ini tetap menunjukkan satu hal penting: Ace membangkitkannya jauh lebih cepat. Potensi Haoshoku Ace terasa luar biasa, sayangnya, ia gugur sebelum sempat mengasah dan mengembangkannya ke level lanjutan.
2. Kemampuan bertarung semasa kecil

Semasa mereka kecil, level Luffy jauh sekali dari Sabo dan Ace. Dia sama sekali tak bisa mengalahkan keduanya!
Duel yang sesungguhnya menarik justru terjadi antara Ace dan Sabo.
Dari catatan yang disampaikan dalam cerita, Sabo memang lawan tanding yang seimbang bagi Ace. Dalam 100 pertarungan, Sabo mampu memenangkan 49 kali. Namun Ace memenangkan 51 kali, unggul tipis, tetapi tetap unggul. Angka ini memberi indikasi penting: bahkan sejak kecil, Ace sudah sedikit berada di atas Sabo dalam kemampuan tempur murni.
Keunggulan ini terasa konsisten dengan karakter Ace yang agresif, keras kepala, dan cepat berkembang di medan pertarungan. Ia bukan hanya kuat, tetapi juga cepat beradaptasi dan memaksakan kemenangan.
Sayangnya, perbandingan ini berhenti di titik yang tragis. Kita tidak pernah tahu bagaimana hasilnya jika Ace sempat berduel dengan Sabo versi dewasa, Sabo yang telah menguasai Ryusoken dan ditempa oleh Angkatan Revolusioner.
3. Warisan darah

Harus diakui, ada perbedaan yang sangat mencolok dalam aspek “bibit” antara Portgas D. Ace dan Sabo.
Ace adalah putra Gol D. Roger, sosok yang menjadi simbol kebebasan, kekuatan, dan kehendak raja di dunia One Piece. Dari sudut pandang potensi murni, Ace membawa darah salah satu figur terbesar yang pernah hidup.
Sebaliknya, Sabo adalah putra Outlook III, seorang bangsawan lokal dari Kerajaan Goa. Latar belakang yang terpaut jauh, baik secara simbolik maupun naratif.
Namun ironi terbesar Ace justru terletak di sini: keunggulan warisan darah itu tidak pernah benar-benar ia nikmati.
Ace tidak tumbuh dengan privilese nama Roger. Ia malah hidup dalam bayang-bayangnya, mewarisi stigma, kebencian, dan beban eksistensial dari seorang ayah yang bahkan tak pernah ia kenal secara pribadi. Nama besar itu bukan hadiah, melainkan hukuman yang harus ia pikul sejak lahir.


















