Penilaian Film Sebelum Dijemput Nenek: Bangkit Demi Menjemput Cucu!

- Film horor Indonesia Sebelum Dijemput Nenek bermain di wilayah abu-abu antara takut dan tawa, menawarkan pengalaman kolektif.
- Teror film ini dimulai dari rumah sendiri, menertawakan kematian, dan membangun karakter yang manusiawi.
- Film ini menyampaikan pesan tentang kepergian yang belum selesai dengan menggunakan horor sebagai metafora.
Film horor Indonesia beberapa tahun terakhir semakin gemar bermain di wilayah abu-abu antara takut dan tawa. Sebelum Dijemput Nenek hadir di jalur itu, bukan sebagai horor yang ingin membuat penonton trauma, melainkan sebagai pengalaman kolektif: menjerit, lalu tertawa bersama. Sejak awal, film ini sudah memberi sinyal bahwa kematian bukan sekadar urusan mistis, tetapi juga urusan keluarga, konflik lama, dan ketidaksiapan manusia menghadapi kehilangan.
Alih-alih membangun atmosfer sunyi yang pelan dan mengendap, film ini memilih tempo yang lebih ramai. Dialognya cepat, karakternya cerewet, dan horornya sering datang bersamaan dengan punchline. Pendekatan ini membuat film terasa dekat dengan penonton urban, terutama generasi muda yang tumbuh dengan meme, komika, dan horor pop.
Namun, di balik bungkus komedinya, film ini menyimpan kegelisahan yang cukup manusiawi: bagaimana jika orang yang kita cintai belum benar-benar “pergi”? Dan bagaimana jika urusan yang belum selesai justru menjadi alasan arwah itu kembali? Dari sinilah Sebelum Dijemput Nenek mulai memainkan temanya dengan cara yang ringan, tapi tidak sepenuhnya kosong.
1. Teror yang Dimulai dari Rumah Sendiri

Cerita film ini berangkat dari situasi yang sangat membumi: kematian seorang nenek dalam keluarga. Tidak ada rumah tua megah atau desa terkutuk yang eksotis, yang ada justru ruang keluarga, kamar tidur, dan dapur yang terasa akrab. Justru karena kedekatan itulah, teror film ini bekerja dengan cara yang lebih personal.
Gangguan supranatural muncul bukan dalam bentuk jumpscare berlebihan, melainkan kejadian-kejadian kecil yang mengganggu ritme hidup. Suara, penampakan singkat, dan pesan-pesan aneh menjadi pengingat bahwa kepergian sang nenek belum tuntas. Horor di sini tidak berdiri sendiri; ia selalu berhubungan dengan relasi emosional para karakter terhadap horornya.
Pendekatan ini membuat horor dalam Sebelum Dijemput Nenek terasa “sehari-hari”. Ia tidak mencoba menjadi besar dan megah, tapi cukup dekat untuk membuat penonton berpikir: bagaimana jika itu terjadi di rumah sendiri?
2. Tawa di Tengah Kematian

Kekuatan utama film ini terletak pada keberaniannya menertawakan situasi paling serius: kematian. Komedi tidak ditempatkan sebagai selingan, melainkan sebagai bagian dari mekanisme bertahan hidup para karakter. Saat takut, mereka malah melakukan hal-hal tidak penting. Saat panik, mereka salah ambil keputusan. Dan dari situlah tawa lahir.
Humor film ini cenderung verbal dan situasional. Percakapan antar karakter dibangun dengan ritme khas komedi modern, absurd, dan kadang terasa seperti obrolan tongkrongan. Ini membuat penonton merasa akrab, seolah ikut duduk bersama para tokohnya menghadapi teror yang sama.
Namun, tidak semua lelucon terasa setara. Ada momen ketika komedi terasa terlalu dominan hingga sedikit menggerus ketegangan. Horor yang seharusnya menekan justru cepat cair oleh punchline. Bagi sebagian penonton, ini mungkin mengurangi rasa takut; bagi yang lain, justru inilah identitas utamanya sebagai horor komedi.
3. Karakter yang Ribut, Tapi Manusiawi

Para karakter dalam Sebelum Dijemput Nenek tidak dibangun sebagai sosok heroik. Mereka panik, egois, penakut, dan kerap mengambil keputusan yang keliru. Justru dari ketidaksempurnaan inilah film menemukan daya tariknya. Penonton tidak diminta untuk mengagumi mereka, melainkan diajak bercermin, melihat reaksi-reaksi manusiawi saat dihadapkan pada situasi yang berada di luar kendali.
Interaksi antar karakter menjadi bahan bakar utama cerita. Konflik kecil, saling menyalahkan, hingga perbedaan cara menyikapi teror membuat dinamika terasa hidup dan organik. Setiap karakter membawa memori serta sudut pandang masing-masing tentang kehidupan mereka bersama sang nenek. Kontras inilah yang perlahan menjelaskan mengapa hubungan Hestu (Angga Yunanda) dan Akbar (Dodit Mulyanto) terasa canggung dan tak pernah benar-benar hangat.
Karakter pendukung pun hadir dengan keabsurdan yang terukur. Kotrek (Oki Rengga), seorang gentho desa yang emosional, menjadi sumber konflik sekaligus komedi yang meledak-ledak. Sementara Nisa (Wavi Zihan) tampil sebagai sosok unik, polos, tenang, dan justru memiliki ketertarikan besar pada dunia mistis hingga teori alien, memberikan warna yang tak terduga dalam cerita.
Akting para pemain mendukung pendekatan ini dengan solid. Mereka tidak bermain berlebihan meski materinya absurd. Ekspresi takut, kesal, dan kebingungan terasa alami, sehingga komedi tidak jatuh ke wilayah slapstick murahan. Bahkan dalam adegan paling kacau sekalipun, tetap ada rasa bahwa mereka adalah keluarga—atau setidaknya sekelompok orang—yang terikat oleh sejarah, konflik, dan rasa kehilangan yang sama.
4. Pesan Tentang Kepergian yang Belum Selesai

Di balik segala teror dan tawa, Sebelum Dijemput Nenek berbicara tentang satu hal sederhana: tidak semua perpisahan berjalan mulus. Ada kata-kata yang tidak sempat diucapkan, konflik yang dibiarkan menggantung, dan rasa bersalah yang diwariskan pada yang hidup.
Film ini menggunakan horor sebagai metafora. Arwah yang kembali bukan sekadar hantu, melainkan simbol dari hubungan yang belum tuntas. Dengan cara ini, elemen supranatural terasa lebih bermakna daripada sekadar alat menakut-nakuti.
Meskipun penyampaiannya ringan, pesan ini cukup konsisten hingga akhir. Film tidak mencoba menjadi terlalu filosofis, tapi cukup jujur untuk mengingatkan bahwa menghadapi kehilangan sering kali lebih sulit daripada yang kita bayangkan.
Pada akhirnya, Sebelum Dijemput Nenek bukan tentang takut pada kematian, melainkan tentang keberanian untuk menyelesaikan urusan dengan orang yang telah pergi, sebelum semuanya benar-benar terlambat.
Sinopsis Sebelum Dijemput Nenek (2026)
Kematian sang nenek seharusnya menjadi akhir dari sebuah duka, namun bagi Hestu dan Akbar, justru menjadi awal dari teror yang tak mereka pahami. Setelah prosesi pemakaman selesai, gangguan aneh mulai terjadi di rumah keluarga mereka. Penampakan, suara, dan kejadian ganjil seolah menandakan bahwa sang nenek belum benar-benar pergi.
Teror tersebut perlahan mengarah pada satu pesan yang mengganggu: arwah nenek belum bisa menyeberang dengan tenang. Melalui bantuan Ki Mangun, seorang dukun yang kehadirannya lebih sering menambah kekacauan, mereka mengetahui bahwa sang nenek ingin ditemani sebelum benar-benar “dijemput”. Waktu pun menjadi ancaman, jika keinginan itu tidak terpenuhi, bukan tidak mungkin justru mereka yang akan menyusul.
Dalam usaha menghadapi teror ini, Hestu dan Akbar terpaksa bekerja sama meski hubungan keduanya tidak pernah akur. Situasi semakin rumit dengan kehadiran Kotrek, gentho desa yang emosional, serta Nisa yang justru memiliki ketertarikan besar pada dunia mistis dan hal-hal di luar nalar. Perbedaan sikap, ketakutan, dan ego masing-masing memicu konflik sekaligus komedi di tengah ancaman supranatural.
Di balik balutan horor dan tawa, Sebelum Dijemput Nenek menyimpan cerita tentang keluarga, kehilangan, dan urusan yang belum selesai. Film ini mengajak penonton tertawa di tengah ketegangan, sekaligus merenungkan satu hal sederhana: terkadang, yang paling menakutkan bukanlah kematian, melainkan hal-hal yang tidak sempat kita selesaikan sebelum perpisahan.
| Producer | Gope T. Samtani |
| Writer | Fajar Martha Santosa & Sandi Paputungan |
| Age Rating | D17+ |
| Genre | Horror, Comedy |
| Duration | 103 Minutes |
| Release Date | 22/01/2026 |
| Theme | Supranatural, Horror |
| Production House | Rapi Film |
| Where to Watch | Cinema XXI, CGV, Cinepolis |
| Cast | Angga Yunanda, Dodit Mulyanto, Wavi Zihan, Oki Rengga, Sri Isworowati |

















