Penilaian Film Na Willa, Nostalgia Masa Kecil yang Hangat

- Na Willa disutradarai Ryan Adriandhy dan diadaptasi dari karya Reda Gaudiamo, menampilkan kisah masa kecil Willa di Surabaya 1960-an dengan sudut pandang polos seorang anak.
- Film ini menonjol lewat rekonstruksi visual Surabaya lama yang detail dan penggunaan kamera dari perspektif anak, menciptakan suasana nostalgia yang hangat namun berirama lembut.
- Dengan cerita sederhana tanpa konflik besar, Na Willa menghadirkan refleksi tenang tentang keluarga, rasa ingin tahu, serta kenangan kecil yang membentuk makna masa kanak-kanak.
Disutradarai oleh Ryan Adriandhy dan diadaptasi dari buku karya Reda Gaudiamo, Na Willa mencoba membawa penonton kembali ke masa kecil melalui perspektif seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Willa. Ceritanya berlatar Surabaya pada era 1960-an, masa ketika kehidupan masih sederhana dan dunia anak dipenuhi rasa ingin tahu yang tidak pernah habis.
Film ini tidak dibangun dengan konflik besar sebagaimana drama keluarga pada umumnya. Justru sebaliknya, cerita bergerak dari kejadian-kejadian kecil: bermain di gang, bertemu teman, bertanya banyak hal kepada orang tua, hingga mencoba memahami dunia yang terasa begitu luas bagi seorang anak. Willa melihat semua itu dengan cara yang polos dan jujur, sebuah perspektif yang jarang benar-benar digarap serius dalam film keluarga Indonesia.
Pendekatan ini membuat Na Willa terasa seperti kumpulan fragmen kenangan masa kecil. Tidak selalu dramatis, tetapi penuh detail kecil yang terasa personal. Film ini seolah mengajak penonton dewasa untuk kembali mengingat masa ketika dunia terasa sederhana, namun penuh misteri.
1. Rekonstruksi Surabaya Lama yang Jadi Kekuatan Visual Film

Salah satu kekuatan terbesar Na Willa terletak pada pembangunan dunianya. Film ini mencoba merekonstruksi atmosfer Surabaya pada tahun 1960-an dengan detail yang cukup meyakinkan, mulai dari rumah di gang sempit, permainan anak-anak, hingga suasana sosial yang terasa lebih santai dibanding kehidupan kota modern.
Pendekatan visual yang digunakan juga cukup menarik. Kamera sering ditempatkan mengikuti sudut pandang Willa, membuat dunia orang dewasa terasa lebih besar dan kadang membingungkan. Dengan cara ini, penonton diajak merasakan bagaimana seorang anak melihat lingkungannya—penuh rasa penasaran, sekaligus sedikit takut terhadap hal-hal yang belum ia pahami.
Namun pendekatan yang sangat atmosferik ini juga membawa konsekuensi pada ritme film. Tanpa konflik yang terlalu kuat, beberapa bagian cerita terasa berjalan lambat. Film lebih terasa seperti perjalanan suasana daripada narasi dramatis yang bergerak dengan intensitas tinggi.
2. Film Keluarga yang Mengandalkan Kesederhanaan Cerita

Di tengah industri film Indonesia yang saat ini didominasi horor dan drama romantis, kehadiran Na Willa terasa seperti alternatif yang berbeda. Film ini memilih fokus pada cerita anak dan keluarga dengan pendekatan yang ringan namun reflektif.
Yang menarik, film ini tidak terasa seperti ingin menggurui. Nilai-nilai tentang keluarga, rasa hormat, dan proses belajar memahami dunia disampaikan secara natural melalui pengalaman sehari-hari Willa. Tidak ada dialog panjang yang terasa seperti ceramah moral; semuanya mengalir lewat interaksi sederhana.
Pada akhirnya, Na Willa bukan film yang benar-benar baru. Ide seperti Na Willa sudah berulang kali digunakan di film-film Hollywood, terutama yang dibuat oleh studio Disney. Untung Na Willa memang tidak pernah mencoba menjadi sesuatu yang spektakuler. Ia berdiri pada kekuatan kecil, karakter yang hangat, dunia yang terasa hidup, dan cerita sederhana yang dekat dengan pengalaman banyak orang.
3. Nostalgia Tenang tentang Masa Kecil

Na Willa adalah film yang bergerak dengan tempo lembut dan penuh empati terhadap dunia anak-anak. Ia mungkin tidak menawarkan konflik besar atau drama emosional yang meledak-ledak, tetapi justru kekuatannya terletak pada detail kecil kehidupan sehari-hari.
Bagi penonton yang mencari film keluarga dengan nuansa nostalgia kuat, Na Willa menjadi pengingat sederhana bahwa masa kecil tidak selalu diisi peristiwa besar. Terkadang, justru momen paling kecil, bermain di gang, berbincang dengan orang tua, atau sekadar memandangi dunia dengan rasa ingin tahu yang akhirnya menjadi kenangan paling bertahan lama.
Sinopsis Na Willa (2026)
Na Willa mengikuti kehidupan seorang anak perempuan bernama Willa yang tumbuh di Surabaya pada era 1960-an. Melalui sudut pandang polos seorang anak, film ini menggambarkan dunia yang penuh rasa ingin tahu, permainan sederhana, serta hubungan hangat dengan keluarga dan lingkungan sekitar.
Disutradarai oleh Ryan Adriandhy dan diadaptasi dari karya Reda Gaudiamo, cerita bergerak melalui momen-momen kecil dalam kehidupan Willa—bermain di gang, bertemu teman baru, hingga memahami cara orang dewasa menjalani hidup. Orang tuanya, yang diperankan oleh Junior Liem dan Irma Rihi, menjadi figur penting yang perlahan membentuk cara pandang Willa terhadap dunia.
Alih-alih menghadirkan konflik besar, film ini menekankan perjalanan emosional seorang anak dalam mengenal lingkungan, keluarga, dan dirinya sendiri. Na Willa menghadirkan kisah sederhana tentang masa kecil yang penuh kehangatan, sekaligus mengajak penonton dewasa untuk kembali mengingat kenangan kecil yang pernah mereka miliki.
| Producer | Anggia Kharisma, Novia Puspa Sari |
| Writer | Ryan Adriandhy |
| Age Rating | SU |
| Genre | Drama, Keluarga |
| Duration | 118 Minutes |
| Release Date | 18-03-2026 |
| Theme | friendship, based on novel or book, coming of age, female protagonist, child protagonist, kid, surabaya, children |
| Production House | Visinema Pictures, Visinema Studios |
| Where to Watch | Cinema XXI, CGV, Cinepolis |
| Cast | Luisa Adreena, Freya Mikhayla, Ibrahim Arsenio, Azamy Syauqi, Irma Novita Rihi |
















