Penilaian Film Mercy: Detektif Chris Pratt Melawan AI di Pengadilan

Film Mercy langsung mencuri perhatian lewat konsepnya: sistem peradilan berbasis AI yang berperan sebagai hakim, juri, sekaligus algojo. Dalam dunia ini, seorang terdakwa hanya punya 90 menit untuk membuktikan dirinya tidak bersalah sebelum vonis dan eksekusi dijatuhkan.
Chris Raven (Chris Pratt) adalah detektif yang justru ikut mengadvokasi sistem Mercy. Ia terbangun dalam kondisi mabuk dan cedera kepala, lalu diberi tahu bahwa istrinya dibunuh dan terdapat 97,5 persen kemungkinan bahwa dialah pelakunya. Tanpa pengacara, tanpa kebebasan bergerak, dan hanya berbekal akses data digital, Raven harus menurunkan tingkat “kesalahannya” atau mati di kursi itu juga.
Sebagai ide, Mercy terasa sangat relevan dengan zaman sekarang ketika algoritma semakin dipercaya untuk menentukan kebenaran.
1. Ketegangan Terjaga, Tapi AI Terasa Ketinggalan Zaman

Masalah mulai muncul ketika film mencoba memvisualkan kecerdasan buatan itu sendiri. Judge Maddox, algoritma yang diperankan oleh Rebecca Ferguson, justru terasa terlalu “manusiawi”. Dialog tentang intuisi, empati, bahkan gestur penuh makna membuat AI ini lebih menyerupai karakter drama daripada mesin pengambil keputusan berbasis data.
Alih-alih terasa seperti AI modern ala Ex Machina, pendekatan film ini lebih mengingatkan pada thriller 90-an. Ketegangan memang tetap terjaga, terutama lewat batas waktu yang terus menyusut, namun ilusi tentang teknologi masa depan perlahan runtuh karena representasi AI yang tidak meyakinkan.
2. Paruh Akhir yang Menghancurkan Fondasi Cerita

Selama sekitar 75 menit, Mercy bekerja cukup efektif sebagai misteri pembunuhan sekaligus drama ruang sidang futuristik. Penonton diajak menebak, menyusun ulang kejadian, dan mempertanyakan sistem yang mengklaim dirinya maha tahu.
Sayangnya, semua itu runtuh di babak ketiga. Resolusi yang disajikan naskah Marco van Belle bukan hanya membingungkan, tetapi juga memaksa film meninggalkan premis awalnya sendiri. Jika cerita ditelusuri ulang dari sudut pandang pelaku, rangkaian peristiwa yang diminta untuk dipercaya terasa tidak masuk akal.
Alih-alih menjadi kritik tajam terhadap keadilan berbasis algoritma, film ini justru terjebak dalam twist yang merusak koherensi logika.
3. Visual Solid, Akting Menyelamatkan, Tapi Tak Cukup

Dari sisi teknis, Mercy sebenarnya sangat rapi. Skor musik Ramin Djawadi memberi dorongan tensi yang konsisten, sinematografi Khalid Mohtaseb tampil sleek, dan efek visual, terutama desain drone polisi, cukup memikat.
Sutradara Timur Bekmambetov piawai membangun atmosfer tegang dalam ruang terbatas. Chris Pratt tampil cukup fun, bermain di antara panik, percaya diri, dan keputusasaan. Rebecca Ferguson pun menikmati perannya, meski karakter Maddox sendiri terlalu empatik untuk benar-benar terasa sebagai AI.
Pada akhirnya, Mercy adalah film dengan ide brilian yang gagal di garis akhir. Ia sempat membuat kita percaya pada pertanyaan besar soal kebenaran dan keadilan di era AI, lalu meninggalkannya demi finale yang tak tahan diuji logika. Sebuah peringatan tentang bahaya mempercayai algoritma secara buta, yang ironisnya juga berlaku bagi film ini sendiri.
Sinopsis Mercy (2026)
Film Mercy berlatar di masa depan ketika sistem peradilan sepenuhnya dikendalikan oleh kecerdasan buatan bernama Mercy. Teknologi ini berperan sebagai hakim, juri, sekaligus algojo, dengan memberi waktu 90 menit kepada setiap terdakwa untuk membuktikan dirinya tidak bersalah sebelum vonis final dijatuhkan.
Chris Raven, seorang detektif yang ikut mendukung sistem Mercy, justru terbangun sebagai tersangka utama dalam kasus pembunuhan istrinya sendiri. Dengan ingatan yang terputus dan tubuh terikat di kursi eksekusi, Raven dipaksa menghadapi tuduhan yang hampir mustahil dibantah oleh mesin yang mengklaim objektivitas mutlak.
Dalam perlombaan melawan waktu, Raven berusaha menyusun kembali kebenaran melalui data digital dan potongan ingatan yang tersisa. Mercy menjadi thriller tegang yang mempertanyakan batas keadilan, peran manusia, dan bahaya mempercayai algoritma tanpa keraguan.
| Producer | Charles Roven, Robert Amidon, Timur Bekmambetov, Majd Nassif |
| Writer | Marco van Belle |
| Age Rating | R13+ |
| Genre | Science fiction, action, thriller |
| Duration | 100 Minutes |
| Release Date | 21/01/2026 |
| Theme | AI, Justice, Murder |
| Production House | Metro-Goldwyn-Mayer (MGM) |
| Where to Watch | Cinema XXI, CGV, Cinepolis |
| Cast | Chris Pratt as, Rebecca Ferguson, Kali Reis |


















