Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Perbandingan Momen Luffy Meninju Charlos dan Imu di One Piece
Rosward Charlos dan Nerona Imu kena tinju Luffy. (Dok. Shueisha, Eiichiro Oda/One Piece)
  • Luffy kembali meninju sosok berkuasa, kali ini Imu, setelah dulu mengguncang dunia dengan memukul Saint Charlos di Kepulauan Sabaody.
  • Kedua momen menunjukkan reaksi spontan Luffy terhadap penderitaan teman-temannya, bukan karena politik atau status sosial lawan-lawannya.
  • Oda menampilkan kemiripan visual antara dua adegan ikonik itu, menegaskan bahwa pukulan Luffy bukan akhir konflik melainkan awal kekacauan baru.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Dulu di Kepulauan Sabaody, Monkey D. Luffy melakukan satu tindakan yang langsung mengguncang dunia One Piece: dia meninju Saint Charlos.

Pada masa itu, menantang seorang Tenryuubito saja sudah dianggap tindakan gila. Bahkan bajak laut berpengalaman pun biasanya memilih menghindari masalah dengan para bangsawan dunia itu.

Nah, di One Piece 1186, Luffy kembali melakukan hal serupa.

Bedanya?

Kali ini yang dia tinju adalah Nerona Imu.

Apa saja hal menarik dari dua momen tersebut?

1. Keduanya menyakiti orang yang dianggap sahabat oleh Luffy

Imu lawan Loki dengan pedang Nemesis. (Dok. Shueisha, Eiichiro Oda/One Piece)

Luffy bukan tipe karakter yang peduli status sosial.

Yang biasanya membuatnya marah adalah ketika seseorang menyakiti orang yang ia pedulikan.

Di Sabaody, Charlos menembak Hatchan tanpa alasan yang bisa diterima Luffy.

Momen itulah yang membuat Luffy langsung menghajarnya tanpa pikir panjang.

Di Elbaph malah lebih parah. Imu bukan hanya melukai Loki, ia juga sudah melukai Zoro, Sanji, Hajrudin, dan banyak lagi. Bahkan kalau kita hitung Domi Reversi Imu, korbannya sudah ke seluruh Elbaph.

Jadi seperti biasa, Luffy tidak memukul karena politik atau ideologi. Dia memukul karena seseorang telah menyakiti orang-orang yang ia anggap penting.

2. Dari meninju Tenryuubito... menjadi meninju penguasa mereka

Luffy menghajar Nerona Imu. (Dok. Shueisha, Eiichiro Oda/One Piece)

Ketika Luffy meninju Charlos, itu sudah dianggap tindakan luar biasa. Bagaimanapun juga, Tenryuubito diperlakukan layaknya dewa oleh Pemerintah Dunia.

Tapi situasi sekarang jauh lebih ekstrem.

Imu bisa jadi lebih tinggi dari para Tenryuubito.

Jika teori dan pengungkapan terbaru benar, Imu adalah salah satu pendiri Pemerintah Dunia yang masih hidup sejak 800 tahun lalu.

Jadi kalau Charlos adalah bangsawan dunia biasa... Imu adalah sosok yang mungkin berada di atas seluruh Tenryuubito.

Luffy pada dasarnya berkembang dari meninju seorang bangsawan dunia menjadi meninju orang yang mungkin menciptakan sistem bangsawan dunia itu sendiri.

3. Oda sengaja membuat efeknya terasa mirip

Rosward Charlos dan Nerona Imu kena tinju Luffy. (Dok. Shueisha, Eiichiro Oda/One Piece)

Hal yang langsung disadari banyak fans adalah kemiripan visual kedua adegan ini.

Dalam kedua adegan, Oda menggunakan sudut pandang dan ekspresi yang mirip.

Korban pukulan tampak kehilangan seluruh aura wibawa mereka hanya dalam satu panel.

Yang menarik, bahkan Imu sempat terlihat komikal saat terkena pukulan itu.

Padahal selama Elbaph arc, Oda terus menggambarkan Imu sebagai sosok yang mengerikan dan hampir tak tersentuh.

Efeknya mengingatkan banyak pembaca pada momen Charlos dulu: satu pukulan dari Luffy cukup untuk meruntuhkan kesan "dewa" yang selama ini dibangun.

Tentu ada perbedaan besar. Charlos langsung tumbang, Imu pasti tidak.

4. Keduanya bukan pukulan penutup konflik

Kizaru vs Worst Generation di One Piece Sabaody

Yang menarik, baik pukulan ke Charlos maupun ke Imu sama-sama bukan akhir masalah.

Setelah Charlos dihajar, situasi justru semakin kacau.

Luffy dan kawan-kawan harus menghadapi Pacifista, Sentomaru, hingga Admiral Kizaru.

Pukulan itu bukan kemenangan melainkan awal dari bencana yang lebih besar.

Hal yang sama kemungkinan terjadi di Elbaph.

Tonjokan Luffy ke Imu memang memuaskan.

Tapi tidak ada pembaca yang merasa pertarungan selesai hanya karena satu pukulan itu.

Sebaliknya, tindakan itu kemungkinan besar menjadi sinyal bahwa konflik sesungguhnya baru dimulai.

Curated For You

Editorial Team

Related Article