Daryl Wilson, Co Founder & Animation Director of Kumata Studio, dalam panel From Sketch to Screen: Building Animation That Lasts di At america. (Dok. at america)
Saya mengajukan pertanyaan kepada Daryl mengenai mengapa kesuksesan Jumbo belum diikuti peningkatan produksi film animasi seperti yang sering terlihat pada genre lain.
Jawaban Daryl ternyata kembali pada tiga hal yang sudah disebutkan dalam pertanyaan tersebut: kebutuhan waktu, modal, dan kondisi industri film Indonesia.
"Sebenarnya pertanyaannya tuh sedikit sudah terjawab dengan tiga situasi tadi. Di mana, animation butuh waktu, butuh modal besar, dan industri film Indonesia baru mengalami perkembangan dalam sepuluh tahun terakhir tapi masih dalam live-action."
Menurut Daryl, industri film Indonesia berkembang pesat dengan memproduksi berbagai genre yang sudah memiliki rekam jejak di pasar, seperti horor, komedi, dan romansa, termasuk perpaduan di antaranya.
Perkembangan tersebut turut mendorong peningkatan jumlah produksi film. Bahkan, Daryl menyoroti bagaimana banyaknya film yang diproduksi dalam setahun bisa menimbulkan persoalan baru, yakni persaingan untuk mendapatkan jadwal tayang di bioskop.
Namun, meningkatnya produksi film live-action tidak otomatis membuat produksi animasi ikut berkembang dengan kecepatan yang sama.
"Tapi kita ngeliatnya berarti produksi sebenarnya meningkat. Nah di animasi, karena kondisi investasi di proyek animasi itu cukup berat, high risk, kalau tidak di-manage dengan baik secara bisnis, diproduksi dengan baik, dan risiko tadi. Bahwa Jumbo adalah kasus yang sukses."
Bagi Daryl, kesuksesan Jumbo merupakan pencapaian penting. Namun, satu film yang sukses belum cukup untuk menggambarkan keseluruhan potensi pasar animasi Indonesia.
Ia menilai jumlah film animasi layar lebar Indonesia yang diproduksi selama satu dekade terakhir masih terbatas. Akibatnya, industri belum memiliki cukup banyak contoh untuk memahami pola kesuksesan film animasi lokal.
"Jadi belum banyak sebenarnya kita bisa menyimpulkan mana yang works di animasi film layar lebar di Indonesia, yang sukses seperti apa."
Daryl mencontohkan film Si Juki the Movie yang berfokus pada komedi serta Panji Tengkorak yang menyasar pendekatan lebih dewasa.
Keduanya menjadi bagian dari upaya menguji respons pasar terhadap pendekatan animasi yang berbeda.
"Dan kemarin ada film seperti Juki yang fokusnya lebih ke komedi. Lalu ada Panji Tengkorak yang fokusnya ke dewasa. Nah itu kan trial-nya kita untuk test the water, apa pasar Indonesia nerima apa nggak, gitu."
Dengan kata lain, industri masih membutuhkan lebih banyak kesempatan untuk mencoba berbagai pendekatan, mengenali penontonnya, dan memahami model produksi yang paling memungkinkan untuk dijalankan secara berkelanjutan.