Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
For
You

5 Serial TV Populer yang Endingnya Dihujat! Game of Thrones?

Game of Thrones (dok. HBO)
Game of Thrones (dok. HBO)
Intinya sih...
  • How I Met Your MotherDari 2006 hingga 2014, How I Met Your Mother adalah salah satu serial TV paling digemari di dunia. Namun ending-nya mendapat kritik karena terasa seperti pengkhianatan terhadap perjalanan karakter.
  • Game of ThronesSeason 8 secara keseluruhan sudah terasa sebagai salah satu season paling lemah sepanjang seri. Ending-nya benar-benar dihujat dengan rating 4/10 dari sekitar 279.000 suara di IMDb.
  • Umbrella AcademySeason terakhir mendapat kritik karena ending yang terasa terburu-buru dan anti-klimaks. Konflik besar diselesaikan tanpa bobot emosional yang setara, membuat penonton bertanya: "Untuk apa gue ngikutin ini dari aw
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

“Perjalanan lebih penting dari tujuan” sering dipakai untuk membela petualangan panjang sebuah cerita.

Tapi dalam konteks serial TV, frasa itu tidak selalu berlaku.

Karena ketika tujuannya, ending, jatuh ke level yang mengecewakan, dampaknya bisa sangat fatal. Sebuah seri yang dulu dibicarakan di mana-mana, dinanti tiap minggu, dan membentuk obrolan pop culture, bisa mendadak lenyap dari percakapan.

Bukan cuma penonton lama yang merasa dikhianati. Penonton baru pun ikut ragu untuk mulai menonton, karena tahu bahwa sebaik apa pun perjalanannya, ujung cerita akan merusak memori menuju episode terakhir. Alih-alih penasaran, yang muncul justru pertanyaan: “Buat apa invest waktu dan emosi, kalau akhirnya begini?”

Lalu, serial TV populer apa saja yang mengalami nasib pahit ini, ending yang bukan cuma kontroversial, tapi benar-benar dihujat?

Mari kita lihat daftarnya.

1. How I Met Your Mother

poster serial televisi (Imdb.com/How I Met Your Mother)
poster serial televisi (Imdb.com/How I Met Your Mother)

Dari 2006 hingga 2014, How I Met Your Mother adalah salah satu serial TV paling digemari di dunia. Karakter-karakternya ikonik, dinamika persahabatannya kuat, dan dialognya penuh kutipan yang hidup lama di kalangan penonton, terutama lewat sosok Barney Stinson.

Selama hampir satu dekade, penonton diajak berinvestasi emosi: menyaksikan Ted, Marshall, Lily, Robin, dan Barney tumbuh, gagal, berubah, lalu menemukan versi terbaik (atau paling jujur) dari diri mereka masing-masing.

Lalu… ending-nya datang. Dan nama How I Met Your Mother mendadak tercoreng.

Respons fans tercermin jelas di rating IMDb. Episode-episode akhir sebelum penutup, Season 9 episode 20 hingga 22, masih mendapat nilai tinggi: 8,3, 8,1, dan 8,8. Namun dua episode terakhir, Last Forever: Part One dan Part Two, anjlok ke 6,6 dan bahkan 5,5.

Masalahnya bukan sekadar “tidak sesuai ekspektasi”, tapi terasa seperti pengkhianatan terhadap perjalanan panjang karakter: perkembangan karakter yang dibangun bertahun-tahun seolah dibatalkan begitu saja, Tracy, sosok “Mother” yang dinanti sepanjang seri, terasa dimatikan terlalu cepat dan tanpa ruang emosional yang pantas, Ted, yang sudah melalui proses panjang untuk move on, terasa dipaksa kembali ke Robin demi menutup cerita sesuai rencana lama kreatornya.

Akibatnya, ending ini bukan hanya mengecewakan, ini mengubah cara orang mengingat keseluruhan seri.

Dan sampai hari ini, setiap kali How I Met Your Mother dibicarakan, hampir selalu ada satu catatan pahit yang ikut muncul: “Serinya bagus… tapi ending-nya sayang banget.”

2. Game of Thrones

HBO/Game of Thrones
HBO/Game of Thrones

Ah. Game of Thrones.

Pernah ada masa ketika serial ini terasa jadi buah bibir semua orang. Setiap musim baru jadi peristiwa budaya. Bahkan penonton yang tak pernah menyentuh novelnya pun bisa ikut tenggelam dalam dunia fantasi epik kelam karya George R. R. Martin, sebuah adaptasi yang, di awal-awal, terasa solid meski harus memangkas karakter dan detail dari buku.

Momen seperti Red Wedding bukan hanya mengguncang pembaca novelnya, tapi juga penonton serialnya. Ia membangun reputasi Game of Thrones sebagai seri yang kejam, tak terduga, dan berani menghancurkan ekspektasi penonton.

Lalu muncul pertanyaan krusial: Apa yang terjadi kalau serialnya melampaui bukunya?

Jawabannya: tidak bagus.

Masalah Game of Thrones bukan hanya terletak pada episode terakhir. Season 8 secara keseluruhan sudah terasa sebagai salah satu season paling lemah sepanjang seri. Di IMDb, episode dengan rating tertinggi di Season 8 hanya mencapai 7,9 (S8E2 – A Knight of the Seven Kingdoms). Bandingkan dengan Season 7 yang masih mampu menghasilkan episode dengan rating 9,7 (S7E4 – The Spoils of War).

Dan kemudian… ending-nya datang.

Episode penutup Game of Thrones benar-benar dihujat, dengan rating 4/10 dari sekitar 279.000 suara di IMDb, angka yang mencerminkan kekecewaan kolektif skala global. Alur terasa terburu-buru, keputusan karakter mendadak, dan konflik besar yang dibangun bertahun-tahun seolah diselesaikan tanpa bobot emosional yang sepadan.

Sejak saat itu, reputasi Game of Thrones goyah. Bahkan kehadiran House of the Dragon, meski secara kualitas lebih rapi dan fokus, belum sepenuhnya mampu mengembalikan citra franchise ini ke level emasnya di era 2011–2018.

Game of Thrones tetap dikenang sebagai fenomena besar. Namun juga sebagai pengingat pahit bahwa serial sehebat apa pun bisa runtuh, bukan karena awalnya buruk, tapi karena akhirnya gagal memberi makna.

3. Umbrella Academy

Karakter yang ada pada series The Umbrella Academy
Poster Series The Umbrella Academy

The Umbrella Academy adalah seri yang sejak awal disambut cukup hangat. Gayanya unik, karakternya eksentrik, dan pendekatannya terhadap genre superhero terasa berbeda. Terutama Season 2, yang sering dianggap sebagai titik di mana seri ini benar-benar menunjukkan taringnya, konsisten secara kualitas, fokus secara emosi, dan mampu menyeimbangkan kekacauan cerita dengan perkembangan karakter.

Lalu datang… season terakhir.

Respons penonton di IMDb menggambarkan penurunan ini dengan cukup jelas. Di Season 4, episode dengan sambutan terbaik adalah S4E2 – Jean and Gene, dengan rating 7,2 dari sekitar 2.900 ulasan. Angka yang masih “oke”, tapi jauh dari impresif.

Episode-episode lainnya mayoritas berkutat di kisaran 6,0, dan situasinya makin memburuk menjelang akhir.

S4E5 hanya mendapat rating 5,7 dari 3.200 ulasan.

Episode terakhir bahkan turun ke 4,9 dari 5.000 ulasan, menjadi rating terendah dalam satu season tersebut.

Masalah utamanya kembali ke pola yang sama: ending yang terasa terburu-buru dan anti-klimaks. Konflik besar diselesaikan tanpa bobot emosional yang setara, sementara perjalanan panjang para karakter, yang sebelumnya jadi kekuatan utama seri ini, mendadak terasa tak berarti.

Lebih buruk lagi, nuansa akhirnya terasa kejam, tapi tanpa makna yang jelas. Bukan tragedi yang menggugah, melainkan kehampaan yang membuat penonton bertanya: “Untuk apa gue ngikutin ini dari awal?”

4. Stranger Things

Dustin di Stranger Things
Dustin di Stranger Things (dok. Netflix/Stranger Things)

Untuk saat ini, Stranger Things (khususnya di musim terakhirnya) belum sampai mengalami nasib seburuk contoh-contoh lain di daftar ini. Penerimaannya memang terbelah, tapi belum sepenuhnya runtuh.

Namun satu hal jelas: ending Stranger Things tetap dinilai kontroversial.

Masih ada pembela yang menilai penutupnya emosional dan setia pada karakter. Tapi di sisi lain, luapan frustrasi penonto, terutama di media sosial, juga tak bisa diabaikan. Perdebatan ini menandakan satu hal: ending-nya gagal mencapai konsensus emosional.

Salah satu kritik terbesar adalah keputusan naratif untuk menghabiskan banyak durasi pada epilog karakter, alih-alih memperkaya atau memperpanjang final battle. Bagi sebagian penonton, fokus ini terasa timpang, terutama mengingat skala ancaman yang sudah dibangun selama beberapa musim.

Kritik lain menyasar penyajian konflik akhir. Pertempuran terasa relatif “lebih mudah” karena absennya Demogorgon di klimaks, serta penjelasan dari Duffer Brothers yang hanya menyebut alasan absen itu semata karena Vecna “tidak menyangka akan diserang di wilayahnya sendiri.” Bagi banyak penonton, alasan ini terasa lebih seperti pembenaran pasca-episode ketimbang logika dramatik yang kuat di dalam cerita.

Ketidakjelasan nasib Eleven juga menambah rasa tidak tuntas. Alih-alih memberi resolusi tegas, seri ini memilih ambiguitas, yang sayangnya tidak diimbangi dengan narasi yang cukup kuat untuk menenangkan penonton.

Yang memperparah, beberapa kejanggalan justru dijelaskan lewat wawancara, bukan melalui teks cerita itu sendiri. Pendekatan ini membuat kesan bahwa Stranger Things mencoba “menambal” kekurangan ending-nya di luar laya, bukan membiarkan ceritanya berbicara.

Sekarang kita tunggu saja apakah seiring berjalannya waktu ending ini akan diterima lebih baik... atau malah lebih hancur.

5. Dexter (original run)

poster Dexter
poster Dexter (dok. Showtime/Dexter)

Saat pertama tayang (2006–2013), Dexter adalah salah satu serial kriminal paling dipuja. Premisnya unik, karakternya kuat, dan sejumlah episodenya bahkan dianggap nyaris sempurna.

Cukup lihat rekam jejaknya di IMDb:

  • S1E12 – Born Free mencetak rating 9,6
  • S4E12 – The Getaway bahkan mencapai 9,8, dan kerap disebut sebagai salah satu episode terbaik dalam sejarah TV modern

Namun semua pujian itu runtuh ketika episode terakhir original run ditayangkan.

Rating episode penutupnya? 4,9 dari sekitar 31.000 suara di IMDB.

Angka ini menempatkan Dexter sebagai salah satu contoh paling ekstrem dari ending yang benar-benar dihujat secara masif di televisi Barat.

Masalah utamanya kembali ke dosa besar serial TV: membuat perkembangan karakter terasa sia-sia. Setelah bertahun-tahun mengikuti konflik batin Dexter, penonton justru disuguhi keputusan akhir yang terasa kontroversial, meninggalkan semua relasi dan hidup menyendiri di antah berantah. Alih-alih terasa tragis atau reflektif, banyak yang menilainya kosong.

Tak sedikit penonton yang merasa seluruh investasi waktu dan emosi mereka berujung pada kesimpulan yang melemahkan makna perjalanan sebelumnya.

Ironisnya, sejarah ini sempat terulang lewat Dexter: New Blood. Seri ini awalnya disambut positif, namun lagi-lagi, ending-nya memicu kekecewaan besar dan debat sengit di kalangan fans.

Setidaknya, bagi penggemar Dexter, kisah ini belum sepenuhnya berakhir. Upaya lanjutan lewat Dexter: Resurrection, yang tayang pada 2025, diterima jauh lebih baik secara umum, dan season 1 berakhir memuaskan.

Apakah itu berarti luka lama benar-benar sembuh? Mungkin tidak sepenuhnya.

Tapi perjalanan Dexter sudah menjadi pelajaran klasik bahwa satu episode terakhir bisa menjatuhkan reputasi yang dibangun selama bertahun-tahun, dan betapa sulitnya memperbaiki kesan itu setelahnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Fahrul Razi Uni Nurullah
EditorFahrul Razi Uni Nurullah
Follow Us

Latest in Film

See More

4 Hal Menarik dari Teaser X-Men untuk Avengers: Doomsday! Cyclops

06 Jan 2026, 21:27 WIBFilm