Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
For
You

Review Game Life is Strange Reunion, Perpisahan Layak Max & Chloe

Review Game Life is Strange Reunion, Perpisahan Layak Max & Chloe
Dok. Square Enix (Life is Strange: Reunion)

Setelah penantian panjang dan berbagai spekulasi pasca-kejadian di Double Exposure, Deck Nine akhirnya memberikan apa yang diinginkan oleh para penggemar setia: kembalinya duo ikonik Max Caulfield dan Chloe Price. Life is Strange: Reunion bukan sekadar upaya menjual nostalgia, melainkan sebuah surat cinta bagi mereka yang telah mengikuti perjalanan emosional ini sejak tahun 2015.

Bertempat di Caledon University, atmosfer permainan ini terasa sangat familiar namun lebih dewasa. Max, yang kini menjadi guru fotografi, harus menghadapi ancaman kebakaran besar yang akan menghanguskan kampus dalam waktu tiga hari. Namun, beban itu tidak lagi ia pikul sendirian karena Chloe Price hadir kembali dengan segala kompleksitas dan trauma masa lalunya yang belum sepenuhnya pulih.

Pertemuan mereka terasa sangat organik dan emosional. Tidak ada kesan dipaksakan hanya demi fan-service; setiap dialog dan tatapan antara keduanya membawa beban sejarah dari pilihan-pilihan sulit yang pernah kita buat di Arcadia Bay bertahun-tahun yang lalu. Ini adalah pembuka yang solid untuk sebuah konklusi besar.

1. Ketika Masa Lalu Menghantui

ss_e2703ae262dac46f703a5d2bcafe0aa0d0a90736.1920x1080.jpg
Dok. Square Enix (Life is Strange: Reunion)

Inti dari narasi Reunion adalah bagaimana Max dan Chloe berdamai dengan garis waktu yang pernah mereka lalui. Chloe diceritakan mengalami penglihatan fragmentaris tentang kejadian yang tidak pernah ia alami secara langsung, potongan memori tentang mercusuar dan badai yang menghantui kewarasannya. Hal ini memberikan kedalaman baru pada karakter Chloe yang biasanya terlihat tangguh di luar, namun rapuh di dalam.

Sementara itu, misteri utama yang melibatkan sekte Abraxas dan rahasia gelap keluarga Fayyad memberikan urgensi pada aspek gameplay investigasi. Kita diajak untuk menelusuri sudut-sudut kampus, mencari bukti melalui foto Polaroid, dan berbicara dengan berbagai karakter pendukung yang sayangnya terasa sedikit kurang tergali dibandingkan dengan dua tokoh utamanya. Fokus cerita tetap berada pada dinamika Max dan Chloe.

Keputusan pengembang untuk membiarkan pemain mengonfigurasi sejarah masa lalu di awal permainan adalah langkah cerdas. Pilihan apakah kamu menyelamatkan Chloe atau Arcadia Bay di game pertama benar-benar memengaruhi bagaimana dialog dan hubungan mereka berkembang di sini. Hal ini membuat pengalaman setiap pemain terasa sangat personal dan autentik.

Ceritanya berhasil menyeimbangkan elemen fiksi ilmiah tentang manipulasi waktu dengan drama manusia yang sangat membumi. Meskipun ada beberapa bagian yang terasa lambat di tengah cerita, klimaks yang disajikan mampu membayar semua kesabaran pemain dengan momen-momen yang menguras air mata.

2. Dua Perspektif, Satu Takdir

ss_12f1db18817cfeea196f62f9b1ffef81a58321cb.1920x1080.jpg
Dok. Square Enix (Life is Strange: Reunion)

Salah satu lompatan terbesar dalam seri ini adalah mekanik Dual-Perspective. Pemain kini tidak hanya mengendalikan Max dengan kekuatan rewind-nya, tetapi juga bisa beralih ke perspektif Chloe di momen-momen krusial. Perbedaan cara pandang keduanya memberikan variasi dalam memecahkan teka-teki lingkungan yang kini terasa lebih berdimensi.

Mekanik ini juga menghilangkan rasa bosan yang terkadang muncul dalam genre petualangan naratif. Melihat satu situasi dari dua sudut pandang yang berbeda, kekuatan supernatural Max dan intuisi tajam Chloe membuat setiap keputusan terasa lebih berat karena kita memahami motivasi dari kedua belah pihak secara langsung.

3. Estetika Ikonik di Tengah Kendala

ss_4732d3abda78c16552194fe07633a4d7585b64e8.1920x1080.jpg
Dok. Square Enix (Life is Strange: Reunion)

Secara visual, Life is Strange: Reunion tetap mempertahankan gaya seni "painterly" yang menjadi ciri khasnya, namun dengan peningkatan signifikan pada pencahayaan dan animasi wajah berkat Unreal Engine 5. Ekspresi mikro pada karakter saat momen emosional terlihat lebih halus, membuat penyampaian cerita terasa lebih efektif tanpa harus banyak berkata-kata.

Sayangnya, aspek teknis masih menyisakan beberapa catatan merah. Beberapa bug visual yang cukup mengganggu kerap muncul sepanjang game, seperti rambut karakter yang tiba-tiba berubah warna menjadi putih atau glitch pada bayangan di beberapa area terbuka. Meski tidak merusak jalannya permainan secara keseluruhan, hal ini sedikit mengurangi imersi yang sedang dibangun.

Namun, kekurangan tersebut tertutup manis oleh pilihan soundtrack yang luar biasa. Musik indie yang melankolis tetap menjadi jiwa dari gim ini, mengiringi setiap momen kontemplatif Max di bangku taman atau saat ia sedang menyendiri di kamarnya. Atmosfer yang dibangun lewat audio benar-benar tidak pernah gagal membuat pemain merasa "pulang".

4. Penutup Sempurna bagi Penggemar Setia

ss_199b89bfa0ad61293e0a059c4a1e8259c5d23438.1920x1080.jpg
Dok. Square Enix (Life is Strange: Reunion)

Pada akhirnya, Life is Strange: Reunion adalah sebuah penutup yang layak dan bermartabat bagi kisah Max Caulfield. Deck Nine berhasil memperbaiki beberapa keraguan yang muncul di judul sebelumnya dengan memberikan resolusi yang lebih matang dan emosional. Ini bukan sekadar gim tentang kekuatan waktu, tapi tentang belajar kapan kita harus melepaskan kendali dan menerima konsekuensi.

Meski memiliki beberapa masalah teknis dan tempo yang terkadang naik-turun, pengalaman emosional yang ditawarkan tetap sulit untuk ditandingi. Melihat Max dan Chloe mendapatkan kesempatan untuk benar-benar berbicara dan menghadapi masa depan bersama adalah kepuasan batin tersendiri bagi para penggemar yang sudah menunggu selama satu dekade.

Jika kamu adalah pengikut setia seri ini sejak awal, Reunion adalah sebuah kewajiban. Ini adalah salam perpisahan yang manis, pahit, sekaligus penuh harapan yang akan terus membekas di ingatan bahkan setelah kredit berakhir. Selamat tinggal, Max dan Chloe; terima kasih untuk perjalanan yang luar biasa ini.

Life is Strange: Reunion
3/5

Sebelas tahun setelah peristiwa yang membelah hati di Arcadia Bay, Life is Strange: Reunion hadir sebagai konklusi emosional bagi perjalanan panjang Max Caulfield dan Chloe Price. Berlatar sembilan bulan pasca kejadian di Double Exposure , Max yang kini menetap sebagai dosen fotografi di Caledon University harus kembali menggunakan kekuatan Rewind untuk mencegah kebakaran besar yang mengancam kampusnya. Namun, upaya penyelamatan tersebut memicu anomali garis waktu yang secara ajaib mempertemukan kembali Max dengan sosok paling berarti dalam hidupnya, Chloe Price, yang kini hadir dengan segala kompleksitas trauma dan fragmentasi memori dari masa lalu yang tidak pernah ia lalui secara langsung. Untuk pertama kalinya dalam sejarah franchise ini, pemain diberikan kendali penuh atas dua protagonis sekaligus melalui sistem Dual-POV yang inovatif. Pengalaman bermain menjadi jauh lebih dinamis dengan memadukan kemampuan manipulasi waktu milik Max dan ketajaman lisan Chloe melalui mekanik Backtalk untuk mengungkap konspirasi gelap keluarga Fayyad serta ancaman sekte Abraxas yang mengintai di balik bayang-bayang Caledon. Setiap pilihan yang diambil bukan sekadar mekanika gim, melainkan penentu arah bagi hubungan mereka yang sudah kita ikuti selama lebih dari satu dekade. Dibungkus dengan estetika visual painterly yang telah ditingkatkan menggunakan Unreal Engine 5, gim ini tetap mempertahankan jiwa melankolisnya melalui kurasi soundtrack indie yang luar biasa dari musisi seperti Holly Humberstone hingga Daughter. Life is Strange: Reunion bukan sekadar upaya menjual nostalgia, melainkan sebuah surat cinta dan katarsis yang memberikan resolusi bermartabat bagi kisah Max dan Chloe. Ini adalah salam perpisahan yang manis, pahit, dan penuh harapan yang membuktikan bahwa meski waktu bisa diputar kembali, kenangan sejati akan selalu membekas selamanya.

Genre

Narrative Adventure / Choice-Based

Developers

Deck Nine

Publisher

Square Enix

Platform

PlayStation 5, Xbox Series X/S, PC (Steam)

Price

Rp. 579.000

Minimum Requirement Life is Strange: Reunion

Operating System

Windows 10

Processor

AMD Ryzen 5 1400 / Intel Core i5-4670K

Memory

12 GB RAM

GPU

AMD Radeon RX 480, 8 GB / NVIDIA GeForce GTX 1660, 6 GB / Intel Arc A750, 8GB

DirectX

Version 12

Storage

30 GB available space

Galeri Life is Strange: Reunion

Share
Topics
Editorial Team
Fahrul Razi Uni Nurullah
EditorFahrul Razi Uni Nurullah
Follow Us

Latest in Game

See More

Racing Master Kolaborasi dengan Initial D, Ada Trueno Takumi!

30 Mar 2026, 16:00 WIBGame