4 Hal Menarik yang Diungkap Sonneveld (Indominator) di Erasmus Huis!

- Yos Sonneveld alias Indominator berbagi kisah peralihannya dari calon pesepak bola profesional yang cedera menjadi atlet eFootball sukses berkat kecintaannya pada game sepak bola sejak kecil.
- Dalam talk show di Erasmus Huis, Yos menekankan pentingnya menjaga kebugaran fisik bagi atlet esports untuk mendukung fokus dan performa, meski tiap pemain punya rutinitas berbeda.
- Ia juga menyoroti bahwa esports sepak bola lebih mudah diakses dibandingkan sepak bola nyata serta membantu mengembangkan keterampilan komunikasi dan public speaking di luar kompetisi.
Jakarta, Duniaku.com – Pada Sabtu (18/7/2026), redaksi Duniaku.com mendapat undangan unik untuk menghadiri sebuah sesi talk show di Erasmus Huis, perpustakaan yang berada di kompleks Kedutaan Besar Belanda.
Yang membuat acara ini menarik adalah topik yang diangkat: esports. Dan sosok yang hadir sebagai atlet pembicara adalah Yos Sonneveld, atau yang lebih dikenal sebagai Indominator, pemain profesional eFootball dengan perjalanan karier yang tak biasa.
Berikut empat hal menarik yang ia ungkapkan dalam sesi tersebut!
Table of Content
1. Awalnya bercita-cita menjadi pesepak bola profesional

Ini mungkin salah satu trivia Indominator yang paling dikenal, dan dia menceritakannya lagi di talk show.
Sejak kecil, Yos sebenarnya bercita-cita menjadi pesepak bola profesional. Namun, sebuah cedera membuat mimpinya untuk meniti karier di lapangan hijau harus terhenti.
Di sisi lain, ia memang sudah menyukai game sepak bola sejak kecil. Bahkan, ia mengaku telah memainkan seri eFootball sejak game tersebut masih bernama Winning Eleven.
Setelah mengalami cedera, ia mulai menekuni game sepak bola secara lebih serius, terutama di ranah online. Dari sana, ia merasa kemampuannya ternyata cukup menonjol.
"Saya ternyata cukup jago," ungkapnya.
Perjalanan itulah yang kemudian membawanya menjadi salah satu pemain eFootball profesional yang dikenal saat ini.
2. Pentingnya menjaga kondisi fisik sebagai atlet esports

Yos memiliki perspektif yang cukup unik karena pernah merasakan dua dunia sekaligus: olahraga konvensional dan esports.
Dalam sesi talk show, saya pun sempat menanyakan pandangannya mengenai pentingnya kebugaran fisik bagi atlet esports.
Menurut Yos, kondisi fisik tetap memegang peran penting. Menjaga tubuh tetap bugar tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga membantu menjaga fokus, mental, dan performa saat bertanding.
Meski begitu, ia juga mengakui bahwa tidak ada satu pendekatan yang berlaku untuk semua orang.
Menurutnya, ada pula pemain esports yang tidak terlalu memprioritaskan kebugaran fisik, tetapi tetap mampu bersaing di level dunia. Karena itu, setiap atlet pada akhirnya memiliki kebutuhan dan rutinitas yang berbeda-beda.
3. Game sepak bola lebih mudah diakses daripada sepak bola di dunia nyata
Hal menarik lainnya adalah pandangan Yos mengenai aksesibilitas.
Menurutnya, esports sepak bola justru lebih mudah diakses dibandingkan sepak bola konvensional. Saat ini hampir semua orang memiliki smartphone. Mereka bisa mengunduh game sepak bola, berlatih, dan mengembangkan kemampuan tanpa harus meninggalkan rumah.
Sebaliknya, bermain sepak bola di dunia nyata membutuhkan lebih banyak persiapan, mulai dari lapangan, perlengkapan olahraga, hingga biaya untuk perjalanan.
Selain itu, game sepak bola juga membuka kesempatan bagi orang-orang yang tidak lagi bisa berolahraga secara intens, termasuk mereka yang mengalami cedera seperti dirinya, untuk tetap menikmati sepak bola dan bahkan berkompetisi hingga tingkat internasional melalui esports.
4. Skill lain yang berkembang sebagai atlet esports
Bagi Yos, menjadi atlet esports bukan hanya soal duduk di depan layar dan bermain game.
Ia merasa perjalanan sebagai atlet profesional juga membantunya mengembangkan berbagai kemampuan lain, seperti komunikasi dan public speaking.
Kesempatan untuk mengikuti turnamen, menjalani wawancara, hingga tampil dalam berbagai acara membuatnya belajar berbicara di depan publik dan menyampaikan pendapat dengan lebih percaya diri.
Karena itu, menurut Yos, menjadi atlet esports tidak hanya mengasah kemampuan bermain game, tetapi juga membentuk berbagai keterampilan yang bermanfaat di luar arena kompetisi.





















