“Ketika orang mendengar nama sebuah kota, biasanya ada gambaran tertentu yang langsung muncul di pikiran mereka. Kami ingin menggunakan gambaran tersebut, lalu membuat pemain merasakan keunikan dan driving feel dari setiap kota.”
Interview Kenji Kanno, Bahas Dunia Baru Crazy Taxi: World Tour!

- Crazy Taxi: World Tour menghidupkan kembali franchise setelah lebih dari 20 tahun dengan campaign cerita, multiplayer, lima kota dunia, dan aktivitas tambahan.
- Setiap kota dirancang punya karakter berkendara berbeda melalui jalan, landmark, kendaraan, pedestrian, aksen karakter, serta toko dan brand nyata sesuai negara.
- Tim mempertahankan kecepatan, drifting, dan antar-penumpang berbatas waktu, sambil membuat kontrol lebih mudah serta menangani collision dan sistem penumpang dalam multiplayer empat pemain.
Tokyo, Duniaku.com - Setelah lebih dari 20 tahun absen, Crazy Taxi akhirnya kembali melalui Crazy Taxi: World Tour. Game terbaru ini tetap membawa konsep berkendara cepat untuk mengantar penumpang, tetapi memperluas pengalaman tersebut dengan campaign berbasis cerita, multiplayer, berbagai kota di dunia, hingga aktivitas baru.
Duniaku berkesempatan mewawancarai Kenji Kanno selaku Creative Producer Crazy Taxi: World Tour. Kanno sendiri bukan sosok baru bagi franchise ini karena sebelumnya ia terlibat sebagai Director dan Game Designer dalam Crazy Taxi pertama.
Dalam wawancara ini, Kanno membahas bagaimana tim mempertahankan identitas Crazy Taxi sambil memberikan pengalaman baru, termasuk alasan menghadirkan berbagai kota dengan karakteristik berbeda, penggunaan lokasi nyata, aktivitas tambahan, serta tantangan membawa gameplay Crazy Taxi ke multiplayer.
Table of Content
1. Setiap Kota Punya Ciri Khasnya Sendiri

Kenji Kanno Creative Produser Crazy Taxi: World Tour. Dok. SEGA Salah satu fokus utama Crazy Taxi: World Tour adalah perjalanan ke berbagai negara. Tantangannya adalah membuat setiap kota terasa unik tanpa membuat game kehilangan identitas Crazy Taxi.
Menurut Kanno, tim memulai proses tersebut dari gambaran yang biasanya langsung muncul di kepala seseorang ketika mendengar nama sebuah kota atau negara.
Kanno memberikan contoh Jerman. Negara tersebut diasosiasikan dengan Autobahn dan Cologne Cathedral. Karena itu, elemen-elemen tersebut dapat menjadi bagian dari pengalaman berkendara pemain.
Jepang memiliki pendekatan berbeda. Jalan yang lebih sempit dan elevated highway memberikan kesempatan bagi pemain untuk merasakan sensasi bermanuver yang tidak sama dengan ketika mereka berkendara di Autobahn.
Jadi, perbedaan kota tidak hanya ditampilkan melalui visual. Tim juga ingin setiap lokasi memberikan cara berkendara yang berbeda.
“Kalau berada di Autobahn, pemain pasti ingin mengemudi dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sementara di Jepang, akan menyenangkan untuk bermanuver di jalan-jalan yang pendek dan sempit.”
Perbedaan tersebut juga diperkuat melalui elemen-elemen kecil. Pedestrian memiliki pakaian yang berbeda, kendaraan di jalan disesuaikan dengan masing-masing negara, bahkan versi bahasa Inggris menghadirkan aksen berbeda untuk karakter dari lokasi tertentu.
Dengan begitu, pemain tidak hanya melihat bahwa mereka sudah berpindah negara, tetapi juga dapat merasakan perbedaannya saat mengemudi.
2. Kenapa Ada Toko dan Lokasi Nyata?

Crazy Taxi: World Tour. Dok: SEGA Crazy Taxi sejak game pertamanya memang memiliki pendekatan yang cukup unik terhadap dunia nyata. Toko dan lokasi yang benar-benar ada dapat ditemukan di dalam game.
Kanno mengatakan keputusan tersebut berhubungan dengan keinginannya untuk membuat dunia Crazy Taxi terasa seperti tempat yang benar-benar bisa dikunjungi.
“Saya ingin pemain merasa seperti ini adalah cerita nyata yang terjadi di suatu tempat di Amerika. Saya tidak ingin membuat game yang terlalu fantastis. Dengan memasukkan toko nyata, ada rasa realitas yang bisa meningkatkan imersi pemain.”
Konsep tersebut ternyata mendapatkan respons positif dari pemain Crazy Taxi pertama. Karena itu, tim kembali menerapkannya dalam World Tour.
Kali ini, penggunaan brand nyata juga disesuaikan dengan negara yang dikunjungi.
Untuk Jepang, misalnya, pemain dapat menemukan restoran seperti Ichiran, CoCo Ichibanya, dan Kura Sushi. Sementara di Jerman terdapat brand seperti Puma serta beberapa toko lokal.
Menurut Kanno, keberadaan tempat-tempat tersebut membantu menciptakan rasa familiar sekaligus membuat setiap kota memiliki identitasnya sendiri.
“Kami juga memasukkan toko-toko yang berbeda dari setiap negara. Jadi setiap negara memiliki tempat dan toko yang menjadi bagian dari lingkungannya.”
Pendekatan ini membuat kota dalam World Tour terasa bukan sekadar arena untuk mengantar penumpang, tetapi sebuah tempat yang memiliki karakter.
3. Semua Aktivitas Harus Tetap "Crazy"

Crazy Taxi World Tour Closed Network Test (duniaku.com/Adhitya Daniel) Selain mengantar penumpang, Crazy Taxi: World Tour memiliki berbagai aktivitas tambahan, termasuk memancing dan mengantar pizza.
Bagi sebuah game yang identitasnya sudah sangat kuat dengan aktivitas mengemudi taxi, muncul pertanyaan bagaimana tim menentukan aktivitas mana yang masih terasa cocok dengan dunia Crazy Taxi.
Jawaban Kanno justru cukup sederhana.
“Pada akhirnya, judulnya adalah Crazy Taxi. Jadi semuanya harus crazy. Itu adalah salah satu standar dasar yang harus kami penuhi.”
Tim pengembang melakukan brainstorming bersama untuk menentukan berbagai elemen yang bisa dimasukkan ke dalam game. Para staf yang mengerjakan karakter dan gameplay ikut memberikan berbagai ide.
Namun, semua ide tersebut tetap harus melewati satu prinsip utama, yaitu harus terasa "crazy".
Karena itu, aktivitas seperti memancing atau mengantar pizza dapat hadir berdampingan dengan gameplay utama tanpa harus menjadi simulasi pekerjaan taxi yang realistis.
Tujuannya tetap sama, memberikan pemain pengalaman yang menyenangkan dan sesuai dengan karakter Crazy Taxi.
4. Tantangan Terbesar Membawa Crazy Taxi ke Multiplayer

Crazy Taxi World Tour Closed Network Test (duniaku.com/Adhitya Daniel) Salah satu perubahan besar Crazy Taxi: World Tour adalah kehadiran mode multiplayer.
Namun, membuat beberapa pemain mengendarai kendaraan dalam kecepatan tinggi di area yang sama ternyata menjadi tantangan tersendiri.
Menurut Kanno, masalah collision menjadi salah satu bagian paling sulit dalam proses pengembangan multiplayer.
“Menurut saya, hal yang paling sulit adalah collision dengan pemain lain. Ketika game bergerak dalam kecepatan sangat tinggi dan kamu bertabrakan dengan pemain lain, kami harus menemukan desain gameplay yang bisa mengatasi masalah tersebut.”
Persoalan itu tidak hanya harus diselesaikan melalui game design. Tim juga harus memikirkan logic programming dan desain map agar semuanya dapat berjalan dengan baik.
Dalam multiplayer, pemain akan dibagi ke dalam kelompok berisi empat orang. Sistemnya bukan sekadar menghitung siapa yang mendapatkan uang paling banyak.
Pemain perlu mengantarkan sejumlah penumpang dan mengumpulkan skor berdasarkan jumlah penumpang yang berhasil mereka antarkan.
Setiap penumpang juga hanya dapat menaiki satu kendaraan, sehingga tidak ada situasi beberapa pemain membawa penumpang yang sama secara bersamaan.
Dengan pendekatan tersebut, tim mencoba mempertahankan kekacauan khas Crazy Taxi tanpa membuat multiplayer berubah menjadi pengalaman yang sulit dikendalikan.
5. Hal yang Tidak Boleh Hilang dari Crazy Taxi

Kenji Kanno dan You Momotani Crazy Taxi: World Tour. Dok. SEGA Walaupun World Tour membawa banyak perubahan, Kanno tetap memiliki beberapa prinsip yang menurutnya harus dipertahankan dari game original.
Salah satunya adalah sensasi berkendara cepat dan drifting. Namun, tim juga ingin membuat kontrolnya lebih mudah didekati oleh pemain baru.
“Kami ingin mempertahankan pengalaman berkendara yang sangat cepat dan penuh drifting. Tetapi kami juga ingin kontrolnya sedikit lebih mudah didekati, sehingga tidak terlalu berorientasi pada pemain yang sudah sangat terampil.”
Ada satu elemen yang bahkan menurut Kanno tidak boleh berubah sama sekali, yaitu konsep mengambil penumpang dan mengantarkan mereka ke tujuan dalam batas waktu.
“Kami memutuskan bahwa mengambil penumpang dan mengantarkan mereka dalam batas waktu tertentu harus tetap ada. Kami mempertahankan hal tersebut di dalam campaign mode.”
Menurut Kanno, kemampuan berhenti dengan cepat juga menjadi bagian unik dari pengalaman Crazy Taxi. Pemain harus bisa mengerem di depan penumpang, mengambil mereka, lalu kembali melaju secepat mungkin.
Hal tersebut menjadi pembeda Crazy Taxi dari banyak game driving lainnya.
Menariknya, Kanno juga mengungkap bahwa keputusan untuk menghidupkan kembali Crazy Taxi tidak hanya datang dari keinginan internal tim. Setelah franchise tersebut tidak aktif selama lebih dari 20 tahun, ia melihat masih banyak fans yang mengingat dan menyukai game original.
“Saya sangat senang kami bahkan bisa memulai proyek ini. Konten ini sudah tidak aktif selama lebih dari 20 tahun, tetapi banyak orang di seluruh dunia masih menyampaikan hal-hal positif dan masih mencintai game ini.”
Bagi Kanno, dukungan tersebut menjadi bagian penting dari lahirnya Crazy Taxi: World Tour.
“Kembalinya World Tour benar-benar terjadi karena para fans, dan saya sangat bersyukur bisa membuat game ini lagi.”
Dengan tetap mempertahankan kecepatan, drifting, serta konsep mengantar penumpang dalam batas waktu, Crazy Taxi: World Tour mencoba membawa formula klasik tersebut ke pengalaman yang lebih luas. Lima kota, campaign, aktivitas tambahan, dan multiplayer menjadi cara baru bagi franchise ini untuk kembali mengajak pemain "go crazy" di jalanan.






















