“Sekarang kami punya beberapa bintang besar dalam cast, tapi lebih sedikit uang untuk benar-benar membuat filmnya.”
6 Akar Masalah Film Street Fighter (1994), Van Damme Bermasalah?

- Sutradara tidak berpikir membuat film turnamen, ingin bikin petualangan James Bond ala Street Fighter
- Budget besar habis untuk dua aktor utama, menyebabkan kurangnya dana untuk persiapan dan aksi yang seharusnya penting dalam film adaptasi game fighting
- Capcom terus menekan agar lebih banyak karakter dimasukkan, menyebabkan screen time makin terpecah dan cerita kehilangan fokus
Waktu masih kecil, saya sering bertanya-tanya: kenapa Street Fighter terasa begitu… ajaib?
Bukan ajaib dalam arti positif, tapi ajaib dalam arti kok bisa melenceng sejauh itu dari gamenya, kok nadanya campur aduk antara film perang, komedi, dan kartun, dan kok banyak keputusan kreatifnya terasa “What were they thinking?!”
Dulu jawabannya cuma satu: “Ya namanya film jadul.”
Tapi sekarang, dengan adanya internet, wawancara lama, dan pengakuan dari orang-orang yang terlibat langsung, kita akhirnya tahu: masalah film ini bukan satu-dua hal kecil, tapi tumpukan kekacauan produksi.
Bahkan beberapa aktor dan kru sendiri sudah secara terbuka mengakui apa yang sebenarnya terjadi di balik layar, mulai dari keputusan casting, konflik kreatif, sampai kondisi aktor utamanya.
Jadi… apa saja akar masalah Street Fighter (1994) yang membuatnya jadi film seperti sekarang?
Yuk, kita jelajahi satu per satu.
1. Sejak awal sutradaranya tidak berpikir membuat film turnamen

Salah satu keanehan Street Fighter 1994 adalah filmnya tidak mengangkat turnamen, yang jadi nyawa game-nya.
Itu karena sejak awal, dilansir Guardian, Stephen E. De Souza tidak pernah mau membuat film turnamen. Dia ingin bikin semacam petualangan James Bond dengan plot proper dan lokasi eksotik.
Menariknya, Capcom justru sejalan dengan visi itu.
Dalam salah satu pertemuan awal, pihak Capcom membawa sejumlah artwork konsep untuk membantu pengembangan cerita. Salah satu gambar kuncinya memperlihatkan M. Bison sebagai penjahat paling dicari di dunia, bersembunyi di markas bawah tanah, sangat ala James Bond villain.
Kesamaan visi ini membuat Capcom antusias. Bahkan, dalam waktu sekitar satu minggu, mereka sudah memutuskan bahwa tim Steven E. de Souza-lah yang akan mengerjakan film Street Fighter.
Masalahnya, ketika konsep “Bond-style global adventure” ini dieksekusi dengan roster karakter Street Fighter yang besar dan jadwal produksi yang kacau, hasil akhirnya justru melenceng jauh dari ekspektasi fans.
Alih-alih film turnamen bela diri, yang lahir adalah film aksi militer mirip G.I. Joe, lengkap dengan pasukan, senjata berat, dan pidato patriotik—sebuah pendekatan yang sejak awal memang tidak pernah dirancang untuk mewakili inti Street Fighter.
2. Budget ngalir ke dua aktor

Menariknya, jika dibandingkan dengan Mortal Kombat, Street Fighter sebenarnya punya budget lebih besar.
Mortal Kombat diproduksi dengan sekitar 20 juta dolar, sementara Street Fighter mencapai 35 juta dolar.
Tapi hasil akhirnya terasa jomplang. Mortal Kombat tampak lebih fokus, lebih “kena” sebagai adaptasi game, dan lebih rapi dalam adegan aksinya. Kenapa bisa begitu?
Salah satu jawabannya: porsi besar budget Street Fighter langsung habis untuk dua aktor utama.
Yang pertama tentu saja Jean-Claude Van Damme. Di awal 90-an, Van Damme adalah aktor laga terbesar di dunia, ikon box office yang mahal, tapi dianggap krusial untuk menarik penonton global.
Yang kedua adalah Raul Julia. Aktor kelas teater dan film bergengsi, dengan rekam jejak luar biasa. Meski ia mau bergabung karena anak-anaknya penggemar Street Fighter, honor untuk aktor dengan kaliber seperti Julia tentu tidak murah.
Steven E. de Souza sendiri mengakui masalah ini dalam wawancara dengan The Guardian:
Dampaknya terasa langsung ke produksi.
Banyak aktor lain akhirnya harus diisi oleh nama-nama baru. Bukan karena pilihan kreatif, melainkan karena keterbatasan dana. Lebih parah lagi, tim produksi tidak mampu mendatangkan seluruh pemain lebih awal untuk latihan tarung bersama.
Solusinya? Pendekatan yang terpaksa:
- adegan dialog disyuting lebih dulu,
- sementara aktor lain bergantian latihan koreografi tarung,
- yang membuat banyak adegan aksi terasa tidak terintegrasi dan minim chemistry.
Jadi meskipun Street Fighter punya budget lebih besar di atas kertas, uangnya tidak bekerja seefektif Mortal Kombat. Terlalu banyak tersedot di depan, terlalu sedikit tersisa untuk fondasi yang seharusnya paling penting dalam film adaptasi game fighting: aksi dan persiapan.
3. Capcom mau menambahkan karakter

Menurut pengakuan Steven E. de Souza, sebenarnya ia sudah menyadari batasan film layar lebar sejak awal. Dalam durasi sekitar 100 menit, De Souza merasa maksimal hanya tujuh hingga delapan karakter Street Fighter yang bisa diberi ruang dengan layak. Bahkan dengan jumlah itu saja, ia mengakui penonton sudah berisiko kesulitan mengikuti semua peran dan subplot.
Masalahnya, Capcom punya pandangan berbeda.
Setiap kali De Souza menyerahkan draft baru, Capcom terus menekan agar lebih banyak karakter dimasukkan. Dari sudut pandang Capcom, semakin banyak karakter berarti semakin banyak representasi game, dan semakin besar daya tarik komersial. Tapi dari sudut pandang film, ini berarti:
- screen time makin terpecah,
- karakter makin dangkal,
- dan cerita makin kehilangan fokus.
Konflik ini bahkan merembet ke urusan casting. De Souza sudah memilih Byron Mann untuk memerankan Ryu. Capcom sebenarnya menginginkan Kenya Sawada, yang secara fisik dan aura memang terasa lebih “Ryu”. Namun pada saat itu, Sawada belum cukup fasih berbahasa Inggris untuk memerankan karakter utama dengan dialog signifikan.
Akhirnya tercapai kompromi yang… agak aneh:
- Ryu tetap diperankan Byron Mann,
- sementara Kenya Sawada dimasukkan sebagai Kapten Sawada, karakter baru yang tidak ada di game.
Keputusan-keputusan seperti ini menumpuk sepanjang produksi. Dan hasil akhirnya bisa kita lihat di layar: film dengan terlalu banyak karakter, banyak di antaranya tidak sempat berkembang, dan beberapa bahkan terasa hanya hadir karena kewajiban lisensi, bukan kebutuhan cerita.
4. Masalah Van Damme

Salah satu faktor paling merusak produksi Street Fighter datang dari aktor utamanya sendiri: Jean-Claude Van Damme.
Bertahun-tahun kemudian, sutradara dan penulis naskah Steven E. de Souza akhirnya buka suara soal kondisi Van Damme saat syuting:
“Saat itu saya tidak bisa membicarakannya, tetapi sekarang saya bisa: Jean-Claude sedang sakau berat. Studio telah menyewa seorang pengurus untuk menjaganya, tetapi sayangnya pengurus itu sendiri memberikan pengaruh buruk. Jean-Claude sering sekali izin sakit sehingga saya harus terus mencari-cari adegan lain dalam naskah; saya tidak bisa hanya duduk berjam-jam menunggunya.”
Masalahnya bukan cuma soal kondisi fisik, tapi juga ketidakhadiran yang konsisten. De Souza melanjutkan:
“Dua kali produser mengizinkannya pergi ke Hong Kong, dan kedua kalinya dia kembali larut malam—pada hari Senin dia sama sekali tidak ada di lokasi.”
Singkatnya, jadwal syuting harus terus dirombak dadakan hanya karena aktor utama tidak bisa diandalkan. Untuk film dengan banyak karakter dan produksi kompleks, ini adalah mimpi buruk.
Situasi makin kacau karena urusan personal. Van Damme sendiri kemudian mengakui memiliki hubungan asmara dengan Kylie Minogue, yang kala itu dikontrak cukup mendadak untuk memerankan Cammy. Hubungan ini menambah lapisan distraksi di lokasi syuting.
Kesaksian serupa datang dari Keith Heygate, asisten sutradara unit kedua:
“Dia adalah pria yang menarik, tetapi sangat sulit diajak bekerja sama—ada banyak cerita yang bahkan tidak bisa saya ceritakan. Suatu kali dia berada di trailer dan dia sangat mabuk. Asisten saya tidak bisa mengeluarkannya, saya juga tidak bisa, jadi saya harus memanggil produser Chad Rosen.”
Masalah belum berhenti di situ. Menurut Heygate:
“Dia kemudian keluar sambil membawa sebotol sampanye. Saya mengatakan kepadanya bahwa membawa alkohol di lokasi syuting melanggar aturan kesehatan dan keselamatan. Sejak saat itu, dia membenci saya.”
Semua ini memberi gambaran jelas: bekerja dengan Van Damme di tahun 1994 adalah perjuangan harian. Ketika aktor utama tidak stabil—baik secara profesional maupun personal—dampaknya merembet ke semua lini: naskah, jadwal, kualitas adegan, hingga moral kru.
5. Masalah dengan Raul Julia

Berbeda dengan kekacauan yang melibatkan aktor lain, persoalan seputar Raúl Juliá sama sekali bukan soal ego atau kedisiplinan.
Saat produksi Street Fighter berlangsung, Juliá tidak mengungkapkan kondisi kesehatannya ke publik, bahkan ke banyak orang di lokasi syuting. Padahal, ia saat itu tengah berjuang melawan penyakit serius. Ketika ia muncul di lokasi, kondisinya disebut oleh beberapa kru sangat kurus dan tampak sakit, sampai-sampai ada kekhawatiran ia tidak bisa langsung ditampilkan di depan kamera.
Akibatnya, tim produksi harus melakukan penyesuaian besar. Banyak adegan Bison didorong ke bagian akhir jadwal syuting, dengan harapan Juliá punya waktu untuk memulihkan tenaga dan sedikit menambah berat badan agar tampil lebih meyakinkan secara visual.
Namun di balik semua keterbatasan itu, satu hal diakui hampir semua pihak: dedikasi Juliá luar biasa.
Bahkan dalam kondisi begitu benar-benar memberi semua yang dia miliki untuk peran Bison.
6. Thailand versus Australia

Masalah Street Fighter tidak berhenti di aktor dan naskah. Lokasi syuting juga ikut menyumbang deretan problem serius.
Syuting di Bangkok pada awal 1990-an ternyata jauh dari ideal bagi kru Hollywood. Panasnya ekstrem, kelembapannya pun luar biasa. Menurut Byron Mann (pemeran Ryu), para aktor sebenarnya diharapkan tampil buff dan atletis, tapi yang terjadi justru sebaliknya:
mereka kehilangan bobot tubuh karena kondisi fisik yang terkuras terus-menerus.
Ironisnya, perbedaan ini bahkan terlihat jelas di layar. Mann menyebut bahwa para aktor baru tampak lebih berisi dan bugar di adegan-adegan yang diambil kemudian di Australia, ketika: cuaca jauh lebih bersahabat, makanan enak, hingga kondisi fisik mereka sudah pulih.
Masalah Thailand bukan cuma soal cuaca. Saat itu juga sempat muncul kekhawatiran akan kemungkinan kudeta, yang berdampak langsung ke logistik produksi. Beberapa jalan ditutup, dan kru bahkan harus berpindah lokasi menggunakan high-speed boat untuk menghindari gangguan keamanan.
Bagi film dengan jadwal ketat dan produksi yang sudah kacau sejak awal, situasi ini jelas menjadi PR tambahan yang tidak kecil. Setiap hari syuting terasa seperti memadamkan kebakaran baru, entah itu soal aktor, cuaca, atau kondisi politik lokal.

















