Ringgo Agus Rahman sebagai Jaya. (Dok. Netflix/Aku Sebelum Aku)
Aspek yang paling membekas bagi saya setelah menonton adalah karakter Jaya.
Bisa dibilang dialah sosok yang paling mendekati antagonis dalam film ini. Bagaimanapun juga, Jaya adalah penghalang terbesar bagi kebahagiaan dan ketenangan Jati.
Namun yang membuatnya menarik adalah betapa manusiawinya karakter ini dibangun.
Jaya bukan sosok ayah yang terasa seperti karikatur atau tokoh jahat satu dimensi. Ia benar-benar terlihat peduli pada anaknya. Ia memikirkan masa depan Jati. Ia yakin bahwa semua yang ia lakukan adalah demi kebaikan sang anak dan keluarganya.
Namun sejak awal film, penonton juga bisa melihat bahwa cara yang ia tempuh justru menghancurkan Jati sedikit demi sedikit.
Ketika masa lalu yang selama ini ia sembunyikan akhirnya terungkap, film memberikan gambaran yang lebih jelas tentang asal-usul luka yang ia bawa. Momen ini tidak serta-merta membuat penonton memaafkannya, tetapi bisa membuat banyak orang memahami bagaimana ia sampai menjadi sosok seperti sekarang.
Reaksi yang muncul mungkin bukan:
“Oh, ternyata dia benar.”
Melainkan:
“Saya mengerti kenapa dia menjadi seperti ini, tetapi saya tetap tidak setuju dengan cara dia memperlakukan anaknya.”
Dan menurut saya, itulah kekuatan terbesar karakter Jaya.
Ia menghadirkan pertanyaan yang tidak nyaman bagi para penonton dewasa:
Bukankah sangat mudah bagi seorang ayah yang hanya menginginkan yang terbaik untuk anaknya untuk tanpa sadar tergelincir menjadi sosok seperti Jaya? Bukankah memang semudah itu tergelincir hingga luka masa lalu mengalir ke orang yang benar-benar kita sendiri cintai?
Karena alasan itulah Jaya menjadi salah satu “antagonis” paling menarik yang pernah saya lihat dalam drama keluarga Indonesia belakangan ini.