Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
For
You

5 Game Paling Mengecewakan di 2025, Kamu Zonk yang Mana?

Bad-Game.jpg
Dok. Capcom - Paradox Interactive - PlayStation - Activision Blizzard - IOI Partners A/S
Intinya sih...
  • Call of Duty: Black Ops 7 mengecewakan karena performa teknis yang buruk di PC dan kurangnya inovasi dalam desain dan visi kreatifnya.
  • Vampire: The Masquerade – Bloodlines 2 kehilangan roh liar pendahulunya, dengan narasi yang melemah dan kebebasan terbatas.
  • Monster Hunter Wilds sukses secara bisnis, namun kehilangan rasa perjuangan dan identitas utama seri ini, serta mengalami masalah teknis yang sulit diabaikan.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kami jujur tidak sanggup menulis daftar “game terjelek”. Alasannya sederhana: jika berbicara secara objektif, kategori itu bisa dengan mudah diisi oleh ratusan game shovelware tak jelas yang rilis di platform seperti Steam, judul-judul yang bahkan nyaris tak pernah bersentuhan dengan radar gamer arus utama.

Tapi bagaimana jika sudut pandangnya kita geser menjadi game paling mengecewakan? Di sinilah pembahasannya justru menjadi menarik. Game yang mengecewakan berarti lahir dari ekspektasi, entah karena nama besar di baliknya, janji promosi yang ambisius, atau rekam jejak tim pengembang yang sebelumnya solid.

Modalnya ada, timnya proper, hype-nya nyata. Namun karena satu dan lain hal, ada aspek krusial yang gagal memenuhi harapan. Lalu, game apa saja yang menurut Redaksi paling mengecewakan sepanjang tahun 2025? Simak daftar lengkapnya di bawah ini.

1. Call of Duty: Black Ops 7

Aktor Milo Ventimiglia di Call of Duty: Black Ops 7. (Eurogamer)
Aktor Milo Ventimiglia di Call of Duty: Black Ops 7. (Eurogamer)

Sebagai seri yang sudah lebih dari satu dekade mendominasi ranah FPS arus utama, Call of Duty: Black Ops 7 datang dengan beban sejarah yang tidak ringan. Masalahnya bukan semata pada kualitas teknis, meski isu klasik kembali muncul: Activision Blizzard lagi-lagi terkesan menganaktirikan PC. Di konsol, game ini berjalan relatif mulus, sementara di PC dengan spesifikasi minimal hingga menengah, performanya kerap tersendat dan inkonsisten, sebuah ironi untuk franchise sebesar ini.

Namun kekecewaan terbesar justru datang dari sisi desain dan visi kreatifnya. Black Ops 7 menghadirkan rasa déjà vu yang terlalu kuat. Kampanye yang diharapkan membawa kejutan naratif dan keberanian tematik justru terasa aman, formulaik, dan enggan mengambil risiko. Tema politik serta konspirasi yang dulu menjadi identitas kuat Black Ops kini hanya terasa seperti gema samar dari kejayaan masa lalu, hadir tanpa ketajaman maupun urgensi yang sama.

Di ranah multiplayer, situasinya tidak sepenuhnya buruk, tetapi juga sulit untuk benar-benar dipuji. Perubahan yang ditawarkan lebih banyak bersifat kosmetik ketimbang transformatif. Bagi banyak pemain lama, Black Ops 7 terasa seperti produk yang dirilis demi memenuhi jadwal tahunan, bukan karena dorongan kebutuhan kreatif. Dan di situlah letak kekecewaan paling menyakitkan: ini bukan game yang gagal total, melainkan game yang terlalu nyaman bertahan di zona aman dan puas dengan status quo, tanpa keberanian untuk melangkah lebih jauh.

2. Vampire: The Masquerade – Bloodlines 2

Vampire: The Masquerade - Bloodlines 2 (Steam)
Vampire: The Masquerade - Bloodlines 2 (Steam)

Tidak banyak game yang memikul beban nostalgia seberat Vampire: The Masquerade – Bloodlines 2. Sebagai sekuel dari RPG kultus rilisan 2004, game ini dinanti lebih dari dua dekade, melewati proses pengembangan yang berantakan, pergantian tim kreatif, hingga penundaan berkepanjangan. Sayangnya, semua penantian itu tidak sepenuhnya terbayar. Saat akhirnya dirilis, Bloodlines 2 justru terasa seperti RPG modern yang rapi secara teknis, tetapi kehilangan roh liar yang dulu membuat pendahulunya begitu dicintai.

Pilihan dialog memang masih ada dan atmosfer vampirnya tetap terasa kental, namun kebebasan serta keanehan khas Bloodlines lama terasa dipangkas. Dunia permainan terasa lebih linear, sistem RPG disederhanakan, dan identitasnya seolah ditahan agar tidak terlalu “aneh”. Ironisnya, di situlah letak kegagalannya. Bloodlines 2 terlalu berusaha tampil bersih dan terkontrol, padahal yang dicintai para penggemar adalah kekacauan elegan, dunia vampir yang absurd, politis, dan sering kali tidak nyaman.

Masalahnya kian terasa pada penuturan kisah sang pengisap darah itu sendiri. Di awal, narasinya dibangun dengan cukup meyakinkan dan penuh potensi, namun semakin mendekati akhir, alurnya terasa acak-acakan dan kehilangan fokus. Klimaks yang seharusnya mengikat seluruh pengalaman justru melemah, membuat rasa penasaran berubah menjadi kelelahan. Alhasil, Bloodlines 2 bukan hanya gagal memuaskan nostalgia, tetapi juga perlahan mengikis motivasi untuk terus memainkannya. Bagi banyak orang, ini bukan kegagalan total, melainkan kegagalan untuk benar-benar menjadi Bloodlines yang sesungguhnya.

3. Monster Hunter Wilds

Monster Hunter Wilds (Steam)
Monster Hunter Wilds (Steam)

Secara angka, Monster Hunter Wilds jelas merupakan kesuksesan. Penjualan tinggi, basis pemain ramai, dan Capcom sama sekali tidak gagal secara bisnis. Namun justru di situlah letak paradoksnya. Wilds menjadi titik di mana sebagian penggemar lama mulai merasa Monster Hunter melangkah terlalu jauh meninggalkan akarnya. Dunia yang lebih terbuka dan sistem yang dipermudah memang membuat game ini jauh lebih ramah bagi pendatang baru, tetapi di saat yang sama perlahan mengikis rasa perjuangan yang dulu menjadi identitas utama seri ini.

Berburu kini terasa lebih cepat dan efisien, namun juga lebih “dingin”. Banyak veteran merasa Wilds dirancang untuk flow modern yang serba mulus, bukan untuk membangun ketegangan jangka panjang yang biasanya lahir dari persiapan, kesalahan, dan kegagalan berulang. Masalahnya, perubahan ini tidak diimbangi dengan konten baru yang benar-benar terasa segar. Variasi monster, mekanik, dan kejutan yang diharapkan justru terasa minim, seolah Wilds lebih banyak merapikan formula lama ketimbang memperkaya pengalaman berburu itu sendiri.

Situasi diperparah oleh isu teknis yang sulit diabaikan. Di luar kesan suksesnya, Monster Hunter Wilds kerap dikritik karena optimisasi yang kurang matang, terutama di PC. Penurunan performa, frame drop, hingga beban sistem yang tidak sebanding dengan kualitas visualnya membuat pengalaman bermain terasa tidak konsisten. Alhasil, kekecewaan terhadap Wilds bukan berasal dari kualitas yang buruk, melainkan dari rasa kehilangan. Bagi pemain baru, game ini mungkin terasa ideal. Namun bagi pemain lama, Wilds ibarat rumah lama yang direnovasi terlalu modern, nyaman dan bersih, tetapi kehilangan kenangan yang dulu membuatnya terasa hidup.

4. Lost Soul Aside

cuplikan Lost Soul Aside (dok. Ultizero Games/Lost Soul Aside)
cuplikan Lost Soul Aside (dok. Ultizero Games/Lost Soul Aside)

Lost Soul Aside adalah contoh klasik bagaimana trailer bisa menjadi pedang bermata dua. Sejak pertama kali diperkenalkan sebagai proyek ambisius yang terinspirasi dari Final Fantasy dan Devil May Cry, game ini langsung mencuri perhatian lewat visual yang memukau dan sistem pertarungan yang terlihat cepat serta stylish. Hype pun terbentuk selama bertahun-tahun, menempatkannya sebagai salah satu action RPG yang paling dinantikan.

Namun saat akhirnya dirilis, pengalaman yang ditawarkan terasa tidak sedalam janji awalnya. Pertarungannya memang spektakuler dan responsif, tetapi desain level cenderung repetitif, eksplorasi terbatas, dan dunia yang indah lebih sering berfungsi sebagai latar ketimbang ruang yang benar-benar hidup. Dari sisi cerita, narasinya berjalan tipis dan kurang menggigit, dengan pengembangan karakter yang terasa terburu-buru dan minim dampak emosional.

Pada akhirnya, Lost Soul Aside bukanlah game yang buruk. Ia kompeten dan menyenangkan di beberapa bagian, terutama bagi pemain yang mencari aksi cepat dan visual atraktif. Namun ia gagal menjadi pengalaman besar seperti yang dibayangkan banyak orang. Kekecewaan ini lahir dari jurang antara presentasi visual yang terlalu meyakinkan dan isi permainan yang ternyata jauh lebih sederhana dari ekspektasi.

5. MindsEye

Jacob Diaz MindsEye (dok. Build A Rocket Boy)
Jacob Diaz MindsEye (dok. Build A Rocket Boy)

Jika ada satu game yang menjadi simbol kekecewaan kolektif 2025, maka MindsEye adalah kandidat terkuat. Dengan konsep open-world sinematik yang ambisius, game ini sejak awal dipasarkan sebagai pengalaman naratif besar berikutnya. Ekspektasi itu tidak muncul tanpa alasan. MindsEye dikembangkan oleh Build A Rocket Boy, studio yang dipimpin oleh Leslie Benzies, sosok yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai otak di balik kesuksesan seri Grand Theft Auto. Bagi banyak orang, MindsEye bukan sekadar game baru, ia adalah “proyek pembuktian” dari salah satu figur paling berpengaruh di industri.

Sayangnya, realita berkata lain. Saat rilis, MindsEye langsung dibanjiri kritik terkait performa teknis yang bermasalah, desain misi yang monoton, serta dunia terbuka yang terasa kosong dan kurang interaktif. Alih-alih menawarkan kebebasan dan kedalaman seperti yang diharapkan dari nama besar di belakangnya, game ini justru terasa sempit dan kaku. Narasi sinematik yang dijanjikan pun sering terputus oleh gameplay repetitif, membuat pengalaman bermain kehilangan ritme dan urgensi emosionalnya.

Yang paling menyakitkan dari MindsEye adalah kenyataan bahwa game ini hampir berhasil. Ada ide menarik, ada fondasi dunia yang sebenarnya menjanjikan, namun semuanya terasa seperti dirilis sebelum benar-benar matang. Ambisi besar tidak diimbangi dengan eksekusi yang rapi dan fokus desain yang jelas. MindsEye akhirnya menjadi pengingat pahit bahwa reputasi masa lalu—sebesar apa pun—tidak otomatis menjamin kualitas di masa depan.

Kelima game ini menunjukkan satu benang merah yang sulit diabaikan: kekecewaan terbesar lahir bukan dari game yang sepenuhnya buruk, melainkan dari game yang menjanjikan sesuatu yang lebih besar dari apa yang akhirnya mereka berikan. Tahun 2025 dipenuhi judul dengan nama besar, warisan panjang, dan ambisi tinggi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa hype adalah pedang bermata dua. Dalam industri yang semakin kompetitif, nostalgia, reputasi, dan trailer indah tidak lagi cukup. Pada akhirnya, yang menentukan bukan seberapa besar janji yang diucapkan—melainkan seberapa matang ia diwujudkan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Fahrul Razi Uni Nurullah
EditorFahrul Razi Uni Nurullah
Follow Us

Latest in Game

See More

5 Game Paling Mengecewakan di 2025, Kamu Zonk yang Mana?

01 Jan 2026, 17:00 WIBGame