Mahoraga JJK vs Askin Nakk Le Vaar Bleach, Siapa Pemenangnya?

- Mahoraga dari Jujutsu Kaisen dikenal dengan kemampuan adaptasi ekstrem yang bisa menyesuaikan diri terhadap berbagai serangan, bahkan hingga level konseptual seperti memotong dimensi untuk menembus pertahanan lawan.
- Askin Nakk Le Vaar dari Bleach memiliki kekuatan Death Dealing yang memungkinkan dirinya mengatur dosis zat dalam tubuh dan menciptakan area beracun, menjadikannya lawan sulit bagi petarung fisik.
- Dari perbandingan keduanya, adaptasi Mahoraga dinilai jauh lebih luas dan cepat dibanding Askin, membuatnya unggul dalam pertarungan karena mampu menyesuaikan diri terhadap hampir semua bentuk serangan.
Mahoraga dari Jujutsu Kaisen terkenal dengan kemampuan adaptasinya yang nyaris tanpa batas. Dari seri Bleach, ada Askin Nakk Le Vaar yang juga terkenal karena mampu beradaptasi pada serangan musuh berkat kemampuan Death Dealing-nya. JIka keduanya bertarung, kira-kira siapa yang akan menang?
Penasaran? Begini penjelasannya!
1. Kemampuan Mahoraga

Selain daya destruktif dan pedang beraliran energi positif, Mahoraga punya satu kemampuan yang tak bisa dianggap enteng: adaptasi.
Sekali terkena serangan, Mahoraga akan memproses hal tersebut dengan tanda roda di atas kepalanya yang akan berputar beberapa kali. Menurut pengamatan para penyihir, mekanisme adaptasi makhluk ini sendiri berpatokan pada waktu dan frekuensi serangan yang ditujukan padanya.
Jadi, adaptasinya sudah dimulai begitu Mahoraga terkena serangan pertama dan prosesnya bisa dipercepat jika Mahoraga sampai terkena serangan yang sama berkali-kali.
Gilanya, adaptasi Mahoraga ini bisa terus berlangsung sampai ke level yang berbeda seperti saat ia menciptakan tebasan yang bisa membelah dimensi untuk mengakali kemampuan Limitless.
2. Kemampuan Askin yang diketahui

Selain kemampuan dasar Quincy, Askin diketahui punya satu kemampuan yang terbilang merepotkan: Death Dealing.
Skill pemberian Yhwach ini memungkinkan Askin mengatur dosis dan toleransi zat baik pada dirinya sendiri maupun pada musuh. Jika pria itu sampai terluka, ia tinggal menurunkan level dosis darahnya hingga ia bisa bertahan meski darahnya habis terkuras. Bahkan pada kasus tertentu, resistensinya bisa naik secara drastis di mana ia bisa kebal dari serangan Sunko milik Yushiro setelah terkena sambaran api pemuda tersebut.
Di sisi lain, Askin bisa merusak sistem organ target dengan menurunkan toleransinya pada zat seperti oksigen. Jadi musuh akan mengalami dilema karena oksigen jadi terlalu beracun baginya sedangkan dirinya masih membutuhkan gas tersebut untuk bernafas. Kemampuan keji ini yang membuatnya susah dilawan petarung tipe kekuatan seperti Zaraki atau Ichigo.
Askin sendiri bisa mengeksekusi kemampuan itu dengan bebas. Ia bisa membentuk bola ungu dan melemparnya agar kontak dengan musuh atau menciptakan area tertentu yang sangat beracun bagi korbannya.
3. Meski keduanya sama-sama bisa beradaptasi, kemampuan Mahoraga jauh lebih unggul karena jangkauan adaptasinya jauh lebih general

Meski sama-sama terkesan sebagai mekanisme kekebalan terhadap serangan lawan, kemampuan Mahoraga dan Askin sejatinya berbeda jauh, ibarat langit dan bumi.
Mekanisme adaptasi Askin Nakk Le Vaar cenderung berkutat pada aspek kimia dan fisika. Ia membutuhkan substansi tertentu sebagai “bahan contoh” untuk kemudian memodifikasi kadar mematikannya, sehingga tercipta kekebalan baru dalam pertarungan. Selain itu, tubuh Askin pada dasarnya tetaplah fisik layaknya manusia, sehingga serangan dengan daya hancur ekstrem masih berpotensi membunuhnya jika mengenai titik vital.
Sebaliknya, adaptasi Mahoraga sudah menyentuh ranah konseptual hingga eksistensial. Ia mampu menyesuaikan diri terhadap segala bentuk fenomena, termasuk yang bersifat abstrak. Contohnya, saat menghadapi teknik Limitless milik Satoru Gojo, Mahoraga mengembangkan metode serangan yang mampu “memotong” dimensi demi menembus pertahanan tersebut.
Bahkan ketika terkena Dismantle, bentuk adaptasi yang muncul bukan sekadar resistensi terhadap satu jenis serangan spesifik, melainkan pertahanan terhadap seluruh kategori tebasan secara umum. Skala dan cakupan penyesuaiannya jauh lebih luas, membuat Mahoraga terasa berada di level yang sama sekali berbeda dibandingkan Askin.
4. Bahkan meski tetap bisa bertahan, Askin yang harus waspada jika adaptasi Mahoraga sudah menjangkau imunitas Quincy tersebut

Dari seluruh pembahasan tadi, arahnya sebenarnya sudah cukup jelas soal siapa yang lebih diunggulkan.
Askin Nakk Le Vaar memang memiliki kemampuan adaptasi melalui Death Dealing, tetapi mekanismenya bergantung pada analisis, konsumsi substansi, serta pengaturan ulang kadar mematikan dalam tubuh target. Proses itu membuat adaptasinya terasa lebih teknis dan membutuhkan waktu.
Sebaliknya, adaptasi Mahoraga aktif hampir seketika setelah menerima serangan. Jangkauannya pun jauh lebih luas, tidak hanya terbatas pada komposisi zat atau parameter fisik, melainkan bisa merambah konsep dan sistem kemampuan lawan secara keseluruhan.
Bahkan jika Askin berhasil meningkatkan resistensinya untuk bertahan hidup, langkah tersebut sangat mungkin sudah termasuk dalam cakupan adaptasi Mahoraga. Jika monster telah “membaca” pola Death Dealing termasuk mekanisme resistensi Askin, ia bisa mengembangkan metode serangan baru yang melampaui resistensi tersebut. Mengingat adaptasi terhadap Death Dealing berarti juga memahami bagaimana imunitas Askin terbentuk, maka celah untuk menembusnya tetap terbuka.
Pada akhirnya, meski Askin merasa telah menemukan formula aman, posisinya tetap berisiko besar menghadapi entitas dengan tingkat adaptasi seluas dan secepat Mahoraga.
Itulah pembahasan siapa yang akan menang jika Askin dan Mahoraga yang sama-sama ahli adaptasi bertarung.
Bagaimana pendapat kalian?
Untuk informasi yang lebih lengkap soal anime-manga, film, game, dan gadget, yuk gabung komunitas Warga Duniaku lewat link berikut:
Discord: https://bit.ly/WargaDuniaku


















