Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Kaido Terlihat Belum Mencapai Awakening Zoan di One Piece?

cuplikan Yamato vs Kaido di anime One Piece (dok. Eiichiro Oda, Toei Animation/One Piece)
cuplikan Yamato vs Kaido di anime One Piece (dok. Eiichiro Oda, Toei Animation/One Piece)
Intinya sih...
  • Kaido jarang diuji sampai situasi hidup-mati
  • Teori bentrokan kehendak dengan Buah Iblis Zoan
  • Tendensi unik Kaido dan kemungkinan Oda belum memikirkannya
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Seiring berjalannya cerita One Piece, Oda makin jelas memberi kita penanda visual Awakening Zoan yang “sempurna”.

Berbeda dengan Awakening Zoan gagal seperti para Jailer Beast di Impel Down, yang kehilangan akal manusia dan lebih terasa seperti hewan penuh, para pengguna Zoan yang benar-benar mencapai Awakening justru ditandai oleh ciri yang konsisten: mereka masih memiliki akal manusia dan punya visual hagoromo, selendang khayangan ala figur dewata Jepang, yang melingkari tubuh mereka.

Ciri ini muncul lintas kategori Zoan: Zoan reguler seperti Rob Lucci, Zoan Mythical seperti Rimoshifu Killingham dengan kekuatan Kirin, hingga Monkey D. Luffy dengan Hito Hito no Mi, Model: Nika.

Dengan pola yang sudah sejelas ini, muncul satu pertanyaan besar ketika kita menengok kembali Wano arc. Kaido itu anomali.

Kaido itu dijuluki Makhluk Terkuat di Dunia, hampir mustahil dijatuhkan dalam duel satu lawan satu. Namun anehnya, di wujud manusia, hybrid, maupun naga, Kaido tidak pernah menampilkan hagoromo.

Lalu kenapa?

Mari kita berteori sedikit dan membedah kenapa Kaido, sebesar dan segila apa pun kekuatannya, seperti belum mencapai Awakening Zoan!

1. Jarang diuji sampai situasi hidup-mati?

Luffy dikalahkan Kaidou (dok Toei Animation/One Piece)
Luffy dikalahkan Kaidou (dok Toei Animation/One Piece)

Mari kita bandingkan Kaido dengan dua pemakan Mythical Zoan yang terlihat memiliki hagoromo: Yamato dan Monkey D. Luffy.

Untuk Yamato, kisahnya sudah jelas dan tragis. Sejak kecil, ia hidup di bawah penindasan Kaido. Dia ingin menjadi Kozuki Oden, dan sebagai balasan dia sering disiksa dan dipasangi borgol peledak yang akan membunuhnya jika mencoba kabur dari Onigashima. Ia juga berulang kali dikalahkan Kaido dalam duel nyata.

Tekanan fisik dan mental Yamato berlangsung selama bertahun-tahun.

Sementara itu, Monkey D. Luffy mencapai Awakening dalam kondisi yang bahkan lebih ekstrem.

Di Wano, Luffy berkali-kali K.O. di tangan Kaido, hingga pada momen terakhir ia benar-benar dianggap mati gara-gara diganggu Guernica dari CP0 ketika hendak menerima serangan Kaido.

Jika kita tarik benang merahnya, baik Yamato maupun Luffy rutin menghadapi ujian fisik ekstrem, mengalami kekalahan berulang, dan dipaksa bertarung dalam kondisi di mana nyawa benar-benar dipertaruhkan.

Bahkan, bisa dibayangkan bahwa hagoromo Yamato muncul justru karena ia selalu gagal mengalahkan ayahnya, kegagalan yang memaksa tubuh dan kehendaknya berkembang melampaui batas normal.

Lalu bandingkan dengan Kaido.

Setelah memakan Uo Uo no Mi, Model: Seiryu, Kaido menjadi terlalu kuat. Begitu kuatnya, hingga sangat sedikit sosok yang benar-benar mampu mendorongnya ke situasi hidup-mati.

Pengecualian langka hanyalah Rocks D. Xebec (di hari Kaido baru dapat kekuatan) serta Kozuki Oden.

Di luar itu? Sebagian besar lawannya: tumbang lebih dulu, tidak mampu menembus pertahanannya, atau tidak cukup kuat untuk membuat Kaido berkembang lebih jauh.

Maka muncul pertanyaan menarik: Mungkinkah justru karena terlalu jarang diuji hingga batas nyawa, potensi Awakening Zoan Kaido tidak pernah benar-benar terpicu?

Bukan karena Kaido lemah melainkan karena ia terlalu kuat untuk dipaksa melampaui dirinya sendiri.

2. Teori bentrokan kehendak

Kaidou (dok. Toei Animation/One Piece)
Kaidou (dok. Toei Animation/One Piece)

Ada satu teori menarik yang semakin terasa masuk akal seiring berkembangnya lore One Piece: Awakening terjadi ketika kehendak pengguna selaras dengan kehendak Buah Iblisnya.

Untuk Zoan, teori ini terasa sangat vital. Berbeda dengan Paramecia atau Logia, Buah Iblis Zoan memiliki kehendak sendiri!

Petunjuk soal ini sudah lama disebar Oda. Contoh paling jelas adalah Hito Hito no Mi, Model: Nika.

Buah ini: mampu menghindari Gorosei selama 800 tahun, namun justru dengan mudah dimakan oleh seorang bocah di Desa Foosha. Seolah-olah buah itu memilih penggunanya.

Perhatikan juga ketika Buah Zoan diberikan pada benda mati. Objek tersebut tidak hanya memperoleh kekuatan, ia benar-benar hidup, bergerak, bereaksi, dan memiliki kehendak dasar.

Jika kita lihat lebih jauh, keselarasan kehendak ini konsisten pada para pemilik Zoan yang telah mencapai Awakening:

-Nika merepresentasikan kebebasan, tawa, dan pelepasan belenggu. Luffy adalah sosok yang ke mana pun pergi selalu membawa kebebasan, bahkan tanpa menyadarinya.

-Okuchi no Makami adalah dewa pelindung. Yamato berulang kali bertindak sebagai pelindung, menentang ayahnya demi menjaga negeri Wano, negerinya Kozuki Oden.

-Para Yokai Gorosei, seperti Gyuki (wujud Jaygarcia Saturn), secara folklor identik dengan malapetaka, kutukan, dan kehancuran. Dan setiap kali Gorosei turun tangan, itulah yang mereka bawa: bencana dan penderitaan.

Pola ini terasa terlalu konsisten untuk diabaikan.

Sekarang bandingkan dengan Kaido.

Buah Iblisnya, Uo Uo no Mi, Model: Seiryu, merepresentasikan naga Asia. Beda dari naga Eropa, naga Asia itu simbol kekuatan agung, kebijaksanaan, keberuntungan, serta pengendali hujan, air, dan cuaca, yang dalam banyak mitologi bertindak sebagai pelindung dan penyeimbang dunia.

Namun bagaimana Kaido menggunakan kekuatan itu?

Bukan untuk melindungi, melainkan menindas. Bukan untuk menjaga keseimbangan, melainkan menghancurkan. Bukan untuk membawa keberuntungan, melainkan memerintah lewat ketakutan.

Di sinilah teori ini mulai terasa “klik”.

Mungkinkah Kaido tidak pernah mencapai Awakening Zoan karena kehendaknya sendiri bertabrakan dengan kehendak Buah Iblisnya?

Bukan karena ia kurang kuat. Bukan karena ia kurang terlatih.

Melainkan karena ia dan naganya tidak pernah berjalan searah. Dan jika Awakening Zoan memang menuntut keselarasan, bukan sekadar kekuatan mentah, maka Kaido, sang Makhluk Terkuat di Dunia, mungkin justru terjebak oleh caranya sendiri dalam menggunakan kekuatan itu.

3. Tendensi unik Kaido

Kaido (dok. Toei Animation/One Piece)
Kaido (dok. Toei Animation/One Piece)

Kaido diperkenalkan dengan cara yang sangat tidak biasa: seorang pria yang hobi mencoba bunuh diri dan selalu gagal.

Ia melompat dari Pulau Langit, mencoba berbagai cara ekstrem untuk mengakhiri hidupnya, namun semuanya berujung sama: ia tetap hidup. Kalau kita lihat sekarang ini terasa sebagai konsekuensi logis dari sosok yang sejak awal sudah monster… lalu masih diperkuat lagi oleh Mythical Zoan naga.

Namun keanehan Kaido tidak berhenti di situ.

Ada satu pola konsisten dalam perilakunya: Kaido sangat murka ketika duel yang “layak” baginya diinterupsi.

Kurozumi Higurashi ia bunuh tanpa ampun karena mengganggu duel melawan Kozuki Oden, padahal gangguan itu secara teknis menyelamatkan nyawa Kaido.

Guernica dari CP0 ia hajar hingga ujung-ujungnya tewas karena mendistraksi Luffy di momen paling krusial duel mereka.

Ini bukan reaksi orang yang ingin menang dengan segala cara. Ini reaksi orang yang seperti ingin... kalah.

Dari sini, Kaido mulai terlihat bukan sebagai penakluk biasa, melainkan sosok yang diam-diam mendambakan kekalahan.

Bukan kekalahan konyol, bukan mati tenggelam (karena kalau iya dia akan nyemplung saja ke laut), bukan mati karena tipu daya. Yang ia inginkan adalah akhir yang epik, kematian yang: terjadi di medan tempur, melawan musuh yang benar-benar setara, dan akan dikenang dunia.

Persis seperti Shirohige, sosok yang jelas ia hormati.

Dan mungkin di situlah letak kebuntuannya.

Jika Awakening Zoan menuntut dorongan untuk melampaui diri sendiri, keinginan untuk menjadi lebih, atau kehendak yang selaras dengan makna kekuatan itu sendiri,

maka Kaido justru terjebak di kondisi sebaliknya.

Ia tidak ingin berkembang. Ia ingin diakhiri.

Dan mungkin, justru karena itulah, kekuatan Kaido tidak pernah melangkah satu tahap lebih jauh, bukan karena ia kurang kuat, melainkan karena ia sudah menyerah pada gagasan bahwa tak ada lagi yang bisa ia capai selain kekalahan.

4. Oda hanya belum memikirkannya?

Kaido karakter One Piece (dok. Eiichiro Oda, Toei Animation/One Piece)
Kaido karakter One Piece (dok. Eiichiro Oda, Toei Animation/One Piece)

Ini kemungkinan yang paling meta, dan jujur saja, tidak bisa sepenuhnya diabaikan.

Dalam sejarah One Piece, Oda memang pernah melakukan penyesuaian konsep seiring berjalannya cerita. Contoh paling jelas adalah Busoshoku Haki.

Sebelum time skip, konsep Haki terasa belum matang:

  • tidak ada visual lapisan hitam,
  • penggunaan Haki sering ambigu,
  • dan baru setelah time skip Oda “mengunci” tampilannya secara konsisten.

Dengan momen pendahulu begitu, masuk akal jika muncul dugaan bahwa Kaido diperkenalkan sebelum konsep Awakening Zoan benar-benar difinalisasi. Bisa saja, saat Wano ditulis, Oda belum sepenuhnya menetapkan bahwa hagoromo akan menjadi penanda visual Awakening Zoan sempurna.

Namun… ada satu masalah besar dengan teori ini.

Di Onigashima, Oda sudah: menggambar Yamato dengan hagoromo, memperlihatkan Luffy Gear 5 dengan hagoromo awan putih yang ikonik, dan dua itu tersaji bahkan sebelum istilah “Awakening Zoan” dibahas secara eksplisit dan sistematis.

Artinya, secara visual, konsep hagoromo sudah ada di kepala Oda ketika Kaido masih aktif bertarung.

Kalau Kaido seharusnya Awakened Zoan, Oda punya banyak kesempatan untuk menggambarkannya. Misalnya hagoromonya ia munculkan dalam melawan Gear 5.

Tapi ia tidak melakukannya.

Dan itu membuat opsi “Oda lupa” atau “belum kepikiran” terasa… kurang memuaskan.

Bukan mustahil. Tapi mengingat konsistensi visual yang ia tunjukkan pada Yamato dan Luffy, ketiadaan hagoromo pada Kaido terasa terlalu disengaja untuk disebut kebetulan.

Kesimpulan?

cuplikan Oden vs Kaido di arc wano (dok. Eiichiro Oda, Toei Animation/One Piece)
cuplikan Oden vs Kaido di arc wano (dok. Eiichiro Oda, Toei Animation/One Piece)

Tentu saja, jawaban pasti atas misteri ini tetap berada di tangan Eiichiro Oda, seperti banyak teka-teki besar lain di One Piece.

Namun jika kita menilik pola-pola yang ada, Kaido memang terasa memenuhi tiga kemungkinan utama yang sudah kita bahas.

Pertama, ia terlalu kuat. Sejak memperoleh Uo Uo no Mi, Model: Seiryu, Kaido nyaris tidak pernah didorong ke situasi hidup–mati yang konsisten. Ia biasanya menang telak, dan bahkan para musuh tangguh sering enggan mencari konflik langsung dengannya. Lihat saja sosok seperti Ryokugyu yang baru berani menyerang Wano habis Kaido kalah.

Kedua, kehendaknya tampak bertabrakan dengan makna kekuatannya. Naga Asia umumnya melambangkan pelindung, keseimbangan, dan keberkahan.
Kaido justru menggunakan kekuatan itu untuk menindas, merusak, dan memerintah lewat ketakutan, sebuah benturan yang, jika teori keselarasan kehendak benar, bisa menjadi penghambat Awakening Zoan.

Ketiga, arah hidup Kaido sendiri tidak mengarah pada pertumbuhan. Ia tidak lagi mengejar mimpi, bukan ingin “lebih kuat”, dan tidak berusaha melampaui batasnya. Sebaliknya, ia terlihat diam-diam mendambakan kekalahan yang spektakuler, akhir yang layak dikenang, seperti yang dialami Shirohige.

Jika Awakening menuntut: dorongan untuk berkembang, kehendak untuk melampaui diri sendiri, dan keselarasan antara pengguna dan kekuatannya, maka Kaido justru berada di posisi berlawanan dengan semua aspek itu.

Dan masuk akal jika semua aspek ini, terlalu kuat, kehendak yang bertabrakan, dan hasrat untuk “selesai” alih-alih berkembang, menghambat siapa pun untuk mencapai potensi penuh Buah Iblisnya, sekuat apa pun buah itu.

Tentu, ini masih sebatas teori.

Kalau menurutmu sendiri, apa yang sebenarnya menghalangi Kaido untuk melangkah mencapai Awakening?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Fahrul Razi Uni Nurullah
EditorFahrul Razi Uni Nurullah
Follow Us

Latest in Anime & Mange

See More

[QUIZ] Dari Karakter One Piece, Ini Kucing yang Cocok Kamu Pelihara

11 Jan 2026, 20:00 WIBAnime & Manga