- Filler sering muncul di momen krusial (misalnya di tengah perang besar)
- Karena memotong momen krusial itu, fillernya engganggu pacing dan tensi emosional
- Sebagai tambahan, filler juga membuat penonton baru bingung mana canon dan mana bukan
5 Alasan Naruto Sebenarnya Lebih Butuh Remake dari One Piece!

- Banyak fans dan kreator besar, termasuk MrBeast, menilai Naruto lebih layak mendapat remake dibanding One Piece karena masalah filler dan pacing yang mengganggu pengalaman menonton.
- Remake dianggap bisa memperbaiki penyajian karakter seperti Sakura serta menghadirkan visual modern setara anime masa kini, menjanjikan peningkatan kualitas cerita dan animasi.
- Dengan cerita yang sudah tamat dan basis penggemar global aktif, Naruto dinilai punya struktur jelas serta potensi pasar kuat untuk proyek remake berskala besar.
Kabar soal The One Piece, adaptasi ulang anime One Piece oleh Wit Studio, langsung memicu satu pertanyaan besar di kalangan fans: "Bukannya Naruto juga layak dapat remake?"
Menariknya, bukan cuma fans biasa yang menyuarakan ini. Kreator konten besar seperti MrBeast bahkan ikut berkomentar, meminta remake Naruto... bahkan sampai menyampaikan siap ikut mendanai.
Kalau dipikir-pikir, ada beberapa alasan kuat kenapa Naruto justru terasa lebih layak mendapatkan remake dibanding One Piece saat ini.
Ini beberapa di antaranya!
1. Sejak Lama Fans Merasa Naruto Butuh "Naruto Kai"

Salah satu isu terbesar Naruto adalah filler.
Baik di Naruto maupun Naruto Shippuden, jumlah episode filler seri ini tergolong sangat tinggi. Masalahnya kumpulan filler ini bukan sekadar “tambahan cerita”, tapi punya segudang masalah:
Solusi paling ideal sebenarnya sudah pernah ada: Dragon Ball Z Kai.
Jadi Dragon Ball itu dulu masalahnya sama dengan Naruto. Sangat panjang, pacing kadang ngawur, dan penuh filler. Versi Kai memangkas filler dan mengikuti pacing manga lebih ketat, hasilnya jauh lebih padat dan fokus.
Naruto sangat cocok mendapat perlakuan serupa, “Naruto Kai” yang langsung menyajikan inti cerita tanpa gangguan.
2. Beberapa Karakter Terdampak Penyajian Anime

Ada sejumlah karakter Naruto yang karakterisasinya terdampak versi anime lama.
Salah satu contoh paling sering dibahas adalah Sakura Haruno. Di manga karya Masashi Kishimoto, Sakura sebenarnya punya perkembangan karakter yang cukup jelas, dari lemah menjadi ninja medis kuat dengan kontribusi signifikan.
Namun di anime beberapa adegan diperpanjang atau dimodifikasi, ada penekanan berlebihan pada sifat tertentu (misalnya emosional atau “kasar”), dan momen pentingnya kadang terasa kurang nendang.
Akibatnya muncul fenomena unik: pembaca manga sering bingung kenapa Sakura dibenci, sementara penonton anime merasa sebaliknya, bingung kenapa pembaca manga bisa lebih memaafkan Sakura.
Remake bisa menyelaraskan karakter seperti Sakura dengan versi manga, memberikan penyajian yang lebih konsisten, dan itu mungkin sudah cukup untuk sedikit memperbaiki masalahnya.
3. Potensi Upgrade Visual yang Sangat Besar

Naruto tayang dari era 2000-an awal. Banyak bagian terutama era Naruto kecil, awal Naruto Shippuden, dan beberapa arc lain terasa sudah ketinggalan zaman secara visual.
Seri Naruto juga terkenal kadang gak konsisten soal visual. Ada episode yang bagus, ada juga yang terasa anehnya (biasanya filler).
Nah di 2020an ini standar animasi sudah beda.
Bahkan, kalau kita bicara Pierrot, mereka sudah menunjukkan bisa saja menyajikan visual modern epik setiap pekan. Cek Bleach: Thousand-Year Blood War. Animasinya jauh lebih sinematik, lighting dan komposisi visual modern, dan koreografi pertarungan lebih tajam.
Ini bukti bahwa studio yang sama pun (Pierrot) sekarang sudah punya standar produksi yang jauh lebih tinggi.
Nah sekarang bayangkan:
- Semua duel Naruto vs Sasuke disajikan dengan kualitas modern
- Serangan Pain ke Konoha diolah dengan kualitas seperti TYBW
- Perang Dunia Ninja tanpa episode yang kualitas animasinya gak konsisten
Ini akan bikin remake Naruto bukan cuma nostalgia, tapi upgrade pengalaman total.
4. Naruto Sudah Tamat, Struktur Remake Lebih Jelas

Berbeda dengan One Piece yang masih berjalan, Naruto itu manganya sudah selesai, anime utama pun sudah selesai. Jadi struktur cerita sudah final
Ini penting karena remake bisa direncanakan dari awal sampai akhir, disusun dengan pacing konsisten, dengan opsi disajikan seasonal untuk mempertahankan kualitas.
Dan itu resep juara, karena itu semua adalah langkah Pierrot untuk Bleach: Thousand-Year Blood War yang memang sudah tamat juga.
Bandingkan dengan One Piece. Manganya masih jalan, remake-nya belum jelas akan berakhir sampai mana, apalagi dengan versi Toei Animation masih jalan pararel.
Naruto punya keunggulan besar dibanding The One Piece kalau di-remake, yaitu tidak ada ketidakpastian arah.
5. Demand Fans yang Nyata dan Konsisten

Naruto tetap salah satu franchise anime paling populer di dunia.
Meski era utamanya sudah lewat, brand ini masih hidup lewat Boruto: Naruto Next Generations, game, merchandise, hingga komunitas global yang sangat aktif.
Dan merchandise Naruto itu masih saja laku sampai 2026 ini karena manga dan animenya memang sekuat itu dalam meninggalkan kesan.
Komentar dari figur besar seperti MrBeast hanya mempertegas satu hal: audiens potensial untuk remake Naruto itu bukan hanya ada, tapi juga sangat besar.












![[QUIZ] Tebak Karakter Anime dari Rambutnya, Bisa Jawab Berapa?](https://image.idntimes.com/post/20260220/upload_253199ffa2b766273e2d5b5fe56e5ec5_825ba4a9-4705-4cb5-84d8-c800a700af30.png)
![[QUIZ] Dari Arc One Piece Pilihanmu, Kamu Cocok Bertualang di Mana?](https://image.idntimes.com/post/20250629/upload_5da2af355e7328730ef227ddfa53fce5_b5972c8f-e3dc-4869-890f-d5593d5185a3.png)




