Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
Install
For
You

Review Echoes of Aincrad, Konsep Bagus, Eksekusi Kurang

Review Echoes of Aincrad, Konsep Bagus, Eksekusi Kurang
(Dok. Bandai Namco Entertainment Asia/Echoes of Aincrad)
Intinya Sih
  • Echoes of Aincrad menawarkan konsep menarik untuk mengulang kisah Sword Art Online dari sudut pandang baru, namun eksekusinya gagal menghadirkan pengalaman yang segar dan mendalam.
  • Gameplay terasa repetitif dengan misi dan variasi musuh yang monoton, membuat pertarungan kehilangan tantangan serta menjadikan eksplorasi dunia game terasa melelahkan.
  • Cerita berjalan lambat dengan pembangunan karakter yang lemah, sehingga potensi emosional dan ketegangan khas Aincrad tidak mampu tersampaikan secara maksimal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Ketika pertama mendengar Echoes of Aincrad, jujur saya langsung tertarik.

Kesempatan untuk kembali merasakan kisah Sword Art Online Season 1 dari sudut pandang selain Kirito terdengar menjanjikan. Mengingat salah satu kekuatan terbesar franchise Sword Art Online selama ini adalah karakter-karakternya yang mudah diingat serta cerita yang mampu membuat penonton terus mengikuti perkembangan plotnya, saya berharap Echoes of Aincrad bisa menghadirkan pengalaman serupa.

Minimal, saya berharap ada cerita yang menegangkan, karakter baru yang menarik, atau sudut pandang berbeda yang membuat tragedi Aincrad terasa lebih personal.

Setelah menghabiskan berjam-jam bermain, yang lebih membekas justru berbagai masalah yang terus muncul sepanjang permainan.

Table of Content

1. Gameplay loop yang cepat terasa repetitif

1. Gameplay loop yang cepat terasa repetitif

Dua karakter game bertarung melawan monster besar berbentuk babi hutan biru di area hutan dengan senjata bercahaya.
(Dok. Bandai Namco Entertainment Asia/Echoes of Aincrad)

Masalah terbesar Echoes of Aincrad adalah gameplay loop-nya yang terasa terlalu sederhana.

Sebagian besar misi mengikuti pola yang sama: menerima misi, berjalan melewati beberapa checkpoint, mencapai area tujuan, mengalahkan boss, lalu melanjutkan ke misi berikutnya.

Kadang ada variasi kecil seperti boss yang kabur dan memaksamu mengejar. Namun alih-alih memberi dinamika baru, momen seperti ini justru sering terasa memperpanjang misi tanpa memberi pengalaman yang benar-benar berbeda.

Yang membuat masalah ini semakin terasa adalah ketika kamu mencoba menikmati seluruh konten yang tersedia.

Side quest yang seharusnya menjadi selingan justru mengikuti pola yang hampir sama dengan misi utama. Kamu akan kembali menjelajahi area, mencari target, lalu menghadapi boss yang sering kali merupakan variasi dari musuh yang sudah berkali-kali kamu lawan sebelumnya.

Variasi musuh juga menjadi masalah tersendiri.

Ada titik di mana menemukan babi hutan lagi sebagai musuh biasa sudah terasa membosankan. Ketika babi hutan yang sama kembali muncul sebagai boss area dengan sedikit modifikasi, rasa repetitif itu semakin sulit diabaikan.

Saat berpindah ke area baru namun tetap berhadapan dengan jenis musuh yang familier, dunia game pun mulai kehilangan identitasnya. Area-area yang berbeda terasa melebur satu sama lain karena pengalaman yang ditawarkan tidak jauh berbeda.

2. Ketika pertempuran berubah menjadi beban

Tangkapan layar permainan menampilkan karakter pemain bertarung melawan monster besar di padang rumput hijau dengan latar pepohonan dan pegunungan.
(Dok. Game Studio Inc., Bandai Namco Entertainment Asia/Echoes of Aincrad)

Di atas kertas, sistem pertarungan Echoes of Aincrad sebenarnya cukup layak.

Game ini menawarkan beberapa jenis senjata yang bisa dipilih pemain. Untuk keperluan review ini saya lebih banyak menggunakan kapak dan palu.

Setiap senjata memiliki skill yang akan terbuka seiring meningkatnya level penguasaan. Selain serangan normal dan serangan berat, tersedia pula skill bersama partner yang membantu memberi variasi dalam pertarungan.

Sistem stamina, dodge roll, blok, parry, hingga penggunaan item melalui D-Pad membuat game ini terasa mengambil inspirasi dari berbagai action RPG modern dan Soulslike, meski tidak pernah benar-benar menjadi Soulslike.

Di tahun 2026, sistem seperti ini terasa cukup standar. Namun standar bukan berarti buruk. Combat Echoes of Aincrad masih cukup menyenangkan untuk menopang permainan selama beberapa jam pertama.

Masalahnya muncul ketika gameplay loop yang repetitif mulai bertemu dengan variasi musuh yang terbatas.

Semakin lama dimainkan, semakin terasa bahwa sistem combat yang sebenarnya cukup solid harus terus mengandalkan musuh-musuh yang sama. Pada titik tertentu, pertarungan tidak lagi terasa sebagai tantangan atau hiburan, melainkan rintangan yang harus dilewati untuk mencapai objective berikutnya.

Situasi ini diperparah oleh desain world map.

Musuh memiliki jarak deteksi yang cukup tinggi. Ketika mereka melihatmu, mereka akan langsung bergerak mendekat.

Kabur memang memungkinkan. Namun ketika sedang dikejar musuh, sprint akan menguras stamina. Ironisnya, saat berhasil kabur dari satu kelompok musuh, sering kali kamu justru akan bertemu kelompok musuh lain tidak jauh di depan.

Yang terasa aneh, dunia game hampir tidak memiliki ruang bernapas.

Di banyak RPG, jalan utama biasanya relatif lebih aman dibanding area-area sampingan. Musuh mungkin lebih sedikit atau lebih lemah sehingga perjalanan menuju objective tidak selalu berubah menjadi rangkaian pertarungan tanpa henti.

Di Echoes of Aincrad, perbedaan itu nyaris tidak terasa. Tetap berada di jalan utama maupun menjelajah area lain sama-sama akan membuatmu terus bertemu musuh.

Dan jenis musuhnya sering kali tetap itu-itu saja.

Ini menjadi salah satu kasus langka di mana saya sempat tergoda menurunkan tingkat kesulitan ke Story Mode bukan karena game-nya terlalu sulit, melainkan karena saya mulai lelah menghadapi musuh yang sama berulang kali hanya untuk mencapai tujuan berikutnya.

3. Masalah-masalah tadi mungkin bisa diabaikan jika penceritaannya lebih menarik

Dua karakter anime berdiri berdampingan di bawah cahaya lembut dengan latar pepohonan berwarna ungu muda yang tampak seperti bunga sakura.
(Dok. Game Studio Inc., Bandai Namco Entertainment Asia/Echoes of Aincrad)

Ini bukan game Sword Art Online pertama yang saya review.

Biasanya ketika memainkan game SAO, saya sudah memahami bahwa gameplay-nya mungkin tidak akan menjadi kandidat Game of the Year. Namun kekurangan tersebut sering kali tertutupi oleh karakter-karakter yang menarik dan cerita yang membuat saya tetap ingin melanjutkan permainan.

Dalam review saya untuk Sword Art Online: Last Recollection, saya pernah menulis:

"Yang paling berkesan dari saya soal Sword Art Online: Last Recollection ini adalah ceritanya.

Saya menikmati cerita yang tersaji, terutama dengan yang terkait dengan Dorothy serta interaksinya dengan Kirito.

Interaksi Kirito dengan karakter lain juga cukup menarik.

Meski begitu, gameplay game ini memang terasa standar."

Echoes of Aincrad justru gagal memanfaatkan kekuatan yang biasanya dimiliki franchise ini.

Di atas kertas, konsep "mengalami peristiwa Sword Art Online Season 1 dari sudut pandang selain Kirito dan Asuna" terdengar sangat menarik.

Bayangkan jika karakter-karakter baru yang menemanimu dibangun dengan kualitas yang setara dengan karakter utama SAO. Atau minimal, jika cerita mampu secara konsisten menghadirkan ketegangan khas death game yang menjadi identitas Aincrad.

Sayangnya, yang saya temukan justru cerita yang disajikan dalam potongan-potongan kecil dan dipisahkan oleh perjalanan panjang yang sering kali terasa kosong.

Setiap kali muncul perkembangan menarik (seperti momen ketika karakter utama dan teman-temannya menyadari bahwa mereka tidak bisa lagi log out) permainan justru meminta pemain kembali menjalani berjam-jam eksplorasi dan pertarungan sebelum memberikan perkembangan cerita berikutnya.

Akibatnya, banyak momen yang seharusnya terasa penting kehilangan dampaknya.

Ada cukup banyak situasi di mana saya menyelesaikan dungeon atau area baru dengan harapan akan terjadi sesuatu yang menarik, hanya untuk mendapatkan sedikit dialog singkat sebelum misi berakhir dan siklus permainan kembali terulang.

Kalau saja metode penyampaian cerita maupun pembangunan karakternya lebih kuat, saya yakin gameplay loop yang repetitif masih bisa lebih mudah diterima.

4. Kesimpulan

Karakter perempuan dengan rambut putih memegang palu besar di dalam gua gelap dalam adegan permainan video aksi RPG.
(Dok. Game Studio Inc., Bandai Namco Entertainment Asia/Echoes of Aincrad)

Saya memiliki ekspektasi yang cukup tinggi terhadap Echoes of Aincrad.

Bukan karena saya berharap game ini menjadi kandidat Game of the Year, melainkan karena saya berharap game ini mampu menghadirkan kekuatan yang selama ini membuat franchise Sword Art Online tetap menarik: karakter yang memikat dan cerita yang membuat pemain terus ingin mengetahui apa yang terjadi berikutnya.

Sayangnya, Echoes of Aincrad justru tersandung pada aspek tersebut.

Penyajian cerita yang berjalan terlalu lambat, perkembangan karakter yang kurang menggugah, serta progres plot yang terasa tersebar terlalu jauh membuat game ini gagal memanfaatkan premisnya yang sebenarnya sangat menjanjikan.

Sementara itu, gameplay yang pada awalnya cukup menyenangkan perlahan kehilangan daya tarik akibat struktur misi yang repetitif dan variasi musuh yang terbatas.

Hasil akhirnya adalah sebuah game dengan sistem pertarungan yang sebenarnya cukup layak, tetapi harus menopang pengalaman bermain yang berulang-ulang dalam waktu yang terlalu lama sebelum cerita akhirnya bergerak maju.

Dan ketika cerita yang seharusnya menjadi kekuatan utama franchise ini juga tidak mampu memberikan cukup alasan untuk terus bermain, kekurangan-kekurangan tersebut menjadi jauh lebih sulit untuk diabaikan.

Echoes of Aincrad
3/5

Dikembangkan oleh Game Studio Inc. dan diterbitkan oleh Bandai Namco Entertainment America, Echoes of Aincrad adalah game JRPG aksi yang berlatar di dunia Sword Art Online. Game ini berpusat pada perjuangan bertahan hidup yang intens di dua lantai pertama kastil terapung, memungkinkan pemain untuk membuat avatar kustom, menguasai enam jenis senjata, dan berkoordinasi dengan mitra AI.

Genre

Action RPG

Developers

Game Studio Inc.

Publisher

Bandai Namco Entertainment Inc.

Platform

PlayStation 5, Xbox Series X|S, PC

Price

Rp. NaN

System Requirements Echoes of Aincrad

Operating System

Windows 11

Processor

Intel Core i7-9700K / AMD Ryzen 3 3300X

Memory

8 GB RAM

GPU

Nvidia GeForce RTX 2060 [6GB] / AMD Radeon RX 5700 [8GB] / Intel Arc B580 [12GB]

DirectX

Version 12

Storage

30 GB available space

Galeri Echoes of Aincrad

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Fahrul Razi Uni Nurullah
EditorFahrul Razi Uni Nurullah

Related Articles

See More