Siapa pun yang datang ke bioskop berbekal memori Bernapas dalam Kubur atau Malam Jumat Kliwon perlu bersiap dengan sebuah kejutan besar: di film ketiga ini, Suzzanna tidak bangkit dari kubur, tidak membungkus dirinya dalam kain kafan, dan tidak menghantui siapa pun dari balik kegelapan malam. Ia hadir sebagai perempuan desa biasa yang hidupnya dirobek oleh kesombongan seorang lelaki berkuasa.
Keputusan untuk mengadaptasi Santet Ratu Ilmu Hitam, salah satu karya klasik Suzzanna yang jarang dibicarakan orang, adalah pilihan yang tepat sekaligus berisiko. Tepat karena memberi ruang napas baru bagi franchise yang bisa saja terjebak dalam formula basi. Berisiko karena sebagian besar penonton sudah terlanjur mengidentikkan nama Suzzanna dengan pocong dan teror malam.
Kisah bermula sederhana namun efektif: Bisman, penguasa desa yang merasa terancam kekuasaannya karena keberadaan ayah Suzzanna, menyuruh orang untuk menyantet sang ayah hingga wafat. Sang ibu pun menyusul tak lama setelahnya. Dari titik ini, film berubah menjadi perjalanan seorang perempuan menuju ilmu yang ia sendiri tahu tidak seharusnya ia sentuh.
Yang menarik, pergeseran genre ini tidak terasa dipaksakan. Sutradara Azhar Kinoi Lubis membangun atmosfer desa Karang Setan dengan sabar, lembab, sarat ritual, dan menyimpan ketegangan di balik setiap percakapan. Penonton tidak dibawa tergesa-gesa. Mereka diundang masuk perlahan ke dunia di mana batas antara keadilan dan kutukan menjadi sangat tipis.
