Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
Install

5 Masalah Jean Grey di Film X-Men yang Sebaiknya Dihindari MCU

5 Masalah Jean Grey di Film X-Men yang Sebaiknya Dihindari MCU
adegan dalam film X-Men: The Last Stand (dok. 20th Century Fox/X-Men: The Last Stand)
  • Sadie Sink resmi menjadi Jean Grey MCU dan debut dalam Spider-Man: Brand New Day.
  • Dua adaptasi live-action sebelumnya dinilai terlalu cepat membawa Jean ke fase Dark Phoenix serta kurang memberi ruang bagi hubungan emosionalnya.
  • Kemampuan psionik Jean telah ditampilkan sebelum Phoenix Force, termasuk telekinesis skala besar dan pengaruh pada orang-orang di East River.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Haruskah Jean Grey MCU dibangun perlahan sebelum Dark Phoenix?
Share Article

Sadie Sink resmi menjadi Jean Grey di Marvel Cinematic Universe, dan ia melakukan debutnya di Spider-Man: Brand New Day.

Lucunya, ini berarti sejauh ini kita sudah punya tiga versi Jean Grey live-action di film Marvel. Dan dua versi sebelumnya punya masalahnya masing-masing.

Lalu, apa saja kesalahan dalam mengolah Jean Grey di film X-Men yang sebaiknya dihindari Marvel Studios?

Mari kita bahas!

  1. 1. Buru-buru Masuk ke Dark Phoenix

    urutan nonton film X-Men sesuai tahun rilis (dok. 20th Century Fox/X-Men: Dark Phoenix)
    urutan nonton film X-Men sesuai tahun rilis (dok. 20th Century Fox/X-Men: Dark Phoenix)

    Ini mungkin yang paling jelas.

    Dengan berbagai masalah seperti durasi produksi film, kontrak aktor, kebutuhan franchise, dan sebagainya, 20th Century Fox memang punya banyak alasan untuk tidak bisa membangun cerita Jean secara terlalu perlahan.

    Namun tetap saja, baik versi Famke Janssen maupun Sophie Turner terasa terlalu cepat dibawa menuju fase Dark Phoenix.

    Padahal, kisah Phoenix seharusnya menjadi sesuatu yang dibangun perlahan.

    Jean perlu terlebih dahulu memiliki sesuatu yang berharga. Yang, kalau dia kehilangan sesuatu itu, akan menyakitinya.

    Ia perlu punya hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Ia perlu merasa menjadi bagian dari sesuatu. Ia perlu berkembang sebagai manusia dan sebagai mutant.

    Barulah ketika semua itu mulai runtuh, tragedi Dark Phoenix bisa terasa jauh lebih menyakitkan. Dan ini justru menjadi sesuatu yang menarik untuk versi Sadie Sink.

    Jean MCU memulai perjalanannya dalam kondisi yang jauh lebih terisolasi. Kalau Marvel benar-benar sabar membiarkannya berkembang dari sana, prosesnya bisa terasa jauh lebih natural.

  2. 2. Minim Kedalaman Emosi dan Hubungan Jean dengan Karakter Lain

    Jean Grey mengembalikan ingatan Wolverine
    Jean Grey mengembalikan ingatan Wolverine (dok. 20th Century Fox/X-Men: Apocalypse)

    Di komik, transformasi Jean menjadi Phoenix lalu Dark Phoenix terasa kuat karena hubungannya dengan X-Men sudah dibangun dengan sangat jelas.

    Jean bukan sekadar seorang mutant yang tiba-tiba mendapatkan kekuatan besar.

    Ia sudah punya keluarga, sahabat, orang yang ia cintai, dan komunitas yang menjadi bagian penting dari kehidupannya.

    Bahkan ada siklus yang menarik: Jean mendapatkan segalanya, lalu perlahan kehilangan semakin banyak.

    Itulah yang membuat transformasinya menjadi Dark Phoenix terasa tragis.

    Sementara versi Famke Janssen maupun Sophie Turner terasa terlalu sibuk dengan berbagai konflik besar sehingga hubungan Jean dengan orang-orang di sekitarnya tidak selalu mendapatkan ruang yang cukup.

    Kalau Marvel lebih sabar dengan Jean Sadie Sink, membiarkannya yang awalnya tidak punya siapa-siapa mulai menemukan komunitas, memiliki sahabat, mungkin mendapatkan sosok yang ia cintai, kemudian mencapai fase Phoenix sebelum tragedi mulai menghancurkan semuanya...

    Nah, itu bisa jauh lebih memikat.

    Jean tidak berubah menjadi Dark Phoenix hanya karena: "Kekuatan saya terlalu besar dan emosi saya tidak stabil."

    Penonton harus terlebih dahulu merasa: "Jean sudah punya sesuatu yang sangat berharga. Dan sekarang semuanya mulai diambil darinya."

  3. 3. Versi Famke Janssen: Jean Tertimbun Plot Lain

    adegan dalam film X-Men: The Last Stand
    adegan dalam film X-Men: The Last Stand (dok. 20th Century Fox/X-Men: The Last Stand)

    Pengorbanan Jean Grey di X-Men 2 sebenarnya merupakan salah satu momen paling berkesan dalam film tersebut.

    Ia menggunakan kekuatannya untuk menyelamatkan X-Men, dan adegan tersebut bahkan membuat penonton penasaran seperti apa kelanjutan kisah Phoenix versi live-action.

    Lalu X-Men: The Last Stand rilis... dan kisah Jean harus berbagi ruang dengan berbagai konflik lain, termasuk plot mengenai mutant cure, konflik antara manusia dan mutant, serta banyak karakter tambahan.

    Akibatnya, perkembangan Jean tidak selalu mendapatkan ruang yang semestinya.

    Kalau Jean versi Sadie Sink nantinya mencapai fase Dark Phoenix, semoga Marvel tidak mengulangi hal serupa.

    Biarkan kisah Jean benar-benar menjadi kisah Jean.

    Tidak harus membuat seluruh film hanya tentang dia, tetapi jangan sampai perkembangan karakternya tenggelam karena terlalu banyak plot lain.

  4. 4. Pendorong Transformasi Jean Kurang Menarik Dibandingkan Hellfire Club

    Ilustrasi Hellfire Club, kelompok antagonis dalam komik X-Men terbitan Marvel Comics, bersama para anggotanya.
    Hellfire Club di komik X-Men. (Dok. Marvel Comics)

    Salah satu elemen menarik dari Dark Phoenix Saga di komik adalah peran Hellfire Club, terutama Mastermind.

    Mastermind bukan sekadar villain yang muncul untuk berkata: "Jean, pakai kekuatan jahatmu!"

    Ia memanipulasi persepsi Jean terhadap realitas, membuatnya melihat dirinya sebagai Black Queen dan mengeksploitasi emosi serta keinginannya.

    Jadi transformasi Dark Phoenix bukan sekadar kekuatan terlalu besar + emosi tidak stabil. Ada unsur manipulasi psikologis, godaan kekuasaan, identitas, kebebasan moral, dan god complex.

    Itulah yang membuat prosesnya jauh lebih menarik.

    Dua versi live-action sebelumnya belum benar-benar mendapatkan padanan yang sekuat itu. Bahkan Vuk di Dark Phoenix terasa lebih seperti katalis cerita daripada sosok yang memiliki hubungan psikologis kompleks dengan Jean.

    Dan ini membuat kabar mengenai Emma Frost menjadi menarik.

    Emma di komik merupakan White Queen dari Hellfire Club, dan pada era Dark Phoenix Saga ia masih berada di sisi antagonistis.

    Jadi apakah keberadaan Emma Frost di X-Men MCU nantinya bisa berarti Hellfire Club akan memainkan peran penting dalam perkembangan Jean?

    Kalau iya... itu bisa menjadi arah yang sangat menarik.

  5. 5. Kekuatan Jean Secara Personal Kurang Dieksplorasi

    Sosok misterius yang diduga Jean Grey. (GamesRadar)
    Sosok misterius yang diduga Jean Grey. (GamesRadar)

    Ada satu hal lagi yang terasa kurang mendapatkan perhatian dalam film-film X-Men sebelumnya: Jean sebagai mutant dengan kekuatannya sendiri.

    Kekuatan Jean sering kali lebih banyak digunakan untuk mendukung konflik internal Dark Phoenix atau drama hubungan romantis.

    Bahkan ketika Phoenix muncul, sisi destruktif Dark Phoenix cenderung lebih ditonjolkan daripada sisi Phoenix sebagai kekuatan luar biasa yang juga bisa digunakan secara positif.

    Dan sebelum mencapai fase Phoenix, Jean juga sering terasa agak tertutupi oleh telepath lain. Memang, ini agak sulit ketika film yang sama juga memiliki Professor X.

    Namun Brand New Day justru sudah memberikan pendekatan yang menarik.

    Jean Sadie Sink sudah menunjukkan bahwa dirinya sendiri memiliki kemampuan psionik yang luar biasa bahkan sebelum Phoenix Force diperkenalkan.

    Ia bisa membajak tubuh orang lain, menggunakan telekinesis dalam skala besar, dan bahkan memengaruhi begitu banyak orang di sekitar East River.

    Jadi untuk pertama kalinya, kita mendapatkan Jean Grey live-action yang terasa: "Wow, Jean sendiri memang monster telepath/telekinetic." Bukan sekadar: "Tunggu sampai Phoenix-nya bangkit."

    Dan menurut saya, ini fondasi yang jauh lebih menarik.

    Sekarang tinggal kita lihat apakah Marvel Studios akan benar-benar bersabar membangun Jean dari titik ini.

    Karena kalau mereka berhasil membuat kita mencintai Jean sebelum menghancurkannya, perjalanan menuju Phoenix dan Dark Phoenix bisa menjadi jauh lebih tragis daripada dua versi sebelumnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More