Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Belum Terjadi Boom Film Animasi di Indonesia Layar Lebar?
Jumbo (dok. Visinema Pictures/Jumbo)
  • Kesuksesan Jumbo belum otomatis memicu produksi animasi baru karena proyek animasi membutuhkan waktu, modal, dan pengelolaan risiko yang besar.

  • Industri masih memerlukan lebih banyak proyek untuk menguji pendekatan, memahami pasar, dan membangun pengalaman produksi yang berkelanjutan.

  • Jumbo membuka peluang investasi serta kolaborasi internasional, tetapi ekosistem animasi tetap perlu diperkuat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2025

Jumbo sukses besar di bioskop Indonesia dan meraih 10.233.002 penonton. Film ini sempat menjadi film Indonesia dengan jumlah penonton terbanyak sepanjang sejarah.

selama satu dekade terakhir

Jumlah film animasi layar lebar Indonesia yang diproduksi masih terbatas.

hampir lima tahun

Jumbo membutuhkan waktu produksi hampir lima tahun.

sekitar tiga tahun

Panji Tengkorak memerlukan waktu produksi sekitar tiga tahun.

lebih dari 40 negara

Jumbo telah menjangkau pasar global di lebih dari 40 negara.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Kesuksesan Jumbo belum memicu gelombang produksi film animasi lokal yang sebanding.
  • Who?
    Daryl Wilson, Co-Founder sekaligus Animation Director Kumata Studio, membahas tantangan industri animasi Indonesia.
  • Where?
    Persoalan tersebut dibahas dalam konteks industri film animasi Indonesia dan pasar bioskop Indonesia.
  • When?
    Pada 2025, Jumbo sukses besar di bioskop Indonesia.
  • Why?
    Produksi animasi membutuhkan waktu, modal besar, pengelolaan bisnis, serta ekosistem investasi yang berkelanjutan.
  • How?
    Industri membutuhkan lebih banyak proyek, investor jangka panjang, perencanaan produksi, serta peluang kolaborasi internasional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jumbo adalah film animasi Indonesia yang ditonton sangat banyak orang. Daryl Wilson dari Kumata Studio menjelaskan bahwa membuat film animasi perlu waktu dan uang besar. Sekarang, industri animasi masih mencari lebih banyak investor dan proyek agar bisa belajar, membuat film baru, dan bekerja sama dengan negara lain.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kesuksesan Jumbo memberi bukti penting bahwa film animasi lokal mampu menarik jutaan penonton dan menjangkau pasar global di lebih dari 40 negara. Pencapaian ini juga membuka peluang bagi investor dan mitra internasional untuk mempertimbangkan proyek animasi Indonesia, sekaligus memberi industri dasar untuk mengembangkan pengalaman produksi berikutnya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, Duniaku.com — Pada 2025, film animasi Jumbo sukses besar di bioskop Indonesia. Karya Visinema tersebut berhasil meraih 10.233.002 penonton, sempat menjadi film Indonesia dengan jumlah penonton terbanyak sepanjang sejarah sebelum akhirnya dilampaui Agak Laen: Menyala Pantiku! dengan 11.000.866 penonton.

Kesuksesan Jumbo membuktikan bahwa film animasi lokal mampu menarik perhatian jutaan penonton. Namun, ada satu hal menarik yang patut dipertanyakan: mengapa kesuksesan tersebut belum memicu gelombang produksi film animasi lokal yang sebanding?

Ketika film horor sukses, kita kerap melihat banyak film horor baru bermunculan. Hal serupa juga terjadi pada komedi. Bahkan, ketika perpaduan horor dan komedi berhasil menarik perhatian penonton, variasi film dengan formula tersebut ikut bermunculan.

Lantas, mengapa fenomena serupa belum terlihat dalam industri film animasi Indonesia setelah Jumbo?

Untuk membahas persoalan ini, saya berbincang dengan Daryl Wilson, Co-Founder sekaligus Animation Director Kumata Studio. Menariknya, menurut Daryl, persoalannya bukan semata-mata apakah masyarakat Indonesia menyukai film animasi, melainkan juga bagaimana industri membangun ekosistem produksi dan investasi yang memungkinkan lebih banyak film animasi dibuat.

1. Produksi Animasi Membutuhkan Waktu dan Modal Besar

Daryl Wilson, Co Founder & Animation Director of Kumata Studio, dalam panel From Sketch to Screen: Building Animation That Lasts di At america. (Dok. at america)

Saya mengajukan pertanyaan kepada Daryl mengenai mengapa kesuksesan Jumbo belum diikuti peningkatan produksi film animasi seperti yang sering terlihat pada genre lain.

Jawaban Daryl ternyata kembali pada tiga hal yang sudah disebutkan dalam pertanyaan tersebut: kebutuhan waktu, modal, dan kondisi industri film Indonesia.

"Sebenarnya pertanyaannya tuh sedikit sudah terjawab dengan tiga situasi tadi. Di mana, animation butuh waktu, butuh modal besar, dan industri film Indonesia baru mengalami perkembangan dalam sepuluh tahun terakhir tapi masih dalam live-action."

Menurut Daryl, industri film Indonesia berkembang pesat dengan memproduksi berbagai genre yang sudah memiliki rekam jejak di pasar, seperti horor, komedi, dan romansa, termasuk perpaduan di antaranya.

Perkembangan tersebut turut mendorong peningkatan jumlah produksi film. Bahkan, Daryl menyoroti bagaimana banyaknya film yang diproduksi dalam setahun bisa menimbulkan persoalan baru, yakni persaingan untuk mendapatkan jadwal tayang di bioskop.

Namun, meningkatnya produksi film live-action tidak otomatis membuat produksi animasi ikut berkembang dengan kecepatan yang sama.

"Tapi kita ngeliatnya berarti produksi sebenarnya meningkat. Nah di animasi, karena kondisi investasi di proyek animasi itu cukup berat, high risk, kalau tidak di-manage dengan baik secara bisnis, diproduksi dengan baik, dan risiko tadi. Bahwa Jumbo adalah kasus yang sukses."

Bagi Daryl, kesuksesan Jumbo merupakan pencapaian penting. Namun, satu film yang sukses belum cukup untuk menggambarkan keseluruhan potensi pasar animasi Indonesia.

Ia menilai jumlah film animasi layar lebar Indonesia yang diproduksi selama satu dekade terakhir masih terbatas. Akibatnya, industri belum memiliki cukup banyak contoh untuk memahami pola kesuksesan film animasi lokal.

"Jadi belum banyak sebenarnya kita bisa menyimpulkan mana yang works di animasi film layar lebar di Indonesia, yang sukses seperti apa."

Daryl mencontohkan film Si Juki the Movie yang berfokus pada komedi serta Panji Tengkorak yang menyasar pendekatan lebih dewasa.

Keduanya menjadi bagian dari upaya menguji respons pasar terhadap pendekatan animasi yang berbeda.

"Dan kemarin ada film seperti Juki yang fokusnya lebih ke komedi. Lalu ada Panji Tengkorak yang fokusnya ke dewasa. Nah itu kan trial-nya kita untuk test the water, apa pasar Indonesia nerima apa nggak, gitu."

Dengan kata lain, industri masih membutuhkan lebih banyak kesempatan untuk mencoba berbagai pendekatan, mengenali penontonnya, dan memahami model produksi yang paling memungkinkan untuk dijalankan secara berkelanjutan.

2. Industri Animasi Membutuhkan Lebih Banyak Kesempatan untuk Belajar

Poster film Indonesia Panji Tengkorak (Instagram.com/cgv.id)

Menurut Daryl, salah satu hal yang perlu terjadi agar industri film animasi Indonesia berkembang adalah semakin banyaknya kesempatan untuk memproduksi proyek baru.

"Nah tapi kita butuh kesempatan untuk melakukan proyek-proyek berikutnya, karena ya kita akan dewasa, kita akan belajar cepat, kalau misalnya opportunity di proyek itu semakin banyak."

Ia kemudian membandingkannya dengan industri film live-action. Tidak semua film yang diproduksi berhasil di pasaran. Ada yang sukses besar, ada yang gagal, dan ada pula yang memperoleh hasil yang tergolong biasa saja.

Namun, beragam hasil tersebut tetap menjadi bagian dari ekosistem produksi yang terus berjalan.

Bahkan, film yang tidak menghasilkan pendapatan besar belum tentu membuat model produksinya tidak berkelanjutan. Selama biaya dan skala proyek dikelola dengan tepat, sebuah produksi masih berpotensi menghasilkan pemasukan yang memungkinkan pembuatnya melanjutkan proyek berikutnya.

Daryl berharap pola serupa juga bisa berkembang dalam industri animasi.

"Nah di animasi kita harus menjadi seperti itu. Bahwa harus ada orang yang berinvestasi terus, continue terus, continue, baik itu gagal, baik itu berhasil. Nah ini yang belum terjadi sebenarnya. Ini salah satu tantangannya."

Pesan Daryl bukan berarti industri animasi harus mengabaikan risiko atau terus memproduksi film tanpa perhitungan. Sebaliknya, diperlukan ekosistem investasi dan produksi yang memungkinkan lebih banyak proyek dibuat dengan pengelolaan bisnis yang matang.

Dengan semakin banyaknya proyek, industri juga bisa memperoleh lebih banyak pengalaman. Para pembuat film dapat menguji genre, pendekatan cerita, serta strategi produksi yang berbeda, sementara investor memiliki lebih banyak contoh untuk mengevaluasi peluang di masa depan.

3. Durasi Produksi Animasi Membuat Risiko Investasi Berbeda

Panji Tengkorak (dok. Falcon Pictures/Panji Tengkorak)

Salah satu tantangan terbesar dalam produksi animasi adalah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah film.

Jumbo membutuhkan waktu produksi hampir lima tahun, sementara Panji Tengkorak memerlukan sekitar tiga tahun.

Bandingkan dengan film live-action yang bisa menyelesaikan proses produksinya dalam hitungan bulan. Bahkan, sejumlah film horor Indonesia dikenal memiliki jadwal produksi yang sangat singkat, satu bulan kurang.

Perbedaan ini berpengaruh terhadap risiko investasi.

Dalam produksi live-action, uang yang ditanamkan pada proyek dapat berputar relatif lebih cepat. Sebaliknya, produksi animasi membutuhkan komitmen waktu dan modal yang lebih panjang sebelum film siap dirilis dan berpotensi menghasilkan pemasukan.

Ada pula risiko lain yang perlu diperhitungkan: apakah cerita yang dikembangkan akan tetap relevan ketika film akhirnya tayang?

Daryl menyoroti persoalan tersebut ketika membahas pentingnya cerita yang kuat dalam sebuah produksi animasi.

"Kalau misalnya kita enggak punya story yang kuat, orang akan bertanya, ini kalau filmnya jadinya 2 tahun lagi 3 tahun lagi, akan relatable gak sih ceritanya? Itu juga salah satu risiko tantangan untuk bikin animasi."

Artinya, tantangan produksi animasi bukan hanya bagaimana menyelesaikan film dengan kualitas yang baik. Proyek tersebut juga perlu memiliki fondasi cerita yang cukup kuat untuk menarik penonton ketika akhirnya dirilis.

Semakin panjang waktu produksi, semakin banyak pula ketidakpastian yang perlu diperhitungkan sejak awal. Karena itu, perencanaan produksi, pengelolaan bisnis, dan pengembangan cerita menjadi bagian penting dalam membangun proyek animasi yang berkelanjutan.

4. Kesuksesan Jumbo Bisa Membuka Peluang Baru

poster Jumbo (dok. Visinema Pictures/Jumbo)

Meski berbagai tantangan tersebut masih ada, kesuksesan Jumbo memberikan alasan untuk optimistis.

Film tersebut tidak hanya membuktikan bahwa animasi lokal bisa menarik jutaan penonton di dalam negeri. Menurut pembahasan Daryl, kesuksesan itu juga membuka peluang lain, termasuk melalui lisensi dan distribusi internasional. Jumbo telah menjangkau pasar global di lebih dari 40 negara.

Bagi industri, pencapaian ini bisa menjadi salah satu bukti bahwa film animasi Indonesia memiliki potensi komersial yang layak diperhitungkan.

Daryl berharap keberhasilan tersebut dapat menarik lebih banyak investor untuk terlibat dalam produksi animasi lokal.

"Jadi kalau misalnya kita harapkan, harusnya banyak lagi investor yang akan tertarik untuk bikin film animasi di pasar Indonesia, karena pasar Indonesia cukup besar ternyata."

Selain menarik investasi dari dalam negeri, Daryl juga menyoroti potensi kerja sama dengan mitra internasional.

Ia berharap pelaku industri animasi Indonesia dapat menemukan partner yang memungkinkan sebuah proyek menjangkau lebih dari satu pasar, misalnya melalui kolaborasi dengan pihak dari Amerika Serikat atau negara lain.

Dengan kolaborasi seperti itu, para pihak yang terlibat berpotensi membagi risiko investasi sekaligus membuka akses ke pasar yang lebih luas.

"...tapi juga kita pingin nyari partner kolaboratif yang kita bisa akses market di dua tempat. Kayak misalnya di sini, dengan US market, atau partner-partner negara lain sehingga bisa kolaborasi di dalam 1 proyek bersama-sama kita membagi risk investment tadi."

Pendekatan ini dapat menjadi salah satu jalan untuk mengurangi beban risiko yang harus ditanggung satu pihak dalam produksi animasi berskala besar. Namun, tentu saja, peluang tersebut tetap bergantung pada bagaimana proyek direncanakan, dikelola, dan diterima oleh pasar yang dituju.

Curated For You

Editorial Team

Related Article