One Piece Season 2 (dok. Netflix)
Episode pembuka Season 2 benar-benar luar biasa.
Tambahan plot seperti serangan Baroque Works ke Shellstown atau kemunculan dini Bartolomeo justru memperkaya cerita, bukan merusaknya.
Loguetown terasa hidup, penuh karakter unik khas One Piece, dan menjadi pembuka yang sangat kuat.
Namun saya merasa bagian tengah season (Reverse Mountain, Whisky Peak, dan Little Garden) sedikit kurang konsisten.
Reverse Mountain tetap menyajikan kisah emosional tentang Laboon, tetapi pacing-nya terasa agak terganggu oleh plot tambahan.
Whisky Peak tetap seru dan pertarungan Zoro terasa memuaskan, namun beberapa perubahan cerita terasa kurang klik bagi saya.
Sementara itu Little Garden memiliki satu kekuatan besar: David Dastmalchian sebagai Mr. 3. Namun dari sisi visual, beberapa set dan efek terasa lebih meyakinkan di foto promo dibanding saat muncul di layar.
Meski begitu, saya tetap mengapresiasi bahwa arc ini memberi lebih banyak sorotan pada Usopp, yang memang terasa kurang mendapat momen bersinar di Season 1.
Namun kemudian datang Drum Island, yang menutup season ini dengan sangat kuat.
Arc ini memiliki karakter yang kuat, emosi yang menyentuh, dan konflik yang terasa personal. Wapol dibangun sebagai tiran yang benar-benar memuakkan, kisah Dr. Hiriluk dan Chopper tersaji dengan sangat baik, dan visual lokasinya terasa lebih meyakinkan dibanding beberapa arc sebelumnya.
Singkatnya: Season ini sangat kuat di awal, sedikit goyah di tengah, dan ditutup dengan sangat kuat.
Namun perlu diingat, bagian tengah yang saya sebut “goyah” ini tetap cukup bagus, hanya saja kualitasnya memang tidak setinggi pembuka dan penutupnya.