4 Sisi Gelap Matt Hagen di Film Clayface! Sejak Sebelum Transformasi?

Matt Hagen kesulitan menerima batasan ketika menginginkan seseorang, termasuk Mia Torrez dan Dr. Caitlyn Corr.
Keinginannya kembali memperoleh sorotan dan pengakuan mendorong Hagen mengambil keputusan yang semakin ekstrem.
Penderitaan menjelaskan perubahan Hagen, tetapi tidak membenarkan pilihan balas dendam dan tindakan yang mengikis batas moralnya.
SPOILER ALERT!!!
Ada satu kalimat kocak yang pernah beredar ketika film Joker (2019) akan tayang: “Orang jahat lahir dari orang baik yang tersakiti.”
Apakah ungkapan itu berlaku untuk Matt Hagen, sang Clayface?
Lucunya, di satu sisi Hagen memang mengalami penderitaan luar biasa. Wajahnya dirusak, kariernya terancam hancur, dan ia harus menjalani transformasi tubuh yang mengerikan. Namun, di sisi lain, Hagen terasa memiliki sisi kelam bahkan sebelum transformasinya menjadi Clayface mencapai tahap penuh.
Apa saja sisi gelap Matt Hagen yang terungkap dalam film ini?
Table of Content
1. Jika sudah terpikat perempuan, Hagen tidak bisa berhenti

Clayface (dok. dcofficial/Clayface) Cukup menarik bahwa dua masalah besar dalam hidup Matt Hagen berawal dari ketertarikannya pada perempuan dan keengganannya untuk mundur sebelum semuanya terlambat.
Masalah Hagen dimulai ketika ia terpikat pada Mia Torrez di sebuah kelab. Corey Bowery, sahabatnya, sudah memperingatkan Matt bahwa Mia merupakan kekasih Markos Szabo. Namun, Matt tidak mengindahkan peringatan tersebut.
Akibatnya, keesokan paginya, Szabo dan anak buahnya menyerang Hagen hingga wajahnya rusak parah.
Memang, Matt saat itu juga berada di bawah pengaruh obat-obatan. Namun, hal tersebut tidak mengubah fakta bahwa ia mengabaikan peringatan yang sudah diberikan kepadanya.
Kemudian, setelah menjalani prosedur yang memulihkan wajahnya, Hagen justru kembali terjebak dalam situasi serupa. Kali ini, ia terpikat pada Dr. Caitlyn Corr, ilmuwan yang membantunya menjalani prosedur tersebut.
Masalahnya, Hagen mengetahui bahwa Corr sudah memiliki suami. Meski begitu, ia tetap berusaha mendekati dan mendapatkan perempuan tersebut.
Dari dua kejadian ini, terlihat pola yang cukup mengkhawatirkan: ketika Matt Hagen sudah menginginkan seseorang, ia seperti kesulitan menerima batasan dan kenyataan bahwa keinginannya tidak selalu bisa dipenuhi.
Dan sayangnya, ia terus mengambil risiko sampai semuanya terlambat.
2. Matt Hagen mendambakan sorotan

still cut film Clayface (dok. DC Studios) Salah satu sisi menarik dari karakter Matt Hagen adalah betapa besar keinginannya untuk kembali menjadi pusat perhatian.
Ketika wajahnya berhasil dipulihkan, Dr. Corr sudah memperingatkannya agar tidak terburu-buru kembali ke sorotan publik. Namun, Hagen justru menghadiri sebuah acara karpet merah dan mencuri perhatian dari aktor yang telah mengambil alih perannya.
Yang menarik, keputusan tersebut ia ambil atas inisiatif sendiri, tanpa perlu ada orang lain yang membujuk atau memprovokasinya.
Hal ini mengisyaratkan bahwa keinginan Hagen untuk kembali mendapatkan perhatian bukan sekadar akibat tekanan dari lingkungan sekitarnya. Ada sesuatu dalam dirinya yang begitu mendambakan sorotan dan pengakuan publik.
Apakah ini bentuk arogansi? Kebutuhan akan validasi? Atau keinginan untuk kembali merasakan cinta dan kekaguman orang-orang yang dahulu mengaguminya?
Film ini tidak harus memberikan jawaban pasti. Namun, tindakannya menunjukkan bahwa bagi Hagen, memulihkan wajah saja tidak cukup. Ia juga ingin mendapatkan kembali kehidupan, status, dan perhatian yang pernah dimilikinya.
Dan keinginan tersebut kelak ikut mendorongnya mengambil keputusan yang semakin ekstrem.
3. Setelah mulai membunuh, Matt seperti kehilangan hambatan moral

Teaser Trailer Clayface DC Studios Menurut saya, inilah bagian paling menarik dari eksplorasi psikologis Matt Hagen sebagai seorang villain protagonist.
Pada awalnya, Hagen tampak terguncang setelah melakukan pembunuhan pertamanya. Ia masih menunjukkan reaksi seseorang yang sadar bahwa dirinya telah melewati batas moral.
Namun, seiring berjalannya cerita, sikapnya terhadap kekerasan berubah. Pembunuhan perlahan menjadi sesuatu yang ia gunakan untuk menyelesaikan persoalan.
Ketika Hagen mulai menyerang Szabo dan orang-orang yang bertanggung jawab atas penderitaannya, ia memang memiliki alasan yang bisa dipahami penonton: ia ingin membalas dendam kepada mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Akan tetapi, tindakannya tidak berhenti pada orang-orang yang menyakitinya.
Hagen kemudian membunuh John Borrelli, tunangan Caitlyn Corr. Ia bahkan sempat menggunakan wajah Borrelli untuk mencoba berbicara dengan Corr.
Padahal, Borrelli merupakan salah satu polisi jujur di Gotham yang berusaha menyelidiki kasus penyerangan terhadap Hagen. Ia bukan bagian dari komplotan Szabo yang menghancurkan wajah sang aktor.
Kesalahannya, dari sudut pandang Hagen, adalah ia menjadi penghalang bagi keinginannya untuk mendapatkan Corr.
Di titik ini, Hagen telah melewati batas yang jauh lebih mengerikan. Ia bukan lagi sekadar korban yang membalas orang-orang yang telah menyakitinya. Ia mulai bersedia menghancurkan orang lain demi memenuhi keinginannya sendiri.
Dan ketika pembunuhan terhadap orang yang tidak bersalah pun menjadi bagian dari tindakannya, sulit untuk terus membenarkan Hagen hanya sebagai korban keadaan.
4. Hagen sempat punya kesempatan untuk memulai hidup baru, tetapi memilih jalan balas dendam

Teaser Trailer Clayface DC Studios Hal lain yang membuat perjalanan Matt Hagen terasa tragis adalah ia sebenarnya sempat mendapatkan kesempatan untuk membangun kembali hidupnya.
Setelah wajahnya pulih dan ia tampil di acara karpet merah, Hagen kembali mendapatkan perhatian dari Hollywood dan para penggemarnya. Wajah tampannya kembali menjadi daya tarik, seolah-olah berbagai tuduhan dan kemunduran yang sebelumnya menghancurkan kariernya mulai kehilangan pengaruh.
Ia bahkan sudah mendapatkan kesempatan pekerjaan lagi.
Untuk sesaat, sepertinya Hagen memiliki kesempatan untuk kembali menjadi aktor dan meninggalkan penderitaan yang dialaminya.
Namun, semuanya berubah ketika ia mengetahui melalui siaran berita bahwa mantan manajernya, Frank Fitzpatrick, kini bekerja untuk Mia dan Szabo.
Alih-alih memanfaatkan kesempatan yang terbuka di hadapannya untuk melanjutkan hidup, Hagen memutuskan untuk mengejar orang-orang yang dianggap bertanggung jawab atas kehancurannya. Keputusan inilah yang membawanya semakin jauh ke jalan balas dendam dan menuju transformasi penuhnya menjadi Clayface.
Tentu saja, kemunculan kembali orang-orang yang menghancurkan hidupnya bisa dimengerti sebagai pemicu kemarahan Hagen. Ia punya alasan untuk membenci mereka.
Namun, ada perbedaan antara menginginkan keadilan dan membiarkan dendam menguasai seluruh keputusan hidup.
Hagen sebenarnya sudah memiliki jalan untuk memulai kembali kariernya. Ia tidak harus melupakan apa yang telah terjadi, tetapi ia masih punya pilihan untuk tidak membiarkan masa lalunya menentukan masa depannya.
Pada akhirnya, ia justru memilih jalan yang semakin ekstrem.
Kesimpulan

Teaser Trailer Clayface DC Studios Salah satu hal menarik dari Clayface adalah film ini tidak sepenuhnya menggambarkan Matt Hagen sebagai orang baik yang mendadak berubah menjadi jahat hanya karena mengalami penderitaan.
Hagen memang merupakan korban kekerasan dan keadaan yang tidak adil. Penonton bisa memahami kemarahannya, terutama ketika orang-orang yang menghancurkan hidupnya seolah-olah dapat terus beraktivitas tanpa konsekuensi yang setimpal.
Namun, film ini juga memperlihatkan bagaimana keinginan Hagen untuk mendapatkan apa yang ia mau, mendambakan sorotan, dan membalas dendam perlahan mengikis batas moralnya.
Ia tidak hanya menjadi monster karena tubuhnya berubah menjadi sesuatu yang mengerikan. Ia juga semakin menyerupai monster ketika mulai memperlakukan orang lain sebagai penghalang yang boleh disingkirkan demi memenuhi keinginannya.
Jadi, apakah orang jahat lahir dari orang baik yang tersakiti?
Dalam kasus Matt Hagen, jawabannya tidak sesederhana itu. Penderitaan memang membantu menjelaskan bagaimana ia sampai ke titik tersebut, tetapi penderitaan tidak otomatis membenarkan semua pilihan yang ia buat setelahnya.
Matt Hagen adalah korban yang kemudian menjadi pelaku. Dan tragedinya justru terletak pada kenyataan bahwa kita bisa memahami mengapa ia berubah menjadi Clayface tanpa harus membenarkan monster yang akhirnya ia pilih untuk menjadi.


















