“Kami ingin menunjukkan perkembangan Makoto melalui kemampuan bahasa Jepang dan kemampuan bertarungnya. Keduanya berkembang seiring perjalanan hidupnya.”
8 Hal Menarik Interview dengan Tim RGG Bahas Stranger Than Heavens!

- Stranger Than Heaven mengikuti Makoto Daito, pemuda Jepang-Amerika yang tiba di Jepang pada 1915 dan berkembang lewat bahasa, kemampuan bertarung, koneksi, serta pengalaman hidup lintas puluhan tahun.
- RGG Studio menghadirkan lima kota dan era berbeda dengan desain, aktivitas, serta ratusan lagu lintas genre yang menyesuaikan periode; show business dan musik menjadi jalur Makoto membangun kehidupan di Jepang.
- Combat dibuat lebih grounded: Makoto belajar bertarung dari nol, memanfaatkan lingkungan dan beragam senjata, sementara pemain membuka gaya baru dengan mendalami senjata pilihan sepanjang perjalanan antarera.
Tokyo, Duniaku.com - Stranger Than Heaven menjadi salah satu proyek terbaru RGG Studio yang membawa formula mereka ke periode sejarah yang berbeda. Alih-alih Jepang modern, game ini mengajak pemain mengikuti perjalanan Makoto Daito yang berlangsung selama puluhan tahun, dimulai dari 1915.
Dalam kesempatan interview bersama Duniaku di Tokyo Game Show 2026, Director Stranger Than Heaven Motonobu Abe membahas proses di balik pengembangan game tersebut.
Mulai dari tantangan menulis Makoto sebagai karakter yang tumbuh sepanjang hidupnya, alasan show business menjadi bagian penting dari cerita, hingga bagaimana RGG Studio membangun berbagai era dan sistem combat dalam game.
Table of Content
1. Menulis Makoto yang Tumbuh Sepanjang Hidupnya

Stranger Than Heaven (Dok. SEGA) Salah satu tantangan terbesar dalam membuat Makoto Daito adalah rentang perjalanan hidupnya. Pemain tidak hanya mengikuti satu periode penting dalam hidupnya, tetapi melihat bagaimana dirinya berkembang seiring waktu.
Makoto memiliki darah Jepang-Amerika dan datang ke Jepang pada 1915. Latar belakang tersebut membuatnya berada dalam posisi yang berbeda dari karakter-karakter utama RGG Studio sebelumnya.
Abe menjelaskan bahwa tim ingin perkembangan Makoto terasa dalam berbagai aspek, bukan hanya melalui perubahan usia.
Makoto pada awal cerita belum memiliki kemampuan bahasa Jepang yang sempurna dan juga bukan seorang petarung hebat. Seiring waktu, pengalaman yang ia dapatkan akan membentuk dirinya.
Bagi Abe, aspek tersebut penting karena perjalanan Makoto memang menjadi inti dari Stranger Than Heaven. Ia bukan karakter yang sudah selesai sejak awal cerita, melainkan seseorang yang dibentuk oleh berbagai pengalaman yang dilewatinya.
Latar belakang Jepang-Amerika Makoto juga menjadi bagian dari tantangan tersebut. Abe sendiri pernah tinggal di Amerika dan Australia, sehingga ia memiliki pengalaman mengenai hidup di lingkungan yang berbeda dari negara asalnya.
“Saya pernah tinggal di Amerika dan Australia, jadi saya bisa sedikit memahami perspektif Makoto sebagai seseorang yang memiliki latar belakang berbeda dan mencoba menemukan tempatnya.”
Hal tersebut kemudian ikut memengaruhi bagaimana tim menggambarkan cara Makoto berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.
2. Lima Kota, Lima Perjalanan Berbeda

Stranger Than Heaven akan dibintangi oleh aktor kawakan. (klamm.de) Perjalanan Makoto tidak berlangsung di satu tempat. Stranger Than Heaven membawa pemain melewati lima kota dan periode berbeda sepanjang hidupnya.
Masing-masing era tidak hanya mendapatkan perubahan visual. RGG Studio juga ingin setiap periode memberikan pengalaman yang berbeda bagi pemain.
“Kami ingin setiap kota dan era memiliki sesuatu yang unik, baik dari sisi cerita maupun gameplay. Ketika pemain berpindah ke periode berikutnya, mereka harus bisa merasakan perbedaannya.”
Tim harus memperhatikan banyak hal ketika membangun kota-kota tersebut. Bangunan harus sesuai dengan zamannya, tetapi tetap harus menjadi bagian dari map yang menyenangkan untuk dimainkan.
Karena itu, skala bukan satu-satunya perhatian RGG Studio. Kepadatan area, posisi bangunan, suasana jalanan, serta aktivitas yang dapat dilakukan pemain juga menjadi bagian dari proses desain.
Hasilnya, perubahan zaman dalam Stranger Than Heaven tidak hanya hadir sebagai informasi dalam cerita. Pemain juga dapat melihat perubahan tersebut secara langsung ketika menjelajahi dunia game.
3. Kenapa Show Business Penting untuk Makoto?

Screenshot Stranger Than Heaven. (Dok. RGG Studio, SEGA/Stranger Than Heaven) Pertanyaan Duniaku berikutnya berfokus pada salah satu elemen yang cukup unik dalam perjalanan Makoto, yaitu show business.
Dalam Stranger Than Heaven, dunia hiburan bukan sekadar aktivitas tambahan yang bisa dilakukan pemain. Show business memiliki hubungan langsung dengan kehidupan Makoto dan bagaimana ia bertahan di Jepang.
“Makoto datang ke Jepang dan tidak memiliki tempat untuk bergantung. Dia membutuhkan uang, koneksi, dan orang-orang. Musik menjadi salah satu cara baginya untuk berkomunikasi.”
Makoto memiliki kemampuan bermusik dan kemampuan tersebut menjadi pintu masuknya ke dunia pertunjukan.
Ia kemudian bertemu dengan Orpheus, karakter yang diperankan oleh Snoop Dogg. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Makoto dalam membangun koneksi serta kehidupannya di Jepang.
Konsep ini membuat musik dan show business memiliki fungsi yang lebih besar daripada sekadar minigame.
Makoto membutuhkan sesuatu yang bisa menghubungkannya dengan orang lain. Dalam kondisi ketika dirinya masih mencari tempat untuk bergantung, musik menjadi salah satu bahasa yang dapat digunakan untuk membuka jalan.
Itulah alasan dunia hiburan terasa begitu dekat dengan perjalanan karakter Makoto.
4. Musiknya Bukan Cuma Jazz

Karakter yang diisi suara oleh Ado di Stranger Than Heaven. (Dok. RGG Studio/Stranger Than Heaven) Nuansa jazz memang cukup kuat dalam materi promosi Stranger Than Heaven. Namun, musik yang digunakan dalam game ternyata jauh lebih beragam.
Abe menjelaskan bahwa game tersebut memiliki ratusan lagu dengan berbagai genre. Musik juga disesuaikan dengan era dan lokasi yang sedang dikunjungi Makoto.
“Ada ratusan lagu dalam game dengan berbagai genre. Jadi, musiknya bukan hanya jazz. Setiap era memiliki musik yang berbeda.”
Perbedaan tersebut membantu menciptakan identitas untuk setiap periode dalam cerita.
Dengan perjalanan Makoto yang berlangsung selama puluhan tahun, musik menjadi salah satu elemen yang membantu pemain merasakan perubahan zaman tanpa harus selalu dijelaskan melalui dialog.
5. Makoto Harus Belajar Bertarung dari Nol

Screenshot Stranger Than Heaven. (Dok. RGG Studio, SEGA/Stranger Than Heaven) Makoto juga memiliki perkembangan yang cukup berbeda dalam hal combat.
Berbeda dari protagonis seperti Kazuma Kiryu yang sudah dikenal sebagai petarung sejak awal, Makoto memulai perjalanannya tanpa kemampuan bertarung yang mumpuni.
Abe mengatakan bahwa RGG Studio melakukan riset mengenai periode yang digunakan dalam game sebelum menentukan pendekatan combat.
“Kami melakukan riset terhadap periode sekitar seratus tahun lalu dan melihat bagaimana nilai serta cara bertarung pada masa itu. Kami juga terinspirasi oleh pertarungan yang terasa lebih raw dari film dan novel bertema yakuza.”
Pendekatan tersebut membuat combat Stranger Than Heaven terasa lebih grounded.
Makoto dapat menggunakan benda-benda di lingkungan sebagai senjata. Ia juga akan mempelajari berbagai senjata seiring perjalanan cerita, mulai dari palu dan tong hingga pisau, katana, dan pedang.
Jadi, kemampuan bertarung Makoto bukan sesuatu yang sudah dimiliki sejak awal. Pemain ikut melihat bagaimana ia berkembang menjadi sosok yang lebih mampu menghadapi situasi berbahaya.
6. Trem Juga Bisa Jadi Masalah

Screenshot Stranger Than Heaven. (Dok. RGG Studio, SEGA/Stranger Than Heaven) Salah satu aspek combat yang menarik adalah interaksi dengan lingkungan.
Pemain dapat menggunakan benda-benda yang ada di sekitar ketika bertarung. Namun, lingkungan juga bisa membahayakan Makoto.
Salah satu contohnya adalah trem yang dapat menabrak karakter.
“Pemain bisa menggunakan benda-benda yang ada di lingkungan. Tapi kami juga harus melakukan balancing, karena ada situasi ketika pemain terlalu sering terbunuh oleh trem.”
Karena itu, sistem tersebut masih mendapatkan penyesuaian selama proses pengembangan.
Tujuan RGG Studio bukan membuat pertarungan menjadi sekadar tontonan penuh kekacauan, tetapi membuat lingkungan terasa memiliki peran dalam pertarungan.
7. Pemain Bisa Memilih Senjata Favorit

Stranger Than Heaven. (dok. SEGA) Combat Stranger Than Heaven juga memiliki sistem progression.
Pemain dapat membuka kemampuan baru dengan menggunakan senjata tertentu secara berulang. Sistem ini memungkinkan pemain untuk lebih mendalami senjata yang mereka sukai.
“Kalau pemain terus menggunakan senjata tertentu, mereka bisa membuka gaya dan gerakan baru untuk senjata tersebut. Jadi pemain bisa memilih senjata yang ingin mereka kuasai.”
Perkembangan tersebut tetap berjalan ketika Makoto berpindah era.
Senjata yang lebih modern akan tersedia seiring perkembangan waktu, tetapi pemain tidak selalu harus meninggalkan senjata lama. Mereka masih bisa menggunakan dan meningkatkan senjata yang sudah dimiliki.
Dengan begitu, progression karakter tetap terasa konsisten meskipun dunia Stranger Than Heaven terus berubah.
8. Perjalanan Makoto Jadi Inti Stranger Than Heaven

Stranger Than Heaven. (dok. SEGA) Pada akhirnya, berbagai sistem dalam Stranger Than Heaven kembali pada satu hal, yaitu perjalanan hidup Makoto.
Lima kota, perubahan zaman, perkembangan kemampuan bahasa, combat, musik, hingga keterlibatannya dalam show business semuanya menjadi bagian dari proses membentuk dirinya.
“Kami terus memikirkan bagaimana meningkatkan kualitas game sambil memastikan semuanya bisa diselesaikan tepat waktu. Kami terus melakukan penyempurnaan selama proses pengembangan.”
Bagi RGG Studio, tantangannya bukan hanya menciptakan dunia Jepang di masa lalu, tetapi membuat dunia tersebut terasa hidup dan relevan dengan perjalanan karakter utama.
Makoto memulai kisahnya sebagai seseorang yang datang ke Jepang tanpa banyak tempat untuk bergantung. Seiring berjalannya waktu, ia membangun kemampuan, koneksi, dan kehidupannya sendiri.
Dan lewat Stranger Than Heaven, pemain akan mengikuti bagaimana perjalanan tersebut membentuk Makoto dari satu era ke era berikutnya.




















