Review Windrose, Survival Adventure RPG yang Alot di Awal!

- Windrose menghadirkan kisah bajak laut dalam format open world survival crafting RPG dengan narasi sederhana dan fokus utama pada mekanisme base building.
- Aspek survival dan base building saling mendukung, namun quest panjang serta bug progresi kadang mengganggu pengalaman bermain meski sistem pertarungan terasa taktis.
- Visual dan audio tergarap baik, tetapi tempo permainan lambat di awal membuat pemain perlu kesabaran sebelum menikmati potensi penuh game ini.
Kami berkesempatan untuk mencoba bermain Windrose! Seperti apa impresi kami terhadap game ini? Temukan di sini!
Di tahun 17xx, kamu adalah seorang kapten bajak laut yang kehilangan kapal dan krunya akibat menantang sebuah musuh yang terlalu hebat buatmu. Berbekal bangkai kapalmu dan sejumlah tongkat dan batu, kamu memulai kembali perjalanan untuk menjadi bajak laut terbesar di lautan.
| Genre | Action Adventure, RPG |
| Developers | Kraken Express |
| Publisher | Kraken Express |
| Platform | PC (Steam) |
| Price | Rp. 245.999 |
Spesifikasi Windrose
Operating System | Windows 10 (64-bit) |
|---|---|
Processor | Intel Core i7-8700K / AMD Ryzen 7 2700X |
Memory | 16 GB RAM |
GPU | NVIDIA GTX 1080 Ti / AMD Radeon RX 6800 |
DirectX | Version 12 |
Storage | 30 GB |
Galeri Windrose
1. Cerita yang pernah ada!

Kisah open world survival crafting RPG ini dibuka dengan premis paling umum untuk memulai dari nol, namun dari kaca mata seorang bajak laut. Presentasi ceritanya yang dibuka a la picture book dan kemudian diceritakan secara progresif secara in-game juga lebih berfungsi menjadi kendaraan untuk memaksimalkan mekanisme game-nya, sehingga terasa tipikal sekali.
Secara naratif pun, berbagai macam lore game ini ditaruh ke belakang sekali melalui detail item maupun area peta, dengan fokus pada base building menjadi daya tarik utamanya. Di sisi lain, game yang satu ini juga memiliki tokoh utama yang nondeskrip dengan kustomisasi player berlimpah sebagai gimmick-nya. Namun efeknya pada plot sayangnya terasa minimal.
2. Base building yang oke!

Game ini memiliki aspek survival yang saling sinergi dengan base building-nya, dengan quest super panjang sebagai perkenalan penuh untuk mempelajari mekanismenya satu-satu sampai kita dilepas untuk menciptakan takdir kita sendiri. Dari faktor combat dan farming, game ini terasa alami untuk dikuasai. Namun, begitu berhubungan dengan quest, prompt yang terasa mentah sesekali terasa mengganggu spawn dan melakukan override sendiri progresi farm kita, yang umumnya ditemukan dalam MMORPG.
Dari segi pertarungan dan navigasi kapalnya, memonitor indikator stamina sampai kesehatan dan kondisi kapal kita sambil bergerak masuk dalam pertempuran antar kapal membuat game-nya terasa taktis, sampai ketika kita boarding kapal lawan dan membalap waktu untuk menang. Sisi lainnya dalam sistem combat ini, resource pribadi yang terbatas juga membuat pertarungan jadi bertempo lambat meskipun kita diberikan set kontrol yang condong ke action.
3. Kualitas visual dan audio yang mantap?

Arahan visual dan sinematik yang oke juga dimiliki oleh game ini, namun presentasinya yang tipikal juga menghambat game ini untuk membuatnya menjadi lebih menggugah. Kalau dinilai dari penjelajahnya sendiri, loot yang di-generate secara siklus harian ini juga tetap menuntut kesabaran kita untuk menanti resource yang kita cari di early game, namun bakal kerasa serba otomatis ketika kita telah mengumpulkan anggota kru dan membangun generator yang cukup untuk bertempur di midgame.
Kurang lebih, butuh waktu untuk sampai ke daging utama yang mantap di dalam game ini, namun presentasinya yang seadanya membuat perjalanan tersebut semakin sulit untuk mencapainya sehingga minimal kamu harus ekstra sabar dalam memainkan action adventure game ini.
Apa pendapatmu sendiri terhadap Windrose? Sampaikan di kolom komentar!


















