Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
For
You

Kenapa V Cyberpunk 2077 Sering Bekerja Sendiri di Game-nya?

cyberpunk-2077-phantom-liberty-key-art-no-titles_nopixel.png
Cyberpunk 2077 (dok. CD Projekt Red)
Intinya sih...
  • Kemungkinan alasan metaDidesain sebagai solo merc untuk efisiensi developer, memungkinkan pengalaman power fantasy tanpa kompleksitas tim.
  • Alasan di gameAwalnya bekerja dalam tim, namun setelah bencana Konpeki Heist, V sering dikasih misi solo tanpa tim.
  • Yang tetap mau membantu V di gameCharacter yang tetap mau bekerja dengan V memiliki alasan personal dan risiko pekerjaan yang ekstrem.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di Cyberpunk 2077, V adalah karaktermu. Awalnya, ia hanya prajurit bayaran kelas kecil yang masih mau mengambil pekerjaan dari fixer bermasalah seperti Dexter DeShawn, meski reputasi Dex sudah lama hancur. Bersama Jackie Welles, V mencoba satu langkah nekat… yang justru berujung pada rangkaian kejadian besar, sampai akhirnya ia berpotensi menjadi legenda Night City.

Namun ada satu hal menarik dari perjalanan V yang sering luput dibahas.

V hampir selalu bekerja sendirian.

Padahal, kalau kita melihat Cyberpunk: Edgerunners, bahkan sosok sekeras Maine tetap mengandalkan tim. Secara logika dunia Cyberpunk, misi prajurit bayaran umumnya membutuhkan beragam skill: netrunner, solo, techie, driver, dan support. Tim bukan pilihan, itu standar kerja.

Lalu kenapa V berbeda?

Kenapa di sepanjang game, V lebih sering menyusup sendirian, menghadapi geng dan pasukan korporasi seorang diri, dan hanya sesekali benar-benar ditemani sekutu?

Apakah ini sekadar keputusan desain gameplay? Atau justru ada alasan naratif dan struktural yang membuat V hampir selalu berjalan sendirian?

Mari kita ulas.

1. Kemungkinan alasan meta

poster Cyberpunk 2077 (dok. CD Projekt/Cyberpunk 2077)
poster Cyberpunk 2077 (dok. CD Projekt/Cyberpunk 2077)

Dari sudut pandang meta, ada kemungkinan kuat bahwa menjadikan V sebagai solo merc adalah pilihan desain yang paling efisien bagi developer.

Menyajikan misi dengan satu karakter utama jauh lebih sederhana dibanding merancang sistem tim yang konsisten, terutama untuk Side Jobs dan Gigs yang jumlahnya sangat banyak dan tersebar di seluruh Night City. AI rekan, koordinasi peran, dan konsekuensi naratif tiap anggota tim akan menambah kompleksitas besar pada desain dan pengujian.

Dan kamu tahu sendiri di awal rilis, Cyberpunk 2077 sudah punya cukup banyak masalah.

Dengan V bekerja sendirian, game juga lebih mudah membangun power fantasy. Pemain benar-benar merasakan menjadi mercenary badass satu orang yang mampu menghadapi geng, pasukan korporasi, dan monster Night City, lalu tetap keluar hidup-hidup. Fokus pengalaman ada sepenuhnya pada pemain, tanpa harus berbagi sorotan dengan karakter lain di setiap misi.

Tapi tentu ini sebatas teori saya.

2. Alasan di game

Rogue Amendiares. (Dok. CD Projekt Red/Cyberpunk 2077)
Rogue Amendiares. (Dok. CD Projekt Red/Cyberpunk 2077)

Sebenarnya V tidak selalu bekerja sendirian. Terutama di awal game.

Sebelum Konpeki Plaza Heist, misi utama V justru dikerjakan dalam tim kecil, bersama Jackie Welles dan kadang didukung T-Bug sebagai netrunner. Struktur ini sejalan dengan standar dunia Cyberpunk, di mana pekerjaan mercenary hampir selalu membutuhkan pembagian peran.

Perubahannya baru terasa setelah Konpeki Heist berakhir sebagai bencana total. Seluruh tim tewas, klien ikut terseret, dan bahkan fixer (Dexter DeShawn) mati. Satu fakta menonjol: V adalah satu-satunya yang selamat.

Di Night City, reputasi adalah segalanya. Alih-alih dianggap “tangguh”, V justru dicap sebagai pembawa sial. Rogue Amendiares mengakui, kalau kamu mencoba menanyakan job ke dia di Afterlife, bahwa banyak tim mercenary enggan bekerja dengan V karena situasi Konpeki Heist dimana semua orang yang terlibat misi mati kecuali V.

Untung bagi V, masih ada fixer tetap mau mempekerjakan dia, walau V tetap seringnya dikasih misi solo tanpa tim.

Bahkan ketika Rogue akhirnya memberi V beberapa gig setelah reputasinya naik, semuanya tetap dirancang sebagai solo job.

3. Yang menarik juga adalah yang tetap mau membantu V di game

Solomon Reed Idris Elba. (Dok. CD Projekt Red/Cyberpunk 2077: The Phantom Liberty)
Solomon Reed Idris Elba. (Dok. CD Projekt Red/Cyberpunk 2077: The Phantom Liberty)

Yang bagi saya unik adalah CD Projekt Red, entah sengaja atau tidak, membuat mereka yang beneran bakal dapat misi tim dengan V terasa bukan tipe yang akan termakan takhayul atau persepsi mercenary Night City.

-Goro Takemura: dia tidak punya pilihan lain selain bersama V. Dia sudah dituduh sebagai pembunuh Saburo Arasaka, tuannya sendiri, dan hanya V saksi kematian Saburo yang hidup.

-Panam Palmer: sejak awal dia tidak cocok dengan kehidupan Night City. Dan sebagai Nomad, ia akan lebih memikirkan jasa V kepada dia dan klan ketimbang persepsi buruk terhadap V. Perhatikan bahwa semakin kamu menjalankan misi Panam (tanpa bikin dia marah dan memutus kontak), semakin banyak Aldecaldos yang terlibat. Dari awalnya Panam doang, kamu bisa mendapat misi bersama veteran Aldecaldos dan bahkan di rute tertentu menyerbu Arasaka HQ dibantu keluarga Nomad ini.

-Judy Alvarez: Judy bukan mercenary. Ia editor Braindance, bukan pemburu reputasi atau fixer job. Alasan Judy bekerja dengan V selalu personal, mencari Evelyn Parker hingga melindungi orang-orang yang ia pedulikan. Logika Night City soal “pembawa sial” tidak pernah jadi pertimbangan baginya.

-Solomon Reed, Alena Xenakis (Phantom Liberty): mereka ini adalah agen FIA. Bagi mereka situasi seperti Konpeki Plaza itu risiko pekerjaan. Reed bahkan sudah mengalami hal serupa tujuh tahun lalu dimana anggota timnya satu-satu mati misterius atau menghilang, sementara dirinya pun dijebak atas perintah Presiden Myers sendiri untuk "perdamaian" NUSA dengan Arasaka.

-River Ward: polisi jujur di kota korup. Ketika ada kasus personal di saat dia sudah keluar dari kepolisian, dia hanya bisa berpaling ke V.

Ini sejak awal memang bukan tipe mercenary yang ngerumpi di Afterlife dan memikirkan bahaya calon anggota tim.

4. Yang lucu? Kamu akan mendapati yang tetap mau setim sama V juga nasibnya bakal buruk

Aldecaldos. (Dok. CD Projekt Red/Cyberpunk 2077)
Aldecaldos. (Dok. CD Projekt Red/Cyberpunk 2077)

Yang lucu dan agak menyeramkan adalah bahkan orang-orang yang tetap mau satu tim dengan V sering kali memang bernasib buruk.

Jadi pertanyaannya wajar muncul: apakah kecurigaan para merc Night City tentang V sebagai “pembawa sial” benar-benar salah?

Perhatikan ini:

-Jika kamu memilih rute Aldecaldos atau Rogue untuk misi terakhir, pasti ada korban jiwa. Bakal ada satu orang di rute-rute itu yang berkorban untuk melemahkan Adam Smasher. Dan di rute Aldecaldos, korbannya bahkan pasti akan lebih dari satu, sekedar untuk membuka jalan V menuju Arasaka.

-Di Phantom Liberty, tergantung pilihanmu, tim kecil yang kamu bentuk bersama Alex dan Reed bisa hancur total, menyisakan V sebagai satu-satunya yang masih bernapas ketika misi DLC ini akhirnya selesai.

-Dalam misi “Search and Destroy”, jika V tidak kembali untuk menolong Goro Takemura, Takemura akan mati.

Pola ini sulit diabaikan. Setiap kali V bergerak dalam misi besar sebagai tim, ada kemungkinan bakal ada rekannya yang mati.

Namun... apakah ini berarti V memang sial?

Atau ini lebih karena misi-misi yang dihadapi V, termasuk Konpeki Heist, bukanlah pekerjaan merc biasa, melainkan operasi dengan risiko ekstrem, di level yang memang hampir pasti memakan korban?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Fahrul Razi Uni Nurullah
EditorFahrul Razi Uni Nurullah
Follow Us

Latest in Game

See More

Kenapa V Cyberpunk 2077 Sering Bekerja Sendiri di Game-nya?

21 Jan 2026, 19:00 WIBGame